Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
TIPUAN MANIS


__ADS_3

"Apa ... anda ragu, Nyonya muda?" tanya Rania, pandangannya masih fokus ke jalan.


Dalam perjalanan pulang setelah menemui Ersya sebelumnya, pikiranku seolah melayang. Jawaban Ersya membuatku malu sekaligus menyadari kebodohanku selama ini. Daffin memang benar. Aku wanita bodoh yang mudah untuk di bodohi.


Flashback on...


"Maukah kau menggantikan kak Erlan?"


Ersya memfokuskan manik matanya padaku. Aku bisa melihat keraguan dan juga keterkejutan Ersya dari matanya.


Cukup lama kami saling menatap hingga akhirnya Ersya berkata, "apa kau sungguh-sungguh dengan apa yang baru saja kau katakan?"


Helaan nafas membimbing bibirku untuk berucap dan melanjutkan apa yang telah aku rencanakan sebelumnya. Meski aku baru saja mengenal Ersya, tapi aku merasa dia pria yang baik dan hanya dia lah yang bisa membantuku untuk saat ini.


"Aku tahu kau pasti akan terkejut, tapi aku yakin dengan apa yang aku katakan!"


Ersya memicingkan matanya. "Katakan yang sebenarnya!"


Inilah, ini semua pasti karena dia seorang polisi. Sulit sekali menyembunyikan kenyataan darinya.


"Aku ingin membalas Daffin atas apa yang telah dia dan istrinya lakukan padaku," lirih suaraku terdengar. "Mereka harus menderita dan merasakan sakit yang lebih daripada yang aku rasakan."


"Bisakah aku tahu apa yang sebenarnya telah mereka lakukan padamu?" tanya Ersya, tangannya menggenggam tanganku.


Meski berat, akhirnya aku pun mencoba menceritakan semuanya pada Ersya. Mulai dari kepergian kak Erlan hingga kepergian kedua bayi kembarku. Raut wajah Ersya berubah-ubah selama aku menceritakan kepedihan yang aku alami selama ini.


"Aku sudah menduganya," ucap Ersya sembari merangkul bahuku untuk mendekat padanya.


Aku tak kuasa menahan bendungan air mataku. Tangisku begitu memilukan hingga membuat tubuhku bergetar karena emosi yang selama ini aku tekan akhirnya bisa aku keluarkan.


Untuk beberapa saat, aku melupakan kehadiran Rania yang sedang berdiri di sampingku tanpa bicara sedikitpun.


"Maafkan aku!" Aku menghapus air mataku dan meminta sapu tangan kepada Rania untuk mengeringkan mataku yang basah.


"Tidak perlu meminta maaf," sanggah Ersya. "Itulah yang seharusnya kau lakukan sejak awal."


"Iya, kau benar."


Ersya menatapku sesaat sebelum dia menanyakan hal yang membuatku merasa bodoh. "Apakah kau sudah memastikan pernikahanmu ke catatan sipil? Mungkin kau akan menemukan jawabannya di sana, jika kau benar-benar yakin tidak pernah melakukan pernikahan apapun selain dengan mending suaminya."


"Bisakah seperti itu?" Dahiku berkerut untuk memahami ucapan Ersya.

__ADS_1


"Tentu bisa! Kau cukup menunjukkan buku nikahmu kepada petugas dan mereka akan memastikan kebenaran tentang pernikahan itu." tegas Ersya, sorot matanya memberikan sedikit harapan padaku.


"Buku nikah?" Aku bergumam, tapi dapat di dengar oleh Ersya yang langsung di jawab anggukkan kepala olehnya.


Sial! Aku bahkan tidak tahu dimana buku nikah palsu itu. Ketika Daffin melemparkannya padaku di rumah sakit, aku langsung melemparkan buku itu karena aku begitu marah dan juga terkejut dengan semua yang terjadi.


"Buku itu ada apa Daffin,"


"Apa? Kau tidak menyimpannya?" tanya Ersya lagi, kali ini matanya menyorotkan kemarahan padaku.


"Tidak, Kak! Aku begitu marah hari itu." sanggahku, tak terima mendapat pandangan seperti itu dari Ersya.


"Kalau begitu, dapatkan buku itu! Kita harus memastikan kebenaran pernikahan kalian dulu, baru kau bisa membalas perbuatan mereka." tutur Ersya dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Aku tidak bisa menggantikan Erlan, baik itu di hatimu ataupun hanya sekedar di hidupmu."


Flashback off...


"Aku tidak ragu, Rania! Aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara aku mendapatkan buku kecil itu dari tangan Daffin." sungutku kesal.


Penolakan Ersya membuatku frustasi dan kehilangan akal. Cara terbaik untuk melepaskan diri dari Daffin hanyalah dengan membuat Ersya tetap berada di sisiku.


***


Sesampainya di rumah, aku berniat membujuk Daffin dengan cara lain. Semoga saja dia tidak curiga dan akan memberikan buku nikah palsu itu padaku.


"Rania, tolong pesan makanan dari restoran bintang lima yang tak jauh dari sini!" Aku mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam yang pernah di berikan Daffin sebelumnya.


Inilah kali pertama aku menggunakan kartu itu. Aku tidak sudi mengeluarkan uang sepeserpun untuk Daffin. Jadi, biarlah dia yang mengeluarkan uang untuk dirinya sendiri.


Tangan Rania terulur untuk menerima kartu itu, tapi matanya tak berkedip sekalipun. "Kartu ini?"


"Kenapa? Apakah kartu itu tidak bisa di gunakan? Ah, Daffin sialan! Harusnya aku tidak percaya padanya." umpatku kesal, karena merasa telah di tipu berkali-kali oleh Daffin.


"Tidak, Nyonya muda, bukan begitu!" Rania menahan tanganku yang akan menarik kembali kartu itu dari tangannya. "Hanya saja ...."


Aku menaikkan sebelah alisku. "Hanya saja?"


"Tidak ada, Nyonya muda," elak Rania. Namun, aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.


"Katakan, Rania! Apakah kartu itu tidak berguna? Plankton itu mengatakan aku bisa membeli apapun yang aku inginkan."


"Benar, Nyonya muda, tapi tuan akan -"

__ADS_1


Aku langsung menyela ucapan Rania. "Dia tidak akan marah."


"Baiklah, Nyonya muda, sesuai keinginan anda."


***


Dalam sekejap, hidangan mewah yang aku pesan sudah tersaji di atas meja makan. Kelezatannya menggugah seleraku dan hampir saja membuatku meneteskan air liur.


"Dimana, Daffin? Bukankah dia akan pulang ke rumah ini?" Aku bertanya pada Rania yang sedang menata meja makan, sementara aku hanya memperhatikannya sedari tadi.


"Tuan sedang dalam perjalanan, Nyonya muda," jawab Rania dengan seulas senyum tipis.


"Bagus!"


Setidaknya, tidak sia-sia aku menghabiskan waktu untuk mempercantik diriku. Malam ini, aku akan menjalankan peranku sebagai istri kedua Daffin. Aku akan membuatnya menghabiskan malam denganku dan melupakan Reena. Jahat memang, tapi itulah tujuanku. Menjauhkan mereka dan membuat mereka mengerti apa arti kehilangan.


"Nyonya muda?" Panggilan Rania menyadarkan aku dari lamunan jahatku.


"Hah? Iya, Rania?" Aku berlagak seolah tidak sedang memikirkan sesuatu.


"Semuanya sudah siap," ucap Rania sembari menunjuk meja makan yang sudah siap mendukung aksiku. "Kenapa anda tidak memasaknya sendiri saja, Nyonya muda? Saya yakin, tuan akan lebih menyukainya."


Aku terkekeh mendengar pertanyaan Rania. "Aku tidak pandai memasak, Rania. Lagi lupa, aku tidak ingin mengotori tanganku yang indah ini hanya untuk menyenangkan hati pria tirani seperti Daffin."


Jawabanku seketika membuat raut wajah Rania berubah. Meskipun dia mengatakan akan setia padaku, tapi aku tahu dalam hatinya Rania masih merasa berhutang budi pada Daffin.


"Rania -"


Aku baru saja akan mengatakan sesuatu pada Rania, tapi tak bisa karena Daffin sudah memasuki rumah.


Nafasku memburu. Ini pertama kalinya aku akan memperlakukan musuhku dengan sangat berbeda. Meski sulit, aku akan tetap melakukannya. Aku mengatur nafasku dan mencoba memasang senyum termanis yang aku miliki.


"Ayasya?" Daffin mengernyit ketika berhadapan denganku yang sedang menunggunya di meja makan.


"Selamat datang, Suamiku."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih masih setia menanti 😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2