Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
JEJAK GURITA BETINA


__ADS_3

"Iya, sama-sama sudah berhasil membuat cemburu." Daffin tersenyum begitu lebar.


Tidak adil! Ini tidak adil bagiku.


"Aku rasa ada yang tidak benar disini," ucapku dengan mata memicing.


"Apa?" tanya Daffin bingung, tapi senyum di wajahnya tak memudar.


Bola mataku menatap lekat sosok Daffin di hadapanku. "Kau cemburu pada kak Ersya dan aku sedikit ... ingat, hanya sedikit! Tidak suka dengan kehadiran Reena. Itu bisa di sebut satu sama, tapi kau sudah menghapus jejak kak Ersya di tubuhku sedangkan jejak gurita betina itu masih menempel di tubuhmu. Itu artinya dua satu!"


Sejenak Daffin terdiam, sepertinya mencoba memahami ucapanku. Namun, setelahnya dia tertawa hingga terbahak-bahak.


"Kau ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan padamu, My Starfish? hemm?" tanya Daffin, sorot matanya mengartikan banyak hal.


Apa maksud si Plankton mesum ini? Ah, aku tahu. Dia pasti berpikir untuk melakukan ritual mandi yang melelahkan itu.


"Tidak! Itu terlalu menyenangkan bagimu." sergahku, ketika Daffin mulai membuka kancing kemejanya.


Sebelah alis Daffin terangkat. "Lalu?"


"Kau harus mensucikan dirimu dengan air laut!"


***


Suara deburan ombak dan kicauan burung camar yang saling bersahutan begitu menyejukkan mata dan telingaku.


"Hei, tunggu dulu, Nyonya Stevano!" teriak Daffin, ketika aku langsung keluar dari mobil begitu kami sampai.


Aku berbalik sekilas untuk melihat Daffin yang baru saja keluar dari mobil. Dia terlihat begitu tampan dengan topi casual di kepalanya, tapi kemejanya itu sangat tidak sesuai untuk di pakai ke pantai.


"Tunggu apa lagi? Ayo, cepat! Lautan sudah memanggilmu, Plankton." selorohku, kemudian tertawa dan berlari kecil menyusuri bibir pantai.


Ketenangan di tengah keramaian seperti ini hanya bisa aku dapatkan di sini. Birunya air laut, hembusan angin yang sejuk serta tawa riang yang terdengar dari bibir anak-anak membuatku merasa memiliki keluarga di dalam hidupku. Hidup yang selalu aku rutuki karena telah membuatku terlahir sebagai anak kurang beruntung yang harus di besarkan tanpa kasih sayang kedua orang tuaku. Ah, sudahlah! Sekarang hidupku sudah jauh lebih baik, bahkan tinggal selangkah lagi aku akan mendapatkan semua yang seharusnya menjadi milikku dan semua itu di berikan oleh pria tampan yang sedang berjalan dengan gagahnya ke arahku.


Mataku di buat terbelalak ketika melihat Daffin sudah melepas semua pakaiannya dan hanya menyisakan boxernya saja.


Astaga! Wajahku rasanya terbakar dan hatiku rasanya ingin meledak melihat tubuh atletis Daffin yang terpampang nyata dengan begitu jelas.


"Tutup mulutmu, Nyonya Stevano, atau lalat akan hinggap di sana!" canda Daffin, dia mengecup bibirku sekilas.


Tubuhku tersentak, mengembalikan kesadaranku yang sempat melayang karena keseksian tubuh Daffin.

__ADS_1


"Kau ... kenapa kau melepaskan pakaianmu, Daffin?" tanyaku terbata, mencoba menutupi kegelisahanku.


Daffin memiringkan kepalanya untuk mendekatkan wajahnya padaku. "Bukankah kau ingin menyucikan tubuhku? Apa kau berubah pikiran? Bagaimana jika kita mandi bersama saja, Nyonya Stevano?"


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat seraya memejamkan mataku sebagai penolakan terhadap tawaran Daffin.


"Tidak! Sekarang, kau masuk ke air dan bersihkan tubuhmu dari jejak gurita betina itu!" titahku, dengan tangan mengarah ke laut.


"Sesuai perintahmu, Nyonya Stevano," jawab Daffin lembut, kemudian melepaskan topinya dan melangkah mundur. "Jangan merindukanku! Aku akan menemui kawan-kawanmu di dasar laut." candanya.


Bibirku mencebik seraya mengibaskan tanganku ke udara. "Ya! Kembalilah ke duniamu."


Tubuhku berbalik dan berniat meninggalkan Daffin yang sedang berenang. Namun, baru saja kakiku akan melangkah, terdengar teriakan dan sorakan dari beberapa wanita berbikini di sisiku.


"Pria itu tampan sekali!"


"Ah, tubuhnya sangat seksi!"


"Astaga, apakah dia lajang? Aku akan menjadikannya target cintaku."


Seperti sekumpulan ubur-ubur!


Sengaja aku mengusap-usap perutku dengan lembut dan membuat perutku terlihat semakin menonjol.


Salah satu dari wanita itu menatapku sinis, dia bahkan mencebik dan menghinaku. "Kau! Mana mungkin pria sepertinya menyukai gadis sepertimu! Tubuhmu bahkan tak berbentuk."


Wanita yang lainnya menertawakan apa yang di ucapkan oleh wanita itu. Mereka seolah mengejek tubuhku yang kini terbungkus pakaian rapih akibat ulah Daffin.


"Tubuhku terlalu indah dan istimewa untuk di pandang. Bukan seperti tubuh murahan yang bisa di lihat oleh siapa saja!" sindirku, kemudian tersenyum sinis.


Wanita yang menghinaku tadi melayangkan tangannya padaku, tapi tak pernah bisa menyentuhku karena sebuah tangan menahannya.


"Daffin?"


Tubuh Daffin yang basah semakin membuat para wanita itu tak bisa berkedip. Wanita yang tangannya di cengkram oleh Daffin bahkan tersenyum dengan sangat manis meskipun tangannya memucat karena cengkraman tangan Daffin yang begitu kuat.


Aku menepuk tangan Daffin cukup keras. "Lepaskan!!!"


Tangan wanita itu di hempaskan Daffin dengan kasar dan hampir saja membuat wanita itu jatuh.


"Pergilah! Sebelum aku menenggelamkan kalian semua!" bentak Daffin, tapi para wanita itu justru semakin terpesona padanya.

__ADS_1


Daffin berdecak kesal dan menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya dia memilih untuk menyergap bibirku dan membuat tontonan gratis di hadapan banyak orang.


"Aaarrgghh ... aku tidak rela!" gerutu para wanita itu, kemudian membubarkan diri.


"Astaga!!! Ayo, kita cari hotel!" lontar Daffin, begitu pagutannya terlepas.


Aku memasang wajah polosku. "Untuk apa? Aku suka pantai dan aku bahkan belum menyentuh airnya."


"Tapi -"


Sebelum Daffin kembali memenangkan perselisihan ini dengan cara membodohiku, lebih baik aku melarikan diri.


Langkah kakiku semakin mendekati pantai dan aku bisa merasakan sapuan air laut di kakiku yang bertelanjang.


Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh jemariku dan ternyata Daffin baru saja meraih tanganku. "Kau ingin berenang?"


"Tidak dengan pakaian ini!" sungutku, dengan wajah memberengut sempurna.


Daffin terkekeh. "Tentu saja! Aku tidak akan membiarkanmu di anggap ikan buntal yang tersasar."


***


"Maaf, saya terlambat, Tuan," ucap Shaka terengah-engah.


Atas perintah Daffin, Shaka menyusul kami ke pantai dan membawakan pakaian berenang untukku. Dan bisa di pastikan bahwa pakaian yang di bawa Shaka bukanlah bikini, melainkan pakaian renang yang tertutup.


"Tidak masalah, Shaka, kau cukup cepat untuk seseorang yang menaiki mobil." selorohku, seraya mengambil tas di tangan Shaka. "Aku sarankan kau meminta jet pribadi pada bosku karena dia suka sekali memintamu datang secepat kilat." candaku.


Wajah Shaka tidak bereaksi sedikitpun. Dia hanya tersenyum pias. Membuatku ingin memberikan sesuatu di wajahnya agar lebih lentur dan mudah tertawa.


Ketika aku dan Daffin akan pergi untuk berganti pakaian, tiba-tiba sebuah suara membuat kami menoleh dan tercengang.


"Shaka!!! Tega sekali kau meninggalkan aku!"


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2