Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
TERHEMPAS


__ADS_3

Padang rumput yang luas, di iringi dengan kicauan burung yang merdu menuntunku untuk mencari suara tawa dari dua orang anak kecil yang begitu bahagia. Aku juga menajamkan telingaku ketika mendengar suara tawa seseorang yang sangat aku kenal.


"Kak Erlan?"


Dari kejauhan, aku melihat kak Erlan sedang bermain dengan dua anak kecil yang berwajah tampan dan sangat mirip dengan kak Erlan. Kedua anak itu sedang berayun di lengan kak Erlan, wajah mereka begitu damai dan penuh kebahagiaan. Melihat hal itu membuatku sangat bahagia dan ingin bergabung bersama mereka.


Di setiap langkah kakiku, aku merasa jarakku dengan kak Erlan dan kedua anak itu bukannya berkurang, tapi justru semakin menjauh dan membuatku semakin lelah untuk berjalan.


"Berhenti, Ayasya!" Suara lembut kak Erlan menghentikan langkahku.


Jarak antara aku dan kak Erlan tidak terlalu jauh, tapi kenapa aku tidak bisa mencapainya? Tangisku hampir saja pecah jika aku tidak mendengar kedua anak itu memanggilku.


"Mommy!!!"


Wajah mereka begitu tampan dan menggemaskan, aku ingin sekali memeluk mereka. Tapi aku tidak bisa.


"Jangan mendekat, Ayasya!" ucap kak Erlan, ketika aku akan kembali mendekatinya. Panggilannya kepadaku sudah berubah, dia tidak lagi memanggilku Aca.


"Kenapa, Kak? Aca ingin memeluk Kakak. Aca rindu, Kak Erlan."


Aku sudah tidak bisa menahannya, tangisku pun pecah begitu saja ketika mendapat penolakan dari satu-satunya tempatku untuk bersandar.


"Tempatmu bukan disini, Ayasya. Kembalilah! Masih banyak hal yang harus kamu selesaikan. Belajarlah menjadi dewasa dan temukan kebahagiaanmu. Aku akan menjaga Baby disini, sesuai keinginanmu. Hanya kau dan aku yang akan memiliki mereka." tutur kak Erlan, dia menciumi kedua anak tampan itu.


"Baby?" Aku mengusap perutku yang sudah kembali rata dan melihat ke arah dua anak yang kini sedang memeluk kak Erlan. "Tidak!!! Ini tidak mungkin!"


"Maafkan aku, Ayasya! Tapi kau harus berjuang untuk hidupmu. Jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi! Terima kasih telah menjaga anak-anakku selama ini. Kami mencintaimu, Ayasya."


Setelah mengatakan hal yang begitu menusuk hatiku, kak Erlan berjalan dan menuntun anak-anak itu di kedua sisi kiri dan kanannya. Sebelum mereka menghilang dari pandanganku, salah satu dari anak itu menoleh dan melambaikan tangannya padaku.


"Aku menyayangimu, Ibu. Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi."


Aku tidak mau sendiri, maka aku pun berniat untuk mengejar mereka meski aku tidak tahu seberapa jauh jarak yang harus aku tempuh. Namun, baru saja aku akan melangkah. Aku merasakan seseorang menahan tanganku dari belakang dan langsung membuatku menoleh untuk memastikan siapa orang yang telah mencegah kepergianku.


"Daffin?"

__ADS_1


"Jangan pergi! Aku mencintaimu."


***


Cahaya putih yang sangat terang berada tepat di atas pandangan mataku. Aku sedikit sulit untuk membuka mataku, tapi aku tetap berusaha melakukannya.


Begitu pandanganku mulai jelas, aku memperhatikan sekeliling dan menyadari jika aku berada di rumah sakit. Jarum infus dan juga selang oksigen menempel di tubuhku, tapi yang paling membuatku heran adalah Daffin yang sedang menggenggam tanganku dalam tidurnya.


Pria itu menelungkupkan kepalanya di sisi bed pasien, tapi tangannya tidak melepaskan tanganku yang terpasang infusan. Tidak ada siapapun di ruangan ini selain kami berdua dan hal itu membuatku sangat tidak nyaman.


"AYASYA!!!"


Suara Daffin yang memanggil namaku kembali terngiang di telinga ketika aku menatap pria itu untuk sesaat. Potongan-potongan kejadian saat aku jatuh dari tangga pun berkelebatan di kepalaku.


Kebencian dan amarah langsung menguasai diriku saat aku meraba perutku yang tak lagi membesar. Aku juga dapat merasakan ada luka bekas jahitan di perutku. Namun, rasa ngilu yang kurasakan tidaklah sebesar rasa sakit yang mendera hatiku.


Air mataku meluncur bebas tanpa bisa aku tahan. Bagaimana tidak? Aku kehilangan satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup. Lalu, untuk apa aku hidup saat ini? Tidak ada lagi tujuanku untuk hidup.


Kesedihan seolah belum bosan untuk terus menyapa dan merundung diriku. Kepahitan hidup yang aku rasakan sejak kecil masih setia menemaniku hingga kini, seolah enggan meninggalkan diriku.


"Kau sudah sadar?" tanya Daffin, dia mengusap kedua matanya yang terlihat lelah.


'Ya, aku sadar telah kau tipu!'


Bibirku bungkam, aku terlalu lemah untuk bicara. Hanya mataku yang menunjukkan seberapa besar kebencianku terhadap pria yang ada di hadapanku ini.


"Kau butuh sesuatu?"


'Aku butuh kekuatan untuk menghadapimu.'


Daffin menatapku dengan tatapan aneh yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Dia juga terlihat seperti sosok yang sangat berbeda.


"Bagaimana perasaanmu?"


'Kau masih bertanya bagaimana perasaanku? Aku sangat marah hingga aku rasa aku akan terbakar oleh amarahku sendiri.'

__ADS_1


"Bicaralah! Apa kau yang kau butuhkan?" Kali ini Daffin menyentuh pipiku, tapi aku langsung memalingkan wajahku.


"Aku tahu. Aku memang bersalah padamu, tapi izinkan aku untuk meminta maaf padamu. Jika kau bersedia, aku ingin kau mendengarkan penjelasanku." lirih Daffin, suaranya bergetar. Entah bergetar karena apa, aku tak ingin melihat wajahnya.


Aku tidak mengerti apa isi otak Daffin. Sebelumnya, kak Reena memintaku untuk mengerti dirinya dan sekarang dia memintaku untuk mendengarkan penjelasannya. Tidakkah mereka mengerti cara meminta maaf yang benar?


"Sebenarnya -"


Aku buru-buru mengangkat tanganku ketika Daffin baru saja membuka mulutnya. "Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi di hidupku." Sekuat tenaga aku mengeluarkan kalimat itu dari bibirku.


"Tidak bisa! Aku harus disini untuk menjagamu."


"Menjagaku agar tidak melarikan diri? Aku sudah kehilangan anak-anakku. Apalagi yang kau inginkan dariku?"


"Ba- Bagaimana kau tahu?" Daffin menatapku keheranan. Sepertinya di mata Daffin, aku ini benar-benar hanyalah wanita yang bodoh.


Aku tak ingin menjawabnya. Tanpa di beritahu pun, aku sudah tahu akan begini jadinya. Mengingat posisiku saat terjatuh ketika Daffin sedang mengejarku.


Lagi-lagi, air mata terjun bebas dari mataku untuk mewakili betapa hancurnya hatiku saat ini dan setiap kata yang keluar dari mulut Daffin seperti garam yang di taburkan di atas lukaku yang belum sembuh.


"Pergilah, Daffin!" ucapku di sela isak tangis yang begitu memilukan.


"Aku tidak akan pergi!"


"Kenapa? Sudah tidak ada lagi yang bisa membuatmu menahanku."


Ketika Daffin akan membujukku kembali, seorang wanita memasuki ruangan perawatanku tanpa permisi. Wanita itu berdiri dengan angkuhnya dalam balutan pakaian hitam.


"Benar. Kau sudah tidak berguna lagi!"


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar👇sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2