Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
OTAK TERBALIK


__ADS_3

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Daffin, tangannya sibuk menyuapiku dengan bubur tanpa rasa yang di siapkan oleh rumah sakit.


Sejak aku tersadar dari tidur panjangku, Daffin tidak pernah pergi dari sisiku. Aku pikir mungkin kepalanya baru saja terbentur sesuatu karena sikapnya yang tiba-tiba saja berubah.


Pertama dia memelukku, kemudian mencium keningku. Setelah itu, dia mulai bertingkah seolah aku ini adalah anaknya. Dia menyuapiku, mengelap tubuhku, dan juga membelai rambutku setiap malam agar aku cepat tidur. Ya Tuhan, mungkinkah Daffin kehilangan akalnya karena dia baru saja kehilangan harapannya untuk menjadi seorang ayah? Tapi bukankah seharusnya akalku yang hilang?


"Katakan sesuatu! Kau hanya diam saja sejak kau sadarkan diri."


Bola mataku langsung terfokus pada sosok Daffin yang kini sedang menatapku dengan penuh harap. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku merasa ada yang berubah sejak kejadian menyedihkan hari itu. Daffin yang kini ada di hadapanku seolah telah berubah menjadi orang lain. Dia melunak di hadapanku. Mungkinkah dia sedang memainkan permainan barunya padaku?


"Aku malas melihatmu."


"Kau bicara!!!" Daffin begitu bahagianya mendengar suaraku hingga dia melonjak Kegirangan.


"Kau pikir aku bisu?"


"Tidak... tidak... aku hanya takut tidak akan bisa mendengar suaramu lagi."


Tiba-tiba tangan Daffin sudah menggenggam tanganku, matanya memancarkan kebahagiaan yang begitu besar.


"Bukankah kau senang jika aku tidak bisa bicara lagi? Dengan begitu kau tidak perlu mendengarku mengeluh dan -"


Daffin menyergap bibirku dan membuatku kembali menelan kata-kata yang ingin aku lontarkan padanya tadi.


Rasa manis bibirnya dan juga kehangatan lidah Daffin membuatku terbuai dan hampir melupakan tujuanku kembali hidup.


'Nikmati ini, Daffin! Karena setelah ini aku akan menghancurkan egomu hingga tak bersisa.'


***


Beberapa hari berada di rumah sakit membuatku gila dan juga frustasi menghadapi sikap Daffin. Aku sibuk menerka apa yang ada di dalam kepala pria tiran itu. Belum lagi aku juga harus memikirkan cara untuk membuatnya merasakan semua yang telah aku rasakan.


"Kau akan kembali ke rumahku." ucap Daffin, setelah kami memasuki mobil.

__ADS_1


Kondisiku yang membaik membuat tim dokter memutuskan untuk mengizinkan aku pulang ke rumah. Hal itu langsung di sambut baik oleh Daffin, tapi aku tidak tahu jika dia akan membawaku kembali ke sangkar emas miliknya.


"TIDAK!!!"


"Hati-hati dengan lukamu!" Daffin langsung menyentuh perutku yang sedikit berdenyut. "Aku tidak tuli, Ayasya, kau bisa bicara secara perlahan dan tidak perlu berteriak!" ucapnya lagi.


Ya Tuhan, apa lagi ini? Sekarang dia bahkan bisa menyebut namaku dengan lancar. Daffin tidak ragu lagi untuk menyebut namaku. Apa mimpiku itu benar? Bahwa Daffin mencintaiku? Ah, tidak mungkin! Ini pasti hanya penebusan dosa yang dia lakukan padaku. Dia hanya sedang membujukku dengan tipu dayanya.


Aku menarik nafas untuk mengurangi nyeri di perutku. "Ah iya, aku lupa jika Plankton memiliki antena di atas kepalanya, tapi aku tidak tahu jika kau memiliki telinga?"


"Hahaha ...."


Gelak tawa Daffin membuat bulu kudukku terkejut hingga berdiri. Suara tawanya seperti kuntilanak pria yang kelaparan. "Kenapa kau tertawa?"


"Tidak bolehkah aku menertawakan kelucuan bintang lautku?" Daffin berkata sambil mencubit hidungku dan meninggalkan warna kemerahan di sana.


"Tertawalah, tapi jangan lupa untuk membayarnya karena tidak ada yang percuma di dunia ini."


"Kau benar." Seketika raut wajah Daffin berubah karena ucapanku. "Aku harus membayar semua yang telah aku lakukan." lanjutnya.


***


"Koper siapa itu, Shaka? Bukankah Rania sudah membawa semua pakaianku?"


Aku melirik Rania yang langsung menganggukkan kepala untuk menyetujui ucapanku.


"Ini koper milik tuan, Nyonya muda," jawab Shaka datar tanpa ekspresi apapun di wajahnya.


Mataku langsung terbelalak mendengar jawaban Shaka. "APA!!!"


"Sudah ku katakan, jangan berteriak! Kami semua tidak tuli, kecuali jika memang telingamu tuli dan kau tidak bisa mendengar suaramu sendiri."


Aku memutar tubuhku dan melihat Daffin sedang berpura-pura mengorek telinganya. Satu lagi sikap aneh yang di tunjukkan Daffin. Aku harus berhati-hati dengan tingkah langkanya ini. Jangan-jangan dia sedang melakukan rencana licik untuk mengambil keuntungan dariku lagi.

__ADS_1


"Hentikan! Jangan menatapku seperti itu!" ketus Daffin, dan saat mengatakan hal itu wajahnya sudah kembali seperti semula. Wajah dingin dan menyebalkan seorang Daffin Stevano.


"Kau selalu mengatakan jangan ini! Jangan itu! Kenapa tidak kau tuliskan saja semua peraturanmu di sini?" Aku menunjuk sebuah dinding yang memang sengaja di kosongkan oleh kak Erlan sebagai tempat memasang gambar-gambar kebersamaan kami.


"Ide yang bagus. Shaka -"


"Hei, Plankton!!! Kau pikir ini rumahmu? Seenaknya saja kau melakukan apa yang kau inginkan."


Daffin mendekatkan wajahnya dengan wajahku. "Aku hanya melakukan apa yang di minta oleh nyonya Stevano. Dimana letak kesalahanku?"


"Di otak kecilmu itu!" Dorongan pelan mendarat di dada bidang Daffin, tapi tak sampai membuatnya bergerak sedikitpun.


Dalam sekejap, tanganku sudah berada dalam genggaman tangan besar Daffin. Dia terus menatapku meskipun aku berusaha berontak untuk melepaskan diri darinya.


"Kenapa kau suka sekali menyakiti dirimu sendiri?" lirih Daffin, matanya menyiratkan kekecewaan dan juga rasa sakit yang begitu dalam.


Aku tak bisa memastikannya, jadi aku hanya bereaksi spontan. "Hah?"


"Sikapmu ini." Daffin menghela nafas. "Tidakkah tingkahmu yang berlebihan seperti ini akan membuat lukamu semakin terasa menyakitkan?" tanyanya kemudian.


Apa yang di ucapkan Daffin memancing kembali kenangan buruk yang sudah dia tinggalkan dalam ingatanku, dan hal itu seketika menarik sudut bibirku untuk tersenyum sinis padanya.


"Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada tipuan yang telah kau dan istrimu itu lakukan padaku."


***


Sepanjang malam aku terus terjaga karena ulah Daffin. Sepertinya besok pagi aku harus membawanya ke psikiater untuk memeriksa otaknya. Aku takut volume otaknya berkurang hingga membuatnya berpikiran terbalik.


Aku benar-benar di buat bingung oleh tingkah Daffin, sebelumnya aku berpikir akan membalaskan rasa sakitku kepadanya dan juga Reena. Tapi jika dia bersikap seperti ini, pembalasan dendamku tidak akan terasa menyenangkan. Lagi pula, aku juga jadi tidak bisa menemukan celah untuk membalaskan dendamku. Mungkin aku harus merubah caraku. Semoga saja Tuhan mau membantuku dan memberikan balasan yang setimpal untuk Daffin dan juga Reena atas apa yang telah mereka lakukan padaku.


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2