Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SEMUANYA MILIKKU


__ADS_3

Panasnya api gelora cinta dan hasrat yang membara memang selalu membakar dua insan yang tengah di mabuk kepayang.


Gairah cinta yang di kobarkan Daffin membawaku terbang ke atas awan hingga rasanya aku tak ingin kembali jika bukan karena suara ketukan pintu. Tunggu dulu! Ketukan pintu?


Aku membuka mataku dan melihat Daffin berada di bawah tubuhku. Wajah nakalnya mengundang semburat merah di wajahku.


"Kenapa berhenti?" tanya Daffin, di warnai tatapan menggoda khas miliknya.


Mataku terbelalak ketika menyadari dimana tanganku berada. Dengan cepat aku beringsut turun dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku.


Tanganku gemetar karena gugup. Terlebih ketika Daffin terus menatapku tanpa berkedip. "Aku- Aku ...."


"Iya? Kau ingin apa?" goda Daffin, dia sudah mendekatkan wajahnya dengan wajahku.


Astaga!!! Ada apa dengan lidahku? Kenapa rasanya aku sulit sekali untuk bicara? Situasi seperti ini selalu menguntungkan bagi Daffin karena aku tidak bisa melawannya.


"Kau ingin melakukannya lagi?" Tangan Daffin memainkan anak rambutku. "Kau tahu, aku suka saat kau seperti itu. Seperti bukan dirimu." bisiknya.


Memangnya apa yang aku lakukan? Hah! Seseorang, tolong beritahu aku apa yang baru saja aku lakukan!


Ketika pikiranku sibuk dengan apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kembali.


"Tuan? Anda sudah bangun?" Suara seseorang dari balik pintu, yang sepertinya Shaka.


Sorot mata Daffin seketika berubah ketika menyadari ada yang aneh dari nada bicara Shaka.


Segera Daffin beringsut turun dan memakai pakaiannya, tapi sebelum membuka pintu Daffin kembali menghampiriku yang masih diam terpaku.


Aku benar-benar di buat terkejut ketika Daffin mengangkat tubuhku hingga membuat selimut yang melilit tubuhku pun terjatuh.


"Daffin, apa yang kau -" pekikku tak sampai selesai karena Daffin sudah membungkam mulutku dengan bibir nakalnya.


"Aku tidak ingin Shaka melihatmu. Cepat mandi! Atau aku yang akan memandikanmu." titah Daffin, begitu dia menurunkan aku di bathup.


Aku tersenyum getir. "Kau memang pria tua posesif!"


***


Tidak tahu sudah berapa lama aku berada di dalam kamar mandi, tapi ketika aku keluar dari walk in closet tidak ada siapapun di dalam kamar. Itu artinya Shaka tidak masuk ke dalam kamar, melainkan Daffin yang keluar.


Baru saja aku akan menjatuhkan bokongku di atas sofa, sebuah suara yang sudah lama tidak ku dengar membuat kebisingan di luar sana.


Aku menyelipkan rambutku ke telinga, berpikir mungkin dengan melakukan hal itu bisa membuat pendengaranku lebih jernih. Walaupun sebenarnya tidak ada bedanya sama sekali! Hahaha ... Lupakan!


"Daff! Keluar! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!"


Kira-kira itulah yang di teriakan oleh ... oleh siapa? Ah, benar! Gurita betina itu. Ya Tuhan, aku tidak tahu setebal apa wajah wanita itu karena dia masih berani berkeliaran meskipun ayah telah memberinya pelajaran.


Langkah kakiku bergerak secepat mungkin untuk menuruni anak tangga. Aku bahkan tidak memperhatikan kehamilanku jika saja Rania tidak menghalangiku tepat di anak tangga terakhir.


"Nyonya ...," lirih Rania, kedua tangannya membentang untuk menghalangi jalanku.


Bibirku menarik senyuman. "Kali ini, kau berpihak kepada siapa?"

__ADS_1


"Maaf, Nyonya, saya hanya menjalankan -"


Dengan cepat aku menyela ucapan Rania. "Perintah Daffin?"


Rania mengangguk lemah. "Maaf, Nyonya, ini untuk kebaikan anda."


"Kebaikan apa, Rania? Tidak ada yang baik jika semua hal selalu di sembunyikan." sergahku, mencoba menurunkan tangan Rania.


"Nyonya, tolong! Tidak aman jika anda keluar." bujuk Rania, wajahnya terlihat begitu cemas.


Sesaat aku menatap Rania sebelum pandanganku berkeliling ke setiap sudut rumah.


"Dimana Daffin? Dan ibu?" tanyaku dengan mata memicing.


"Tuan ada di ruang kerjanya, Nyonya, sedangkan nyonya besar sudah pergi pagi-pagi sekali dengan tuan besar." jelas Rania.


Dahiku mengernyit. "Maksudmu ... ibuku pergi bersama ayahku?"


"Iya, Nyonya," jawab Rania.


Kedua orang tuaku pergi? Kemana? Kenapa tidak memberitahuku? Apakah mereka berniat untuk rujuk kembali? Mungkinkah ibu sudah kembali kerumah Kafeel? Maksudku, ke rumah ayah? Aku akan pikirkan itu nanti, sebaiknya sekarang aku menemui gurita betina sebelum dia memuntahkan tinta beracunnya ke rumahku.


"Kau mau kemana?"


Sebuah suara menghentikan langkahku, tepat ketika aku akan membuka pintu. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa yang baru saja bertanya.


"Melenyapkan gurita betina!" jawabku tanpa menoleh.


Seperti biasa, Daffin menarik tanganku agar aku berbalik dan menatapnya. Mata biru itu di penuhi amarah yang anehnya tidak membuatku takut sama sekali.


Aku memutar bola mataku dengan malas. "Kenapa? Kau tidak ingin aku menemuinya? Kau takut aku akan melukainya? Heh!"


Sorot mataku menantang Daffin ketika aku merasakan cengkraman tangan Daffin yang semakin kuat. Aku melihat dia mengibaskan tangannya, meminta Rania dan Shaka yang datang bersamanya untuk pergi.


"Apa yang ada di pikiranmu? Kenapa selalu berlawanan dengan apa yang aku pikirkan?" desah Daffin, tangannya meraih pinggangku hingga tubuh kami saling bersentuhan.


Daffin memejamkan matanya seraya menghirup aroma tubuhku, lebih tepatnya aroma parfum yang aku pakai sehabis mandi tadi.


"Kau tahu aku mencintaimu. Hanya kau yang aku pikirkan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu karena ulah wanita itu." bisik Daffin, bibirnya mulai menjelajah tanpa mengenal tempat dan situasi.


Perlahan tanganku mendorong kepala Daffin dengan lembut dan menatap mata biru yang selalu berhasil memikat hatiku. "Jika kau mencintaiku, harusnya kau tidak meragukan kekuatanku."


Keraguan tampak jelas di mata Daffin. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum dan mencium keningku lalu mengecup bibirku sekilas.


"Baiklah, aku tahu kau wanita yang tangguh dan tak terkalahkan." seloroh Daffin, dia membelai rambutku dengan penuh cinta.


Aku mengaitkan jemariku dengan jemari Daffin untuk menggandengnya keluar rumah dan melihat apa yang di inginkan oleh Reena.


Ketika aku sampai di luar, aku cukup terkejut melihat Reena sudah berada di halaman. Dia sudah melewati gerbang yang tinggi nan menjulang serta beberapa pengawal yang berjaga ketat disana. Reena hanya di halangi oleh dua orang pengawal ketika dia akan melangkah untuk mendekatiku dan juga Daffin.


"Daffin! Daff, aku tahu kau tidak akan sekejam itu padaku." lirihnya, terlihat kelegaan di dalam sorot matanya.


Aku sempat menoleh dan melihat Daffin yang menatap tajam pada Reena. Dia seolah ingin menelan hidup-hidup gurita betina yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"KATAKAN PADAKU SIAPA YANG MEMBIARKAN WANITA INI MEMASUKI RUMAHKU!!!"


Teriakan Daffin membuatku tersentak, bahkan rasanya suaranya telah merusak gendang telingaku. Jika situasinya tidak seperti ini, aku pastikan akan langsung menyumpal mulutnya itu dengan cabai.


"SHAKA!!!" teriaknya lagi, menambah kecepatan detak jantungku.


"Saya, Tuan," jawab Shaka yang sedari tadi berdiri di belakang kami bersama Rania.


"Kau yang bertanggung jawab untuk kekacauan ini, bukan?" sinis Daffin, begitu Shaka sudah berada di hadapannya.


Shaka menunduk. "Maaf, Tuan,"


"Aku tidak menerima permintaan maafmu! Jika kau tidak bisa mengusirnya dalam waktu satu menit, aku akan membuatmu menyesal telah melakukan kesalahan ini." ancam Daffin, dia sudah menuntunku untuk kembali ke dalam.


"Pengecut kau, Daff! Kau tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu padaku." teriak Reena.


Aku berbalik meski Daffin menahan tubuhku. "Tanggung jawab apa yang kau maksud?"


Reena menyeringai. "Kau tanyakan saja padanya!"


"Jika aku bertanya padanya, maka kehancuran yang akan kau dapatkan! Lebih baik kau katakan maksud ucapanmu sebelum aku merobek mulutmu itu!" sinisku, dengan tatapan penuh kebencian.


Tubuh Reena sempat tersentak, mungkin dia terkejut dengan sikapku. Aku melihatnya lebih memilih untuk melihat ke arah Daffin daripada bertatapan denganku.


"Kau lupa, Daff! Kau berjanji untuk menikahiku lagi setelah kau mendapatkan anaknya. Dan sekarang, anak itu sudah tidak ada. Ceraikan dia! Lalu, kita akan hidup bahagia seperti dulu lagi." ucap Reena tanpa malu.


Sungguh, tawa ini menyembur begitu saja dari mulutku ketika mendengar ucapan Reena. Entah dia buta atau bodoh, atau mungkin dia tidak menyadari perutku yang sudah mulai membesar. Ya, memang tidak sebesar itu. Di tambah pakaian yang aku gunakan sedikit longgar sehingga menyamarkan kehamilanku.


Kakiku melangkah mendekati Reena. "Ck ... ck ... ck ... kasihan sekali kau, Kakakku Sayang! Aku beritahu kau satu rahasia. Aku ... sedang ... mengandung ... pewaris keluarga Stevano."


Hah! Sarkasme sekali kata-kataku, tapi biarlah setidaknya itu berhasil membuat aliran darah di wajah Reena berhenti. Wajah putihnya semakin putih seperti kertas menggambar anak-anak.


Reena melangkah mundur. "Tidak! Ini tidak mungkin!"


"Kenapa tidak mungkin?" Senyuman licik menghiasi wajahku. "Daffin begitu terpesona dengan kecantikanku. Dia begitu mencintaiku hingga dunianya hanya berputar di sekitarku."


Wajah Reena semakin memucat, tapi sesaat kemudian dia tiba-tiba ingin menyerangku. Beruntung Daffin segera menarik tubuhku dan para pengawal juga menahan tangan Reena.


"Kau tidak tahu malu, Ayasya! Aku yang membawamu ke dalam rumah tanggaku, tapi sekarang keadaannya telah berbalik. Seharusnya kau lebih tahu diri." jerit Reena putus asa.


Aku menghempaskan tangan Daffin di bahuku. Aku tahu hal itu akan membuat Daffin marah, tapi untuk kali ini saja aku ingin membalas setiap hinaan Reena.


"Kau mengatakan apa tadi? Keadaannya terbalik? Heh! Kau harus ingat, bahwa sejak dulu hingga hari ini. Aku tidak pernah mengemis cinta Daffin! Tidak sepertimu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Daffin. Sayang sekali, semua cara kotormu gagal." lontarku dengan tatapan menghina.


Aku sudah berbalik dan menyambut uluran tangan Daffin. Namun, lagi-lagi ucapan Reena menghentikan langkahku.


"Kembalikan semua yang aku berikan padamu, Ayasya!" teriak Reena penuh amarah.


"Aku tidak akan mengembalikan apa yang seharusnya memang menjadi milikku!"


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2