Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SWEET CHAPTER 6


__ADS_3

Rencana awalku yang hanya akan menginap satu sampai dua hari di kampung halaman kak Erlan harus berubah karena ulah om Rei. Dia tiba-tiba ingin menikahi tante Ratih, walaupun mereka tidak saling mengenal.


"Om, apa kau yakin?" tanyaku memastikan.


Om Rei tertawa. "Bukankah kau yang selalu memaksa Om untuk menikah?"


"Jika Om menikah karena hal itu, akan lebih baik jika pernikahan ini tidak terjadi! Aku tidak ingin Om terluka. Lagipula, apa salah tante Ratih dalam hal ini? Aku mohon jangan libatkan dia dalam urusan cintamu, Om!" ocehku, meskipun aku tahu om Rei enggan mendengarkan aku.


"Pernikahan ini yang terbaik untuk semua orang, Lily! Aku akan menikah dan hal itu akan membuat ayah dan ibumu berhenti merasa bersalah. Nyonya Kencana juga akan mendapatkan keuntungan dari hal ini. Aku akan memberikan rumah dan membantunya menjaga anak-anak malang itu. Mereka tidak boleh hidup sengsara hanya karena kebodohan mantan suami tantemu itu." tegas om Rei.


"Aku setuju, Om, tapi -"


"Sudahlah! Sekarang, biarkan aku menikahi nyonya Kencana dengan tenang. Dan tentang hati, biarkan waktu yang akan menjawabnya. Kau dan Daffin bahkan tidak saling mencintai saat kalian menikah dulu, tapi lihat sekarang! Hadirnya Shaka dan Gil cukup menegaskan segalanya." Om Rei mencubit hidungku.


Baiklah! Apa yang bisa aku lakukan jika para orang tua sudah menentukan jalan hidup mereka sendiri.


Sepertinya aku harus menunda niatku untuk membicarakan tentang pernikahan Ersya dan Rania hingga acara pernikahan om Rei dan tante Ratih selesai.


***


Tak terasa sudah satu minggu aku berada di kampung halaman kak Erlan. Dan pernikahan dadakan antara om Rei dan tante Ratih pun berjalan dengan baik.


"Ini sertifikat rumah ini, Nyonya Kencana." Om Rei menyerahkan sebuah dokumen kepada tante Ratih. "Seperti janjiku padamu! Aku akan memberikanmu rumah, tapi kau harus tinggal bersamaku."


Aku menatap om Rei tak percaya. "Om, jika tante Ratih ikut bersama kita, lalu siapa yang akan mengurus anak-anak?"


"Aku sudah mengurus segalanya! Akan ada orang lain yang mengurus semua ini. Nyonya Kencana hanya perlu ikut bersamaku dan menjadi nyonya Kafeel." Om Rei tersenyum kecut.


Aku tahu, dalam hatinya om Rei pasti hancur karena harus menyebut wanita lain selain ibuku sebagai nyonya Kafeel. Namun, aku juga tidak bisa mengesampingkan perasaan tante Ratih. Setidaknya dia harus mendapatkan sedikit perhatian dan kehangatan dari om Rei, juga kehormatan sebagai nyonya Reinhard Kafeel.


"Om -"


"Tidak masalah, Aca! Tante akan ikut bersama tuan Reinhard. Tidak masalah bagaimana hubungan kami, yang terpenting sekarang panti asuhan ini tetap ada." ucap tante Ratih pilu.


Sejujurnya, aku hanya berharap jika om Rei dan tante Ratih kelak akan hidup bahagia. Sama seperti aku dan Daffin yang akhirnya menemukan kebahagiaan kami.


***


Tepat di hari kesepuluh, aku memutuskan untuk kembali ke kota x. Apalagi setelah aku mendengar dari ibu bahwa Daffin jatuh sakit dan sulit mencerna makanan apapun.


Sebenarnya, aku berniat untuk membicarakan tentang hubungan Rania dan Ersya pada om Rei dan tante Ratih, tapi sepertinya aku harus kembali menundanya. Malang betul nasibmu, Rania!


Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah jam berukuran besar dengan sebuah kalender yang terpasang di bagian atasnya.


"Tanggal berapa ini?" gumamku, lalu membelalakan mata. "Astaga!"


"Ada apa, Nyonya?" tanya Rania, yang duduk di sampingku.


Aku langsung menoleh. "Rania, dua minggu lagi ulang tahun Daffin."


Rania tersenyum kaku. "Benarkah, Nyonya?"


"Iya!" jawabku yakin. "Aku harus membuat kejutan untuknya."


***


Sesampainya kami di rumah, Shaka dan Gil langsung berlarian ke dalam rumah. Mereka terlihat sangat bahagia karena bisa kembali ke rumah kami.


"Sayang?" sapa ibu, begitu aku masuk.


Aku langsung memeluk ibu. "Bu, aku benar-benar lelah."


"Baiklah, istirahat lebih dulu! Setelah itu ceritakan pada Ibu apa yang sebenarnya terjadi! Bagaimana bisa Rei menikah secepat itu?" tanya ibu penasaran.


Aku terkekeh geli. "Ibu cemburu?"


Wajah lembut ibu memberengut, yang membuatnya terlihat seperti diriku saat sedang marah. "Jika Ibu memang cemburu, pasti Ibu akan langsung mendatangi Rei untuk meminta penjelasan darinya. Ibu hanya takut Rei menikah hanya sebagai pelampiasan saja, Sayang."


"Ibu tenang saja! Tante Ratih bukanlah wanita yang lemah. Dia pasti bisa mencairkan hati om Rei yang sudah lama membeku," candaku seraya kembali memeluk ibu. "Baiklah, Bu, aku ingin beristirahat sebentar. Rasanya seluruh tubuhku seperti tak bertulang."


Senyuman tipis mengulas wajah ibu. "Iya, Sayang, pergilah! Biarkan anak-anak Ibu yang mengurus."


"Terima kasih, Bu."


***


Rasanya sangat bahagia melihat satu persatu orang yang aku sayangi menemukan kebahagiaan mereka, meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Aku benar-benar tidak menduga jika om Rei akan memutuskan untuk menikahi tante Ratih, mereka bahkan tidak meminta restu pada ayah dan ibu. Dasar om Rei! Mungkin dia berpikir, karena dia susah tua maka tidak perlu restu siapapun. Ah, aku sudah tidak sabar untuk menceritakan hal ini pada Daffin!


Begitu aku sampai di depan pintu kamar, aku melihat pintu kamarku tidak tertutup rapat. Aku sedikit ragu untuk masuk, tapi saat aku mendengar suara Daffin kakiku langsung melangkah cepat.


HOEK ... HOEK ...


"Daffin!!!" teriakku, ketika melihat Daffin sudah bersandar di pintu kamar mandi dengan wajah yang pucat.


Bergegas aku memapah tubuh raksasa Daffin yang sebenarnya bergerak karena kakinya melangkah, sama sekali bukan karena tenagaku.


"Kenapa kau tidak menghubungiku jika kau sakit? Seharusnya kau mengatakannya padaku!" omelku seraya menutupi tubuh Daffin dengan selimut.


Daffin tersenyum. "Kau tidak ingin bicara denganku."


"Siapa yang berkata seperti itu!" hardikku.


"Kau!" Daffin menaikkan kepalanya hingga tubuhnya bersandar, lalu dia mengambil ponselnya di atas nakas. "Aku sudah berkali-kali menghubungimu, tapi kau selalu menolaknya. Aku sudah tidak sanggup, jadi aku putuskan untuk menghubungi ibu," jelasnya.


Ya Tuhan, aku pikir saat itu Daffin hanya mencari perhatian seperti biasanya. Ternyata dia sedang sakit dan membutuhkan aku.


Aku benar-benar menyesal dan langsung memeluk Daffin. "Maafkan aku, Daffin!"


Sapuan tangan besar Daffin menghangatkan punggungku. "Sudahlah! Aku hanya kelelahan saja. Tadinya aku berpikir untuk menyusulmu kesana saat pekerjaanku selesai, tapi tubuhku ini tidak ingin mendukungku. Tolong jangan maafkan aku, Nyonya Stevano!"

__ADS_1


"Daffin ...."


Air mataku berlelehan dan membasahi pakaian Daffin. Hatiku tak bisa menahan betapa bahagianya aku memiliki suami yang meskipun aku melakukan kesalahan, tapi justru dirinyalah yang merasa bersalah.


"Hei, kenapa kau menangis, My Starfish? Apakah aku mengatakan hal yang salah?" tanyanya panik.


Aku tersenyum dan menggenggam tangan Daffin yang menangkup kedua pipiku kemudian menciuminya, persis seperti yang biasa dia lakukan padaku.


"Aku mencintaimu, Daffin." ungkapku.


"Lagi!"


"Apanya?"


"Ucapanmu barusan."


"Aku mencintaimu?"


Daffin mengangguk dengan senyuman nakal di wajahnya. "Iya!"


Aku menghela nafas panjang. "Aku mencintaimu, Tuan Daffin Miyaz Stevano! Sangat mencintaimu dan benar-benar mencintaimu."


Wajah pucat Daffin tiba-tiba bersemu merah, sebelum akhirnya dia menarik tanganku hingga tubuhku kini berada di atas tubuhnya.


"Daffin!!!" Aku berusaha melepaskan diriku dari dekapan tangan besar Daffin.


"Hemm ...," jawab Daffin dengan mata tertutup.


Tanganku memukuli dada bidang Daffin. "Lepaskan aku, Daffin! Kau sedang sakit."


Daffin membuka matanya. "Aku sudah sembuh karena obatku sudah datang."


***


Dua minggu kemudian ...


Di hari kepulanganku, kondisi Daffin memang membaik. Namun, malam harinya dia kembali drop, bahkan sampai harus di larikan ke rumah sakit.


Anehnya, dia hanya mual dan muntah saat aku meninggalkannya. Ketika aku berasa di sisinya, dia akan memakan apapun yang ada di hadapannya, tanpa mual sedikit pun. Melihat kondisinya yang seperti itu, ibu memintaku untuk terus menemaninya agar Daffin tidak jatuh sakit lagi. Aku mulai berpikir, apakah ini hanya akal-akalan Daffin saja karena aku meninggalkannya ke kampung halaman kak Erlan? Jika itu benar, lihat saja kau Daffin!


Sebenarnya, hari ini adalah hari ulang tahun Daffin. Namun, karena aku sibuk mengurusnya, jadi aku lupa untuk menyiapkan kejutan untuknya. Beruntung, om Rei dan tante Ratih datang untuk menjenguk Daffin sehingga aku memiliki waktu untuk mempersiapkan kejutan untuk Daffin.


"Kau mau kemana, Nyonya Stevano?" rengek Daffin, saat aku melangkah keluar bersama Rania.


Aku menoleh. "Aku harus melihat anak-anak, Daffin."


Aku yakin seratus persen, jika tidak ada om Rei dan tante Ratih, Daffin pasti sudah menahanku. Dan kali ini, dia tidak bisa melakukan apapun.


"Baiklah! Bawa mereka kesini." Daffin menatapku penuh harap.


Senyuman tertarik di sudut bibirku. "Siap, Tuan Stevano."


Ketika sampai di bawah, Rania menatapku bingung. Dia nampak akan bertanya, tapi seperti sesuatu menahannya.


"Nyonya, kejutan apa yang akan anda siapkan untuk tuan?" tanyanya ragu.


Aku memutar bola mataku untuk mencari jawaban sebelum mengangkat kedua bahuku. "Aku tidak tahu, Rania."


Saat aku dan Rania masih berpikir, kami mendengar langkah kaki yang menghampiri kami.


"Aku tahu, kejutan apa yang akan di sukai Daffin."


***


Jantungku berdegup sangat cepat di antara bayangan keluargaku yang sudah berkumpul di taman belakang rumahku. Dan tiba saatnya aku untuk memberikan kejutan pada Daffin begitu aku mendapat isyarat dari om Rei bahwa Daffin sudah datang.


Alunan musik mulai terdengar, aku pun menarik nafas dalam dan menatap Daffin di tengah terangnya cahaya bulan.


Heart beats fast


(Jantung berdetak kencang)


Colors and promises


(Warna-warna dan janji-janji)


How to be brave?


(Bagaimana untuk menjadi berani?)


How can I love when I'm afraid to fall?


(Bagaimana aku bisa mencintai saat aku takut jatuh?)


But watching you stand alone


(Tapi melihatmu berdiri sendiri)


All of my doubt suddenly goes away somehow


(Semua keraguanku tiba-tiba hilang entah bagaimana)


One step closer


(Satu langkah lebih dekat)


I have died every day waiting for you


(Aku telah mati setiap hari menunggumu)

__ADS_1


Darling, don't be afraid


(Sayang, jangan takut)


I have loved you for a thousand years


(Aku telah mencintaimu selama seribu tahun)


I'll love you for a thousand more


(Aku akan mencintaimu untuk ribuan tahun lagi)


Time stands still


(Waktu berhenti)


Beauty in all she is


(Kecantikan dalam dirinya)


I will be brave


(Aku akan berani)


I will not let anything take away


(Aku tidak akan membiarkan apapun diambil)


What's standing in front of me


(Apa yang berdiri di depanku)


Every breath


(Setiap nafas)


Every hour has come to this


(Setiap jam telah sampai pada hal ini)


One step closer


(Satu langkah lebih dekat)


I have died every day waiting for you


(Aku telah mati setiap hari menunggumu)


Darling, don't be afraid


(Sayang, jangan takut)


I have loved you for a thousand years


(Aku telah mencintaimu selama seribu tahun)


I'll love you for a thousand more


(Aku akan mencintaimu untuk ribuan tahun lagi)


And all along I believed I would find you


(Dan selama ini aku yakin aku akan menemukanmu)


Time has brought your heart to me


(Waktu telah membawa hatimu padaku)


I have loved you for a thousand years


(Aku telah mencintaimu selama seribu tahun)


I'll love you for a thousand more


(Aku akan mencintaimu untuk ribuan tahun lagi)


One step closer ...


(Satu langkah lebih dekat)


^^^A Thousand Years^^^


^^^By : Christina Perri^^^


Aku tidak bisa menyelesaikan lagu yang aku nyanyikan, ketika layar proyektor mulai menampilkan foto hasil USGku beberapa jam yang lalu. Disana sudah ada buah cintaku dengan Daffin, anak ketiga kami. Yang tidak aku sadari kehadirannya jika bukan om Rei yang memaksaku untuk pergi ke dokter kandungan.


"One step closer ...," Aku menoleh dan melihat ke arah Daffin yang menghampiriku seraya meneruskan lagunya. "I have died every day waiting for you. Darling, don't be afraid, i have loved you for a thousand years. I'll love you for a thousand more."


Pandangan kami bertemu dan sama-sama menitikkan airmata. Aku bisa merasakan tangan Daffin menggenggam tanganku dengan erat hingga aku pun tanpa sadar mengikuti gerakan bibir Daffin untuk melanjutkan kejutanku.


"And all along I believed I would find you. Time has brought your heart to me ... I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more ...."


TO BE CONTINUE 😍


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2