Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
PLANKTONLAH TAKDIRKU


__ADS_3

Amarah yang di perlihatkan Daffin benar-benar membuatku bingung. Apa yang sebenarnya telah memancing amarah Plankton menyebalkan sepertinya? Benarkah hanya dengan melihatku sudah bisa menyulut emosinya? Apa salahku padanya? Dia yang telah memaksaku masuk ke dalam hidupnya. Dia juga yang selalu menyakitiku dan membuatku tertekan dengan semua sikapnya, tapi kenapa dia bersikap seolah dirinyalah yang paling terluka?


"Dasar, Plankton aneh!" Aku menarik tanganku secara paksa dari genggaman tangan besar Daffin. Pergelangan tanganku sampai memerah karena ulahnya.


"Kau!" Daffin menunjukkan jarinya tepat di depan wajahku. "Kau pikir bisa berselingkuh dariku?" tuduhnya.


Aku hanya menganga menanggapi tuduhan Daffin yang tidak beralasan. "Aku? Selingkuh? Dengan siapa? Bukan. Dari siapa? Aku tidak pernah berselingkuh dari siapapun."


Daffin kembali menarik tanganku yang masih memerah. "Kau selingkuh dariku. Kau bermain dengan pria lain. Kau pikir aku tidak tahu?"


Tuduhan Daffin tidak beralasan menurutku. Dia datang dengan cara merusak pintu rumahku dan mengusir Ersya seenaknya tanpa izin dariku. Dan sekarang dia menuduhku berselingkuh darinya. Sebenarnya apa isi otak Daffin?


"Memangnya kenapa kalau aku berselingkuh? Kau saja bisa memiliki dua istri. Kenapa aku tidak bisa memiliki dua suami? Lagi pula pernikahan itu belum jelas adanya. Aku bisa bersama dengan pria manapun yang aku inginkan."


Daffin menatapku tajam dan jujur saja itu membuat nyaliku menciut di hadapannya. Namun, aku tetap berusaha untuk menutupinya. Aku pikir Daffin akan membentakku atau mengurungku, tapi sungguh di luar dugaan. Daffin melepaskan tanganku dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Sebelumnya Daffin juga pernah bersikap seperti ini saat aku memintanya untuk menceraikanku dan ketika aku memecahkan guci kesayangannya. Apakah ini memang kebiasaannya? Pergi begitu saja tanpa menyelesaikan masalah.


"Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam rumah ini tanpa izin dariku!"


Aku mendengar Daffin berbicara pada seseorang di teras depan. Dengan cepat aku menyusulnya dan melihat Daffin sedang berbicara pada beberapa pria bertubuh kekar dengan wajah-wajah tegang.


"Ada apa ini, Daffin?" Aku memperhatikan wajah-wajah itu satu persatu.


Daffin hanya mengangkat kepalanya satu kali dan membuat barisan pria bertubuh kekar itu langsung berdiri di setiap sudut rumahku. "Aku hanya memastikan keamananmu." jawab Daffin.


"Keamanan? Itu hanya tamengmu. Sebenarnya kau hanya ingin mengurungku, kan?"


Seringai jahat muncul di sudut bibir Daffin. "Jika kau berpikir seperti itu. Maka anggaplah seperti itu."


Setelah mengatakan hal itu, Daffin hendak melenggang pergi dari rumahku. "Tunggu dulu! Kau harus bertanggung jawab karena telah merusak pintu rumahku." Aku menunjuk pintu rumahku yang rusak karena ulah Daffin.


"Kau mencoba menahanku?" Lagi-lagi Daffin menuduhku tanpa alasan.


Aku memutar bola mataku dengan malas. "Kau boleh pergi sekarang. Dan jika bisa, tolong bawa juga pasukanmu! Aku tidak begitu berharga sampai harus di awasi seperti ini."


"Pasukan?" Daffin mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Iya. Mereka." Aku menunjuk para pria kekar yang kini berdiri seperti patung di setiap sudut rumahku.


"Astaga! Apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan? Mereka hanya -"


"Hanya akan membuatku merasa di awasi. Tidakkah ini akan terlihat seperti aku baru saja melakukan kejahatan?"


Daffin tidak menyanggah ucapanku, tapi dia melangkah dan mengurangi jarak di antara kami berdua. "Terkadang, aku pikir kau begitu menyukai pertengkaran di antara kita."


Suara Daffin sangat dingin. Dia memang tidak pernah menunjukkan kehangatannya kepadaku. Yang ada dia justru lebih sering menunjukkan kobaran api kebenciannya padaku. Sungguh, pria yang aneh.


"Aku bukannya menyukai pertengkaran, tapi aku hanya membela hakku yang selalu kau lupakan."


"Hak apa yang kau maksud, Nyonya Stevano?"


"Hak untuk hidup. Hak untuk bahagia. Hak untuk menentukan jalan hidupku dan semua hak seorang istri yang tak pernah kau penuhi."


Daffin terdiam dan hanya menatapku untuk beberapa saat. "Jadi? Saat ini Nyonya Stevano sedang menuntut haknya?"


Bodohnya, aku langsung menganggukkan kepalaku ketika Daffin menanyakan hal itu. Sepertinya dia salah mengartikan ucapanku, karena tiba-tiba saja Daffin mengangkat tubuhku dan membawaku kembali masuk ke dalam rumah.


"Diamlah! Atau kau akan jatuh." bentak Daffin saat kami melewati ruang tamu dan terus melewati dapur kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.


'Tunggu dulu! Bukankah ini menuju kamar tidurku?'


Benar saja! Daffin membawaku ke kamar tidurku dan kak Erlan. Kamar yang begitu banyak menyimpan kenangan indahku yang singkat.


Daffin menurunkan tubuhku di atas tempat tidur kemudian dia mengejutkanku dengan membuka jas dan juga dasinya. "Akan aku penuhi hakmu sebagai istriku."


"Hak ap- apa ... yang kau maksud?"


"Bukankah kau meminta hakmu, Nyonya Stevano?" Tubuh Daffin sudah menyusulku yang terbaring di atas tempat tidur.


Sungguh, aku merasa sangat kecil dan tidak berdaya dengan posisi Daffin yang seperti ini. "K- Kau salah! Bukan ini maksudku."


"Benarkah?" Satu persatu kancing kemeja Daffin terbuka dan memperlihatkan dada serta perutnya yang atletis.

__ADS_1


"Daffin? Daffin dengarkan aku!" Kemeja Daffin sudah teronggok di lantai menyusul jas dan juga dasinya yang telah lebih dulu dia lemparkan.


Daffin tidak mau mendengarkanku. Dia terus saja mendekatiku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku dengan kasar.


"Emm... emm.. emm ...," Aku mencoba mendorong tubuh Daffin meski aku tahu itu tidak akan berguna.


Wajah kak Erlan berkelebatan dalam pikiranku. Dia pasti sedih jika tahu pria lain menyentuhku di atas tempat tidurnya. Tempat biasa dia tertidur dan memelukku. Bayangan kesedihan kak Erlan membuatku merasa sesak hingga tak sanggup menahan air mataku dan sepertinya itu membuat Daffin tidak nyaman hingga melepaskan tautan bibirnya.


"Shit!!!" umpat Daffin, dia meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Bawakan aku pakaian ganti!" titah Daffin pada orang di seberang panggilan.


Aku merubah posisi tubuhku dan beringsut ke ujung tempat tidur. Aku begitu ketakutan untuk berada di dekat Daffin. Dia memang tidak sampai melakukan hal yang dia sebut sebagai hak, tapi aku tetap harus menjaga jarak darinya.


Tepat saat Daffin akan melangkah mendekatiku, seseorang mengetuk pintu kamarku. "Tuan, pakaian anda."


Saat Daffin membuka pintu, aku melihat Shaka berdiri di luar dan membawakan pakaian untuk Daffin. Tatapan Shaka tertuju padaku yang sedang mengeratkan selimut di tubuhku. 'Dia pasti memikirkan hal yang aneh. '


"Pergilah!" Sepertinya Daffin menyadari jika Shaka terus memperhatikanku. Dengan kasar Daffin menutup pintu dan menguncinya.


"Ke- Kenapa kau... masih disini?"


"Untuk memenuhi hakmu, Nyonya Stevano. Aku tidak ingin kau terus menuntut hakmu padaku." Daffin kembali mendekatiku.


Namun, belum sempat dia mendekatiku. Aku sudah berteriak, "DAFFIN!!! KAU SALAH! BUKAN INI YANG AKU INGINKAN! DAN AKU BUKAN NYONYA STEVANO!"


Sepertinya ucapanku tidak berpengaruh apapun pada Daffin. Dia tetap mendekatiku dan mendekatkan bibirnya di telingaku.


"Belajarlah untuk menerima takdirmu, Nyonya Stevano!"


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih masih setia menunggu author yang jadwalnya amburadul ini 🤭


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2