
Perang dingin antara aku dan Daffin yang di akibatkan oleh pakaian terus berlanjut, hingga tanpa sadar waktu terus bergulir. Sebenarnya, tidak sedingin itu karena aku terus saja mengumpat sedangkan Daffin hanya tersenyum sambil terus menatapku.
"Apa matamu tidak pedih terus memandangku sejak tadi?" ketusku, semakin mengeratkan selimut di dadaku.
"Tidak!" jawab Daffin singkat, kali ini dia bahkan membiarkan tangannya untuk menopang rahangnya yang kokoh.
Astaga! Aku dan Daffin sudah seperti sepasang orang bodoh yang hanya saling menatap sejak tadi.
TOK ... TOK ... TOK ...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku dan juga Daffin. Untuk sesaat mata biru itu teralihkan ke arah pintu dan sedikitnya bisa membuatku bernafas lega.
"Siapa?" tanya Daffin setengah berteriak.
"Ini aku, Daffin," jawab seseorang di balik pintu.
Dari suaranya, aku bisa menebak bahwa itu Maya karena seorang pelayan tidak akan berani mengetuk pintu kamar Daffin.
Bola mata Daffin bergerak ke arahku. "Masuklah, Maya!"
Apa??? Dia meminta Maya masuk dalam keadaan seperti ini. Keadaan dimana kami tidak memakai pakaian lengkap.
"Tidak!!! Jangan masuk!" teriakku, tepat ketika handle pintu bergerak turun.
"Baiklah ...," lirih Maya, aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku yakin dia sangat kecewa.
"Kenapa kau menahan Maya? Dia hanya ingin menemuimu." Daffin sudah beringsut turun dari tempat tidur.
Bola mataku berputar yang diiringi decakan kesal. "Aku tidak mungkin membiarkan dia masuk dan melihat keadaan kita."
"Keadaan apa?" Sebelah alis Daffin terangkat.
"Keadaan ini!" Pandanganku tertuju pada tubuh bertelanjang dada Daffin dan juga tubuhku yang berbalut selimut.
Awalnya kening Daffin berkerut karena tak memahami maksud ucapanku, tapi sedetik kemudian dia justru tergelak hingga memegangi perut sixpacknya.
"Jangan tertawa, Plankton! Aku tidak ingin orang lain berpikir bahwa semalam kita ...."
Sial! Lidahku terlalu kaku untuk mengatakan hal frontal seperti itu.
"Semalam kita sedang menentukan bentuk hidung anak kita." lontar Daffin, tawanya sudah berganti senyuman yang memabukkan.
__ADS_1
Astaga!!! Aku ingin sekali menampar wajahku sendiri karena seperti aku memang sudah kehilangan akal.
"Diamlah!" sergahku seraya melempar bantal yang tepat mengenai wajah Daffin.
Tangan besar Daffin menangkap bantal itu. "Ibu hamil ternyata lebih buas daripada bintang laut yang kelaparan."
"Kau!!!" Aku berniat untuk menyerang Daffin, tapi selimutku terjatuh dan kembali memperlihatkan tubuhku yang hanya mengenakan pakaian seksi.
Wajah Daffin bersemu merah, dia bahkan terlihat gelisah kemudian tergesa-gesa memasuki kamar mandi. Tapi bukan Daffin namanya jika dia tidak menyiksaku.
Tiba-tiba Daffin kembali dan berteriak ke arah pintu. "Masuklah, Maya! Istriku membutuhkanmu."
Setelah berteriak dan memastikan Maya mendengarnya, Daffin segera berlari ke kamar mandi dan membiarkan aku kebingungan sendiri.
"Aku akan mengembalikanmu ke dasar laut, Plankton!!!"
Suara pintu terbuka membuatku bergerak secepat kilat untuk bersembunyi di balik selimut yang hanya menyisakan bagian kepalaku saja.
"Astaga! Apa kau sakit, Sayang?" tanya Maya khawatir ketika dia memasuki kamar tidur Daffin.
Tanpa persetujuan dariku, Maya langsung meraba dahiku. "Kau tidak demam, Sayang, tapi kenapa kau membungkus tubuhmu seperti ini?"
"Aku- Aku kedinginan," jawabku berbohong.
Ah, aku terjebak permainanku sendiri. Sekarang aku harus bertahan di balik selimut tebal yang membungkus tubuhku.
"Aku ingin tidur." Aku berpura-pura memejamkan mataku agar Maya mau pergi, tapi dia malah melakukan hal sebaliknya.
Dengan lembut Maya mengusap dahiku hingga ke puncak kepalaku. "Ibu sangat menantikan saat-saat seperti ini, Sayang, dimana Ibu bisa membelai putri Ibu dengan tangan Ibu sendiri."
Ada getaran dalam suara Maya yang membuat hatiku ikut bergetar hingga memaksaku untuk membuka mata.
"Apa kau benar-benar yakin bahwa aku adalah putrimu?" Aku bertanya dengan tatapan curiga.
Maya tersenyum lembut. "Bukankah kau sendiri sudah mengakuinya, Sayang?"
Aku menghela nafas panjang. "Entahlah, dunia ini selalu mempermainkanku. Bisa saja aku salah menerka."
"Kau tidak salah, Sayang, karena Ibu sudah memastikannya." sanggah Maya, tatapan lembut dan senyuman hangat itu telah menggetarkan hatiku.
"Caranya?" tanyaku curiga, aku bahkan masih bersembunyi di balik selimut karena tak ingin Maya berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Sebelumnya Ibu ingin meminta maaf karena telah menyentuh barang-barang pribadimu, tapi Ibu tidak sengaja menemukan kotak yang berisi pakaian bayi dan juga sebuah potret yang membuat Ibu yakin bahwa kau adalah Lily." jelas Maya, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Kotak yang dimaksud Maya pasti kotak yang di berikan nenek sebelum aku menikah dengan kak Erlan.
"Bagaimana kau bisa yakin hanya karena dua benda itu?" Rasa penasaran masih menggelayuti pikiranku.
"Karena pakaian itu, tangan Ibu sendiri yang membuatnya untukmu. Dan potret itu, Ibu mana pun pasti bisa mengenali wajah putrinya. Dan, Ibu mulai mengerti mengapa sikapmu berubah dingin pada Ibu. Itu pasti karena kau sudah tahu semuanya." tutur Maya, air mata sudah tumpah di pipinya.
"Tapi kau tidak mengenaliku saat kita pertama bertemu." hardikku dengan perasaan kecewa.
"Maafkan Ibu, Sayang, saat itu Ibu sudah merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihatmu, tapi Ibu tidak yakin bahwa kau adalah Lily." ucap Maya lirih.
"Tidak masalah, Maya, yang terpenting sekarang Lily sudah kembali." lontar Daffin yang tiba-tiba saja sudah bergabung dengan kami.
Mataku terbelalak ketika melihat Daffin yang masih tanpa busana dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
"Kau! Kenapa kau masih memakai handuk?" tanyaku kesal, tak habis pikir dengan tingkah Daffin.
"Kenapa? Apakah kau tidak sanggup melihat keindahan tubuhku?" seloroh Daffin, dia membentangkan tangannya seolah ingin memamerkan tubuh atletisnya.
Sepertinya aku akan benar-benar hilang akal jika terus menghadapi Daffin. Jadi, aku lebih memilih untuk menarik selimutku dan menutupi seluruh tubuhku.
"Hei, bangunlah!" Daffin menarik selimutku dan melemparkannya ke sembarang arah.
Sontak saja aku langsung terduduk dan melupakan apa yang sedang aku kenakan sampai aku mendengar Maya berdeham.
"Aku akan keluar." Maya tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Kau mempermalukan aku, Daffin!" tuduhku pada Daffin yang hanya menyunggingkan senyuman tanpa perasaan bersalah.
"Itu salahmu sendiri! Kenapa kau menyembunyikan semua pakaianku? Atau sebenarnya kau ingin terus memandangi tubuhku seperti ini." goda Daffin, sebelah matanya mengerling padaku.
"Aku tidak menyembunyikan pakaianmu!" sanggahku seraya memalingkan wajah, tak kuasa menahan pesona Daffin yang semakin menggairahkan.
Ya Tuhan, bantu aku melawan kegilaan ini!
"Lalu? Dimana semua pakaianku?" tanya Daffin gusar.
Seringai jahat sengaja aku tunjukkan pada Daffin. "Aku sudah membuangnya sebagai balasan karena kau telah mengganti semua pakaianku dengan pakaian seperti ini."
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh