Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MULAI NGIDAM LAGI


__ADS_3

Akhir drama panjang yang sudah menguras emosiku pagi ini benar-benar tidak memuaskan bagiku. Kenapa? Karena Daffin bisa dengan mudah mendapatkan pakaiannya, tapi dia tetap membiarkan barisan gaun tidur seksi itu berada di tempatnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Nyonya Stevano?" tanya Daffin, sebelum dia memasukkan potongan roti ke mulutnya.


Saat ini, aku, Daffin, dan juga Maya sedang menikmati sarapan pagi kami yang sedikit terlambat karena drama panjang masalah pakaian.


"Kau culas!" sungutku, seraya menunjuk wajah Daffin dengan pisau roti di tanganku.


"Lihat, Maya! Putrimu ingin menghabisi menantumu yang luar biasa tampan ini." seloroh Daffin, dia bersikap seolah tangan kecilku ini membahayakan nyawanya.


Maya hanya terkekeh melihat tingkah Daffin dan melemparkan senyuman padaku yang masih memasang wajah kesal.


"Aku tidak keberatan menjadi janda dua kali." ucapku acuh, aku tidak begitu memperhatikan raut wajah Daffin.


Setelah aku mengatakan hal itu, suasana ruang makan menjadi sedikit lebih mencekam dan hanya terdengar suara dentingan pisau yang beradu dengan piring.


"Aku sudah selesai." Daffin mengelap bibirnya. "Apa schedule hari ini, Shaka?" tanya Daffin pada Shaka yang sudah berdiri di belakangnya sejak tadi.


Shaka membuka tabnya sebelum menjawab Daffin. "Ada rapat dengan anak perusahaan di -"


"Aku yakin kau bisa menyelesaikan itu tanpa aku." sela Daffin.


"Baik, Tuan,"


"Selanjutnya?"


"Meeting dengan para pemegang saham jam -"


"Batalkan! Aku sedang tidak ingin melihat wajah-wajah membosankan mereka."


"Baik, Tuan, tapi apakah anda akan menghadiri undangan acara ulang tahun Candika Vallery Group?" tanya Shaka hati-hati.


Harus ku akui, Shaka sangat sabar menghadapi sikap tirani Daffin. Dia bahkan tidak membantah sedikit pun ucapan Daffin. Aku mulai penasaran, apakah dia juga akan mengakhiri hidupnya jika Daffin memintanya melakukan hal itu.


"Tidak! Aku sedang tidak ingin melakukan apapun. Kirim saja hadiah dan rangkaian bunga kepada tuan Rayyan G. Michael sebagai ucapan selamat." titah Daffin.


Mendengar sebuah nama yang tidak asing di telingaku pun, aku langsung menimpali ucapan Daffin.


"Shaka, apakah perusahaan yang kau maksud itu milik Tuan Rayyan? Tempat si amoeba ... maksudku, Davin bekerja?" tanyaku antusias.


"Benar, Nyonya," jawab Shaka pasti.


"Kalau begitu, kita harus datang!" seruku penuh semangat.


"Shaka, beritahu nyonya Stevano bahwa undangan itu di tujukan untuk CEO DS Corp dan tidak sembarang orang boleh hadir dalam acara itu." ucap Daffin datar.


Shaka lantas mengeluarkan sebuah undangan yang memang di tujukan untuk Daffin.


"Jadi, aku tidak bisa hadir dalam acara itu? Bukankah aku Nyonya Stevano? Kenapa aku tidak bisa hadir? Atau mungkin, aku bukan satu-satunya Nyonya Stevano ...," lirihku.


Daffin mengusap wajahnya dengan kasar. "Untuk apa kau menghadiri acara itu? Aku ingat, saat ulang tahun DS Corp kau menghilang karena bosan berada di acara seperti itu."


"Itu benar! Tapi kali ini aku pergi karena ingin bertemu tuan Davin." rengekku.


"Aku disini. Aku akan menemanimu sepanjang hari," ucap Daffin, tangannya terulur untuk menggenggam tanganku.


Aku berdecak. "Tidak! Aku tidak ingin dirimu! Aku ingin tuan Davino Roveis yang tampan dan berwajah mulus itu."


Mata biru itu menatapku dengan tajam. "Apa maksudmu kau sedang mencoba untuk berselingkuh dariku?"

__ADS_1


"Anggaplah begitu! Aku hanya ingin menyelamatkan wajah anakku agar tidak mirip denganmu." jawabku ketus.


BRAK ...


Kursi yang di duduki Daffin terjungkal karena dia mendorongnya begitu kuat ketika akan berdiri untuk meninggalkan ruang makan.


"Shaka, kirim hadiah pada tuan Rayyan G. Michael dan katakan padanya bahwa aku tidak akan hadir malam ini." titah Daffin seraya melangkah pergi.


"Plankton egois! Kau akan menyesal saat anakmu lahir dan dia terus mengeluarkan air liur." teriakku ketika punggung Daffin semakin tidak terlihat.


Ketika amarah menguasai hati, pikiran pun akan ikut terpengaruh dan tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Ayasya?" Sentuhan hangat tangan Maya mendarat di punggung tanganku.


Aku segara menyeka air mataku sebelum menoleh padanya. "Kau lihat! Pria yang sangat ingin kau jodohkan denganku adalah pria dingin yang tidak berperasaan."


"Tidak, Sayang, Daffin hanya terbakar cemburu karena kau terus memuji pria lain di hadapannya. Apalagi nama pria itu sama dengannya. Aku rasa dia hanya takut kehilangan dirimu." ucap Maya lembut.


Mungkinkah yang dikatakan Maya adalah kebenaran?


"Tidak mungkin! Dia hanya terlalu terbiasa untuk menyiksaku." sungutku kesal, mengingat semua perlakuan Daffin padaku.


Kedua tangan Maya menangkup tanganku. "Ibu akan memberi tahumu satu rahasia."


"Apa?" tanyaku dengan alis menukik tajam.


"Daffin adalah pria yang mudah luluh oleh kelembutan dan kasih sayang. Tunjukkan sisi keibuanmu, maka Daffin akan dengan mudah menuruti semua keinginanmu." jelas Maya.


"Sisi keibuan? Hah! Aku bahkan tidak pernah merasakan didikan seorang ibu."


***


Sepanjang hari, aku terus mempertimbangkan saran Maya tentang cara meluluhkan hati Daffin. Mungkin saja, hal itu berhasil karena seingatku Reena juga melakukan hal yang sama pada Daffin.


Dugaanku benar! Daffin ikut pulang bersama Shaka dan wajahnya di penuhi kekhawatiran ketika memasuki rumah.


"Maya, dimana Ayasya?" tanya Daffin panik.


"Ada apa, Daffin?" Maya justru balik bertanya karena dia tidak tahu rencanaku.


Aku hanya melihat kebingungan mereka dari atas sebelum aku akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Aku disini." Langkah kakiku menapaki satu persatu anak tangga.


"Kau baik-baik saja?" tanya Daffin, dia langsung merengkuh tubuhku saat aku berhadapan dengannya.


"Seperti yang kau lihat," jawabku santai.


"Tapi Shaka mengatakan bahwa ...."


"Aku berbohong," Aku menimpali ucapan Daffin. "Sebenarnya aku hanya ingin berbicara denganmu."


"Membicarakan apa?" Nada bicara Daffin mulai berubah.


"Masa depan."


"Maksudmu?"


Aku melirik ke arah Shaka dan juga Maya yang masih berdiri di antara kami. "Bisakah kita bicara berdua?"

__ADS_1


"Katakan saja disini!" ucap Daffin dingin, kentara sekali dia masih marah padaku.


"Daffin ...," panggilku lembut. "Aku ingin kau membawaku ke ulang tahun CV Group. Aku ingin -"


Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, tapi Daffin sudah menyambarnya. "Kau ingin menemui asisten pribadi tuan Rayyan itu."


Aku langsung mengibaskan tanganku. "Bukan! Aku ingin menemui Kak Zuy. Lagipula ini keinginan anakmu."


"Zuy?" Daffin mengerutkan dahinya.


"Iya, dia adalah calon istri tuan Rayyan." jelasku.


"Benarkah?" tanya Daffin memastikan.


Aku menganggukkan kepala dengan antusias. "Aku sangat menyukainya, karena dia sosok yang sangat dewasa dan lemah lembut. Dia sudah seperti kakak bagiku."


Aku bisa mendengar Daffin menghela nafas. "Baiklah, kita akan menghadiri acara itu, tapi hanya kau dan aku."


"Shaka tidak ikut?" Aku menatap Shaka yang hanya diam mematung.


"Tidak! Dia akan menjaga Maya, lagi pula hanya pasangan yang hadir ke acara itu. Single hanya akan menjadi butiran debu."


***


Menjelang malam, aku bersiap-siap dengan bantuan Maya karena dia bersikeras untuk membantuku.


Setelah cukup lama merias diri akhirnya aku keluar dari walk in closet untuk menemui Daffin yang sudah gelisah menungguku.


"Daffin?" Aku melihat Daffin diam membeku ketika menatapku. "Apa gaun ini tidak bagus? Aku terlihat aneh?" tanyaku.


Aku memandangi tubuhku sendiri yang kini mengenakan gaun berdesain sederhana, tapi terlihat elegan dengan warna peach yang sesuai dengan kulitku.


Daffin mengerjap. "Tidak! Kau sangat cantik dan selalu cantik bahkan tanpa pakaian sekali pun."


Sungguh, ingin rasanya aku menyumpal mulut Daffin yang frontal itu dengan batu karang.


"Kau!!!" Aku baru saja akan menghajar Daffin, tapi tangan Maya menahanku.


"Sudah, nanti kalian terlambat!" ucap Maya seraya merapihkan anak rambutku.


Daffin tersenyum usil. "Baiklah, Maya, kami pergi. Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa untuk memanggil Shaka ketika kau butuh sesuatu."


Begitu sampai di halaman, Shaka sudah membukakan pintu mobil untukku.


"Terima kasih, Shaka," ucapku lembut dengan senyum terukir di wajahku.


"Kenapa kau hanya membukakan pintu untuk istriku?" sungut Daffin yang baru saja membanting pintu mobil.


"Maaf, Tuan," lirih Shaka pasrah.


Daffin mengibaskan tangannya. "Pergilah, dan lakukan tugas yang aku minta."


Setelah itu, mobil mewah Daffin melaju membelah jalanan ibukota. Tidak sampai satu jam, kami sudah sampai di gedung CV Group yang pernah aku datangi sebelumnya.


Dengan tidak sabarnya aku keluar dari mobil ketika aku melihat sosok yang melekat dalam ingatanku.


"Kak Zuy ...."


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2