
Niat yang tidak baik memang selalu kurang dukungan dari Tuhan, seperti yang aku alami sekarang. Dimana aku ingin membalaskan dendamku pada Daffin, tapi aku justru jatuh dalam perangkapku sendiri.
"Daffin!" Tanganku mendorong wajah Daffin agar menjauh dari leherku.
Sejak dia mematikan ponselnya yang terus berdering karena di teror Reena, Daffin terus saja mengabsen setiap inci tubuhku. Mungkin, dia takut tubuhku berkurang satu centi.
"Kenapa? Aku hanya bermain di atas. Aku sudah berjanji tidak akan turun." seloroh Daffin, wajahnya memelas seperti anak kecil yang habis di marahi.
Jika aku tidak sedang bersandiwara seperti sekarang, aku pasti sudah tertawa mendengar ucapannya itu.
"Aku yang akan turun." Kakiku menyentuh lantai, di susul tubuhku yang turun dari pangkuan Daffin.
"Kau marah?" tanya Daffin, tangannya kembali menahan tanganku.
Tak ingin kembali terjatuh dalam pangkuannya, aku pun menahan tubuhku dengan berpegangan ke sandaran kursi.
"Aku tidak marah Daffin. Aku hanya lelah," jawabku sekenanya.
Aku sungguh tidak menduga jika jawabanku membuat Daffin melakukan hal yang kembali mengendurkan semangat balas dendamku. Dia tiba-tiba saja menggendongku dan membawaku ke kamar. Daffin bahkan meletakkanku dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur.
"Maafkan aku telah membuatmu lelah. Sekarang, kau bisa beristirahat!" titah Daffin di barengi sebuah kecupan yang mendarat di keningku.
Inilah kedua kalinya Daffin melakukan hal seperti ini padaku. Jujur saja aku jadi semakin bingung dengan sikapnya yang seperti ini.
"Jangan banyak melamun!" Daffin mencubit hidungku dengan lembut.
Aku belum siap sepenuhnya dengan sikap Daffin yang seperti ini. Jadi, aku hanya bisa tersenyum kaku untuk menanggapi semua perlakuan manisnya padaku.
"Baiklah, aku pergi dulu." Daffin sudah berbalik dan akan pergi, tapi aku langsung menahan tangannya.
"Kau mau kemana?" tanyaku sembari mendudukkan tubuhku.
"Hei, kenapa kau bangun?" Daffin menghampiriku dan duduk di tepi tempat tidur. "Aku akan menemui Reena. Aku takut dia membutuhkan sesuatu," terang Daffin.
"Kau mau menemui kak Reena?" Aku berpura-pura menunduk sedih. "Bukankah kau mengatakan jika saat ini kau milikku? Apa itu semua bohong? Atau karena aku tidak bisa melayani dan memuaskanmu? Jadi kau pergi untuk menemui istrimu?" rengekku.
Mata biru Daffin membulat sempurna. Dia langsung merengkuh tubuhku. "Tidak! Bukan seperti itu!"
"Lalu?" tanyaku lemah, aku bahkan belum bisa membalas pelukannya.
__ADS_1
"Aku hanya khawatir pada Reena," lirih Daffin.
Aku tahu dia begitu mencintai Reena. Maka tidak akan mudah bagiku untuk mengalihkan perhatiannya dari Reena.
"Pergilah! Kak Reena lebih membutuhkanmu daripada aku." ucapku, sambil melepaskan diri dari pelukan Daffin.
Kembali Daffin meraih tanganku. Dari helaan nafasnya yang begitu berat, aku bisa menduga jika semua ini sangat berat untuknya. "Aku akan tetap di sini."
Manik mataku langsung terfokus padanya ketika dia mengatakan hal itu karena itu artinya dia lebih memilihku daripada Reena, istri yang sangat dia cintai.
"Tidak, Daffin! Kau tidak perlu menemaniku. Pergilah temui kak Reena mungkin dia lebih membutuhkanmu!" Aku berpura-pura menolak agar Daffin lebih mengkhawatirkan diriku.
"Reena mungkin membutuhkanku, tapi aku sudah berjanji bahwa malam ini waktunya untuk dirimu." Satu kecupan lagi mendarat di punggung tanganku.
Daffin sialan! Dia membuat jantungku terus saja berolahraga. Aku sampai harus memutar otakku agar jantungku ini mau diam.
***
Semalaman aku tidak bisa tidur karena Daffin terus memelukku. Dia bahkan tidak mengizinkan aku untuk mengganti pakaianku.
"Aku suka kau memakai pakaian seperti ini!"
Ya, kurang lebih seperti itulah yang dia katakan ketika aku mencoba melepaskan diri darinya dengan berdalih akan mengganti pakaianku.
"Morning, My Starfish." sapa Daffin, saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi.
Tubuh tinggi dan atletisnya terpampang nyata di hadapanku tanpa ada yang menghalangi. Daffin juga hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Kulit putih berbulu lebat itu menghancurkan fokusku. Ah ternodai sudah mataku yang setengah suci ini.
"Hei, are you ok?" Daffin sudah ada di hadapanku dan membelai rambutku.
"I am not ok!" sungutku sembari memalingkan wajahku.
"Yeah?" tanya Daffin.
"Menjauhlah, Daffin! Dan kenapa kau tidak memakai apapun?" Aku menggeser posisi tubuhku agar menjauhi Daffin.
Aku mendengar Daffin terkekeh ketika aku mengucapkan hal itu. "Apa kau mandi tanpa melepaskan pakaianmu?"
"Tentu saja tidak! Aku melepaskan ...."
__ADS_1
Sial! Aku terjebak silatan lidahku sendiri. Harusnya aku diam saja, karena itu akan lebih baik dari pada aku memberikan jawaban yang justru membuatku malu seperti ini.
"Kenapa tidak di teruskan? Melepaskan pakaianmu?" ucap Daffin, dia beringsut mendekatiku. "Aku menantikan saat itu!"
Ya Tuhan! Haruskah aku membeli buku panduan membalas dendam agar aku tidak terjebak seperti ini.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Daffin lagi, tangannya yang menyentuh bahuku langsung membuatku terkejut dan berdiri untuk menjauhinya.
"Tidak!!!" teriakku tiba-tiba.
Kening Daffin berkerut melihat sikapku yang memilih untuk menjauhinya. Jangankan dirinya, aku sendiri saja terkejut dengan sikapku.
"Maaf, Daffin! Aku- Aku hanya ...," Aku bingung harus memberi alasan apa padanya.
"Dengar, Ayasya! Aku tidak akan melakukan "hal itu" tanpa keinginan darimu. Aku suamimu. Aku tidak akan memaksamu." tegas Daffin, setelah ia menyadari apa yang terjadi padaku.
Ucapan Daffin begitu menohokku hingga membuat kerongkonganku tercekat dan tak bisa mengatakan apapun lagi untuk membela diriku sendiri.
Ini adalah pagi pertamaku setelah tidur bersama Daffin untuk pertama kalinya setelah kami menikah, tapi aku justru takut untuk berada di dekatnya. Akan lebih baik jika aku marah, maka aku tidak akan melakukan hal memalukan seperti tadi.
Setelah mengatakan hal itu, Daffin diam seribu bahasa. Dia hanya memainkan ponselnya dan tidak berapa lama terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Masuklah!" teriak Daffin, wajahnya datar tak terbaca. Sedangkan aku hanya bisa mengamatinya dari sisi tempat tidur.
CEKLEK...
Begitu pintu terbuka, terlihat sosok dingin Shaka yang langsung membungkuk ketika berhadapan dengan Daffin. Tanpa mengucapkan apapun, Shaka meletakkan sebuah tas di atas meja yang langsung di raih oleh Daffin.
"Kau boleh keluar sekarang! Aku akan turun sebentar lagi." titah Daffin, dia sudah berdiri dan berjalan menuju kamar mandi sambil membawa tas yang tadi di berikan oleh Shaka.
Mereka berdua seolah mengabaikan kehadiranku karena tak seorangpun dari mereka yang menyapaku.
Rasa kesal masih menguasaiku ketika Daffin keluar dengan mengenakan pakaian kerjanya, dasinya bahkan sudah melingkar dengan sempurna di lehernya.
"Bukankah kau sudah membawa pakaianmu? Kenapa kau meminta Shaka untuk membawakannya lagi?" tanyaku, tak sanggup lagi menahan rasa penasaran.
Daffin memakai jam tangan mewahnya, sebelum melirik padaku. "Karena istriku tidak mau menyiapkannya untukku."
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh