Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
BACKSTREET


__ADS_3

Keraguan yang tercipta di dalam hatiku, bukanlah tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin jika di masa depan nanti, masa lalu Daffin dengan gurita betina itu akan mempengaruhi kehidupan kami. Tidak lama lagi putraku akan lahir ke dunia ini, dan aku berharap hidupnya sempurna tanpa skandal apapun.


Apakah aku berlebihan? Hidupku yang menyedihkan membuatku trauma juga takut jika putraku akan mengalami nasib yang buruk. Kesedihan karena tumbuh dewasa tanpa orang tua, jangan sampai di rasakan oleh putraku kelak. Dia harus tumbuh bahagia dan juga ceria. Putraku harus menjadi pria yang hebat seperti ayahnya. Dan demi mewujudkan semua itu, aku harus menyingkirkan semua kerikil yang menghadang termasuk masa lalu Daffin bersama Reena. Bagaimana pun juga, mereka pernah hidup sebagai suami istri selama bertahun-tahun. Tidak akan mudah melupakan kenangan indah yang pernah di lalui. Sama halnya dengan diriku yang masih belum bisa melupakan kak Erlan sepenuhnya, karena sejujurnya aku tidak pernah benar-benar ingin melupakan kak Erlan. Bedanya, kak Erlan tidak akan pernah mengganggu rumah tanggaku baik itu hari ini, esok, ataupun di masa depan. Tapi Reena, jika aku tidak menyingkirkannya, dia bisa menjadi racun untuk hidupku di masa depan.


"Buktikan padaku bahwa Reena sudah tidak memiliki tempat, baik di dalam hatimu ataupun hidupmu." pintaku seraya menilik ke dalam mata Daffin.


Cukup lama Daffin bungkam hingga akhirnya dia berkata, "aku tidak tahu bagaimana cara meyakinkanmu, tapi aku akan melakukan semua yang kau inginkan agar kau percaya bahwa hanya dirimulah yang ada di dalam hati dan juga hidupku."


Keyakinan yang di ciptakan Daffin memaksaku untuk percaya pada kata-katanya. Sebenarnya, aku juga sudah lelah dengan semua masalah ini. Namun, takdir sepertinya masih ingin bermain-main denganku sehingga aku harus berputar-putar di tempat yang sama layaknya pusaran air.


Di tengah lamunanku, tiba-tiba Daffin menarik tengkukku untuk mendekat padanya. Dalam sekali gerakan, bibir Daffin sudah menyergap bibirku yang malang. Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama karena sebuah ketukan pintu memaksa Daffin menghentikan aksinya.


"Siapa?" tanyaku setengah berteriak.


"Saya, Nyonya," jawab orang di luar.


Dari suaranya, sepertinya itu Rania. Aku segera berdiri untuk membukakan pintu, tapi Daffin menahan tanganku.


"Biar aku saja." Daffin sudah berdiri menggantikan aku untuk membuka pintu.


"Selamat malam, Tuan," ucap Rania begitu pintu terbuka.


Daffin mengangguk dan menoleh padaku. "Ada apa? Sepertinya nyonya Stevano tidak membutuhkanmu."


Rania menunduk. "Maaf, Tuan, saya kesini karena tuan besar meminta nyonya dan tuan untuk turun."


Sungguh, sekuat tenaga aku menahan tawa ketika melihat Daffin menendang angin dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Sepertinya apa yang ada di pikiranku juga ada di pikiran Daffin. Aku menduga jika ayah melihat Daffin menciumku melalui CCTV yang ada di kamarku. Dan aku yakin, ayah sengaja meminta Rania ke kamarku untuk menghentikan Daffin.


"Daffin, sudahlah! Ayo, kita turun!" ajakku, seraya berjalan menghampiri Daffin yang masih berdiri di ambang pintu. "Kau duluan saja, Rania! Katakan pada ayah, aku dan Daffin akan turun sebentar lagi." titahku pada Rania.


Tubuh Rania tidak bergerak sedikitpun. "Maaf, Nyonya, tapi tuan besar mengatakan untuk tidak meninggalkan anda berduaan bersama tuan."


"Astaga!!!" pekik Daffin, lalu menghentakkan kakinya sebelum melangkah keluar kamar.


Aku hanya menggelengkan kepalaku dan berjalan di belakang Daffin, tapi baru beberapa langkah saja Daffin sudah kembali dan meraih tanganku.


"Maaf, Nyonya Stevano, aku tidak bermaksud meninggalkanmu." Daffin mengaitkan jemarinya di tanganku.


Seingatku, akulah yang selalu melakukan hal seperti ini jika merasa ada seseorang yang mengancam hubungan kami. Mungkinkah Daffin benar-benar meniru semua hal yang biasa aku lakukan? Tidak! Tidak! Aku berpikir terlalu berlebihan.


"Kau meninggalkan aku juga tidak masalah, Daffin, aku sudah terbiasa hidup seorang diri." Aku tersenyum kecut.


"Jangan di biasakan!" hardik Daffin, tanpa memberi jeda pada ucapanku.


Sudut mataku melirik Daffin yang terlihat tegang ketika kami menuruni anak tangga. Langkah demi langkah yang kami tapaki terasa begitu berat karena tatapan tajam ayah dan juga daddy David.


"Dad, ini pasti ulahmu bukan?" tuduh Daffin, tepat ketika kami sudah berhadapan dengan daddy David.


Daddy David berdecak. "Kau pikir aku? Bukankah tuan rumahnya disini adalah Reyno? Aku tidak bisa melakukan apapun di rumah ini."


"Tapi kau bisa mempengaruhi siapa saja, termasuk ayah, Dad!" sanggah Daffin, dia masih kesal karena kedatangan Rania.


Tiba-tiba ayah berdeham dan membuat perhatianku juga Daffin teralih padanya. "Malam ini adalah perayaan ulang tahun putri tunggal keluarga Kafeel. Dan yang bukan bagian dari keluarga di harapkan untuk segera keluar secara teratur."


Aku bisa melihat raut wajah yang sama di wajah pasangan ayah dan anak bulenya. Daffin dan juga daddy David sama-sama terperangah dengan ucapan ayah, tapi mereka tak tampak akan melakukan pembelaan apapun.

__ADS_1


"Baiklah, Reyno, aku akan pulang! Tapi kau harus ingat janjimu untuk membiarkan Lily menjadi menantuku." Daddy David memeluk ayah erat.


"Aku akan mempertimbangkannya lagi." Ayah membalas pelukan daddy David.


Kedua ayah itu saling menepuk bahu dan tertawa ringan sebelum berpisah.


"Ayo, Daffin! Kau tidak di butuhkan disini." Daddy David menarik tangan Daffin, tapi tidak di gubris oleh putranya itu.


Tatapan Daffin terpaku padaku. "Tidak tanpa istriku, Dad."


"Selama kau dan Lily belum menikah, maka kalian tidak akan tinggal bersama!" tegas ayah, kemudian berdiri menghalangi tubuhku.


Daffin tetap mencoba mencari celah. "Tapi, Ayah -"


Ayah langsung menyela ucapan Daffin. "Tunggu hingga Lily melahirkan, Daffin! Itu pun jika dia bersedia menikah denganmu. Jika tidak, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Waktu seakan berhenti berputar saat Daffin menatap lekat padaku meskipun kami terhalang oleh ayah. Ada cinta dan juga kekecewaan di matanya, tapi di saat yang bersamaan juga ada harapan yang begitu besar di sana.


"Nyonya Stevano ...," lirih Daffin memanggilku.


"Aku setuju dengan ayah! Kita akan kembali bersama setelah kita menikah lagi, Daffin."


***


Meski dengan berat hati, Daffin akhirnya mau meninggalkan rumah orang tuaku. Aku bisa merasakan kekecewaan dirinya karena aku pun merasakan hal yang sama, tapi aku percaya jika semua ini adalah yang terbaik untuk hubungan kami.


"Sayang, tersenyumlah! Ini adalah hari ulang tahunmu. Seharusnya kau berbahagia hari ini." Ibu membelai rambutku dengan lembut. "Ada sesuatu yang ingin Ibu tunjukkan padamu."


"Apa itu, Bu?" tanyaku penasaran ketika melihat mata ibu berbinar.


Aku menoleh pada ibu yang menganggukkan kepalanya seolah memintaku untuk membuka pintu ruangan itu.


Walaupun ragu, tapi aku tetap membuka pintunya dan betapa terkejutnya aku ketika melihat isi dari ruangan tersebut.


Sebuah kamar bayi dengan dekorasi serba pink dan juga di penuhi oleh boneka serta beberapa mainan. Di sudut ruangan juga bertumpuk kotak-kotak hadiah yang tersusun rapih.


"Bu, ini ...," Ragu aku untuk bertanya.


Aku ragu, apakah ini kamar untuk putraku? Tapi rasanya tidak mungkin karena dekorasi kamar ini sepertinya di desain untuk kamar anak perempuan. Kalau begitu, kamar untuk siapa ini?


"Ini adalah kamarmu, Sayang." Ibu meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kamar yang hanya kau tempati selama dua bulan sejak kelahiranmu." tambahnya.


Jadi, inilah kamar dimana aku tinggal saat aku bayi? Benar-benar jauh berbeda dengan kamar tidurku saat di panti asuhan dulu. Meskipun nenek tidak menempatkan aku di satu ruangan dengan anak lain, tapi kamar yang aku tempati di panti asuhan tidak sebesar dan seindah kamar ini.


Ibu melangkah mendekati tumpukan kotak hadiah di sudut ruangan lalu menatapku sedih.


"Kotak hadiah ini jumlahnya sama dengan umurmu karena setiap tahunnya Ibu akan menyiapkan hadiah untukmu dan menyimpannya disini, Sayang," lirih ibu.


Tak kuasa menahan haru, aku menghampiri ibu dan memeluknya. Aku sadar bahwa selama ini bukan hanya aku yang merindukan ibu, tapi ibu juga merindukan aku. Takdir memang sangat kejam padaku dan juga ibu.


"Bu, kenapa kau menyimpan semua ini?" tanyaku dengan pandangan berkeliling menyapu ruangan.


Ibu tersenyum hangat. "Agar Ibu bisa merasakan kehadiranmu, Sayang."


"Ibu ...."

__ADS_1


Tidak ada lagi yang bisa aku keluhkan. Tuhan telah mewujudkan semua impian sejak aku kecil. Aku sangat merindukan kehadiran kedua orang tuaku dan sekarang aku di limpahi kasih sayang yang begitu besar hingga aku tak sanggup menampungnya.


"Maafkan aku, semua ini salahku! Andai aku mau mendengarkan penjelasanmu, kita tidak akan pernah berpisah dengan putri kita." Ayah sudah melangkah memasuki ruangan.


"Tidak, Reyno! Semua ini sudah takdir. Kita tidak bisa merubahnya, tapi kita bisa memperbaikinya." Ibu berhambur memeluk ayah.


Ayah menatapku dan tersenyum sebelum memelukku dengan sebelah tangannya. "Aku sangat menyayangi kalian berdua."


***


Menjelang tengah malam, aku masih bergerak ke kiri dan ke kanan di atas tempat tidurku. Pinggangku terasa pegal dan rasanya posisi apapun membuatku tidak nyaman sehingga aku kesulitan untuk tidur.


Awalnya, aku berniat untuk menghubungi om Rei, tapi urung aku lakukan mengingat om Rei baru saja kembali ke apartemennya. Dia pasti lelah dan aku juga sempat melihat raut wajahnya yang sedikit sedih. Hah! Aku akan bicara padanya nanti.


Jadi, apa yang bisa aku lakukan saat ini agar bisa memejamkan mataku? Apakah aku harus memanggil Rania? Tidak! Gadis itu pasti lelah setelah membantuku merapihkan semua hadiah yang di berikan ayah dan ibu. Belum lagi hadiah yang di berikan om Rei dan juga daddy David. Semua hadiah itu membuatku merasa kembali menjadi anak-anak. Ah, betapa bahagianya aku hari ini. Walaupun aku sedikit kecewa karena Daffin tidak memberikan hadiah apapun padaku.


Aku bangun dan berjalan untuk mencari kotak obat, tapi ketika aku akan mengambil kotak obat yang ada di atas meja dekat kamar mandi, aku melihat bayangan seseorang di balkon kamarku.


Tok ... tok ... tok ...


Jujur saja aku takut, tapi aku penasaran hingga aku putuskan untuk membuka jendela kamarku dan betapa terkejutnya aku melihat Daffin sudah berada di sana dengan satu buket bunga di tangannya.


"Daffin? Apa yang kau lakukan?" tanyaku berbisik, takut ada yang mendengar.


Daffin tersenyum senang. "Mengucapkan selamat malam padamu, My Starfish."


"Baiklah, selamat malam!" ucapku seraya mengambil bunga di tangan Daffin.


"Kau hanya mengambil bunganya, tapi tidak memberi aku hadiah?" sungut Daffin.


CUP ...


Satu kecupan kilat mendarat di bibir sensual Daffin. "Terima kasih dan selamat malam. Cepat pergilah atau ayah akan melihatmu!"


Konyol. Daffin justru terkekeh di saat seperti ini. Dia juga terus menatapku juga liontin yang aku kenakan.


"Kenapa kau tertawa?" tanyaku kesal.


Daffin kembali tersenyum dan merapihkan surai rambutku yang terjatuh. "Aku hanya tidak menduga akan menyenangkan menjalani hubungan backstreet seperti ini."


Aku mendengus sebal. "Iya, baiklah! Ini menyenangkan. Sekarang pergilah!"


"Baiklah, Nyonya Stevano, aku akan pergi. Tapi aku akan datang menjemputmu besok pagi-pagi sekali." Daffin mencium keningku.


Mataku memicing menatap Daffin. "Untuk apa? Kemana kita akan pergi?"


"Mengakhiri masa laluku dengan Reena dan menyambut masa depanku bersamamu."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2