
Flashback on ...
"Aku tahu, kejutan apa yang akan di sukai Daffin."
Dahiku mengernyit. "Om?"
Langkah kaki om Rei menuruni tangga dengan wajah yang sumringah. Dia menghampiri aku dan menepuk-nepuk lembut puncak kepalaku. "Teman kecilku, Ayasya ... kau sudah benar-benar menjadi orang dewasa sekarang."
"Aku memang sudah dewasa, Om. Sekarang aku seorang ibu dari dua orang putra." Aku tersenyum bangga.
Om Rei terkekeh. "Kau ibu dari tiga anak!"
Kedua alisku menukik tajam ketika menatap wajah om Rei yang nampak bahagia. "Tiga?"
"Iya!" Om Rei mengangguk cepat. "Shaka, Gil, dan janin yang ada di perutmu." ucapnya.
Aku menatap bingung pada om Rei, sebelum aku tertawa hambar. "Ha ... ha ... ha ... tidak lucu, Om!"
"Memang tidak lucu! Kau cepat sekali membuat cucu lagi untukku dan Reyno. Rasanya baru kemarin aku menguras tabunganku untuk membeli hadiah bagi kedua putramu, dan kini aku harus menyiapkan hadiah untuk calon anakmu, Lily! Astaga!!! Habis sudah uangku." celoteh om Rei.
Sudut mataku melirik Rania yang juga tampak bingung dengan ocehan om Rei. "Om, apa maksudnya semua ini? Aku tidak hamil, Om! Seharusnya tante Ratih yang hamil karena kalian pengantin baru."
Keriangan di wajah om Rei tiba-tiba berubah suram. Senyuman dan candaannya entah hilang kemana, berganti wajah serius yang di penuhi ketegangan.
"Aku tidak memikirkan hal itu, Lily!" Om Rei menepuk bahuku. "Pergilah temui dokter kandunganmu! Om sudah menghubunginya, kau tinggal datang saja." titahnya.
"Tapi, Om, aku tidak sedang hamil. Aku bahkan tidak mual sedikitpun!" elakku, malas pergi keluar rumah di saat Daffin sedang tidak sehat.
"Kau memang tidak mual, tapi Daffin yang mual! Om curiga Daffin mengalami syndrom couvade." sergah om Rei.
Aku tersenyum kikuk. "Aku tidak mengerti, Om."
Om Rei menghela nafas. "Di lihat dari gejalanya, sepertinya Daffin mengalami syndrom couvade atau kehamilan simpatik. Kondisi dimana, kau yang mengandung, tapi dia yang mengidam."
Bagaikan mendapat mainan baru, aku begitu bahagia mendengar penjelasan om Rei hingga tanpa sadar aku langsung melompat kegirangan.
"Hati-hati, Lily!" teriak om Rei.
"Maaf, Om, aku terlalu bahagia." Aku mengaitkan jemariku.
Senyuman tipis menghiasi wajah om Rei."Kau bahagia karena akan memiliki anak lagi? Oh, andai aku juga memiliki kesempatan itu."
"Aku akan mendoakan agar Om dan tante Ratih segera di berikan keturunan, agar aku punya adik dan akan ada yang memanggilku kakak." Tawa dan senyuman seceria mungkin, berusaha aku tunjukkan. "Tapi, Om, aku bahagia bukan karena aku hamil. Melainkan karena Daffin akhirnya akan merasakan apa yang aku rasakan saat mengandung Shaka dulu." bisikku.
Dan begitulah akhirnya, aku dan Rania pergi menemui dokter kandunganku dan melakukan USG. Ternyata benar, aku sedang mengandung anak ketigaku bersama Daffin. Namun, karena usia kandunganku yang masih hitungan minggu, maka yang terlihat hanyalah titik kecil sebesar kacang hijau.
__ADS_1
Kini aku benar-benar tidak bisa berkata-kata, karena Tuhan begitu baik padaku dengan memberikan semua hal yang aku inginkan.
Flashback off ...
Alunan musik berhenti dan berganti suara gemuruh tepuk tangan dari seluruh keluargaku. Seketika lampu pun menyala hingga aku bisa melihat wajah Daffin dengan jelas.
"Aku ingin bermusuhan dengan air matamu," ucap Daffin lembut seraya menciumi mataku.
Aku tersenyum. "Ini air mata bahagia, Daffin."
"Aku tahu, tapi aku hanya tidak suka saat kau menangis karena aku selalu merasa bahwa aku telah gagal membuatmu bahagia." Tangan besar Daffin terus menghapus air mata yang berjatuhan dari mataku.
"Aku bahagia, Daffin, selama itu bersamamu!" lontarku, di barengi tanganku yang melingkar di tubuh Daffin.
Kehangatan tubuh Daffin telah menjadi candu bagiku. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.
***
Satu setengah tahun kemudian ...
"Apa? Tante Ratih hamil?" teriakku, tanpa memperdulikan keadaan sekitarku yang cukup ramai.
Telunjuk om Rei menutupi bibirnya. "Pelankan suaramu, Lily!"
Seketika aku membungkam mulutku, ketika menyadari bahwa kini aku dan om Rei berada di sebuah restoran yang ramai pengunjung.
"Kenapa hal ini harus di sembunyikan, Om?" bisikku, dengan sebelah tangan yang menghalangi bibirku.
Om Rei tertunduk malu. "Aku takut Ratih akan mengetahuinya."
Apa? Alasan macam itu!
"Bisakah aku berkata, jika aku ingin sekali mencapit mulut Om dengan tangan kepiting?" sindirku kesal.
Kekehan terdengar dari bibir om Rei, tapi dia tak terlihat akan mengatakan apapun padaku. Melainkan hanya berdiri dari mejanya dan menghampiri Bi.
Bi atau Berciia Kafeela Stevano, putriku. Dia anak bungsuku yang berusia tujuh bulan. Wajahnya tak jauh berbeda dengan daddy dan juga kakaknya. Putriku ini memiliki mata biru dengan wajah bule dan juga bibir ranum, persis seperti Daffin dan juga Shaka. Terkadang, aku berpikir untuk memiliki seorang putri lagi yang akan berwajah mirip denganku dan juga Gil. Mungkin aku harus membicarakan hal ini dengan Daffin!
"Bi, apa kau ingin seorang adik?" tanya om Rei, seraya mengangkat tubuh Bi.
"Bi tidak ingin adik, dia ingin om dan tante kecil!" celetukku, tanpa mengacuhkan ekspresi yang di tunjukkan oleh om Rei.
Om Rei menghampiriku dengan Bi yang berada dalam gendongannya. "Bagaimana jika Bi mendapatkan semuanya?"
Aku tahu maksud om Rei, dia hanya mengejekku karena di usiaku yang masih muda, aku sudah memiliki tiga orang anak yang terlihat seperti kembar.
__ADS_1
Sebenarnya, aku ingin membalas ejekan om Rei, tapi tepat saat aku hendak membuka mulutku, tiba-tiba suara seseorang menghentikan niatku.
"Mendapatkan apa?" tanya tante Ratih, dia baru saja kembali dari toilet.
Om Rei dan aku menoleh secara bersamaan. Kami saling bertatapan cukup lama, sebelum om Rei menemukan alasan yang tepat untuk mengelak.
"Mendapatkan ... tempat yang sesuai untuk pernikahan Ersya. Iya, itu maksudku!" elak om Rei.
Lancar benar lidah omku ini!
"Iya, Tan, om Rei benar! Waktu pernikahan semakin dekat dan kita harus menemukan tempat yang sesuai secepatnya." Aku ikut menimpali.
Wajah tante Ratih mengulas senyuman. "Tenang saja, Aca! Semuanya sudah di atasi oleh suamimu."
"Daffin?" tanyaku ragu.
Tante Ratih mengangguk, lalu mengambil Bi dari om Rei. "Daddymu itu ternyata sangat mencintaimu mommymu, Bi. Dia tidak ingin istrinya lelah dan terlalu banyak pikiran."
Aku menatap tante Ratih bingung. "Maksudnya, Tan?"
"Tadi, saat Tante di toilet, Daffin menghubungi Tante dan meminta kita untuk pulang dan beristirahat karena semua persiapan pernikahan Ersya sudah siap." Tante Ratih melangkah untuk keluar dari restoran. "Sekarang, kita bisa istirahat dan tinggal menunggu hari H."
Aku melihat om Rei mengernyitkan dahinya saat menatap tante Ratih yang berjalan menjauhinya.
"Ada apa, Om?" tanyaku penasaran.
Om Rei menoleh. "Entahlah! Aku hanya merasa bahwa Ratih sebenarnya tahu jika dia sedang berbadan dua, tapi kenapa dia terlihat bahagia dan dia juga tak mengatakan apapun padaku?"
"Om, tante Ratih itu seorang bidan. Tentu saja, dia pasti menyadari jika dirinya sedang hamil. Dan pastinya dia sangat bahagia mengetahui hal itu karena itulah yang dia inginkan selama ini. Mengenai kenapa tante Ratih tidak mengatakannya pada Om, mungkin karena tante ingin membuat kejutan. Aku hanya berharap Om akan terkejut saat tante Ratih mengatakannya, sehingga tidak akan mengecewakan tante Ratih." Tanganku mencubit hidung om Rei yang langsung memekik kesakitan.
"Rei?" panggil tante Ratih, menghentikan usaha om Rei yang ingin membalasku.
"Hidungmu selamat kali ini, Lily!" Om Rei berlari kecil untuk menghampiri tante Ratih. "Aku datang, Ratih!" teriaknya.
Helaan nafasku lolos begitu saja, di barengi senyuman yang benar-benar ingin sekali aku tunjukkan untuk seseorang yang pastinya sangat bahagia melihat kebahagiaan tante Ratih. Kak Erlan, dia begitu menyayangi tante Ratih dan menganggapnya sebagai pengganti ibu kandungnya. Aku yakin, jika kak Erlan masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia.
"Lihat, Kak, kami semua bahagia dan hidup dengan sangat baik. Itu pun tanpa melupakan dirimu ...."
TO BE CONTINUE π€
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh