Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
HARI KELAHIRAN


__ADS_3

"TIDAK!!!"


Tubuh raksasa Daffin menghentak tubuhku hingga aku hampir tersungkur, jika saja tanganku tidak berpegangan pada ujung sofa.


"Daffin, dengarkan aku dulu!" Aku menarik tangan Daffin yang ingin menjauhiku.


Daffin menoleh dan melemparkan senyuman kecutnya padaku. "Apa lagi, Nyonya Stevano? Kau begitu membenciku hingga ingin sekali menjauh dariku dan melepaskan dirimu. Kau bahkan tidak menghiraukan rasaku padamu."


Apa ini? Kenapa Daffin jadi mudah emosional seperti ini? Di saat aku sedang belajar menjadi dewasa dan meninggalkan sifat manjaku, tapi Daffin seolah menggantikan sifatku kini.


Aku berdecak kesal. "Iya! Aku membencimu dan ingin melepaskan diri darimu. Maka, lepaskan aku!"


Jarak yang sempat tercipta di antara aku dan Daffin hilang begitu saja ketika Daffin kembali merengkuh tubuhku.


"Tidak, Nyonya Stevano! Aku tidak bisa hidup tanpamu." Daffin menciumi puncak kepalaku berkali-kali.


Rasa takut yang di rasakan Daffin bisa aku rasakan dengan jelas. Ketakutan yang begitu nyata amat jelas terlihat dari sorot mata dan juga bibirnya yang bergetar. Daffin benar-benar takut kehilangan diriku.


"Tapi kau sudah berhasil hidup satu bulan tanpa diriku, Daffin," kekehku dalam dekapan Daffin.


Seketika Daffin melonggarkan pelukannya sehingga aku bisa melihat wajahnya yang kini di liputi kesedihan.


"Kau salah, Nyonya Stevano! Aku tidak pernah sehari pun hidup tanpa dirimu." Tatapan Daffin menerawang jauh ke depan.


"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.


Bibir sensual Daffin menarik senyuman. "Sejak kepergianmu, aku terus mencoba berbagai cara agar bisa menemuimu. Aku bahkan bermalam di halaman rumahmu hanya dengan satu harapan, aku bisa bertemu denganmu dan meminta maaf. Tapi ayah mertuaku memang kejam. Dia tidak membiarkan aku melihatku walaupun hanya seujung kuku. Maya yang tidak tega melihatku pun akhirnya membujukku. Dia berjanji akan memasang CCTV di kamarmu tanpa sepengetahuan ayahmu agar aku bisa melihat dirimu setiap saat."


CCTV? Di kamarku? Aku tidak menyadarinya. Kapan ibu memasangnya? Dan jika ibu melakukan itu, artinya ibu sudah memaafkan Daffin. Sekarang ibu berada di pihakku, bukan ayah. Ah, aku merasakan adanya angin segar dalam masalah ini.


"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkan, Nyonya Stevano! Setidaknya aku bisa tenang karena bisa melihatmu kapan saja." Daffin kembali memelukku erat.


Dahiku mengernyit. "Jika kau bisa melihatku setiap saat berarti kau tahu aku baik-baik saja bukan? Lalu, kenapa semalam kau datang dengan amarah yang menggebu-gebu? Kau bahkan melumpuhkan para pengawal ayah."


Sebelum menjawab, Daffin melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan selama aku mengenalnya.


Daffin melepaskan kaitan tangannya di tubuhku. Dia lantas menggeser tubuhku lalu meletakkan kepalanya diatas pangkuanku. Mata biru yang bagaikan sihir itu kembali memantulkan bayangan diriku.


"Maafkan aku! Aku hanya tidak bisa menahan emosi ketika aku melihatmu terus menangis sepanjang hari sambil membaca suratku. Dan ketika para pengawal itu mencegahku, hatiku rasanya hancur. Aku ingin menemanimu dan menghilangkan keraguan serta perbedaan di antara kita." jelas Daffin seraya menggenggam tanganku.


Ya Tuhan, alasan kemarahan Daffin adalah karena diriku. Aku memang menangis, tapi aku tidak serapuh itu. Saat itu aku terlalu terhanyut dengan isi surat Daffin.


Sebuah naluri mendorongku untuk mengusap rambut hitam legam milik Daffin. "Aku tidak menyadari kau begitu mencintaiku, Daffin, aku pikir hatimu masih bercabang."


Daffin langsung menegakkan tubuhnya dan menatapku tajam sebelum menjawab, "apakah aku harus terbaring koma seperti pengkhianat itu agar kau percaya bahwa aku sangat mencintaimu?"


***


Menjelang sore hari, meski dengan terpaksa. Daffin akhirnya mengantarkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Namun, dia bersikeras untuk masuk walaupun dia tahu ayahku pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.

__ADS_1


"Kembalilah, Daffin!" Aku mencoba membujuk Daffin agar tidak masuk. "Aku tidak ingin melihatmu terluka." lirihku.


Daffin melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya dan mencondongkan tubuhnya mendekat padaku. "Kali ini aku tidak akan terluka karena kau sudah memaafkan aku."


"Tidak ada hubungannya, Daffin! Ayah pasti tidak akan tinggal diam," hardikku dengan wajah memberengut.


Bibir Daffin mencebik. "Aku pun tidak akan diam. Aku akan melawan ayahmu dan para pengawalnya itu."


Aku memandang sebal pada Daffin yang tengah menyombongkan diri. "Kau bahkan kalah berkali-kali sebelumnya."


"Itu karena aku tidak mendapatkan kekuatan dari cintamu. Kemarahanmu melemahkan aku, Nyonya Stevano." ungkap Daffin, sorot matanya berubah sendu.


Aku tidak pernah menduga jika seorang Daffin Stevano, pria raksasa yang angkuh ini akan jatuh sedalam itu ke dalam cintaku.


"Kau pikir, kali ini aku akan memberikan kekuatan padamu? Heh?" tanyaku bermaksud menggoda.


"Tentu!" sahut Daffin, dalam sekali gerakan dia sudah kembali menguasai bibirku.


Inilah Daffinku! Selembut apapun dirinya, dia sangat suka memaksakan hasratnya padaku dan jujur saja aku menyukainya. Dalam hati aku merasa beruntung memiliki cintanya sebagai pelengkap hidupku.


Aku dan Daffin semakin dalam terbawa perasaan hingga melupakan dimana kami berada. Jika saja tidak ada yang mengetuk kaca mobil Daffin, aku yakin ciuman ini akan berlanjut menjadi pertempuran kecil di dalam mobil yang belum pernah aku coba sebelumnya. Astaga!!! Apa yang kau pikirkan, Ayasya!


"Hei, kalian membuatku iri!" sungut om Rei ketika Daffin menurunkan kaca mobilnya.


Wajahku pasti sudah semerah tomat saat ini. Aku memilih untuk melihat ke arah lain untuk menghindari kontak mata dengan om Rei.


Om Rei terkekeh geli. "Aku hanya beruntung memiliki kesempatan untuk menyelamatkan keponakanku yang cantik dari keganasanmu, Tuan Daffin Stevano."


Entah mengapa, ucapan om Rei menggelitik hatiku hingga tawa kecil pun lolos dari bibirku.


"Kenapa kau tertawa, Nyonya Stevano? Kau juga menertawakan aku?" tanya Daffin kesal.


Aku yakin Daffin adalah seorang pria yang tidak mungkin mengalami situasi saat emosi sedang tidak stabil. Lalu, kenapa sekarang dia mudah sekali marah?


Bibirku menarik senyuman kemudian membelai wajah Daffin. "Kau tidak senang bisa melihatku tertawa lagi, Suamiku yang tampan?"


"Apa maksudmu? Aku sangat senang. Kalau begitu, aku tidak masalah jika kau terus menertawakan aku meskipun aku harus berubah menjadi badut." Daffin menangkap tanganku di wajahnya dan menciuminya.


"Hah!" Om Rei menghentakkan nafasnya. "Aku merasa seperti sedang menonton drama televisi!" keluhnya seraya melenggang masuk ke dalam rumah.


Aku dan Daffin tersenyum puas melihat ketidaknyamanan om Rei. Setidaknya dia sudah tidak mencoba untuk memisahkan kami lagi.


***


Genggaman tangan Daffin semakin kuat di tanganku ketika kami berdua melangkah memasuki rumah.


Tidak ada seorang pun di dalam rumah ketika aku dan Daffin masuk. Aku pikir mungkin ayah dan ibu sedang beristirahat di dalam kamarnya, tapi dimana om Rei?


Pandangan mataku dan Daffin bertemu saat kami sama-sama sedang menyapu ruangan untuk mencari keberadaan keluargaku.

__ADS_1


"Dimana semua orang?" tanyaku seraya menarik turunkan alisku.


Bahu Daffin terangkat. "Entahlah! Mungkin mereka sengaja meninggalkan kita agar bisa menghabiskan waktu bersama."


"Mesum!!!" Aku memukul bahu Daffin gemas.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang datang ke arah kami. Betapa terkejutnya aku ketika melihat, ayah, ibu, om Rei, dan daddy David berjalan ke arah kami. Dan aku juga memicingkan mataku ketika melihat Rania berjalan dengan membawa kue di tangannya.


Happy birthday to you ...


Happy birthday to you ...


Happy birthday ... happy birthday ...


Happy birthday, Lily ...


Ulang tahun? Siapa? Aku? Mataku tak berhenti berkedip meskipun keluargaku sudah selesai bernyanyi dan kini berada tepat di hadapanku.


"Selamat ulang tahun, Sayang." Ibu memelukku erat.


"Happy birthday, My Sunshine," ucap ayah seraya memelukku bersama ibu.


"Hei, sudah! Aku juga ingin memeluk putriku." daddy David menarik tangan ayah.


Ayah dan ibu menggelengkan kepalanya, lalu menuruti keinginan daddy David.


"Happy birthday, Lily." Daddy David sudah membentangkan tangannya untuk memelukku, tapi di hadang oleh Daffin.


"Daddy tidak di perbolehkan untuk memeluk istriku!" sergah Daffin.


Wajah ceria daddy David berubah suram. "Kau pelit! Lihat saja, aku akan mencari ibu tiri untukmu!"


Ayah dan ibu tertawa mendengar ancaman daddy David, tapi Daffin tetap tidak bergeming.


Aku melangkah mendekati ayah dan ibu. "Bu, apa ini? Bukankah ulang tahunku masih dua bulan lagi?"


Tangan lembut ibu menyapu wajahku. "Hari ini adalah hari dimana Ibu melahirkanmu, Sayang."


Pikiranku berputar dan berhenti pada ingatan dimana nenek pernah mengatakan, bahwa hari ulang tahunku adalah hari dimana aku di titipkan di panti asuhan nenek. Aku mengerti sekarang, hari ini adalah hari ulang tahun yang sebenarnya untuk diriku.


Aku tersenyum. "Terima kasih telah melahirkan aku, Bu."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2