
Sudah satu bulan sejak perpisahanku dengan Daffin. Terakhir kali aku melihatnya di apartemen milik om Rei dan itu pun berujung dengan drama air mata.
Penyesalanku tak berujung karena telah membuat masalah sepele ini menjadi sebuah bumerang yang akhirnya menjadi alasan kehancuran bagi rumah tanggaku.
"Sarapan anda, Nyonya." Rania meletakkan sepiring bubur ayam di atas nakas bersama segelas susu.
Sudut mataku melirik bubur ayam itu dan membuatku teringat akan kenangan saat pertama kali aku bertemu Daffin di dekat danau. Dia membayar bubur ayam untukku dan juga kak Erlan, tapi aku justru memberikan bubur ayam itu kepada dua anak pemulung. Tanpa terasa bulir demi bulir air mata saling susul menyusul di pipiku. Sejak awal bertemu, Daffin memang pria yang baik. Namun, sayangnya dia selalu membalut kebaikan hatinya itu dengan sikap keras dan arogannya sehingga kesan yang di timbulkan selalu buruk.
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Aku ingin bertemu Daffin saat ini juga, tapi aku yakin tidak akan bisa melakukannya. Ayah sudah menyiapkan penjagaan yang ketat untukku. Dia bahkan tidak membiarkan aku keluar dari rumah walaupun hanya ke halaman. Semua aksesku dengan dunia luar sudah di tutup, bahkan jika aku ingin memeriksakan kandunganku, maka dokter kandunganku yang akan datang ke rumah.
"Rania, bagaimana kabar si gurita betina itu? Apa dia membuat ulah?" tanyaku setelah berhasil mengatasi kesedihanku.
"Tidak, Nyonya," jawab Rania singkat.
Beberapa hari setelah keributan antara Daffin dan juga om Rei, Ersya benar-benar menangkap Reena dengan surat penangkapan palsu. Ersya lalu menyerahkan Reena pada om Rei untuk membawanya ke desa x. Sebenarnya aku ingin melihat sendiri bagaimana wajah Reena, tapi ibu melarangku dengan alasan tidak baik bagiku untuk berada di dekat Reena.
Aku berpikir akan menemui Reena dalam waktu dekat jika ayah atau ibu memberikan izin padaku, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Mengingat semakin banyaknya pengawal di rumah ini.
"Nyonya ...," panggil Rania, dia menundukkan kepalanya.
Aku menoleh dan menatap Rania. "Ada apa, Rania?"
"Maaf, Nyonya, ini ada sesuatu untuk anda." Rania memberikan sebuah kotak berukuran kecil padaku.
"Apa ini?" tanyaku, seraya memperhatikan kotak tersebut.
"Tuan Daffin yang memberikan itu untuk anda," jawab Rania, menunjuk kotak yang kini ada di tanganku.
Mataku membulat sempurna. "Daffin? Dimana dia? Kapan dia kesini?"
"Sebenarnya, Nyonya, setiap hari tuan datang kesini, tapi tuan besar melarang semua orang untuk memberitahu anda." jelas Rania, wajahnya tertunduk lesu.
Aku menghela nafas dalam. "Baiklah, terima kasih, Rania. Setidaknya aku tahu jika dia masih mengharapkan aku."
"Tentu, Nyonya! Tuan bahkan pernah bermalam di halaman rumah dan tuan baru pergi setelah nyonya besar bicara padanya." Tangan Rania menyatu seperti memohon pengampunan. "Maaf karena saya tidak memiliki keberanian untuk memberitahu anda, Nyonya." lirihnya.
Senyum tipis menghiasi wajahku. "Tidak apa, Rania, bukankah sekarang kau sedang memberitahu aku?"
Rania menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Namun, tak lama kemudian wajahnya berubah menjadi murung.
"Apa ada masalah lain, Rania? Kenapa wajahmu sedih seperti itu?" tanyaku, mencemaskan keadaan Rania.
__ADS_1
"Tuan mengatakan jika tuan Shaka masih belum menunjukkan perubahan apapun. Sudah lebih dari satu bulan, tapi tuan Shaka belum juga membuka matanya." Tangan Rania mengusap air matanya yang mulai berjatuhan.
Ada sesuatu yang menghantam dadaku hingga rasanya begitu sesak. Aku merasa bersalah pada Daffin karena telah meninggalkannya dalam kondisi seperti ini, tapi mungkin ini hukuman bagiku dan juga Daffin atas kesalahan yang telah kami lakukan di masa lalu. Kesalahan yang tanpa sengaja telah menyatu di dalam cinta kami.
"Maaf, Rania, karena ulahku kau jadi tidak bisa menemui dan menemani Shaka. Kau pasti sangat tersiksa?" desisku, nelangsa dengan situasi cinta yang rumit ini.
"Tidak, Nyonya, saya hanya sedih karena tuan Shaka masih belum ingin membuka matanya. Jika hal ini terjadi dulu, mungkin saya akan hancur, tapi kini saya hanya merasa iba sebagai seorang teman, Nyonya." tutur Rania, sedikitnya membuatku terkejut.
"Mak- Maksudmu ... kau sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Shaka?" tanyaku tak percaya.
"Iya, Nyonya." Rania menganggukkan kepalanya. "Seiring berjalannya waktu, saya mengerti bahwa cinta tuan Shaka tidak akan pernah menjadi milik saya." ucapnya getir.
Ucapan Rania membuatku merasa amat bersalah padanya. Dia tidak tahu jika Shaka menaruh hati padaku. Andai Rania tahu, dia pasti akan sangat terluka.
"Maaf, Rania ...," Kerongkonganku tercekat dan hanya bisa mengatakan hal itu.
"Untuk apa, Nyonya? Anda tidak melakukan apapun yang menyakiti ataupun melukai saya." Rania menggelengkan kepalanya kuat.
Wajahku mengulas senyum kecut sebelum memeluk Rania. Dalam hati aku begitu bersyukur karena di antara semua kepahitan hidup yang aku jalani, aku menemukan Rania sebagai temanku.
***
"Bu, tolong bantu aku meminta izin pada Ayah! Aku hanya ingin menjenguk Shaka, Bu. Aku ingin melihat bagaimana kondisinya saat ini." Aku merengek sepanjang hari pada ibu.
Astaga!!! Harus bagaimana lagi caranya agar aku bisa keluar dari rumah ini? Apakah tidak ada yang percaya padaku jika aku hanya ingin mengetahui kondisi Shaka? Ya, memang di balik semua itu, aku berniat untuk menemui Daffin. Terlebih ketika aku menerima kotak yang di berikan Daffin melalui Rania. Rasanya aku semakin merindukan sosok Plankton menyebalkan yang selalu mengisi hatiku.
Aku bergegas kembali ke kamar dan mengambil kotak yang tadi di berikan Rania. Tanganku gemetar ketika membuka kotak kecil di tanganku. Disana ada sebuah surat dan juga sebuah liontin yang berisi potret diriku dan juga Daffin.
Bagaimana kabarmu, My Starfish?
Maaf atas ketidakmampuanku melawan kuasa ayahmu, tapi apa yang bisa aku lakukan? Jika aku melawan, bukankah segalanya akan menjadi semakin sulit bagi kita berdua? Aku tahu saat ini kau sedang marah padaku, tapi aku mohon jangan pernah berhenti untuk mencintaiku! Karena aku disini semakin mencintaimu. Setiap hari aku menjalani hidup dalam kesendirian, tapi itu semua membuatku menyadari betapa berharganya dirimu bagiku. Aku tidak akan memintamu kembali padaku karena aku tahu itu tidak akan mudah. Aku hanya ingin berharap satu hal padamu, biarkan aku tetap menjadi suamimu dan ayah dari anak-anakmu.
I WILL ALWAYS LOVE YOU, MRS. STEVANO.
Entah sudah berapa kali aku membaca surat ini. Semakin aku membacanya, semakin aku merindukan sosok Daffin.
Di tengah kegamangan hatiku, aku merasakan gerakan kecil di perutku yang sudah membesar. Sepertinya Plankton kecil juga merindukan ayahnya. Dia merasakan ikatan batin yang kuat dengan surat ini. Mungkin!
"Kau rindu daddymu? Aku juga! Tapi maaf karena aku tidak bisa mempertemukan dirimu dengannya." ocehku seraya mengelus perutku.
Tidak ada gerakan lagi, mungkin dia kecewa pada ibunya. Sudahlah, aku saja kecewa pada diriku sendiri apalagi putraku. Untuk saat ini, aku hanya berharap ada keajaiban yang bisa membuatku bertemu dengan Daffin.
__ADS_1
***
Menjelang waktu makan siang, aku memilih untuk keluar dari kamar dan makan bersama ibu. Aku berharap bisa bicara dengannya dari hati ke hati.
"Bu ...," Aku mencoba membuka pembicaraan ketika melihat ibu sedang dalam suasana hati yang baik.
"Makanlah makananmu! Ingat, kau sedang hamil, jangan menyiksa putramu, Sayang!" sergah ibu, seolah mengerti jika aku sedang mencari kesempatan.
Meskipun terpaksa, aku tetap menghabiskan makananku sebelum ibu meninggalkan meja makan.
"Bu, aku ingin bicara!" lontarku, tepat saat ibu akan berdiri.
Kedua alis ibu menukik tajam. "Jika kau ingin agar Ibu membujuk ayahmu, maaf, Sayang, Ibu tidak akan melakukannya."
Musnah sudah harapanku!
"Tidak, Bu! Aku hanya ingin berbagi keluh kesahku denganmu." elakku, mencoba mencari celah di hati ibu.
Kelihatannya upayaku membuahkan hasil karena ibu kembali duduk dan tersenyum padaku. "Ibu disini, Sayang,"
Ada perasaan lega di hatiku ketika aku merasakan kehangatan tangan ibu menyapu punggung tanganku.
"Bu, aku tahu apa yang aku jalani selama ini adalah sebuah kesalahan. Hubunganku salah. Pernikahanku salah dan keputusan serta kemarahanku juga salah. Tapi, Bu, cinta tak pernah salah! Aku yakin Ibu tahu itu. Dulu, saat aku meminta Ibu untuk menikah dengan om Rei, Ibu mengatakan padaku bahwa suatu saat aku akan mengerti kenapa om Rei tidak menikah sampai saat ini dan kenapa Ibu tidak pernah bisa meninggalkan ayah? Jawabannya karena cinta. Benar begitu, Bu?" Aku memasang wajah memelas di hadapan ibu. "Hal yang sama terjadi padaku, Bu. Aku tidak bisa berpisah dengan Daffin. Aku ingin selalu bersamanya karena aku mencintainya, Bu, dan aku tahu cintaku tak pernah salah."
Sorot mata ibu berubah tajam. "Kau yakin? Dia pria yang sama yang telah menjeratmu ke dalam hidup yang menyedihkan."
"Tapi, Bu, dia pria yang sama yang sudah Ibu besarkan dengan tangan Ibu sendiri." Senyuman mengembang di wajahku.
Raut wajah ibu seketika berubah. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur dan tersirat kesedihan di dalam matanya.
"Aku yang membesarkannya. Itu sebabnya aku tidak pernah menduga dia akan melakukan hal sekejam itu kepada seorang wanita." Ibu menatap hampa ke arahku. "Apalagi wanita itu adalah putriku sendiri." lirihnya.
Tanganku menggenggam tangan ibu yang mengepal. "Bu, itu hanya masa lalu. Aku sudah melupakan semuanya. Walaupun Daffin memang memakai cara yang salah untuk menikahiku, tapi pada akhirnya dia tetap membahagiakan aku dan juga memberikan kehormatan bagiku."
"Sebuah bangunan yang didirikan di atas pondasi yang salah tidak akan pernah bisa berdiri untuk waktu yang lama. Walaupun kau mencoba untuk memperbaiki bangunan tersebut, tapi bangunan itu pasti akan hancur seiring berjalannya waktu. Kau harus membangun di atas pondasi yang kuat, Sayang, agar tak ada badai apapun yang bisa meruntuhkan bangunanmu! Pahami hal itu, baru setelah itu tentukan pilihanmu!" ucap ibu penuh kasih.
Ibu benar! Daffin menikahiku di atas kebohongan dan penipuan, mungkin itulah alasan kami tidak bisa menapaki kebahagiaan yang seutuhnya. Jadi, aku harus menghancurkan bangunan yang lama sebelum aku membangun sebuah bangunan baru yang lebih kokoh dan di bangun di atas cinta dan kejujuran.
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh