
Setelah pesta hari itu, Daffin tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya yang besar itu di hadapanku. Setiap hari hanya ada kak Reena yang datang setiap pagi untuk memastikan aku meminum susu kehamilan yang di siapkan khusus olehnya. Walaupun aroma susu itu membuatku mual, tapi aku tetap meminumnya. Hatiku tidak sejahat itu, aku tidak akan bisa menolak kak Reena yang sudah sangat baik kepadaku.
Seperti biasa, pagi ini kak Reena sudah duduk di sofa ruang tamu ketika aku turun. Di hadapannya sudah ada segelas susu yang langsung membuat perutku bergejolak hanya dengan melihatnya. Meskipun aku tidak ingin, tapi aku tetap berjalan dan menghampiri kak Reena.
"Selamat pagi, Kak Reena." Senyuman yang begitu ku paksakan agar kak Reena bahagia.
"Selamat pagi, Ayasya, duduk dan minumlah susumu!" Kak Reena menepuk sisi kosong di sampingnya. "Bukankah hari ini kau akan pergi ke dokter kandungan?" tanya kak Reena kemudian.
Aku mengangguk ragu, bukan karena aku tidak ingin pergi ke rumah sakit. Tapi karena tangan kak Reena mulai menyodorkan segelas susu padaku. Andai saja aku bisa menolaknya.
Kak Reena menekan sebuah nomor di ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Ayasya akan pergi ke rumah sakit hari ini, Daff. Kau harus menemaninya!"
Tanpa bertanya pun, aku sudah tahu jika kak Reena sedang menghubungi Daffin. Sebenarnya, aku lebih suka pergi seorang diri atau lebih baik hanya di temani oleh Rania dari pada aku harus pergi dengan Daffin yang selalu bersikap semena-mena padaku. Dia bahkan tidak menemuiku setelah mengatakan hal buruk padaku terakhir kali kami bertemu.
Flashback on...
"Kenapa kau bicara seperti itu, Daffin?"
Aku begitu penasaran dengan sikap Daffin yang menyiratkan kebenciannya terhadap ibu mertuanya.
Helaan nafas Daffin terasa berat sebelum dia menjawab pertanyaanku. "Dia membuat Maya terluka, karena dia Maya harus tersisihkan. Wanita penggoda sepertinya hanya bisa merebut kebahagiaan yang di miliki orang lain tanpa harus bersusah payah untuk meraihnya."
Aku bisa melihat kemarahan Daffin dari tangannya yang mencengkram kemudi begitu kuat, tapi apa yang telah dia ucapkan begitu menyakitiku. Bukankah aku juga istri kedua? Apakah aku telah merebut kebahagiaan kak Reena? Tapi bukan aku yang menginginkan hal ini. Tidak bisakah Daffin berpikir sebelum bicara?
"Kenapa kau diam?" tanya Daffin, setelah aku tidak memberikan tanggapan apapun atas ucapannya barusan.
Sungguh, aku ingin sekali melompat ke laut dan tenggelam hingga aku menjadi terumbu karang di sana. Dari pada aku harus mendapat hinaan bertubi-tubi dari Daffin, pria yang mengaku sebagai suamiku.
Ucapan Daffin begitu menyakiti hatiku hingga tanpa aku inginkan, air mataku menetes dari balik mataku yang di penuhi amarah.
'Begitu hinanya aku di matamu, Daffin.'
Flashback off...
"Tinggalkan dulu pekerjaanmu! Ayasya membutuhkan dirimu. Dia harus di temani oleh suaminya, Daffin." ucap kak Reena geram.
Memahami situasi yang terjadi, aku pun menggenggam tangan kak Reena untuk menenangkannya. "Aku bisa pergi seorang diri, Kak."
__ADS_1
"Tapi, Ayasya ...."
"Sudah, Kak, aku tidak membutuhkan siapapun. Aku akan pergi dengan atau tanpa seorang suami."
Aku tahu, kak Reena belum memutuskan panggilannya dengan Daffin. Itu sebabnya aku berbicara dengan sedikit keras agar Daffin bisa mendengarnya. Dia harus tahu jika aku tetap bisa hidup dengan baik walaupun dia tidak menikahiku.
"Apa kau yakin?" tanya kak Reena begitu dia menyudahi pembicaraannya dengan Daffin.
"Iya, Kak." Senyum dan genggaman tanganku mewakili kekuatan terpendam yang aku miliki.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan, tapi jangan pergi seorang diri. Pergilah bersama Rania!" pinta kak Reena sebelum dia akhirnya pergi dari rumahku.
Tanpa di minta oleh kak Reena pun sebenarnya aku memang akan pergi bersama Rania, karena aku tidak suka pergi seorang diri.
***
Tak terasa, usia kandunganku sudah memasuki delapan belas minggu. Perutku sudah terlihat membesar dengan berat badanku yang tidak berubah sedikit pun. Aku jadi terlihat seperti seseorang yang terkena busung lapar. Menurut dokter, jika beruntung aku sudah bisa melihat jenis kelamin bayiku. Itu sebabnya aku memutuskan untuk menemui dokter karena ingin melihat Baby.
"Baby, jangan bersembunyi, ya! Tunjukkan dirimu! Mommy ingin melihatmu."
Aku mengusap perutku yang mulai membuncit. Di sebelahku sudah ada seorang ibu yang juga sedang mengandung. Perutnya sudah sangat besar, melihat hal itu mengundang rasa penasaranku.
Wanita itu tersenyum dan mengusap bola di perutnya. "Tiga puluh delapan minggu, Nyonya, berapa usia kandungan anda?" tanya wanita itu padaku.
"Delapan belas minggu, Nyonya,"
Wanita itu nampak terkejut kemudian mengusap perutku. "Benarkah? Kenapa perut anda sudah sebesar ini?"
"Aku tidak tahu, Nyonya, mungkin karena aku suka sekali makan pada tengah malam."
Jujur saja, aku ragu dengan jawabanku sendiri. Aku tidak tahu jika perutku terlalu besar untuk ukuran usia kehamilanku saat ini.
"Mungkin bayi anda besar, Nyonya," lontar wanita itu dengan selingan tawa ringan.
"Mungkin saja,"
"Anda sudah pernah melakukan USG?" tanya wanita itu lagi, yang langsung mendapat jawaban gelengan kepala dariku.
__ADS_1
Hidupku yang hancur sejak kepergian kak Erlan, dan di tambah dengan mimpi burukku yang tiba-tiba datang saat Daffin menyatakan kepemilikannya terhadapku. Semua itu membuatku begitu sibuk dan melupakan kehidupan yang ada di rahimku. Anehnya, aku juga tidak merasakan morning sickness. Aku hanya bertingkah aneh saat aku ingin makan nasi goreng hari itu. Mungkin itu juga salah satu penyebab aku tidak memperhatikan kehamilanku. Bayi yang ada di perutku tidak rewel sehingga aku tidak merasakan kehadiran mereka jika kak Reena tidak terus memaksaku untuk meminum susu.
"Dimana suami anda, Nyonya?" Pertanyaan wanita itu belum sempat aku jawab karena perawat memanggilku untuk melakukan pemeriksaan.
Aku dan Rania masuk ke ruangan dokter. "Permisi, Dokter!"
"Silahkan, Nyonya," jawab wanita cantik berseragam putih yang sedang duduk menghadap ke arahku.
Perawat langsung menuntunku untuk berbaring di bed pasien sebelum dokter memeriksa kandunganku. Aku melihat sebuah alat yang mirip dengan kareen istri plankton berada di samping bed. Dokter menghampiriku dan meletakkan gel di atas sebuah alat sebelum alat itu di letakkan di atas perutku yang langsung merasa dingin saat tersentuh alat itu. Tangan dokter itu menekan sebuah tombol dan memunculkan sebuah gambar yang tidak aku pahami sama sekali.
"Bayi-bayi anda tumbuh sehat, Nyonya," ucap dokter itu, matanya masih tertuju pada layar kecil di hadapannya.
"Bayi-bayi?"
"Iya, Nyonya, bayi kembar anda." Senyum mengembang dari bibir sang dokter.
Sejauh ini aku belum memahami ucapan dokter itu. "Bayi? Kembar? Maksudmu aku mengandung bayi kembar?"
"Benar, Nyonya," jawab dokter itu dengan antusias.
Dahiku berkerut. "Bagaimana mungkin aku mengandung bayi kembar?"
Senyuman ramah di perlihatkan oleh dokter itu dan dia pun menjelaskan sesuatu yang membuatku semakin bingung. "Semua itu mungkin saja karena faktor genetik, Nyonya, atau mungkin juga karena faktor program kehamilan seperti bayi tabung."
"Saya tidak melakukan program apapun, Dokter, hanya naluri saja. Dan untuk faktor genetik ...."
"Mungkin keluarga anda ada yang terlahir kembar, Nyonya,"
Aku berpikir dan mencoba mengingat, tapi aku tidak menemukan jawaban apapun. "Saya rasa tidak ada, Dokter, suami saya anak tunggal. Dan saya ... "
'Mungkinkah aku memiliki saudara kembar?'
Hallo semuanya π€
Terima kasih sudah sabar menunggu π₯° Maaf atas keterlambatan up hari ini πkarena author harus berkunjung ke planet mars untuk meninjau lokasi semedi author π€
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar π sertakan votenya juga ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh