Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SWEET CHAPTER 1


__ADS_3

Kemegahan dan kemeriahan pesta resepsi pernikahanku dan Daffin memang telah lama usai, tapi gempita keriuhan serta kabar bahagia akan lahirnya anak kedua kami masih menjadi sorotan di seluruh negeri.


Kesuksesan Daffin selalu menjadi daya tarik bagi para pemburu berita, khususnya kisah tentang percintaannya denganku. Tak banyak yang tahu jika aku dan Daffin sudah lama menikah dan sempat hidup seatap dengan Reena. Namun, para pemburu berita itu memang hebat. Mereka bisa menemukan semua itu dalam sekejap dan menciptakan kehebohan di jagat maya hanya dalam semalam setelah pesta pernikahan kami.


"Jika ada yang berani mengatakan hal buruk tentang ibu dari anak-anakku, aku akan membuatnya bermimpi buruk setiap malam!"


KLIK ...


Layar besar televisi berubah gelap, membuatku kebingungan karena tak merasa mematikannya. Aku pun langsung menoleh dan melihat Daffin memegang remote yang di arahkan ke televisi.


"Daffin!" sergahku kesal dengan wajah memberengut.


Tangan besar Daffin mengusap rambutku dan mengecup puncak kepalaku. "Kenapa kau suka sekali melihat hal yang menyakitimu?"


Aku mendengus kesal. "Menyakiti katamu?"


"Iya!" Daffin segera memutari sofa untuk duduk disampingku. "Berita itu tidak benar! Apa yang mereka katakan tidak benar! Dan semua hal tentang dirimu yang ada di dalam berita itu salah besar, Nyonya Stevano!" hardiknya.


Kepalaku bersandar di bahu Daffin. "Aku tahu! Tapi kita juga tahu, saat itu semua orang termasuk diriku juga beranggapan bahwa aku telah merebut suami orang dan menghancurkan rumah tanggamu dengan Reena. Mereka tidak salah, Daffin! Aku saja baru tahu kebenarannya setelah cukup lama aku tersiksa dengan perasaan bersalah."


Aku merasakan kehangatan tangan Daffin melingkari tubuhku. Dia mendekapku erat sebelum menghujaniku dengan ribuan ciuman di puncak kepalaku.


"Maafkan aku atas semua duka dan luka yang telah aku berikan padamu! Aku tidak menyangka semua itu akan berdampak sampai hari ini. Sungguh, Nyonya Stevano, jika saja aku bisa memutar waktu ... aku tidak akan menuruti ide gila Reena untuk menikahimu. Mungkin saja -"


Aku segera memotong ucapan Daffin. "Mungkin saja aku tidak akan pernah mengenal cinta! Mungkin saja aku tidak akan pernah bertemu orang tua kandungku! Mungkin saja aku tidak akan memiliki putra setampan Shaka Ryuichi Stevano! Dan mungkin saja aku tidak akan mengalami hari-hari yang bahagia bersama suamiku yang tampan dan posesif!"


Daffin menegakkan tubuhnya dan menatapku dengan tatapan sendu yang di penuhi kesedihan. Aku tak bisa menebak apa yang ada di pikirannya, tapi aku yakin itu sebuah penyesalan dan juga kebahagiaan yang datang secara bersamaan.


"Aku mencintaimu, My Lovely Plankton." ungkapku seraya mengecup sekilas bibir Daffin.


Belum sempat aku melarikan diri, Daffin sudah menahanku dengan membawaku ke dalam pelukannya lagi.


"Daffin, lepaskan aku!" jeritku, sementara tanganku memukuli dada bidang Daffin.


"Kau yang menggodaku!" bantah Daffin lalu mengangkat tubuhku.


Berat badanku yang semakin bertambah tak membuat Daffin kepayahan sedikitpun saat mengangkatku. Dia justru terlihat sangat bahagia dan sepertinya akan selalu melakukan hal ini entah sampai kapan.


"Kenapa kau selalu terlihat cantik setiap harinya, My Starfish?" Hembusan hangat nafas Daffin mengabsen setiap jengkal wajahku. "Kau tahu, kecantikanmu ini membuatku takut kehilangan dirimu." bisiknya.

__ADS_1


Entah ini kejujuran ataupun hanya sebuah rayuan, tapi aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa maluku atas ucapan Daffin. Wajahku terasa panas dan aku yakin pasti wajahku sudah semerah tomat.


"Cintamu membuatku buta, tuli, dan juga emmm -"


Tak kuasa mendengar rayuan Daffin, aku segera membungkam mulutnya itu dengan sebelah tanganku. "Diam! Kau ini seperti anak remaja saja!"


Tatapan mata Daffin berubah. Dia terlihat sedikit kecewa dan sudut matanya sudah memerah sehingga aku pun terpaksa melepaskan tanganku.


"Maaf! Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu, Daffin," lirihku.


Daffin merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku pikir dia akan menyusulku dan mengukung tubuhku seperti biasa, tapi kali ini Daffin langsung beranjak pergi.


"Daffin?" panggilku, ketika tangan Daffin meraih handle pintu.


"Kau butuh sesuatu, Nyonya Stevano?" jawabnya tanpa menoleh.


Dia melakukannya lagi! Sikapnya sering berubah-ubah dan menjadi manja serta mudah sekali tersinggung akhir-akhir ini. Aku yakin Daffin mengalami hal yang sama seperti saat aku mengandung Shaka dulu, tapi kali ini lebih parah. Terlebih setelah para wartawan terus saja menyebarkan berita yang tidak baik tentangku. Tentu saja hal itu sedikit banyak merubah suasana hati Daffin. Dalam situasi seperti ini, aku berusaha untuk selalu mengalah dan bersikap dewasa agar Daffin tidak merasa semakin buruk.


Menyadari sikap Daffin yang mulai dingin padaku. Segera aku beringsut turun dari tempat tidur untuk menghampiri Daffin. Tanpa banyak kata, aku memeluk tubuh Daffin dari belakang. Tubuh besarnya dan juga perutku yang semakin besar membuat tanganku tak bisa bertemu untuk memeluk erat tubuh Daffin.


"Jika ingin memeluk, peluk dengan benar!" Tangan Daffin menggenggam erat kedua tanganku. "Dan jangan menggodaku terus, Nyonya Stevano!" pintanya.


"Aku tidak menggoda! Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku membutuhkan dirimu, Tuan Stevano," jawabku manja.


Aku menganggukkan kepalaku. "Iya, aku butuh dirimu di sepanjang hidupku."


***


Beberapa bulan kemudian ...


"Mom- my!"


Aku segera menoleh ketika aku mendengar langkah kaki kecil yang berjalan ke arahku. Disana sudah ada malaikat kecilku yang sangat tampan. Tangan kecilnya di gandeng oleh Daffin yang dengan sabar menunggunya berjalan perlahan-lahan.


Putraku yang pintar dan tampan, dia baru saja bisa berjalan dengan benar. Namun, di usianya yang baru menginjak satu setengah tahun, Shaka harus berbagi kasih sayangku dan Daffin dengan adiknya.


Ya, aku baru saja melahirkan putra keduaku. Seharusnya aku melahirkan dua bulan lagi, tapi aku terlalu kelelahan hingga terpaksa harus melahirkan prematur. Namun, aku bersyukur karena putraku lahir dengan sehat dan selamat walaupun tubuhnya sangat mungil.


"Shaka, Anak Mommy! Kemari, Sayang!" Aku merentangkan tanganku ketika Shaka sudah semakin mendekatiku.

__ADS_1


Ketika tangan Shaka hampir meraih tanganku, tiba-tiba Daffin mengangkat tubuh Shaka dan menggendongnya.


"Tidak, Shaka! Mommy masih sakit. Kita tidak boleh mengganggunya." Daffin berbicara seolah putranya itu sudah bisa memahami apa yang dia katakan.


Hari ini, dokter mengizinkan aku untuk kembali ke rumah, tapi tidak dengan putraku. Dia masih harus tinggal di inkubator. Dan jujur saja, keadaan ini membuatku sangat sedih karena harus berpisah dengan anakku. Sekarang aku sadar, pasti tidak mudah bagi ibu untuk berpisah denganku untuk waktu yang sangat lama saat itu. Aku saja tidak bisa berpisah dengan kedua putraku walaupun hanya beberapa hari, tapi ibu harus berpisah denganku selama dua puluh tahun lebih. Ya Tuhan, maafkan aku, Ibu!


Jika Daffin dan Shaka tidak ada, aku yakin air mata ini pasti sudah jatuh. Aku bahkan hampir melupakan mereka jika aku tidak mendengar ocehan Shaka.


"Daffin, tidak masalah. Aku ingin memeluk putraku." Aku merengek agar Daffin memberikan Shaka padaku.


Bukannya memberikan Shaka, Daffin lebih memilih untuk duduk di sampingku dan meletakkan Shaka di atas pangkuannya.


"Sekarang, kau bisa memeluk putramu." Senyuman Daffin mengembang, menandakan jika dia selalu bisa mengakali pikiranku.


Bibirku mengerucut sebagai protes atas sikap Daffin. "Aku hanya ingin memeluk putraku. Tidak dengan daddynya!"


"But Shaka's Daddy want to hug you." Tanpa menunggu persetujuan dariku, Daffin sudah memelukku dengan Shaka berada di antara kami.


Inilah kebahagiaan yang lebih lengkap dalam hidupku. Aku memiliki suami yang sabar dan pengertian, anak yang tampan, dan satu anak lagi yang pastinya tak kalah tampan dari kakak dan juga daddynya.


"Aku mencintaimu, Nyonya Stevano." ungkap Daffin.


"Aku tahu!"


"Tapi kali ini rasa cintaku padamu berbeda," bantah Daffin.


Aku segera melepaskan pelukan Daffin. "Maksudmu?"


"Cintaku padamu tidak seperti dulu lagi, tapi cintaku padamu kali ini semakin besar dan lebih besar hingga hatiku tak sanggup untuk menampungnya lagi." Daffin kembali menarikku dalam pelukannya. "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan membuatku merasakan menjadi pria paling bahagia di dunia ini. Dan terima kasih telah memberikan Shaka dan juga Maichel untukku."


Dahiku mengernyit. "Maichel?"


"Dia putra kedua kita, Maichel Gilbert Kafeel."


TO BE CONTINUE ☺☺


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2