Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
GUCI KERAMAT


__ADS_3

Misi pencurian yang di cetuskan oleh Rania pun akhirnya aku jalankan demi mendapatkan buku nikah palsu yang akan membuktikan kebenaran tentang pernikahanku dengan Daffin.


Secara diam-diam, aku dan Rania masuk ke dalam rumah besar Stevano yang pernah aku tinggalkan.


Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang seharusnya di lakukan oleh seseorang yang hendak mencuri karena aku tetap melenggang seperti biasa tanpa takut akan ada yang melihat kedatanganku.


"Kenapa tidak ada yang yang curiga dengan kedatanganku, Rania?" tanyaku pada Rania yang berjalan di sampingku.


Rania menoleh dan tersenyum. "Anda juga pemilik rumah ini, Nyonya muda, siapa yang berani mempertanyakan kedatangan anda?"


Benar juga apa yang di katakan Rania. Aku istrinya Daffin, tentu saja aku juga berhak atas rumah ini selain Reena.


"Kau benar," lontarku di barengi kerlingan mata yang menarik kembali senyum di wajah Rania.


Sepanjang aku memasuki rumah ini, semua pelayan terlihat biasa saja dan tidak sedikitpun menaruh curiga terhadapku. Mereka bahkan membungkuk hormat dan seolah memang sudah menanti kedatanganku.


Aku terus melangkah mengikuti langkah Rania hingga kami sampai di depan sebuah ruangan.


"Bukankah ini ruang baca milik Daffin?" tanyaku sembari menarik lengan Rania agar menatapku.


Seingatku dulu saat aku di tinggal disini, Daffin pernah menyeretku ke ruangan itu ketika aku berniat untuk mogok makan.


"Benar, Nyonya muda," jawab Rania, tangannya menekan tombol angka yang menempel di pintu.


Aku memperhatikan apa yang di lakukan oleh Rania. "1,3,0,6 ...."


Tunggu dulu! Aku seperti tidak asing dengan angka-angka yang di tekan Rania. Ketika aku berniat untuk memastikan tebakanku, tiba-tiba pintu terbuka dan Rania langsung menarik tanganku.


"Ayo masuk, Nyonya muda!" ajaknya dengan mata penuh antusias.


Sepanjang hidupku, belum pernah aku melihat orang sebahagia ini ketika akan mencuri. Aku bahkan tidak melihat sedikitpun rasa takut di mata Rania. Mungkinkah Rania itu seorang pencuri profesional yang di adopsi oleh Daffin? Bisa saja kisah hidupnya hampir sama dengan si kanebo Shaka.


Meskipun aku masih sedikit ragu, tapi aku tetap melangkah memasuki ruangan besar itu. Jajaran buku yang dulu pernah ku lihat, masih tertata rapih di tempatnya.


Aku juga melihat tirai yang pernah disibakkan oleh Daffin, dimana tirai itu menjadi pembatas antara tatapanku dengan rumah tersayangku kala itu.


"Rania, bisakah kau membuka tirai itu?" pintaku pada Rania yang akan menyalakan lampu.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya muda, tapi jika tirainya terbuka orang lain akan tahu jika anda ada disini tanpa sepengetahuan tuan." sergah Rania, yang langsung membuat nyaliku menciut.


"Kau benar. Kalau begitu, kenapa kau membawaku kesini?" Begitu banyak pertanyaan yang telah aku siapkan untuk Rania.


"Tuan menyimpan semua benda berharganya di ruangan ini, Nyonya muda, besar kemungkinan buku nikah anda juga di simpan disini." jelas Rania, tatapan matanya sangat meyakinkan.


Ingin sekali aku tertawa mendengar ucapan Rania, tapi aku tidak tega menghancurkan semangatnya untuk membantuku.


"Tapi buku nikahku tidak seberharga itu, Rania," selorohku sembari terus mengamati setiap sudut ruangan.


"Mungkin saja, Nyo -" ucapan Rania menggantung ketika aku mengangkat tanganku ke udara.


Bukan tanpa alasan aku meminta Rania berhenti bicara. Itu semua karena aku baru saja melihat sesuatu yang aku cari selama ini.


"Rania, kemarilah!" Aku melambaikan tanganku pada Rania ketika aku sudah mendekati benda itu.


Derap langkah Rania terdengar jelas di keheningan ruang baca Daffin ini. "Iya, Nyonya muda,"


Aku melirik Rania dan melihat gadis itu sama terkejutnya dengan aku. "Nyonya muda, ini?"


Aku ingat betul guci keramat itu karena aku tidak tidur semalaman hanya untuk menyatukannya kembali setelah aku memecahkannya, tapi guci itu menghilang entah kemana ketika aku berniat untuk memberikannya pada Daffin sebagai permintaan maafku.


"Ternyata, si Plankton menyebalkan itu yang telah mencuri gucinya!" gumamku kesal.


Ya, sebenarnya aku juga bersyukur karena guci itu tidak benar-benar hilang dan berada di tangan pemiliknya. Namun, seharusnya Daffin mengatakan hal itu padaku daripada membuatku terus merasa bersalah karena telah menghilangkan benda peninggalan ibunya.


"Nyonya muda?" Tepukan lembut Rania di bahuku langsung memutus kontak mataku dengan guci yang kini tersimpan rapih di sebuah kotak kaca.


"Ah, iya, Rania." jawabku seperti orang limbung.


"Apakah anda tidak ingin mencari buku nikah anda?" tanya Rania ragu.


"Tentu saja aku ingin! Ayo, kita teruskan misi ini!" sergahku, kemudian mengamati barisan buku yang terjajar rapih di sebuah rak yang sangat tinggi menggantikan dinding.


Aku melihat Rania yang juga ikut mencari keberadaan buku nikah itu. Tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di kepalaku ketika aku melihat rak itu dan berganti menatap Rania.


"Rania, apakah ada ruangan di balik rak ini?" tanyaku dengan tatapan yang tak lepas dari rak tinggi menjulang tersebut.

__ADS_1


"Apa maksud anda, Nyonya muda?" Kernyitan di dahi Rania sebenarnya sudah menjawab pertanyaanku.


"Tidak ada, aku hanya sedang ber-i-ma-ji-na-si." selorohku dengan gerakan membentuk sebuah lengkungan di atas kepalaku.


Rania menatapku seolah aku ini adalah makhluk asing yang baru saja terjatuh di bumi.


"Sudahlah, cepat bantu aku temukan buku nikah itu!" tegasku karena mulai jengah melihat tatapan Rania.


Aku kembali memperhatikan barisan buku yang ada di hadapanku. Terlalu banyak buku membuatku pusing karena membaca satu persatu judul yang tertera di setiap sampul buku itu.


Ketika aku mulai menyerah dan akan meninggalkan barisan buku membosankan itu, aku melihat sebuah buku bersampul putih dan bertuliskan "LILY" dengan gambar bunga lily putih di atasnya.


Rasa ingin tahu membuatku berusaha mengambil buku itu meskipun buku itu berada di barisan rak di atas kepalaku. Kakiku sampai berjinjit untuk meraihnya, tapi aku tetap tidak bisa menjangkau buku itu.


Tiba-tiba sebuah tangan besar terlulur dan meraih tanganku yang berusaha menggapai buku itu. Aku menoleh untuk melihat siapa yang telah menggangguku.


"Daffin?" Tatapan mataku langsung bertemu dengan mata biru Daffin yang sedang menatapku.


Astaga!!! Kenapa dia harus kembali sekarang? Salah! Kenapa aku baru terpikirkan untuk mencuri buku nikah itu ketika sudah waktunya Daffin untuk kembali?


Daffin menatapku dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan. Tangannya masih memegangi tanganku yang menggantung di atas kepalaku.


"Kenapa kau disini?" tanya Daffin, suara beratnya begitu aku rindukan.


'Tidak, Ayasya! Fokuslah pada tujuanmu.'


"Aku ... aku ...," Mataku nyalang mencari sosok Rania yang kini hilang entah kemana. "Aku merindukanmu, Suamiku."


Terkutuk kau lidah sialan! Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang terlintas di otakku.


Akhirnya, sesuatu yang membuat darahku mendesir menjadi jawaban yang di berikan Daffin atas kebohonganku.


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2