
Hati itu memang sulit untuk di tebak. Dalamnya lautan masih bisa di ukur, tapi hati yang hanya sebesar kepalan tangan begitu sulit untuk di raba.
"Sudahlah ... jika aku tahu kau akan menangis seperti ini, aku tidak akan membawamu pergi kesana." keluh Daffin, dia tidak bisa fokus mengemudi karena aku terus menangis di sampingnya.
"Kau ... kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi diriku." lirihku, masih dengan air mata yang menganak sungai di mataku.
Daffin berdecak cukup keras. "Maksudmu? Aku sudah mengikuti semua keinginanmu, bahkan aku membiarkanmu menatap wajah pria lain yang jelas-jelas tidak setampan diriku. Lalu, apa lagi salahku sekarang?"
Sudut bola mataku melirik tajam ke arah Daffin. "Kau selalu membuatku kesal!"
"Aku?" Daffin mengarahkan telunjuknya ke wajahnya sendiri.
"Iya, kau membuatku kesal dengan semua tingkahmu!" sungutku.
Mungkin aku memang keterlaluan, aku tidak bisa mengendalikan emosiku hingga akhirnya Daffin menepikan mobilnya dan memutar tubuhnya untuk menatapku.
"Sekarang katakan dimana letak kesalahanku, Nyonya Stevano?" tanya Daffin datar.
Walaupun nada bicaranya terdengar sangat tenang, tapi aku bisa merasakan bahwa dia marah padaku. Itu semua terlihat dari rahangnya yang menegang dan juga buku-buku jarinya yang memutih karena menggenggam kemudi dengan erat.
"Kenapa kau menepikan mobilnya?" Aku balik bertanya, untuk mengalihkan perhatian Daffin.
Mata biru itu menatapku dengan tajam. "Karena aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu dan juga anakku."
Tanpa sadar aku mendengus. Dan, hal itu ternyata cukup mengusik Daffin. Dia langsung melepaskan safety belt yang melilit tubuhnya agar dia bisa bebas bergerak dan menangkup pipiku dengan kedua tangannya.
"Apakah kau masih sulit untuk mempercayaiku, My Starfish? Aku sungguh sangat mencintaimu." ungkap Daffin tulus.
Ya, mungkin kali ini dia memang benar-benar tulus padaku. Namun, entah mengapa aku merasakan sesuatu yang mengganjal di hatiku seolah menahanku untuk percaya padanya.
"Kau mencintaiku? Heh! Tapi kau selalu berusaha untuk membahagiakan Reena! Kau bahkan menuruti keinginannya untuk menikahi denganku dan mengambil anakku!" hardikku penuh emosi, tak kuasa lagi aku menahan kekecewaan yang entah kapan mulai menelusup ke dalam hatiku.
Kenangan buruk saat Daffin mulai memasuki kehidupanku pun berputar dan membentuk kolase di dalam ingatanku.
Tangan besar Daffin tiba-tiba merengkuh tubuhku dan mendekap tubuhku dengan erat hingga rasanya aku akan mati saat itu juga.
"Plankton bodoh! Aku tidak bernafas!" Aku mendorong tubuh Daffin sekuat mungkin.
"Maaf," ucap Daffin lirih seraya melepaskan dekapannya.
Raut wajah bersalahnya itu membuatku tidak tega hingga aku pun memutuskan untuk berdamai dengannya untuk kali ini saja.
__ADS_1
"Daffin, jangan pernah mengatakan bahwa kau mencintai seseorang jika hatimu sendiri masih ragu." Aku menghela nafas seolah tengah melepaskan beban berat di hatiku. "Karena harapan itu lebih menyakitkan daripada cinta yang tak terbalas." sambungku.
"Tidak, My Starfish! Aku sangat yakin bahwa aku sangat mencintaimu. Tolong percaya padaku!" bujuk Daffin lembut.
Ya Tuhan, haruskah aku percaya pada pria yang kini ada di hadapanku? Tak bisa aku pungkiri, jika sampai kapanpun aku akan selalu terikat dengannya karena anak yang ada di dalam kandunganku adalah darah dagingnya, tapi aku juga masih belum mengerti bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadap Daffin.
"Lily ...."
"Jangan memanggilku dengan nama itu!" sanggahku ketika mendengar Daffin menyebut nama itu.
Tak ku sangka, Daffin justru terkekeh dan mendaratkan bibir sensualnya di atas bibirku sekilas. "Kau menggemaskan saat marah, dan aku menyukai itu. Lebih baik bagiku jika kau terus marah daripada kau bungkam seribu bahasa."
Dahiku mengkerut dalam memikirkan ucapan Daffin. "Bukankah kau menyukai wanita yang lembut seperti Reena? Ah, aku tahu. Kau sengaja memintaku untuk terus marah agar tekanan darahku naik dan aku terkena stroke. Setelah itu, kau bisa menikahi Reena kembali."
"Astaga!!!" gerutu Daffin.
Tepat setelah satu kata itu meluncur dari bibirnya, tangan Daffin meraih tengkukku dan menyergap bibirku dengan sempurna.
Pikiran nakalku mulai menjalar dan meracuni akal sehatku, hingga dengan beraninya aku membalas serangan Daffin.
Untuk beberapa saat pagutan bibir Daffin semakin dalam dan menuntut, tapi hal itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang bergolak di perutku.
Aku berusaha mendorong tubuh besar Daffin agar dia mau menghentikan aksinya, tapi Daffin bersikeras untuk melanjutkan aksinya itu meskipun kini kami masih ada di tepi jalan.
"Aduh ... kenapa kau menarik telingaku, Nyonya Stevano?" sungut Daffin, wajahnya sudah seperti anak kecil yang di marahi ibunya.
Sebenarnya aku ingin sekali memaki Daffin, tapi aku sudah tak kuasa membuka mulut karena rasa mual yang mendera.
Dengan cepat aku membuka pintu mobil dan setengah berlari menuju taman yang ada di seberang jalan.
"Nyonya Stevano!!!"
Aku bisa mendengar teriakan Daffin di belakangku, tapi aku tak berniat sedikitpun untuk menoleh padanya.
Dari kejauhan aku melihat sebuah kursi di taman yang menghadap ke arah danau. Bila di ingat, tempat ini sama persis dengan danau yang ada di lingkungan rumah lamaku bersama kak Erlan.
Melihat kursi yang kosong itu, aku langsung mendudukinya dan menyandarkan tubuhku disana untuk kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya dengan mata terpejam.
"Kau marah?" tanya seseorang, yang tanpa melihat pun aku sudah tahu siapa.
Sedikit kesal, aku membuka mataku dan melihat Daffin sudah berdiri di hadapanku. "Bukankah kau baru saja memintaku untuk selalu marah?"
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku, Nyonya Stevano," sanggah Daffin.
"Lalu?"
"Aku hanya takut. Jika kau diam, sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi. Dan jujur saja, diammu menyiksaku. Jika kau marah, setidaknya kau akan mengatakan apa yang salah dan apa yang kau inginkan." jelas Daffin, dia sudah melangkah untuk mengurangi jarak di antara kami.
"Oh, tapi aku tidak marah. Ya, aku memang marah, tapi tidak terlalu banyak." ucapku seraya memutar bola mataku.
"Kalau begitu, kenapa kau tiba-tiba berlari keluar dari mobil? Kau hampir saja membahayakan dirimu." sergah Daffin.
"Aku mual." Tanganku mengusap perutku yang masih terasa bergolak.
Seketika Daffin menjadi panik dan dia mulai bertingkah konyol dengan mengangkat tubuhku layaknya pengantin baru.
"Daffin, turunkan aku!" Aku meronta dalam gendongan Daffin.
Tentu saja, apa yang kami lakukan menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan mau berada di taman.
"Tidak! Kau mengatakan bahwa ku mual dan aku tidak ingin kau semakin menderita. Lebih baik kita pulang dan beristirahat." ucap Daffin lembut. Namun, penuh penegasan.
"Aku tidak ingin pulang." tolakku, kemudian memberontak.
Aku bisa mendengar helaan nafas Daffin ketika dia terpaksa menurunkan aku. "Akan jadi apa anakku nanti? Kenapa dia begitu sulit di atur?"
"Aku hanya mual, Daffin, tidak perlu kembali ke rumah." ucapku, berharap aku tidak akan bertemu Maya dalam waktu dekat.
"Tapi kau butuh istirahat,"
"Aku hanya butuh udara segar karena aku kehabisan oksigen tadi," selorohku yang di sambut gelak tawa Daffin.
"Jika itu masalahnya, aku bisa membantumu untuk mengisi oksigen." goda Daffin, kedua tangannya sudah menangkup wajahku lagi.
PLAK ...
Satu tanganku mendarat di pipi Daffin hingga membuatnya terkejut.
"A- Apa salahku kali ini, My Starfish?" tanya Daffin, dia cukup terkejut dengan sikapku.
"Karena kau berniat untuk mengisi oksigen!"
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh