Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
BONUS UNTUK BONUS


__ADS_3

Yang Merasa Di Bawah Umur Langsung Skip Aja 'ya 🙈


Sebuah rasa yang selama ini coba untuk aku tahan akhirnya keluar dengan sendirinya dari mulutku. Pengakuanku akan status Daffin menjadikan hubunganku dengan pria yang sebelumnya sangat aku benci menjadi jauh lebih baik.


"Suamiku ...."


Sudah puluhan, mungkin ratusan kali aku mengucapkan kata itu atas permintaan Daffin dan konyolnya Daffin selalu menciumku setiap kali aku mengatakannya. Entah itu di kening, mata, pipi, atau sesekali di bibirku.


"Daffin, sudah hentikan!" Aku mendorong wajah Daffin agar menjauh dariku.


Sudut bibir Daffin menarik seutas senyuman. Dia menarik tengkukku dan memberikan ciuman terakhir yang lebih menuntut daripada sebelumnya.


Pagutan bibir Daffin semakin dalam dan memaksaku untuk ikut bermain dengannya. Tangan nakalnya bermain dengan lincahnya menuju area yang di sukainya. Namun, saat dia menemui kesulitan, dia mulai menggerutu tak jelas.


"Ganti pakaianmu, My Starfish!" pinta Daffin, dia menarik-narik ujung kaus panjang yang aku kenakan.


Ingin rasanya aku tertawa hingga terbahak-bahak, tapi aku cukup tahu diri untuk tidak mencari masalah dengannya saat ini karena dia baru saja memberikan hadiah padaku.


"Seperti keinginanmu, Tuanku," selorohku, kemudian menurunkan kakiku untuk menuju walk in closet.


"Lain kali, jangan menggunakan pakaian seperti itu saat bersamaku!" teriak Daffin, tepat saat aku akan membuka pintu.


Aku menoleh dan menjulingkan kedua mataku. "Dasar Plankton mesum!"


Dengan segera aku menutup pintu sebelum Daffin melakukan serangan balik, kemudian menghampiri deretan pakaian yang sudah berbaris rapih di dalam almari, menunggu untuk aku kenakan.


Pilihanku jatuh pada gaun tidur berwarna hitam yang cukup terbuka dan menampakkan hampir seluruh bentuk tubuhku. Dan ya, memang semua gaun tidurku berbentuk seperti itu. Lingerie. Begitu Daffin menyebutnya, tapi bagiku itu adalah sebuah gaun yang melambangkan kepasrahan. Ah, sungguh ironi. Aku ingin tertawa, tapi ingin menangis sekaligus marah dalam waktu yang bersamaan.


Sudahlah, Ayasya! Nikmati saja hidupmu yang baru.


Benar! Aku harus menerima apapun yang di takdirkan Tuhan untukku.


Aku segera mengganti pakaianku dan bercermin ketika merasa ada yang salah dengan gaun tidurnya.


"Kenapa ini terasa sesak? Apakah mereka salah memesan ukurannya?" gumamku seraya memutar tubuhku di depan cermin.


"Bukan ukurannya yang salah, tapi "dia" yang sudah membesar." Tangan Daffin tiba-tiba sudah berada di atas perutku.


Mataku membulat sempurna, terkejut dengan kehadiran Daffin yang tak ku sadari. "Bagaimana kau bisa masuk?"


"Tentu saja dengan cara membuka pintu, apalagi? Kau pikir aku menembus dinding?" canda Daffin di iringi gelak tawa.


"Mungkin saja! Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan." Aku memutar bola mataku dengan malas.


Daffin memutar tubuhku agar berhadapan dengannya kemudian berlutut dan menciumi perutku yang mulai membulat.


"Sayang, kau ingin bertemu Daddy? Apa? Iya? Oh, tentu saja! Daddy akan segera menyapamu." oceh Daffin, tangannya sibuk mengusap-usap perutku kemudian kepalanya mendongak untuk menatapku. "Kau dengar itu? Anak kita ingin bertemu denganku. Aku tidak boleh mengecewakannya bukan?" goda Daffin.


"Aku tidak dengar! Telingaku tersumbat." elakku, kemudian melangkah menjauhi Daffin.


Sebelum aku sempat membuka pintu, tangan besar Daffin sudah menggapai tubuhku dan membawaku ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Tak perlu banyak bicara, Daffin sudah melucuti pakaianku. Jika tahu akan begini, lebih baik aku tidak perlu memakai apapun tadi.


"Daffin ...," cicitku ketika Daffin mulai mendorong tubuhku ke dinding.


"Seperti ini akan lebih aman untuk baby." bisik Daffin, nafasnya mulai memburu. "Kau hanya perlu menikmatinya saja, My Starfish!" bisiknya lagi.


Bibirku mengatup, tak tahu lagi harus berkata apa karena semakin tenggelam dalam kenikmatan yang di berikan Daffin.


Permainan kali ini cukup lembut, tapi tetap menuntut karena bukan Daffin namanya jika tidak penuh tantangan.


Semakin lama, aku mulai tidak bisa merasakan kakiku hingga aku hampir saja terjatuh. Namun, Daffin cukup siaga dengan menahan tubuhku dan mengangkat tubuhku serta menahanku dengan kedua tangan besarnya.


"Daffin, aku lelah ...," pekikku ketika Daffin melepaskan tautan bibirnya untuk yang kesekian kalinya.


Senyuman terukir di wajah Daffin yang mulai berkeringat. "Sebentar lagi, Honey."


Jangan tanya sebentar yang di maksud Daffin itu selama apa? Waktu berjalan lambat baginya jika sedang melakukan aktivitas berkeringat seperti ini. Dan, satu jam setelah dia mengatakan sebentar itulah dia baru benar-benar mengakhiri permainannya.


"I love you, My Starfish." ucap Daffin, di barengi hentakan tubuhnya yang semakin dalam.


***


Kebisingan dan suara rintik-rintik hujan mulai mengusik telingaku serta memaksa mataku untuk terbuka.


Dengan sedikit memaksa, aku membuka mataku dan melihat dari balik selimut waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari.


Ketika aku berniat untuk bangun, aku merasakan sesuatu yang berat menimpaku. Dan benar saja! Ternyata Daffin masih memeluk tubuhku dengan erat. Kami berdua bahkan tidak menggunakan sehelai benang pun.


Mata biru itu masih bersembunyi di balik kelopak mata dan bulu matanya yang lebat. Tiba-tiba aku ingin sekali melakukan sesuatu yang sangat menantang. Aku mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajah Daffin, memastikan jika dia tidak akan terbangun ketika aku mengusiknya nanti.


"Dia masih tidur," gumamku seraya menutup mulutku sendiri.


Aku memiringkan tubuhku menghadap Daffin hingga tubuh kami saling menempel. Tanpa ku sadari, sesuatu terbangun di bawah sana.


"Astaga!" pekikku, sontak saja melihat ke bawah dan langsung memeriksa apakah Daffin terbangun. "Tidur saja seperti ini." pikirku ngeri.


Kembali ke niat awalku, aku pun meniup-niup bulu mata Daffin yang lebat dan membuka kelopak matanya dengan tanganku hingga mata biru itu sedikit terlihat. Dengan percaya diri aku membuat wajah jelek dan pipi menggembung seolah mengejek Daffin.


Daffin tetap tidak bergerak sedikitpun. Apakah dia benar-benar tertidur pulas? Ah, mungkin dia kelelahan.


Bosan bermain-main, aku memilih untuk membersihkan diriku ke kamar mandi. Namun, baru saja aku membalikkan tubuhku, suara parau Daffin sudah memenuhi telingaku.


"Kau mau kemana setelah menggoda Jhonny?"


Aku menoleh dan melihat Daffin sudah membuka matanya bahkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya sudah tersingkap.


"Aku- Aku ingin mandi! Iya benar! Aku ingin mandi, rasanya tubuhku sudah lengket." ucapku beralasan.


Senyuman usil menghiasi wajah Daffin. "Kau yakin ingin berjalan dalam keadaan seperti itu? Kakimu bahkan tidak bisa berpijak dengan benar."


Mataku mengikuti arah tatapan Daffin yang ternyata sedang menatap tubuh polosku. Dan tentang kakiku, Daffin benar! Rasanya kakiku seperti tidak bertulang.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo, kita mandi bersama!" seru Daffin seraya mengangkat tubuhku ke dalam kamar mandi.


***


"Hai, Maya," sapa Daffin pada ibu yang tengah membuat sesuatu di dapur.


Mata ibu membulat sempurna ketika melihat aku berada dalam gendongan Daffin. "Kau kenapa, Sayang? Apa kau sakit?"


Rasanya wajahku seperti terbakar karena malu, tapi tidak dengan Daffin. Dia justru semakin melebarkan senyumannya.


"Tidak, Bu, aku hanya lelah." elakku, setelah Daffin menurunkan aku di kursi meja makan.


Ibu mengangguk paham. "Kalau begitu, lebih baik kalian makan dulu! Ini sudah hampir waktunya makan siang."


Sudut mataku menatap Daffin yang tengah menyeruput kopinya. Tak terlihat kelelahan sedikitpun di wajahnya bahkan setelah dia kembali membuatku tak berdaya ketika mandi. Dia seolah tak pernah lelah ketika melakukannya, tapi justru dia terlihat semakin bersemangat.


"Apa yang kau buat, Bu?" tanyaku pada ibu yang baru saja kembali dari dapur.


"Strawberry coklat," jawab ibu di barengi dengan mendaratnya semangkuk buah strawberry yang di beri lelehan coklat. "Ibu pikir suasana hatimu sedang buruk, jadi ibu membuat ini agar kau kembali ceria."


Aku tersenyum dan menarik mangkuk itu. "Terima kasih, Bu, aku memang butuh banyak energi untuk mengembalikan tenagaku yang hilang."


Daffin sempat menolah sesaat, tapi kembali sibuk dengan ponselnya. Jujur, hal itu membuatku merasa di abaikan.


"Bu, dimana Rania?" tanyaku, dengan pandangan berkeliling.


Ibu menarik kursi di sampingku. "Dia baru saja keluar karena ada seorang teman yang datang berkunjung."


Aku melirik Daffin. "Seorang teman?" Ibu mengangguk. "Datang ke rumah ini?" tanyaku lagi.


"Iya, Sayang, mereka sedang berbicara di luar." jelas ibu.


Aku melihat ke arah yang di maksud ibu dan mengangguk seraya memasukkan sepotong strawberry ke dalam mulutku.


"Siapa temannya Rania?" gumamku dengan mulut penuh.


"Jangan ikut campur urusan orang lain, Nyonya Stevano!" sergah Daffin, dia sudah meletakkan ponsel ke saku jasnya.


Mataku mendelik. "Siapa yang tahu jika temannya Rania itu ingin bertemu denganku."


"Ya, mungkin saja dia ingin melihat bintang laut sedang mengandung." canda Daffin, di susul gelak tawa yang menyulut emosiku.


"Kau benar, Tuan Stevano! Aku datang untuk melihat kondisi Ayasya."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😘


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2