Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SWEET CHAPTER 5


__ADS_3

"Haruskah kau pergi saat ini juga?"


Sudut mataku terus menilik wajah memelas Daffin yang hampir membuatku ingin melahapnya hidup-hidup, andai saja aku ikan besar yang suka memakan Plankton kecil.


"Daffin, aku hanya pergi satu sampai dua hari. Jika kau ingin ikut, aku tidak keberatan!" jawabku akhirnya, kesal mendengar rengekan Daffin sejak tadi.


Setelah mengetahui hubungan antara Rania dan Ersya, aku memutuskan untuk pergi ke kampung halaman kak Erlan. Disana aku akan mencoba bicara dengan tante Ratih karena hanya dirinyalah satu-satunya keluarga Ersya yang tersisa. Namun, bayi besarku terus merengek sebab dirinya tidak bisa ikut denganku karena terhalang pekerjaan yang mendesak.


"Kau tahu aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, Nyonya Stevano," lirih Daffin, wajahnya tertunduk menatap koperku.


Melihat ketidakberdayaan Daffin, aku jadi tidak tega. Aku pun menunda pekerjaanku mengemas pakaian dan duduk di sofa yang ada di ruang walk in closet.


"Apa yang kau lakukan, Nyonya Stevano?" tanya Daffin bingung, ketika aku menarik tangannya.


Bibirku menyunggingkan senyuman. "Aku? Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama suamiku. Apakah aku tidak memiliki hak untuk melakukannya?"


"Bukan seperti itu! Aku hanya bingung karena kau tiba-tiba menarik tanganku. Bisakah aku mengartikan ini sebagai keputusanmu untuk tidak pergi?" Daffin bertanya balik.


"Tidak!" Aku menggelengkan kepala. "Aku akan tetap pergi, tapi aku ingin membicarakan hal yang penting terlebih dulu dengan daddynya anak-anakku." tegasku.


Wajah Daffin bersemu merah dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya. "Kau bisa bicara denganku seumur hidupmu, Nyonya Stevano."


Aku mencebik. "Bibirku akan lelah jika terus bicara!"


"Benarkah? Bagaimana jika seperti ini?" Daffin menarik tanganku hingga aku jatuh di atas pangkuannya.


Sentuhan jemari Daffin mulai menyapu wajahku secara perlahan, menemukan titik yang selalu berhasil membuatku melayang. Tak ada kata yang terucap dari bibirku selain deru nafas yang semakin memburu, sebelum akhirnya Daffin melakukan sesuatu yang selalu menjadi kesukaannya.


"Daffin ...," bisikku, hampir tertelan udara.


"Sekali saja, My Starfish, sebelum kau pergi." Bibir sensual Daffin menyusuri lekuk leherku.


"Tapi -"


"Aku janji hanya satu kali!" sergah Daffin, tatapannya sudah di penuhi kabut.


Aku hanya bisa menghela nafas sebelum menyetujui keinginannya. "Baiklah, tapi jangan lupa menggunakan -"


"Untuk kali ini, biarkan aku melakukannya tanpa menggunakan benda sialan itu!" keluh Daffin, rahangnya mengeras menahan amarah.


Aku tahu, Daffin tidak menyukai saat aku memintanya menggunakan pengaman. Aku juga tidak pernah memaksanya karena aku sendiri sudah menggunakan pengaman, tapi naas hari ini aku belum meminum obat yang di berikan oleh dokter. Ah, tapi hanya satu kali! Tidak mungkin Daffin sehebat itu, bukan? Lagi pula, kami hanya melakukan satu kali saja. Ya, aku yakin tidak akan masalah. Sebenarnya, aku tidak takut untuk mengandung lagi. Namun, aku tidak yakin jika aku mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Dan sejujurnya, aku juga masih trauma akibat melahirkan Gil. Aku hampir kehilangan hidupku dan juga bayiku. Bukannya aku tidak ingin mengikuti ketentuan Tuhan, tapi jika sesuatu terjadi padaku, maka apa yang akan terjadi pada kedua putraku?


Salivaku tertelan dengan susah payah. "Bagaimana jika aku hamil?"


"Bingo!!! Itulah yang aku inginkan." Bibir Daffin mendarat di keningku. "Kenapa kau takut? Aku ada untukmu dan juga anak-anak kita. Jangan biarkan mereka merasakan kesepian yang kita rasakan karena menjadi anak tunggal." tutur Daffin.


"Tapi, Daffin, Shaka memiliki Gil dan sebaliknya. Aku rasa -" Lagi-lagi aku tidak bisa menyelesaikan ucapanku karena Daffin langsung membungkam mulutku dengan bibirnya.


"Aku rasa kau hanya mengulur waktu, Nyonya Stevano," hardik Daffin dengan nafas terengah-engah.


Begitulah akhirnya, aku selalu saja kalah setiap kali berdebat dengannya. Dan pekerjaanku mengemas barang yang harusnya sudah selesai pun jadi terbengkalai.


***


Aroma pedesaan yang sangat aku kenal dan rindukan sudah mulai bisa aku rasakan ketika mobil om Rei melaju membelah jalanan dengan suara deburan ombak yang menyejukkan telinga.


"Kau sudah sampai? Bagaimana anak-anak? Apa mereka rewel tanpa aku?" tanya Daffin, suaranya tak terdengar jelas.


Aku segera menoleh ke layar ponselku yang terus menyala sejak kami berangkat dari kota x. "Sebentar lagi, Daffin! Sudahlah, matikan saja ponselnya!"


"Tidak!!!" tolak Daffin, mata birunya di penuhi kilatan amarah.


"Dasar Plankton!" umpatku, dengan suara sekecil mungkin agar tak terdengar siapapun.


"Apa yang kau katakan?" tanya Daffin, kali ini dia terlihat sedikit melemah.


"Tidak ada! Aku hanya lelah. Matikan ponselnya sekarang atau tiba-tiba nanti ponselku mati dan kau tidak bisa menghubungiku." gerutuku, kesal dengan sikap kekanak-kanakan Daffin.


Dari kursi pengemudi aku melihat bahu om Rei naik turun, sepertinya dia sedang menertawakan sikap konyol Daffin.


"Om?" Aku menepuk bahu om Rei.


Kaca spion memantulkan tatapan hangat om Rei yang di balut senyumannya. "Ada apa, Lily?"


"Apa perusahaan sedang tidak ada project?" tanyaku ambigu.


"Kenapa? Bukankah kau selalu menerima laba yang aku kirimkan setiap bulannya?" tanya om Rei, dengan kedua alisnya yang hampir menyatu.

__ADS_1


Aku berdecak seraya memalingkan wajahku. "Iya, aku menerimanya, Om! Hanya saja aku heran kenapa Om kelihatan tidak begitu sibuk, bahkan Om sampai bisa menemaniku kesini."


"Bukankah Daffin juga seperti itu? Dia bahkan sudah lama tidak pergi ke DS Corp." Sebelah alis om Rei bergerak naik turun sebelum dia tertawa. "Dan saat istrinya ingin pergi, dia harus terjerat pekerjaan yang selama ini dia tinggalkan." ejeknya.


"Om!!!" sungutku kesal.


Terdengar kekehen om Rei yang mengisi kesunyian perjalanan kami karena Shaka dan Gil tertidur pulas, sementara aku sudah mematikan ponselku sehingga Daffin tidak bisa menggangguku lagi.


"Baiklah, maaf! Aku hanya tidak menduga pria yang gila kerja seperti Daffin akan menemui saat dimana pekerjaannya tidaklah penting baginya." Om Rei memasang wajah yang sedikit memelas.


Aku menghela nafas dalam lalu tersenyum tipis. "Itulah cinta, Om. Terlebih sekarang sudah ada Shaka dan Gil, tentu saja Daffin akan lebih memilih kami daripada pekerjaannya. Aku berani bertaruh jika Om juga akan melakukan hal yang sama saat Om menikah dan memiliki keluarga."


"Itu hanya akan terjadi jika ada wanita yang bisa menerima aku yang sudah tak memiliki hati!"


***


"Mommy!!!" jerit Shaka, seketika membuatku menoleh.


Ternyata putra sulungku baru saja terbangun dari tidurnya dan sepertinya dia terkejut saat menyadari aku tidak ada. Segera aku menghampiri Shaka yang berada dalam gendongan Rania.


"Iya, Sayang, kau sudah bangun?" tanyaku seraya mengulurkan tangan.


Shaka yang memang sangat dekat denganku pun langsung menyambut uluran tanganku dan berpindah ke dalam gendonganku.


"Maaf, Sayang, kau pasti mencari Mommy?" Aku mencium pipi bulat Shaka.


Setibanya aku di rumah keluarga Kencana, tiba-tiba saja Gil menangis dan ingin segera keluar, sementara Shaka masih tertidur. Aku pun meminta Rania untuk menjaga Shaka, tapi belum lama aku keluar ternyata Shaka sudah terjaga.


"Mommy ... Mommy!!!"


Aku menunduk karena merasakan ujung pakaianku tertarik. Aku melihat tangan kecil Gil menempel di ujung gaunku dengan wajah yang menggemaskan.


"Iya, Sayang?" tanyaku seraya mengusap kepala Gil.


Jelas terlihat dari tatapan matanya bahwa Gil iri dengan kakaknya yang kini ada dalam gendonganku. Ya Tuhan, dalam situasi seperti ini aku jadi merindukan Daffin! Biasanya kami akan berbagi tugas untuk menjaga salah satu dari keduanya, tapi kini Daffin tidak disini dan aku pun harus menjaga kedua putraku seorang diri.


Aku lantas menurunkan Shaka lalu menggandeng tangannya di sisi kananku dan menggandeng tangan Gil di sisi kiriku, dengan begitu keduanya akan merasa berada di posisi yang sama.


"Astaga!!! Aca?" teriak tante Ratih yang baru keluar dari dalam rumah.


Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku karena bertemu tante Ratih setelah cukup lama kami tidak bertemu. Dari kejauhan aku melihat ada yang berbeda dengan tante Ratih, tapi aku tak tahu pasti apa itu.


Tanganku mengusap punggung tante Ratih. "Aca baik, Tan! Bagaimana kabar Tante dan Om Rama?"


Tante Ratih melepaskan pelukannya dan hanya tersenyum tipis, kemudian menatap kedua putraku yang sedari tadi kebingungan.


"Mereka putramu?" tanya tante Ratih ragu.


Aku mengangguk pasti. "Iya, Tan."


"Ya Tuhan, cucu-cucuku!" seru tante Ratih, sudut matanya sudah mengeluarkan cairan bening.


"Kenalkan, Tan, ini putra sulungku Shaka Ryuichi Stevano." Aku mengusap kepala Shaka, lalu berpindah mengusap kepala Gil. "Dan ini putra bungsuku, Maichel Gilbert Kafeel." jelasku.


Wajah tante Ratih begitu bahagia. Dia berjongkok dan memeluk kedua putraku, sementara air mata terus mengalir dari matanya. Aku tahu, tante Ratih pasti teringat pada kedua putra kembarku yang harus pergi menyusul kak Erlan.


"Tan?" panggilku.


"Maaf ... maaf! Tante terbawa perasaan," ucap tante Ratih, lalu berdiri dan menundukkan pandangannya. "Ayo, masuk!"


Saat ini, aku rasa sudah tidak ada yang perlu di bahas dari masa lalu. Semua tentang kak Erlan dan aku hanya akan menjadi kenangan indah yang tersimpan di sudut hati setiap orang yang mengetahui tentang kisah kami berdua.


***


Begitu memasuki rumah nenek, aku merasakan sesuatu yang melingkupi hatiku. Tak banyak yang berubah dari tempat ini selain kesunyian yang mulai terasa, tak seperti biasanya.


"Tan, dimana anak-anak?" tanyaku tak sabar, begitu menyadari ada sesuatu yang kurang.


Tante Ratih memalingkan wajahnya ke arah dapur. "Tante akan buatkan teh untuk kalian. Silahkan duduk! Kalian pasti lelah."


Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari bayangan tante Ratih yang mulai menghilang di balik tembok dapur. Aku yakin ada yang tidak benar di rumah ini.


"Rania, tolong bawa Shaka dan Gil bermain di luar!" titahku pada Rania yang langsung mengerti.


Ketika kedua putraku sudah tidak ada, aku berniat untuk menyusul tante Ratih. Namun, aku merasa tidak enak meninggalkan om Rei seorang diri.


"Om?"

__ADS_1


Om Rei menatapku dan tersenyum. "Pergilah temui nyonya Kencana! Om ingin beristirahat sebentar disini."


Tanpa menunggu lagi, aku langsung berjalan menuju dapur. Benar saja! Di sana aku melihat tante Ratih sedang menangis dengan tubuh bersandar di dinding.


"Tan?"


"Aca?" pekik tante Ratih, terkejut melihat kedatanganku. Dengan cepat tante Ratih menghapus air matanya yang sudah terlanjur aku lihat.


Langkah kakiku semakin dekat dengan tante Ratih yang salah tingkah karena aku memergokinya sedang menangis.


"Ada masalah apa, Tan?" tanyaku.


"Tidak ada, Aca! Tante hanya terharu melihat dirimu dan kedua putramu yang tampan." elak tante Ratih.


Tanganku menyentuh bahu tante Ratih. "Tan, sekarang Aca bukan anak kecil yang tidak mengerti dan memahami keadaan. Aca tahu ada yang tidak beres di sini. Dan 'ya, Tante juga terlihat kurus dan nampak lelah. Apa yang terjadi, Tan?"


Bukannya jawaban yang aku dapat, melainkan raungan tangisan tante Ratih yang terdengar memilukan. Tubuhnya ambruk ke lantai dan bersimpuh di kakiku seolah memohon maaf.


"Maafkan Tante, Aca! Tante tidak bisa menjaga panti asuhan ini. Semuanya telah hancur! Semuanya!" lirih tante Ratih di tengah tangisannya.


Aku jadi semakin tidak mengerti. "Tan, tolong katakan ada apa?"


Cukup lama aku menunggu tante Ratih meluapkan emosinya hingga kami mendengar langkah kaki yang menuju ke arah dapur.Saat aku hendak berdiri, aku melihat om Rei sudah masuk ke dapur dengan sebuah berkas di tangannya.


"Maaf, jika aku mengganggu waktu kalian. Aku hanya ingin menyerahkan surat ini pada nyonya Kencana." Om Rei menyerahkan berkas di tangannya kepada tante Ratih.


"Apa itu, Om?" tanyaku penasaran.


Om Rei nampak ragu sebelum menjawab, "surat lelang dari bank."


"APA!!!" Kedua bola mataku nyaris keluar karena begitu terkejut. "Tan, apa maksudnya semua ini?"


Tubuh tante Ratih bergetar karena menangis sehingga aku tidak bisa memaksanya untuk menjawab pertanyaanku. Namun, aku harus tetap mendapatkan jawaban dari semua ini.


"Ayo, bicara di depan!" usul om Rei, yang langsung di setujui olehku dan di ikuti tante Ratih.


Keheningan cukup lama tercipta di antara kami bertiga sebelum tante Ratih memutuskan untuk menjelaskan semuanya padaku.


"Maafkan Tante, Aca! Semua ini salah Tante. Seharusnya Tante bisa menjaga semua peninggalan nenek." lirih tante Ratih.


"Dimana om Rama, Tan?" tanyaku, karena tak juga melihat bayangan om Rama dimanapun.


Tante Ratih menghembuskan nafasnya kasar. "Dia sudah pergi setelah menciptakan kehancuran."


Dahiku mengernyit. "Apa maksud, Tante?"


"Dia berselingkuh dan menikahi wanita lain di belakang Tante karena dia bosan hidup dengan wanita yang tidak bisa memberinya keturunan." cicit tante Ratih.


Bagaikan tersambar petir, hatiku begitu hancur mendengar penuturan tante Ratih. Rasanya aku tidak percaya jika om Rama bisa melakukan semua itu.


"Tapi, Tan, mana mungkin om Rama -"


"Itulah yang terjadi, Aca! Awalnya dia memberikan Tante kesempatan untuk mempertahankan rumah tangga kami dengan syarat Tante bisa memberikannya keturunan, tapi segala cara telah Tante coba bahkan sampai menghabiskan seluruh tabungan dan harta peninggalan nenek. Dan hasilnya tetap ... nol!!!" jelas tante Ratih.


Ya Tuhan, begitu pentingkah kehadiran seorang anak dalam rumah tangga? Dahulu Daffin menikahiku juga karena anak, dan kini om Rama meninggalkan tante Ratih juga karena anak. Apakah Daffin juga akan meninggalkan aku jika aku tidak memberinya anak perempuan? Tidak!!! Itu tidak akan terjadi.


"Tan, jika itu terjadi, kenapa Tante tidak menghubungi Aca? Dan apakah kak Ersya mengetahui semua ini?" tanyaku.


Tante Ratih menggelengkan kepalanya. "Tidak! Jika Ersya tahu, dia pasti akan marah besar."


Aku menghela nafas dalam. "Lalu, dimana anak-anak sekarang?"


"Tante sudah meminta teman Tante untuk menjaga mereka selama kami belum punya rumah baru," jawab tante Ratih.


Rumah baru? Haruskah aku meminta Daffin membelikan rumah untuk anak-anak panti? Sepertinya dia tidak akan menolak. Aku rasa itu pilihan terbaik untuk saat ini.


Belum sempat aku mengutarakan niatku, tiba-tiba om Rei mengatakan hal yang membuatku hampir tak percaya.


"Tinggallah bersamaku, Nyonya Kencana! Aku akan memberikan rumah untukmu dan juga anak-anak."


TO BE CONTINUE ...


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2