
Serangan dadakan dari Daffin tak bisa aku halau. Aku tidak tahu jika dia sudah menyiapkan hal seperti ini untukku. Aku pikir, aku tidak akan pernah menemani Daffin dalam acara seperti ini karena hanya kak Reena lah yang pantas berada di samping Daffin. Bukan aku.
"Kenapa kau terus memasang wajahmu seperti itu?" Daffin mengulurkan tangannya begitu pintu mobil terbuka.
Bukannya menggapai tangan Daffin, aku justru memalingkan wajahku dan turun tanpa menoleh sedikitpun padanya. Rasa kesal yang teramat sangat pada Daffin masih ku rasakan hingga saat ini.
"Kau tak perlu menunjukkan sebesar apa kebencianmu padaku." ucap Daffin yang kini sudah berjalan di sampingku.
"Kau menjebakku! Ah, tapi itu memang keahlianmu."
Samar-samar aku melihat sudut bibir Daffin yang tertarik saat aku mengatakan itu. Rupanya dia memang bahagia karena telah berhasil menjebakku.
Flashback on...
"Aku tidak ingin pergi, Rania."
Rania yang malang. Dia sudah berulang kali mencoba membujukku agar mengenakan gaun yang dia bawa, tapi aku terus menolaknya dan terus saja memakan es krim buatan Rania yang sangat lezat.
"Nyonya muda, ku mohon! Ini perintah tuan." lirih Rania, wajahnya membuatku tidak tega.
Suapan terakhir es krim sudah masuk ke dalam perutku dan meninggalkan mangkuk besar yang bersih tak bersisa. "Emm ... kau memang hebat, Rania."
Aku mengacungkan kedua ibu jariku pada Rania sebagai pujian atas keberhasilannya membuat es krim rasa sop buah.
"Ayo, Nyonya muda! Jika anda sudah selesai sekarang anda harus bersiap-siap karena sudah tidak ada waktu lagi." ucap Rania, matanya terus saja melirik ke arah jam di dinding.
"Tidak mau!" Aku menolak Rania dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, kemudian berpura-pura memejamkan mataku.
Untuk beberapa saat suasana terasa hening hingga aku penasaran dan membuka mataku. Betapa terkejutnya aku, melihat Daffin sudah berdiri di tempat tadi Rania berdiri dan gaun yang di bawa Rania juga sudah berada di tangannya.
"Dimana Rania?"
"Di telan bumi."
"Daffin! Jangan macam-macam! Dimana Rania?"
"Kau yang bertingkah, Nyonya Stevano, bukan aku."
Aku mendudukkan diriku di atas tempat tidur. "Benarkah? Tapi aku tidak merasa seperti itu?"
Daffin tidak mengatakan apapun, tapi dia terus mendekatkan dirinya padaku dengan menyusulku ke tempat tidur.
__ADS_1
"Mau apa kau, Daffin?"
Aku yakin, wajah panikku ini menjadi alasan senyuman di wajah Daffin. "Aku memenuhi undanganmu, Nyonya Stevano."
"Undangan apa?"
Seringai jahat seketika muncul di wajah Daffin. "Undangan untuk menemanimu di tempat tidur."
"Tidak ada undangan seperti itu!" sanggahku, dan langsung menjauhkan tubuhku darinya.
"Kalau begitu, pakai gaun itu! Atau kau dan pelayan itu akan benar-benar di telan bumi!"
Setelah mengatakan hal itu, Daffin langsung keluar dari kamarku dengan membanting pintu.
"Plankton bodoh!!! Kau akan merusak pintu kamarku!!!"
Flashback off...
Kira-kira begitulah karena takut Daffin akan kembali memecat Rania, aku pun menurutinya untuk datang ke pesta ini bersamanya.
"Daffin?"
"Hemm ...."
Aku sempat melirik ke arah Daffin yang berjalan dengan angkuhnya. Dia bersikap seolah dialah bintang dari acara ini.
"Ulang tahun DS corp."
Bersamaan dengan jawaban Daffin, sebuah pintu besar terbuka dan sudah ada karpet merah yang membentang untuk menyambut sang empunya kuasa.
"Selamat datang, Tuan Stevano. Selamat atas keberhasilan anda memimpin perusahaan ini. "
Hampir semua orang mengucapkan hal yang sama. Semua mata dan perhatian tertuju pada Daffin. Aku berani bertaruh jika orang-orang itu tidak memperhatikan kehadiranku. Menyadari kesempatan yang aku miliki, aku pun diam-diam pergi dan menjauhi Daffin tanpa di sadari olehnya.
"Pesta yang membosankan!"
Aku berdiri di salah satu sudut ruangan dan memperhatikan orang-orang yang berebut mengucapkan selamat pada Daffin. Memang ku akui, dalam urusan bisnis kemampuan Daffin tidak perlu di ragukan lagi. Aku ingat kak Erlan pernah menceritakan tentang kesuksesan DS corp yang menanjak karena tangan dingin Daffin, tapi saat itu aku tidak percaya dan tidak memperdulikannya karena bagiku kak Erlan adalah satu-satunya pria terhebat yang ada di dunia ini. Dan sekarang, aku menyaksikan sendiri betapa cerdasnya Daffin dalam mengelola kerajaan bisnisnya.
Saat aku larut dalam lamunanku tentang semua kesuksesan Daffin, tiba-tiba saja pria itu sudah ada di hadapanku. Dia membawaku untuk berkenalan dengan beberapa rekan bisnisnya yang berbicara dalam bahasa asing.
"Daffin, aku tidak mengerti apa yang mereka katakan." bisikku pada Daffin yang terlibat pembicaraan yang sama sekali tidak ku pahami.
__ADS_1
"Tersenyum saja! Setidaknya kau tidak akan terlihat bodoh."
'Aku atau kau yang bodoh?'
Benar-benar tidak bisa ku pahami lagi. Aku memilih untuk memisahkan diri setelah aku berpamitan pada orang-orang itu dengan bahasa tubuhku. Sebelum pergi, aku sempat melihat Daffin yang sepertinya enggan membiarkan aku pergi. Mungkin dia takut aku akan membuat masalah.
Saat aku baru saja berbalik, aku melihat kak Reena baru saja datang bersama dengan kedua orang tuanya. Aku pikir begitu, karena aku pernah melihat foto mereka di dalam rumah Daffin.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Kafeel." Seorang pria paruh baya dan berwajah bule langsung memeluk ayahnya kak Reena.
Interaksi di antara kedua pria paruh baya itu begitu dekat, seperti dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
"Dad, lepaskan ayah! Kau membuatnya tidak bisa bernafas." ucap Daffin yang sudah bergabung bersama mereka.
Astaga!!! Aku begitu larut dalam nostalgia kedua pria itu sampai tidak menyadari Daffin yang sudah berjalan melewatiku.
"Bagaimana kabarmu, Ayah?" Kini giliran Daffin yang memeluk pria itu.
"Aku baik. Bagaimana denganmu, Daffin?" Pria itu menepuk-nepuk bahu Daffin.
"Aku baik, Ayah, maaf aku tidak bisa menjemputmu."
"Tidak masalah. Reena saja sudah cukup."
Entah apa yang salah dengan hatiku, tapi saat ayahnya kak Reena mengatakan itu aku merasa ada sesuatu yang mengusik hatiku. Seperti sesuatu memaksa untuk keluar dari dalam sana.
Aku tidak berani mendekati mereka, aku sadar posisiku saat ini. Keberadaanku disini hanya untuk mengisi kekosongan yang di tinggalkan kak Reena karena dia harus menjemput kedua orang tuanya. Karena kak Reena sudah disini aku pun memilih untuk pergi sebelum ada yang menyadari kehadiranku.
Langkah kakiku tidak tentu arah sejak aku meninggalkan pesta, aku tidak tahu aku ada dimana. Namun, jika ku cermati sepertinya aku masih berada di dalam area gedung tempat pesta itu di adakan.
Aku berhenti di sebuah tempat yang cukup sepi. Tak ada siapapun disini. Mungkin tempat seperti inilah yang sesuai untuk hatiku. Di kejauhan aku melihat sebuah kursi yang berada di bawah pohon yang rindang. Aku pun berjalan dan bermaksud untuk mendinginkan pikiranku di sana, tapi saat aku sampai di sana ternyata sudah ada seorang wanita yang duduk disana.
"Permisi, Nyonya, apa aku boleh menemanimu?"
Wanita itu menoleh dan membuat pandangan kami bertemu. Seperti sebuah sihir, aku pun terhipnotis oleh mata itu yang seolah telah mengikatku bersamanya.
Hallo semuanya 🤗
Maaf ya part kali ini kurang jelas dan tak tentu arah seperti hati author yang amburadul 🤧
Bantu author untuk menaikkan mood author dengan meninggalkan jejak kalian disini agar author makin semangat untuk meneruskan cerita Ayasya 😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh