
Kekacauan yang di ciptakan oleh Reena sedikitnya merubah suasana hatiku saat ini. Tak ubahnya denganku, Daffin juga terlihat tidak baik. Dia selalu marah untuk hal-hal kecil. Daffin bahkan memarahiku di depan para pelayan karena aku menolak perintahnya.
"Tolong jangan menguji kesabaranku, Nyonya Stevano! Masuklah ke kamar sekarang!" bentak Daffin, jarinya mengarah ke tangga.
Sebenarnya aku ingin menangis karena sudah lama Daffin tidak berbicara sekeras itu padaku dan hari ini dia melakukannya lagi hanya karena gurita betina itu, tapi aku tetap berusaha terlihat tangguh di hadapannya.
Mataku memicing menatap Daffin. "Aku tidak mau! Aku ingin tetap disini. Kau bisa pergi kemanapun, tapi jangan memintaku untuk pergi dari sini."
Setelah bertengkar dengan Reena, Daffin membawaku masuk ke dalam rumah. Sedangkan dia meminta Shaka untuk mengusir Reena.
"Kau!" Daffin mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajahku. "Tidak bisakah kau mendengarkan aku? Begitu sulitnya bagimu untuk mengerti setiap ucapanku." keluhnya.
Bola mataku terfokus pada jari Daffin yang masih mengarah padaku. Aku merasa seperti orang asing di hadapan Daffin saat ini. Dengan amarah dan kekecewaan yang memenuhi hatiku, aku menepis jari Daffin.
"Iya! Karena bahasamu berbeda denganku! Dan karena aku bukan Reena yang selalu mengerti dirimu!" sindirku seraya melangkah melewati Daffin.
Aku merasakan cengkraman tangan Daffin di pergelangan tanganku ketika aku melewatinya.
"Kau marah?" tanya Daffin, cengkraman tangannya menimbulkan rasa panas di tanganku.
Iya, aku marah! Astaga!!! Ingin rasanya aku berteriak begitu, tapi aku tahu suasana hati Daffin sedang kacau. Dia pasti akan menghukumku dengan caranya yang aneh jika aku tetap memancing amarahnya.
Sekuat tenaga aku menarik tanganku agar terlepas dari tangan Daffin. "Tidak! Aku hanya mencoba mengerti dirimu."
Aku tidak tahu bagaimana reaksi Daffin karena aku tidak berniat menoleh sedikitpun, kecuali saat aku mendengar suara Shaka.
"Sesuai perintah anda, Tuan," ucap Shaka, dia sedang membungkuk di hadapan Daffin.
Langkahku baru saja sampai di beberapa anak tangga ketika Daffin kembali melemparkan tatapan menyebalkannya padaku.
Masuk ke kamar! Aku pikir seperti itulah arti tatapan Daffin.
Bibirku mencebik dan aku menghentakkan kakiku sebelum kembali menapaki anak tangga. Namun, saat sampai di lantai atas aku melihat ke bawah dimana Daffin dan Shaka menuju ke ruang kerja Daffin. Entah mengapa tiba-tiba aku jadi merasa khawatir. Ingatan tentang wajah Shaka yang lebam akibat ulahku kembali berputar dalam ingatan.
"Tidak! Jangan sampai itu terjadi lagi! Aku tidak ingin ada yang menanggung kesalahanku." gumamku, kemudian kembali menuruni anak tangga.
Awalnya aku berpikir untuk menerobos masuk ketika aku sampai di depan pintu ruang kerja Daffin, tapi aku rasa itu tidak akan berdampak baik untukku dan juga orang-orang yang ada disini karena Daffin pasti akan mengamuk.
Aku hanya bisa menggaruk-garuk keningku, berharap aku akan mendapatkan sebuah gagasan yang bisa membawaku masuk kedalam dan melihat apa yang terjadi disana.
"Ah, iya!" Aku menjentikkan jariku dan menarik senyum tipis sebelum mengetuk pintu berhawa dingin di hadapanku.
Tok ... tok ... tok ...
Tidak ada suara ataupun jawaban yang membuatku semakin khawatir dan berpikiran buruk. Namun, saat aku hendak mengetuk pintunya lagi tiba-tiba kepala Shaka menyembul ke luar.
"Nyonya?" Kedua alis Shaka menukik tajam, dia menatapku keheranan.
Kepalaku bergerak ke kiri dan ke kanan, mencoba mencuri pandang ke dalam ruangan, tapi sia-sia karena tubuh tinggi Shaka menghalangi penglihatanku.
__ADS_1
Bola mataku berputar untuk mencari alasan yang tepat. "Aku ingin menemui Daffin."
"Tidak bisa, Nyonya," jawab Shaka cepat, dia bahkan tidak bertanya dulu pada Daffin.
Aku mengamati tubuh Shaka dari ujung rambutnya hingga ke ujung kakinya. "Kau ... ah, lupakan! Daffin sedang apa memangnya? Kenapa aku tidak boleh menemuinya?"
Sebenarnya aku ingin bertanya pada Shaka apa Daffin memukulnya kali ini, tapi karena aku tidak melihat satu pun luka di wajahnya, jadi ku putuskan untuk mengurungkan niatku.
"Tuan sedang sibuk, Nyonya," jawab Shaka.
Jawaban Shaka yang singkat dan cepat menimbulkan kecurigaan di hatiku. Apa yang sebenarnya sedang di lakukan Plankton itu dalam ruang kerjanya? Dan kenapa dia meminta Shaka untuk menemuiku daripada dia menemuiku sendiri? Apakah sikap posesifnya sudah luntur? Terserahlah!
Aku sempat melemparkan tatapan jahatku pada Shaka yang mendapatkan balasan senyuman licik di wajahnya.
"Selamat beristirahat, Nyonya," ucap Shaka, lebih tepatnya ejek Shaka karena dia mengucapkannya dengan nada yang menjengkelkan.
Helaan nafasku terasa begitu berat ketika aku melangkah untuk menjauhi ruang kerja Daffin, tapi mungkin Daffin benar-benar sedang sibuk. Dia tidak mungkin mengacuhkan aku jika dia tidak sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Atau mungkin, ada seseorang di dalam sana yang coba di sembunyikan oleh Daffin? Bisa saja dia sedang bermain petak umpet denganku. Pikiranku berputar mencoba menelaah jawaban yang paling meyakinkan.
"Reena!" pekikku, menyadari kemungkinan si gurita betina itu ada di dalam ruang kerja Daffin. "Awas kau, Daffin!" gerutuku.
"Nyonya, anda kembali?" tanya Shaka bingung, ternyata dia masih berdiri di tempatnya ketika aku berbalik.
Mataku menatap tajam sosok Shaka yang tak memiliki ekspresi sedikitpun. "Katakan padaku! Siapa yang ada di dalam?"
Shaka menoleh ke arah pintu, lalu menatapku dan mengarahkan ibu jarinya ke pintu ruang kerja Daffin sehingga aku mengangguk untuk mengiyakan isyaratnya itu.
"Tentu saja tuan, Nyonya!" jawab Shaka yakin.
Shaka menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Maaf, Nyonya, ini perintah tuan. Anda di minta untuk beristirahat!"
"Aku tidak ingin istirahat! Aku ingin menemui Daffin! Aku bosan, tapi jika dia tidak ingin menemuiku ...," teriakku menggantung, lalu sengaja mengarahkan mulutku ke arah pintu dan bersiap untuk berteriak kembali. "Aku akan menemui om Rei! Hemm ... atau mungkin kak Ersya. Meraka pasti setuju untuk menemaniku memakan es krim dan berjalan-jalan." ocehku.
Hening. Tidak ada respon apapun. Wajahku memberengut sempurna ketika berbalik dan melangkah menjauhi pintu yang tertutup rapat itu.
"Jangan pernah berani untuk berpikir seperti itu lagi atau aku akan mengurungmu di dalam kamar!" ancam Daffin, suaranya terdengar begitu panik.
Dalam hatiku, aku begitu bahagia menyadari Daffin masih memperdulikan diriku. Namun, aku tidak akan membiarkan dia mengetahui hal itu. Dia harus mendapatkan hukuman karena telah membuatku merasa seperti orang asing akibat amarah dan penolakannya terhadapku.
Sekuat hati aku menahan kakiku agar tidak berbalik menghadap Daffin. "Bukankah kau sibuk, Tuan Stevano? Aku hanya mencari seseorang yang bisa menemaniku. Apa yang salah dengan itu?"
Sejujurnya aku ingin sekali tersenyum dan melompat-lompat karena begitu bahagia telah membuat Daffin cemburu. Dengan begitu aku tidak perlu mengkhawatirkan posisiku di hatinya. Dia masih sama, sikap posesifnya selalu mendominasi.
Langkah kaki Daffin terdengar semakin mendekat padaku, tapi aku tetap pada pendirianku untuk memberinya pelajaran bahwa aku bukanlah wanita yang bisa di acuhkan begitu saja.
Aku terkejut ketika tangan Daffin menarik tanganku. Dalam satu sentakan aku sudah bertatapan dengan mata biru yang begitu memikatku.
"Salah! Hati dan pikiranmu hanya boleh di isi tentang aku! Hanya aku! Sama halnya dengan hatiku yang hanya di penuhi oleh dirimu." sergah Daffin, sorot matanya menyihirku.
Seperti sebuah belenggu, aku hanya terdiam tanpa bisa melawan Daffin ketika dia kembali memaksakan kehendaknya padaku. Dia meraih pinggangku dan mendekatkan tubuhnya padaku.
__ADS_1
Cup ...
Satu kecupan mendarat di keningku. "Ini milikku!"
Cup ...
Kecupan berpindah ke kedua mataku. "Mata ini hanya boleh menatapku!"
Cup ...
Kedua pipiku mendapatkan sentuhan bibir Daffin juga. "Hanya jejak bibirku yang boleh ada disini!"
Cup ...
Bahkan hidungku tak luput dari kecupan Daffin. "Aroma tubuhku yang akan selalu menjadi aroma kesukaanmu!"
Terakhir, Daffin menyergap bibirku tanpa memperdulikan kehadiran Shaka yang sudah menyaksikan kegilaannya sejak tadi.
"Bibirmu ini milikku! Hanya milikku!" tegas Daffin, begitu dia melepaskan pagutan bibirnya dan mengusap lembut bibirku.
Aku rasa wajahku sudah semerah tomat saat ini karena tatapan Shaka yang entah ke arah mana, menandakan bahwa dia sendiri tidak nyaman dengan apa yang ada di depan matanya. Aneh sekali, kenapa dia tidak pergi saja? Jika aku jadi dirinya, aku pasti sudah pergi daripada harus melihat tontonan yang menggetarkan jiwa kesepiannya itu.
"Hentikan, Daffin! Kau tidak malu pada Shaka?" elakku, ketika Daffin mulai menyelami lekuk leherku.
Daffin menilik Shaka dari sudut matanya. "Tidak! Dia juga harus tahu bahwa kau hanya akan menjadi milikku."
Astaga!!! Pria tua ini! Aku hanya menyebut nama om Rei dan Ersya, dia sudah menggila seperti ini. Bagaimana jika aku benar-benar bermesraan dengan pria lain di hadapannya? Ah, aku tidak berani membayangkan kemungkinan terburuknya.
Aku menghela nafasku panjang. "Baiklah! Tidak akan ada yang merebutku darimu, tapi bisakah aku -"
Daffin segera menyela ucapanku. "Tidak! Kau tidak di izinkan menemui pria manapun selain aku!"
"Plankton menyebalkan! Kau tidak membiarkan aku masuk ke dalam ruang kerjamu, tapi kau juga tidak mengizinkan aku untuk pergi keluar." umpatku kesal, sudah lama rasanya aku tidak menyebutnya seperti itu.
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di dalam." Daffin meraih tanganku dan menciumnya.
"Penting?" tanyaku ambigu.
Daffin mengangguk. "Iya, sangat penting!"
"Lebih penting daripada aku dan anakmu?" tanyaku, seraya menelaah manik mata Daffin.
Mata biru itu merefleksikan bayangan diriku. Aku bisa melihat dimana tempatku berada, tapi anehnya aku mengharapkan Daffin untuk mengatakannya sendiri.
Kegelisahan dan keraguan menyelimuti mata biru yang sedang menatapku penuh cinta. Daffin terlihat menimbang jawaban yang akan dia berikan padaku.
"Tidak ada yang lebih penting darimu dan juga anak kita, Nyonya Stevano, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan keselamatan dan kebahagiaanmu hanya karena rasa cintaku padamu."
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh