Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
REINHARD KAFEEL


__ADS_3

Semakin lama aku hidup bersama Daffin, semakin banyak hal baik dan mengejutkan yang di perlihatkan oleh pria tiran itu.


Daffin ternyata pria yang berhati lembut dan penyayang. Aku baru menyadari hal itu ketika melihatnya menangis. Dia begitu terbawa perasaan saat aku memeluk ibu dan mulai membuka hatiku lebih besar untuk memaafkan ibu.


Sekarang aku mengerti. Dulu saat aku pertama menjadi istri Daffin, dia begitu lembut memperlakukan Reena bukan karena dia mencintainya. Melainkan karena Daffin pria yang penyayang dan tidak tega terhadap wanita, tapi kenapa dia suka menindasku. Lain kali, aku harus menanyakan hal itu padanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Daffin, ketika kami baru saja menghabiskan makanan yang di bawa oleh ibu.


"Kenapa kau menangis?" Aku balik bertanya.


"Aku tidak menangis!" elak Daffin. Namun, wajahnya memerah karena malu.


"Terima kasih, Daffin." ucapku lirih, cukup terkejut dengan kata yang terucap dari bibirku.


Daffin menatapku dengan dahi berkerut. "Kau sakit?"


Aku memutar bola mataku dengan malas. "Sakit jiwa karena menghadapimu."


"Lebih baik sakit jiwa daripada sakit hati, Nyonya Stevano." seloroh Daffin, di susul tawa ringan yang menegaskan bentuk rahangnya yang kokoh.


Untuk beberapa saat, aku begitu terpesona dengan wajah Daffin yang begitu tampan. Wajar saja jika Reena begitu tergila-gila padanya.


Tiba-tiba Daffin mengacak-acak rambutku. "Apa yang ada di otak kecilmu itu sekarang?"


Aku mengerucutkan bibirku dan menatap Daffin dengan tajam. Sementara tanganku sibuk merapihkan rambutku yang berantakan. "Aku hanya berpikir, apa yang akan di lakukan Reena sekarang? Dia pasti sedang menyusun rencana untuk merebutmu kembali. Huh! Kau sudah seperti piala saja."


"Aku tidak yakin, tapi sepertinya untuk saat ini Reena tidak akan fokus kepadaku." ucap Daffin, pandangannya menerawang entah kemana.


"Maksudmu?" tanyaku penasaran.


Daffin menatapku lekat. "Dia tahu Lily masih hidup, tapi dia tidak tahu bahwa kau adalah Lily. Saat ini dia sedang mencari dirimu. Reena dan ibunya juga sedang berusaha mencari dukungan para stock holder. Aku hanya berharap dokter Reinhard segera memberikan kabar baik untuk kita."


"Aku tidak mengerti tentang bisnis, Daffin, tapi aku yakin om Rei akan membantu kita. Dia sudah bersedia untuk melakukan apa yang kita inginkan." tuturku.


Senyuman simpul tertarik di sudut bibir Daffin. "Aku tahu. Dia akan melakukan apapun demi Maya, ibumu."


"Bagaimana kau tahu? Kau tahu jika om Rei memiliki perasaan terhadap ibuku?" tanyaku.


"Tentu saja! Hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya. Dokter Reinhard pria hebat. Asetnya bahkan lebih banyak dari apa yang di miliki ayahmu, tapi dia lebih memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter pribadi keluarga Kafeel hanya agar bisa menjaga Maya. Jika boleh jujur, aku begitu mengagumi cinta Maya terhadap tuan Kafeel. Begitu banyak pria yang mengejar cintanya, tapi Maya tetap setia pada ayahmu." tutur Daffin, sudut matanya memerah menahan amarah.


"Itulah cinta, Daffin." lontarku, seolah mengerti apa yang baru saja aku katakan.


"Apa kau juga akan memiliki cinta dan kesetiaan sebesar itu padaku, My Starfish?" tanya Daffin tiba-tiba, membuatku seakan tersengat listrik.


"Jika kau mencintaiku, maka aku pun akan berusaha menjaga cinta itu."

__ADS_1


***


Beberapa hari kemudian, om Rei datang ke rumahku dan membawa sebuah berkas di tangannya. Wajahnya terlihat begitu bahagia dan terus saja menyunggingkan senyuman, terlebih ketika dia melihat ibuku.


"Maya!" seru om Rei, hampir saja dia memeluk ibu jika aku tidak menghalanginya. "Maaf ...."


"Ada apa, Om?" tanyaku langsung ketika om Rei masih terlihat canggung karena tindakannya barusan.


"Ah, iya, ini!" Om Rei menyerahkan berkas di tangannya padaku. "Itu adalah hasil tes DNA antara kau dan Reyno. Hasilnya positif. Kau adalah Lily, putri Reyno dan juga Maya."


Kedua alisku menukik tajam. "Memang aku Lily. Om Rei tidak percaya padaku?"


"Tidak, Ayasya! Aku percaya. Hanya saja aku begitu senang karena akhirnya kita memiliki bukti yang kuat." jelas om Rei.


"Rei, apakah hal ini tidak akan mengganggu pekerjaanmu sebagai seorang dokter?" tanya ibu, wajahnya terlihat begitu menyesal.


"Jangan khawatir, Maya! Yang terpenting sekarang adalah menyatukan kau, Reyno, dan juga Lily." jawab om Rei, tatapannya tertuju padaku.


"Ayasya, Om! Aku lebih suka nama itu." lontarku.


"Tapi -"


"Lily atau Ayasya, kau tetap putri ibu." sahut ibu, memotong ucapan om Rei.


"Benar! Keduanya aku suka." lontar Daffin yang baru saja memasuki rumah dan langsung mengecup bibirku sekilas. "Love you." ucapnya lembut.


"Mandi sana!" Aku mendorong dada bidang Daffin dengan cukup keras. "Kau bau!"


"Baiklah! Sesuai perintahmu, Nyonya Stevano."


***


Tidak berapa lama, Daffin kembali bergabung denganku dan ibu beserta om Rei di meja makan.


"Kenapa kau masih disini, Dokter Reinhard?" sinis Daffin.


Om Rei dan aku menoleh bersamaan karena kami memang sedang terlibat pembicaraan yang menyenangkan mengenai masa lalu di panti asuhan.


"Tentu saja karena aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan keponakanku yang cantik." jawab om Rei seraya mencubit hidungku.


Aku hanya tertawa dengan sikap om Rei yang tidak pernah berubah sejak dulu. Dia selalu suka bercanda dan memuji wajahku. Ya, tentu saja hal itu karena wajahku sangat mirip dengan ibu.


"Hei, singkirkan tanganmu!" ucap Daffin dingin. Tatapan matanya sungguh mengerikan.


Aku, om Rei dan ibu sempat terdiam membeku karena ulah Daffin. Namun, sesaat kemudian terdengar suara tawa om Rei.

__ADS_1


"Jangan katakan jika kau cemburu padaku, Tuan Stevano! Aku adalah pamannya. Tidak mungkin aku memiliki perasaan khusus terhadap Ayasya." goda om Rei, sebelah matanya mengerling padaku.


Daffin mendengus kesal. "Kau bahkan mencintai kakak iparmu sendiri."


"Itu karena masih ada kemungkinan aku untuk menikahinya, tapi aku tidak akan mungkin menikahi keponakanku sendiri, bukan?" seloroh om Rei dengan senyuman usil di wajahnya, yang mana mengundang tawa kami berdua.


Aku memperhatikan raut wajah ibu yang berubah-ubah sejak tadi, tapi yang pasti ibu terlihat sedih ketika aku tertawa bersama om Rei.


"Bu?" panggilku.


"Iya, Sayang?" jawab ibu seraya menatapku.


"Apa yang Ibu pikirkan?" tanyaku.


"Tidak ada, Sayang, Ibu hanya mengkhawatirkan masa depanmu." lirih ibu menjawab.


Tiba-tiba suasana yang awalnya ceria menjadi sedikit menegangkan hingga menciptakan keheningan karena kami sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku dengar, Reena mendapatkan dukungan dari beberapa stock holder. Hal itu akan membahayakan bagi Ayasya. Kapan kalian berniat mengungkapkan kebenaran ini di hadapan umum?" ucap om Rei membuka pembicaraan kembali.


"Tidak lama lagi! Bagaimana hasil tes DNAnya?" tanya Daffin datar.


"Seperti yang di inginkan." jawab om Rei.


"Good! Persiapkan dirimu, Nyonya Stevano!" lontar Daffin, dia menatapku seperti seorang guru yang menatap muridnya.


"Akan aku usahakan." jawabku ambigu.


Om Rei menepuk bahuku. "Jangan risau, Ayasya! Om bersamamu."


"Bantuanmu cukup sampai disini saja, Dokter Reinhard." sergah Daffin.


"Astaga! Sepertinya kau masih ragu kepadaku. Aku beri tahu satu hal, aku akan sangat berguna bagi Ayasya dalam menghadapi Reena. Karena aku memiliki apa yang di butuhkan Ayasya untuk saat ini." tegas om Rei.


"Jangan bermain-main denganku, Dokter Reinhard!" sinis Daffin, sepertinya benar yang dikatakan oleh om Rei bahwa Daffin cemburu padanya.


Kekehan terdengar dari mulut om Rei. "Aku tidak main-main, Tuan Stevano."


"Katakan! Apa yang kau miliki, Dokter Reinhard?" tanya Daffin, geram dengan sikap om Rei.


"Saham keluarga Kafeel."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2