
"Tapi kau harus terlibat karena semua ini menyangkut dirimu, Nyonya Stevano."
Ucapan Daffin terus terngiang di telingaku. Pikiranku berkelana kemana-mana, seolah tidak ingin diam di tempat dan membiarkan aku menemukan jawaban atas kegelisahan yang mendera hatiku kini.
Daffin benar! Semua masalah ini berakar dari diriku. Walaupun aku menolaknya, pada akhirnya semua ini akan kembali padaku cepat atau lambat. Dan tentang pria yang di sebut sebagai ayah kandungku, dia berhak tahu tentang keberadaanku karena dia tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini.
"Apa yang kau pikirkan?" Pertanyaan Daffin membuatku tersadar bahwa aku masih berada di tengah keramaian di pusat perbelanjaan.
Pandangan mataku berpendar. Aku menilik sekeliling dan menyadari posisi kami yang sudah berada di sebuah restoran yang cukup ramai.
Ketika aku melihat sebuah tulisan yang cukup besar di dinding restoran, mataku memicing untuk membaca tulisan apa itu. Namun, sayangnya aku tidak mengerti apa yang tertulis disana.
"Daffin, apa itu?" Aku mengarahkan telunjukku pada tulisan itu.
Daffin menoleh dan mengikuti arah pandanganku. "Ah, itu huruf kanji. Itu artinya -"
"Tidak perlu di beritahu! Aku juga tidak ingin tahu." sergahku, sebelum Daffin sempat menyelesaikan kalimatnya.
Aku bisa mendengar Daffin menghela nafas ketika dia kembali menatapku. Mungkin lambat laun dia akan bosan menghadapi sikapku yang sulit di kendalikan ini.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanyaku lagi, seraya mengamati keadaan sekitar.
"Kau lapar. Jadi, tentu saja aku membawamu ke restoran untuk makan." jawab Daffin, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman.
Aku berdecak. "Maksudku, kenapa harus restoran ini? Aku bahkan tidak mengerti apa yang tertulis di sana."
Daffin terkekeh mengetahui salah satu kekuranganku. "Tidak masalah. Makanan disini sangat lezat. Aku juga sudah memesan makanan terbaik yang ada disini."
"Kau sudah sering datang kesini?" tanyaku dengan memicingkan mata.
Ketika Daffin hendak membuka mulutnya untuk menjawab, seorang pramusaji datang dan menyusun makanan di atas meja kami.
Mataku bergantian menatap pramusaji itu dan makanan-makanan aneh yang kini sudah tersusun rapih.
"Makanan apa ini?" tanyaku bingung, khawatir akan rasa dari makanan aneh tersebut.
Daffin mengibaskan tangannya pada pramusaji itu yang langsung di jawab anggukkan kepala dan dalam sekejap pramusaji itu menghilang.
"Kau tidak pernah memakan ini?" Daffin menunjukkan satu piring berisi potongan nasi di gulung yang mirip seperti lontong yang di potong-potong.
"Lontong?" jawabku asal.
Tawa Daffin menyembur dan menarik perhatian semua orang yang ada di restoran itu.
__ADS_1
"Kenapa kalian menatapku? Apa ada yang salah?" sinis Daffin, dia tidak menyadari bahwa suara tawanya mengganggu orang lain.
Aku hanya bisa mendengus dan menahan malu dengan sikap Daffin yang seperti itu. "Kau langka, Daffin, jadi semua orang ingin menatapmu."
Daffin kembali mengalihkan perhatiannya padaku. Kali ini dia bahkan menatapku dengan lekat hingga rasanya tubuhku terkunci oleh tatapan matanya itu.
"Aku langka. Maka, jangan menyia-nyiakan aku karena banyak yang ingin memilikiku." ucap Daffin setengah berbisik.
"Kau benar! Plankton bermata satu memang tiada duanya." selorohku, kemudian menusuk-nusuk makanan aneh di hadapanku.
"Kenapa kau bermain dengan makanan itu, Nyonya Stevano?" Daffin menangkap tanganku.
"Aku tidak bermain, Daffin, aku hanya ingin memastikan apa ini bisa di makan." sanggahku, kembali menusukkan jariku di atas makanan yang seperti lontong tadi.
"Tentu saja bisa! Ini namanya sushi. Apa Erlangga tidak pernah membawamu untuk makan sushi?" tanya Daffin, di susul satu sushi yang menyumpal mulutnya.
Aku hanya menggeleng lemah dan menatap makanan bernama sushi itu, kemudian dengan hati-hati memasukkan makanan itu ke mulutku seperti yang Daffin lakukan.
"Tidak enak! Asam! Apa makanan ini basi?" Aku berusaha mencari tissue untuk mengeluarkan kembali sushi itu dari mulutku.
"Astaga!!! Ternyata Nyonya kedua Stevano sungguh kampungan. Ya, bisa di tebak karena kau berasal dari panti asuhan."
Aku mendongak untuk melihat siapa yang berani menghinaku seperti itu. Dan sungguh mengejutkan, ternyata Reena sudah berdiri di samping Daffin yang tak kalah terkejutnya dengan kehadiran Reena.
"Apa maksudmu? Aku hanya tidak terbiasa dengan makanan ini. Lagi pula, aku tidak memakan makanan basi seperti ini." hardikku seraya berdiri dan melemparkan tatapan menantangku pada Reena.
Apa? Mentah? Ya Tuhan, perutku seketika bergolak seolah mendorong sesuatu yang ingin segera keluar dari dalam sana.
Sekuat tenaga aku menahan rasa mualku. Aku tidak ingin Reena semakin menertawakan kebodohan dan ketidaktahuanku. Di tambah aku juga tidak ingin Reena tahu tentang kehamilanku yang mungkin saja akan membahayakan kehidupan anak yang ada dalam kandunganku nantinya.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Daffin dingin.
Daffin sudah akan berdiri, tapi Reena menahan bahunya dan justru menarik kursi di samping Daffin. "Duduklah dengan tenang dan habiskan makananmu!"
Ada rasa terbakar di hatiku melihat Reena berbicara dengan sangat lembut pada Daffin. Dia seolah tahu bagaimana cara menaklukkan hati Daffin meskipun dia sedang dalam kemarahan.
"Daffin, aku ingin pulang!" Aku sudah menyampirkan tasku dan berbalik untuk meninggalkan restoran yang mulai terasa sesak bagiku.
Tiba-tiba Reena mengatakan hal yang menghentikan langkahku. "Aku tahu, kau pasti datang kesini di hari ini karena teringat kenangan kita di sini. Tempat ini adalah tempat dimana kau melamarku dan menjadi restoran favorit kita selama ini."
DEG ...
Jantungku rasanya merosot ke perut dan membuat aku semakin mual. Kakiku bahkan rasanya tak mampu lagi menopang tubuhku.
__ADS_1
Aku tidak ingin menoleh. Aku tidak ingin melihat apa yang sedang di lakukan oleh pasangan pembawa sial dalam hidupku itu.
Dengan langkah kaki seribu, aku keluar dari restoran itu dan meninggalkan Daffin bersama belahan jiwanya yang tidak lain adalah kakak tiriku sendiri.
Deraian air mata mengiringi langkahku. Aku tidak perduli saat banyak mata yang menatapku. Yang aku tahu, jika sedih maka aku harus menangis dan jika bahagia maka aku harus tertawa.
Aku memilih memasuki toilet dan bersembunyi di salah satu bilik untuk menenangkan pikiranku.
"Daffin bodoh! Daffin sialan! Kenapa dia membawaku ke restoran yang biasa dia datangi bersama wanita itu! Memang hanya ada restoran itu di tempat sebesar ini?" gumamku, seraya terus menarik tissue toilet di sampingku.
Untuk kali ini saja, biarkan aku sekali lagi melakukan kebodohan dengan menggunakan tissue toilet sebagai tissue wajah untuk menghapus air mataku.
"Aaaahhhhh ...."
BRAK ... BRAK ... BRAK ...
Aku melampiaskan kekesalanku pada pintu bilik hingga menimbulkan suara kegaduhan.
"Nona? Nona? Apa anda baik-baik saja?" Seorang wanita mengetuk pintu toilet dan bertanya dengan nada yang khawatir.
"Iya! Aku baik-baik saja. Aku hanya- Hanya baru saja membunuh kecoa yang lewat." jawabku berbohong.
"Oh, baiklah." ucap wanita itu, kemudian keheningan kembali terjadi.
Astaga!!! Aku benar-benar kesal pada Daffin. Kekesalan membuatku lupa jika aku sedang berada di tempat umum. Kau memang bodoh, Ayasya!
Setelah merasa lega telah meluapkan kekesalanku, aku pun keluar dari bilik toilet dan membasuh wajahku. Mata sembabku terlihat sangat jelas di pantulan cermin.
Kesedihan ini telah berhasil membuatku lupa diri, bahkan lupa rasa mual yang sempat menyerangku tadi.
"Hah!" Aku menghembuskan nafasku dengan kasar.
Tanganku merogoh tas kecil yang menyampir di pundakku untuk mencari sesuatu yang bisa membantuku menyamarkan mata sembabku.
"Sial betul nasibku!" gumamku kesal, tak menemukan benda yang aku cari. "Biarlah! Apa ruginya terlihat seperti ini? Aku akan tetap cantik bagaimana pun penampilanku."
Bergegas aku keluar dari toilet dan berniat untuk kembali ke rumah, tapi ketika aku baru saja keluar sebuah tangan sudah menarik tanganku dan membuat tubuhku terjatuh dalam pelukannya.
Aku bisa merasakan orang itu memelukku dengan erat, seolah melepaskan kerinduan yang telah lama terpendam. Aku berusaha menaikkan pandanganku untuk melihat siapa yang telah berani memelukku karena aroma parfumnya terasa tidak asing bagiku.
"Kak Ersya ...."
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh