Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SUAMI SEMPURNA


__ADS_3

Cinta selalu datang di saat yang tepat, kepada orang yang tepat, dengan cara yang tepat pula. Walaupun terkadang hati sering keliru, tapi cinta pasti akan berlabuh kepada tempat yang telah di tentukan dan tak akan pernah salah.


Bayangan wajah Shaka dan tatapan matanya yang sendu membuatku menyadari bahwa dia benar-benar memiliki perasaan padaku. Namun, aku juga tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya manusia biasa, tidak bisa mengendalikan hati seseorang.


"Kau masih memikirkan Shaka?" tanya Daffin, suaranya menyedotku untuk kembali ke alam nyata dimana kini Daffin sedang memakai dasinya.


"Aku? Ah, tidak! Aku hanya sedang berpikir apa yang akan aku lakukan hari ini." Deretan gigiku berbaris rapih untuk menyamarkan kegelisahanku.


Daffin mematut dirinya di depan cermin. "Lakukan apapun, selama kau tidak keluar rumah."


Aku mendengus kesal. "Apa yang menyenangkan di dalam rumah ini?"


"Kau bisa belajar memasak dengan Maya. Masakannya selalu membuatku ingin makan di rumah." saran Daffin, dia menatapku dengan cara yang berbeda.


Bukannya aku tidak ingin, tapi selama ini aku tidak pernah memasak karena kak Erlan selalu mengatakan bahwa memasak adalah pekerjaan yang berat dan aku tidak perlu melakukannya.


"Tapi, Daffin, ada banyak koki di rumah ini. Kenapa aku harus belajar memasak?" tanyaku, di imbuhi senyuman hambar.


Aku mendengar Daffin menghela nafasnya. "Akan lebih menyenangkan memakan makanan hasil dari tangan istriku sendiri." Tangan Daffin meraih tanganku dan menciumnya dengan lembut.


Haruskah aku melakukannya? Apakah aku bisa memasak? Tapi aku akan belajar dengan ibu, pasti mudah melakukannya. Ya! Aku pasti bisa.


"Baiklah! Aku akan belajar memasak, tapi apapun yang aku sajikan padamu, kau harus memakannya." Aku mengacungkan kelingkingku ke arah Daffin.


Wajah Daffin mengulas senyuman, kemudian mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku. "Selama itu tidak beracun, aku janji akan memakannya."


***


Ketika aku menuruni tangga bersama Daffin, kami melihat Shaka dan ibu sudah berada di ruang makan. Mereka sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius.


"Selamat pagi, Maya," sapa Daffin seraya menarik kursi untukku.


"Pagi, Daff," sahut ibu lembut dengan senyuman yang tak lepas di wajahnya.


Tatapan mataku menangkap sesuatu yang aneh dari penampilan ibu. "Bu, kau akan pergi hari ini?"


Ibu mengangguk. "Iya, Sayang, ayahmu mengajak Ibu pergi ke suatu tempat."


"Bukankah kalian sudah pergi kemarin? Dan, ya, kenapa Ibu masih tinggal di sini?" tanyaku santai, tak merasa ada yang salah dengan pertanyaanku.


Tiba-tiba Daffin meraih tanganku hingga aku terpaksa menatapnya. Aku mengikuti bola mata Daffin yang bergerak ke arah ibu. Aku sungguh terkejut melihat wajah ibu yang berubah muram.


Aku berdiri dan menghampiri ibu. "Maaf, Bu, aku tidak bermaksud menyakiti Ibu."


"Tidak, Sayang, kau tidak menyakiti Ibu hanya saja Ibu sedih karena akan berpisah dengan putri Ibu." Ibu menyeka air matanya.


Tanganku melingkar di bahu ibu ketika aku memilih untuk duduk di sampingnya. "Apa maksud, Ibu? Kita tidak akan berpisah, Bu."


"Tapi jika Ibu kembali ke rumah ayahmu, itu artinya kita akan berpisah kembali." lirih ibu, kembali satu bulir air mata lolos dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Tatapan mataku bertemu dengan tatapan Daffin yang ternyata sedang memandangku sejak tadi. Aku mengerutkan dahiku dan menunjuk ke arah ibu melalui ekor mataku, meminta pendapat Daffin mengenai hal ini.


"Kau bisa tetap tinggal disini, Maya, ini juga rumahmu." usul Daffin, dia menggenggam tangan ibu.


Aku tersenyum senang. "Benar, Bu! Tinggallah disini! Aku juga akan meminta ayah untuk tinggal bersama kita. Kalau perlu om Rei juga."


"Bagaimana dengan tuan dan nyonya Kencana? Tuan Chandra mungkin?" tanya Daffin, wajahnya sudah memerah seperti udang rebus.


Menyadari kesalahan, aku pun hanya bisa tersenyum hambar. "Tidak! Ayah dan ibu saja sudah cukup. Apa kau keberatan, Suamiku Sayang?"


Berhasil! Rayuanku seketika membuat raut wajah Daffin berubah. Jika tebakanku benar, hati Daffin saat ini pasti sedang di penuhi bunga karena dia terus tersenyum.


"Tentu tidak! Selama kau bahagia, Nyonya Stevano," sahut Daffin, sikapnya yang manis seperti ini selalu membuatku ingin memeluknya andai saja aku tidak bisa mengendalikan hatiku.


Sarapan pagi itu terasa begitu manis. Masalah tentang perasaan Shaka terhadapku pun sempat terabaikan. Kami hanya berbincang dengan penuh bahagia dan jujur saja aku menyukai suasana seperti ini.


"Bu, boleh aku ikut denganmu?" tanyaku pada ibu yang baru saja menyelesaikan sarapannya.


Ibu melirik Daffin kemudian tersenyum padaku. "Jika Daffin memberi izin, Ibu tidak ada masalah."


Hah! Dia sudah mengatakan pagi ini jika aku tidak di perbolehkan keluar dari rumah ini.


"Maaf, Maya, tapi nyonya Stevano harus beristirahat." Daffin melirik jam di tangannya. "Aku harus berangkat sekarang." ucapnya.


Aku mengerucutkan bibirku ketika Daffin mendaratkan bibirnya di keningku. Aku bahkan tidak menghiraukan saran ibu agar aku mengantar Daffin sampai ke mobilnya.


"Jika kau membuat Daffin bahagia, Ibu yakin apapun yang kau inginkan akan dia berikan." Ibu tersenyum penuh arti.


"Daffin!" teriakku, tepat ketika Shaka akan menutup pintu mobil.


Shaka menoleh dan membungkuk hormat. "Iya, Nyonya,"


"Hei, kau tuli! Nyonya Stevano memanggilku, bukan memanggilmu!" sinis Daffin seraya keluar dari mobil dan menghampiriku.


Sudut mataku sempat melirik raut wajah Shaka yang sulit di tebak. Aku tidak memahami bagaimana cara berpikir Shaka, tapi sepertinya dia sudah benar-benar melupakan apa yang terjadi kemarin.


"Ada apa, Nyonya Stevano?" tanya Daffin ketika dia sudah berhadapan denganku.


Tanpa menjawab Daffin, aku langsung mendaratkan bibirku di atas bibir Daffin meskipun aku harus berjinjit dan bersusah payah untuk mencapai bibirnya.


Kecupan sekilas itu mengundang rona merah di wajah Daffin. Dia tersenyum dan menyentuh bibirnya. Matanya tidak berkedip sekalipun ketika menatapku hingga aku di kejutkan dengan sikap Daffin yang tiba-tiba sedikit menunduk dan membuat wajah kami saling berhadapan.


"Lakukan lagi!" pintanya manja.


Astaga!!! Kali ini wajahku yang memerah. Sejak kapan Daffin jadi bersikap seimut ini? Aku jadi ingin benar-benar menciumnya dan memeluknya agar dia terus menemaniku. Ah, ada apa dengan otakku ini?


CUP ...


Satu kecupan sekilas aku lakukan lagi, tapi Daffin tidak serta merta merasa puas. Dia tetap pada posisinya dan menggodaku dengan kerlingan matanya.

__ADS_1


"Sudah!" sungutku dengan bibir mengerucut.


Daffin tersenyum usil. "Siapa yang lebih dulu menggodaku? Kau membuat suamimu yang sempurna ini jadi malas untuk meninggalkan rumah."


"Aku- Aku hanya memberikan morning kiss!" elakku, setengah berteriak.


"Good idea! Kalau begitu, kau harus melakukannya setiap hari, Nyonya Stevano, karena kau telah membuat peraturannya dan aku akan mematuhinya." tukas Daffin, wajahnya terlihat begitu bahagia.


Hah! Aku terjebak lagi! Aku memang tidak pernah bisa melawan permainan Daffin. Dia yang terlicik.


"Kita lihat nanti! Pergilah bekerja, atau kau akan terlambat." Tanganku mendorong dada bidang Daffin.


Dengan lembut Daffin menangkap tanganku dan menciumnya. "Apa yang kau inginkan, Nyonya Stevano?"


Aku tersentak dengan ucapan Daffin. Dia tahu aku memiliki maksud terselubung, tapi aku tetap mencoba untuk mengelak.


"Apa?" Aku terkekeh. "Tidak ada yang aku inginkan, Daffin," bantahku.


"Baiklah, pergilah bersama Maya, tapi ingat! Pastikan kau dan putra kita baik-baik saja. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang berani meninggalkan jejak di tubuhku walaupun itu hanya seekor nyamuk!" ucapnya dengan wajah menggemaskan.


Dia benar-benar posesif, tapi setidaknya dia membiarkan aku pergi. Dan itu membuatku terbebas dari tuntutan belajar memasak. Yeah!!! Hatiku ingin bersorak gembira!!!


"Terima kasih, Suamiku Sayang yang begitu tampan dan seksi," selorohku dengan tatapan yang aku buat senakal mungkin.


"Jangan menggodaku terus, Nyonya Stevano, atau aku tidak akan jadi pergi ke kantor!" hardik Daffin, jaraknya denganku semakin berkurang.


Aku melangkah mundur kemudian melambaikan tanganku pada Shaka. "Ah, Shaka! Bukankah Daffin sangat sibuk hari ini?"


Shaka terlihat sangat terkejut, tapi dia segera menguasai dirinya. "Benar, Nyonya,"


"Jangan bicara padanya!" bentak Daffin pada Shaka yang seketika menurunkan pandangannya.


"Daffin ...,"


"Kau tahu dia memiliki perasaan padamu. Tolong jangan membuatnya merasa memiliki kesempatan!" tegas Daffin, kemudian melangkah pergi.


Aku salah! Daffin benar! Aku langsung meraih tangan Daffin hingga dia menoleh padaku.


"Maaf, Daffin!" lirihku, seraya menahan tangan Daffin dengan kedua tanganku.


Daffin mengulas senyum tipis dan kembali mendekatiku kemudian mencium keningku tanpa mengucapkan apapun.


Punggung Daffin yang menjauhiku membuat air mataku menetes begitu saja tanpa permisi. Aku baru saja mengerti, mengerti betapa berharganya Daffin di hatiku.


"Cepatlah kembali, Suamiku ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2