
Langit senja berwarna jingga begitu menenangkan hati yang di rundung nestapa. Hembusan angin berbisik seolah mengejek kesendirian yang selalu ku lalui sekarang.
"Bisakah aku menemanimu, Nona Cantik?"
Aku menoleh dan melihat Ersya sedang tersenyum padaku. Wajahnya yang teduh layaknya wajah kak Erlan membuatku sedikit tenang walaupun sedetik kemudian aku menyadari bahwa dia bukanlah kak Erlan.
"Silahkan, Tuan Tampan," jawabku akhirnya setelah puas memandang wajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ersya seraya duduk di sampingku.
"Aku suka pemandangan di sore hari, Kak, ini mengingatkan aku pada masa-masa indahku bersama kak Erlan." Mataku fokus menatap matahari yang menuju peraduannya.
"Erlangga sangat beruntung, dia begitu di cintai oleh wanita yang sempurna seperti dirimu," puji Ersya, tapi dia tak menyadari bahwa pujiannya begitu menohok diriku.
Salivaku tertelan dengan susah payah, mencoba untuk menahan tangis. "Aku mungkin sempurna, Kak, tapi cintaku tak sempurna."
Biarlah aku besar kepala mengatakan bahwa diriku sendiri sempurna, tapi aku juga menyadari betapa kejam yang ku lakukan terhadap kak Erlan selama ini. Aku membodohi diriku sendiri dan mengatakan bahwa aku mencintai dirinya. Tak bisa ku bayangkan betapa terlukanya hati kak Erlan saat itu. Andai waktu bisa ku putar, aku ingin mencoba sekeras mungkin agar aku bisa memberikan hatiku pada kak Erlan.
"Hei, apa maksudmu?" tanya Ersya heran, bibirnya menyunggingkan senyuman hambar.
Aku menatap manik mata Ersya, kebencian yang pernah aku lihat di matanya sudah tidak ada lagi. Andai aku tidak terlalu mengenal kak Erlan, aku pasti sulit membedakan keduanya.
"Ayasya?" panggil Ersya membuatku seketika mengerjap.
"Ah, maaf, Kak, matamu menyihirku." elakku seraya memalingkan wajah.
"Mataku? Apa yang kau lihat di dalamnya?" tanya Ersya lagi.
Kembali aku menatapnya. "Aku melihat ... cinta!"
Senyuman mengembang di wajah Ersya, dia terlihat begitu bahagia karena ucapanku. "Kau benar! Ada banyak cinta untukmu."
Entahlah aku harus mengatakan apa, tapi yang pasti aku tidak merasakan apapun ketika Ersya mengatakan hal itu. Sama seperti saat kak Erlan mengungkapkan perasaannya padaku.
Flashback on...
Sore ini, kak Erlan membawaku untuk melihat matahari terbenam di tepi pantai yang tak jauh dari rumah nenek.
"Disini indah sekali, Kak," teriakku bersamaan dengan deburan ombak yang menghantam baru karang.
__ADS_1
"Itu sebabnya aku membawamu kesini," jawab kak Erlan seraya menangkap pergelangan tanganku.
Langkah kakiku yang sedang memainkan pasir pun harus terhenti karena kak Erlan tiba-tiba berlutut di hadapanku.
"Kakak? Kenapa Kakak berlutut seperti itu?" tanyaku panik, takut akan ada yang melihat tindakannya itu.
"Aku akan berlutut di hadapanmu seumur hidupku." Kak Erlan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. "Ayasya Zakiya Azmi, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku dan di setiap ucapan, tatapan juga helaan nafasku hanya akan ada dirimu. Maukah kau, menerangi hari-hariku yang suram ini?" tanyanya penuh cinta.
Sebuah kotak berisikan sebuah cincin yang begitu cantik baru saja di perlihatkan oleh kak Erlan padaku, dan kata-kata yang dia ucapkan begitu menyentuh hatiku.
"Aca akan selalu menemani Kakak walaupun Kakak tidak melakukan hal ini. Bangunlah, Kak!" Aku menyentuh bahu kak Erlan, tapi dia tetap tak bergeming.
"Kau tahu bukan itu maksudku," lirih kak Erlan.
Cahaya matahari yang semakin redup sedikitnya mengaburkan wajah sedih kak Erlan dan jujur saja aku tidak suka melihatnya. Kak Erlan selalu mencoba untuk membahagiakan diriku, apa salahnya jika aku menerima cintanya karena aku memang tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun kecuali kak Erlan.
Aku menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Tuan Erlangga Wira Kencana, aku siap menyematkan nama belakang keluargamu di belakang namaku."
Kak Erlan mendongak, matanya masih menatapku tak percaya hingga aku akhirnya mendaratkan ciumanku di keningnya agar dia yakin bahwa aku bersedia hidup bersamanya sebagai pasangan. Bukan hanya sebagai kakak adik seperti sebelumnya.
"Terima kasih," Kak Erlan memasangkan cincin itu di jari manisku sebelum berdiri dan memelukku. "Aku mencintaimu, Ayasya Zakiya Kencana." ucapnya bahagia.
"Hatiku sudah di penuhi oleh cinta kak Erlan, Kak," candaku dengan tawa ringan yang sedikit aku paksakan.
"Tapi Erlangga sudah tiada, Ayasya," sanggah Ersya, dia tak sadar jika ucapannya telah membuatku terluka.
"Kak Erlan akan tetap hidup di hatiku."
***
Malam semakin larut, aku dan Ersya memutuskan untuk kembali ke rumah nenek dimana tante Ratih, om Rama dan juga anak-anak panti pasti sedang menunggu kami.
Begitu tiba di halaman rumah, aku melihat sebuah mobil terparkir di sana berdampingan dengan mobilku.
"Kau mengganti mobilmu, Kak?" tanyaku seraya menoleh pada Ersya.
Ersya menatapku sekilas lalu beralih menatap mobil yang ku maksud. "Tidak! Lagi pula, aku tidak membawa mobil."
"Lalu, mobil siapa itu?" Aku mempercepat langkahku ketika menyadari ada yang tidak beres sedang terjadi di dalam rumah.
__ADS_1
Benar saja! Ketika aku masuk ke dalam, aku melihat Daffin sedang berbicara dengan om Rama dan juga tante Ratih. Tak ketinggalan si pria kanebo yang berdiri dengan setia di belakang Plankton yang menyebalkan itu.
"Tan? Ada apa ini? Kenapa Tante membiarkan dia masuk?" Aku memberondong tante Ratih dengan pertanyaanku yang lebih mengarah kepada rasa kesalku terhadap Daffin.
Ya, Tuhan! Sebenarnya apa yang membuatku sekesal ini ketika melihat wajah Daffin.
"Aku datang untuk menjemputmu, My Starfish," jawab Daffin mewakili tante Ratih.
Astaga! Mendengar suaranya saja sudah membuatku mual dan rasanya ingin sekali aku melemparkan benda apapun yang ada di dekatku kepadanya.
"Pergilah!" bentakku, susah payah aku membuka mulut hanya untuk mengatakan itu.
"Tidak tanpamu," hardik Daffin, dia bangkit dari sofa untuk menghampiriku yang masih berdiri di ambang pintu.
Anehnya, aku justru ingin dia semakin dekat padaku walaupun aku merasakan kekesalan yang luar biasa terhadapnya. Tidak! Aku tidak boleh mengikuti hatiku! Daffin harus mengerti bahwa aku tidak akan menerima terus di perlakukan seperti boneka olehnya.
Sebelum Daffin sempat menjangkau diriku, dengan segera aku menghindar dan berjalan menuju kamar tidurku.
"Nyonya Stevano!" teriak Daffin, tepat saat aku akan membuka pintu kamarku yang berada tak jauh dari ruang tamu.
"Jangan mendekat!" sergahku, ketika Daffin semakin mengurangi jarak di antara kami. "Dan aku bukan nyonya Stevano!" teriakku lagi.
"Berhentilah berteriak, Ayasya, itu tidak baik untuk kesehatanmu." pinta Daffin, dia begitu sabar menghadapi amarahku.
Aku mulai curiga jika Daffin yang ada di hadapanku saat ini adalah palsu, karena Daffin yang ku kenal tidak akan selembut dan sesabar ini menghadapi tingkahku.
"Biarkan saja! Aku hidup atau mati, tidak ada hubungannya denganmu!"
"Tentu ada! Kau istriku, apapun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku."
Ucapan Daffin terdengar seperti gaung di telingaku, tapi aku tetap bisa mendengarnya dengan jelas hingga aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Tiba-tiba pandanganku buram, dan aku juga tidak bisa merasakan kakiku yang berpijak.
"Ayasya!!!"
Hallo semuanya π€
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1