Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MENUNGGU


__ADS_3

"Mr.P is Mister Plankton, My Starfish."


Wajahku rasanya seperti terbakar saat Daffin menjelaskan arti dari kontak namanya di ponselku.


Untuk menyamarkan rasa maluku, aku pun memberontak untuk melepaskan diri dari tangan besar Daffin yang masih melingkar di pinggangku.


Bukannya melepaskan aku, Daffin justru mengangkat tubuhku dan menggendongku seperti anak kecil.


"Daffin, turunkan aku!" jeritku, seraya memukuli dada bidang Daffin yang sedikit berbulu dan membuatku seperti sedang di gelitiki.


"Diamlah! Nanti kau jatuh." tegas Daffin. Namun, tetap tidak mau menurunkan aku.


Aku hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Daffin melakukan apa yang dia inginkan, daripada dia menjatuhkan aku ke lantai jika tiba-tiba sifat tirannya muncul lagi.


Sungguh di luar dugaan. Bukan, harusnya sudah ku duga jika Daffin akan menurunkan aku di atas tempat tidur dan menyusulku serta mengukung tubuhku di bawah tubuhnya.


Deru nafas Daffin yang menimpa wajahku, berpacu dengan degup jantungku yang serasa akan segera keluar ketika bibir Daffin menyergap bibirku dengan sempurna tanpa peringatan lebih dulu. Dan cukup lama dia melakukannya. Bahkan, aku sampai kehabisan nafas hingga terpaksa mencubit pinggangnya karena dia terus saja melancarkan aksinya tanpa memperdulikan aku.


Daffin memekik karena terkejut. "Ya Tuhan! Kenapa kau menganiaya aku, Nyonya Stevano?"


"Kau yang mencuri, tapi kau yang menuduh aku!" sungutku, dengan bibir mengerucut selancip mungkin.


CUP ...


Bibir Daffin kembali bertemu dengan bibirku walau hanya sekilas. "Aku mencuri apa, My Starfish?"


"Itu hanya perumpamaan, Daffin! Kau menuduhku menganiaya dirimu. Yang sebenarnya adalah kau hampir saja membunuhku karena aku tidak bisa bernafas akibat ulahmu." jelasku, setengah emosi.


Seringai tipis tertarik di sudut bibir Daffin. "Itu bukan kesalahanku, tapi itu karena kau jarang melakukannya. Aku sarankan kau lebih banyak latihan agar terbiasa melakukannya."


Mataku memicing dan kedua alisku menukik tajam hingga menyatu. "Kau ... sedang mencoba membodohiku lagi?"


Tangan besar Daffin mencubit hidungku dan menggoyang-goyangkannya dengan lembut, kemudian tersenyum penuh arti.


"Hidungmu minimalis! Tidak nyaman di pegang. Kenapa dokter Reinhard suka sekali memegangnya?" gumam Daffin, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.


"Kau tidak akan mengerti, Daffin! Om Rei sudah terbiasa melakukannya sejak aku kecil. " ucapku, kemudian mencoba beringsut untuk menjauhi Daffin.


Tiba-tiba Daffin berdecak, cukup nyaring terdengar. "Aku sudah mengatakan berkali-kali padamu. Jangan memanggilnya seperti itu! Panggil dia -"

__ADS_1


"Dokter Reinhard!" Aku melanjutkan ucapan Daffin dan menarik senyuman di wajahnya. "Tapi aku lebih suka memanggilnya om Rei. Terlebih sekarang aku tahu bahwa om Rei adalah paman kandungku. Jangan katakan jika kau benar-benar cemburu pada om Rei seperti yang dia katakan?" selidikku.


"Aku hanya tidak ingin ada pria lain yang menyentuh dirimu. Walaupun hanya sehelai rambutmu saja!" tegas Daffin, sorot matanya begitu tajam.


Apa lagi ini? Tidak cukupkah dia menahanku di rumah ini seperti seorang tahanan? Dan sekarang dia membatasi orang-orang yang dekat denganku.


"Ayolah, Daffin! Jangan bersikap konyol! Om Rei adalah pamanku. Dia juga yang selama ini membantuku dan juga kak Erlan. Tidak mungkin aku menjaga jarakku darinya! Cemburumu tidak masuk di akalku, Daffin." Aku menurunkan kakiku dari tempat tidur dan berniat untuk keluar dari kamar. Namun, Daffin lebih cepat dariku. Dia sudah kembali mengangkat tubuhku dan membaringkan aku kembali di tempat sebelumnya.


"Jangan pernah keluar dari kamar sebelum masalah kita selesai! Apapun masalahnya. Aku tidak ingin masalah rumah tangga kita menjadi hiburan bagi orang lain." ucap Daffin datar, tapi terasa menakutkan bagiku.


Seperti terkena sihirnya, aku hanya mengangguk saja tanpa menjawab atau melakukan apapun sebagai pembelaan.


Senyuman mengembang di wajah Daffin dan melemaskan rahangnya yang tadi menegang. Perlahan, Daffin menciumi keningku kemudian kedua mataku yang langsung tertutup ketika bibirnya mendarat disana. Gerakan bibir Daffin semakin turun untuk mengulas kedua pipiku dan berlabuh di bibirku yang masih berdenyut akibat serangan yang sebelumnya.


"Ingat! Akulah suamimu. Jangan pernah menatap pria lain." tegas Daffin, begitu dia melepaskan pagutan bibirnya.


"Ta- Tapi aku punya mata, Daffin." Nafasku sedikit tersengal.


"Hanya akan ada aku di matamu." Sekali lagi Daffin menciumi kedua mataku. "Seluruh tubuhmu milikku." tegasnya.


Kedua tanganku menahan dada Daffin ketika dia akan menyusuri leherku. "Bungkus saja tubuhku agar tidak ada yang bisa menyentuhku."


Anehnya, hanya dengan satu kali tarik dressku sudah terbuka dan membuat tubuhku nyaris terekspos sempurna. Sontak saja hal itu membuatku menarik selimut dan menutupi tubuhku, tapi tangan Daffin menahan tanganku.


"Jhonny merindukanmu, My Starfish." bisik Daffin, sementara tangannya masih terus bergerilya di tempat-tempat yang dia sukai.


Kehangatan nafas Daffin, dan sentuhan tangannya membuatku ikut terpancing dan mulai tidak bisa menahan bibirku hingga meloloskan desahan yang tentu saja semakin membuat Daffin bersemangat.


"Daffin ...."


"Hemm ...," Daffin tetap melancarkan aksinya meskipun aku sudah menolaknya setengah-setengah.


"Baby ...," Nafasku di buat tersengal-sengal oleh ulah Daffin.


"Tidak masalah, Babe! Aku akan melakukannya perlahan." jawab Daffin, matanya mulai terpejam.


Hawa panas semakin terasa di seluruh tubuhku dan hampir membuatku kehilangan akal sehatku, jika aku tidak ingat dengan bayi yang ada di perutku. Tak terasa air mata menetes di pelupuk mataku dan isak tangis pun tak bisa aku tahan.


Hal itu tentu saja menarik perhatian Daffin dan seketika menghentikan aktivitasnya. "Hei, ada apa, My Starfish? Ya Tuhan, maafkan aku!"

__ADS_1


Daffin segera berdiri dan membantuku untuk duduk, kemudian melilitkan selimut di tubuhku. Aku bisa merasakan kehangatan tangan Daffin saat dia menggenggam tanganku dan menciumi punggung tanganku berulang kali.


"Aku benar-benar menyesal, My Starfish!" ucap Daffin berulang.


Sebenarnya aku ingin mengatakan banyak hal, tapi entah kenapa air mataku seolah tak bisa berhenti dan ingin terus menangis meskipun aku tidak menginginkannya.


Daffin mendekap tubuhku dengan erat dan mengusap serta menciumi puncak kepalaku sambil terus meminta maaf. Cukup lama aku berada dalam posisi seperti itu hingga aku bisa mengontrol emosiku kembali.


"Kau sudah lebih baik?" tanya Daffin, ketika aku sudah tidak lagi terisak.


Aku mengangguk lemah, terlalu malu untuk menatap wajah Daffin. "Maaf ...."


"Untuk apa? Akulah yang salah karena telah memaksakan diriku padamu. Aku- Aku hanya terus terbayang malam penyatuan kita dan terus merindukan kehangatanmu." ucap Daffin berterus terang, meski rona merah mewarnai pipinya.


Aku jadi merasa bersalah. "Apakah tidak masalah melakukan hal itu jika sedang hamil?"


"Kau ... tidak tahu?" tanya Daffin, dahinya berkerut ketika menatapku.


"Tidak," jawabku seraya menggelengkan kepala.


Dulu, ketika aku mengandung pertama kali. Kak Erlan tidak pernah menyentuhku, begitu dia tahu jika aku sedang mengandung. Aku juga terlalu malu untuk bertanya pada dokter. Dan ketika aku berniat untuk memberanikan diri bertanya pada dokter, kak Erlan sudah pergi lebih dulu.


"Apa yang kau tahu, Nyonya Stevano?" Suara Daffin membuatku tersentak dan menyadari bahwa suamiku sekarang adalah Daffin, bukan kak Erlan.


"Aku bodoh! Aku tidak tahu apapun." sinisku.


Daffin berdecak dan meraih ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah artikel yang mengatakan bahwa wanita hamil di perbolehkan melakukan hal itu.


"Kau mengerti sekarang?" tanya Daffin, setelah aku selesai membaca.


"Sedikit," jawabku ragu. "Jadi, kau ingin melanjutkannya?" tanyaku.


Sudut bibir Daffin menarik senyuman. "Aku tidak akan pernah melakukannya tanpa keinginanmu sendiri."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya 😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2