
Amarah selalu di ibaratkan sebagai api yang akan melahap segalanya. Persis seperti yang terjadi pada hatiku saat ini. Amarahku pada Maya, pada takdir, pada hidup yang kujalani, dan juga pada Daffin yang telah menipuku berkali-kali membuatku ingin mengakhiri segalanya. Andai waktu bisa di putar kembali, ingin aku kembali ke masa dimana aku hanya tahu bahwa aku seorang anak yatim piatu yang hidup bahagia meski tanpa kehadiran orang tua.
"Ayasya?" panggil Ersya, tangannya menyentuh bahuku.
Aku mendongak dan melihat Ersya yang sedang menatapku dengan khawatir. "Iya, Kak,"
"Kau baik-baik saja? Jika kau belum yakin, aku sarankan agar kau memikirkan lagi keputusanmu. Sebelum kau menyesal nantinya." ucap Ersya, aku merasakan cengkraman tangan Ersya di bahuku.
"Tidak, Kak! Aku sudah yakin. Tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan semua ini." sergahku.
"Maafkan aku, Ayasya, tapi apakah kau tidak ingin membalas dendam atas perbuatan tuan Stevano padamu?" tanya Ersya, tersirat begitu banyak pertanyaan di matanya.
Senyuman getir tersungging di sudut bibirku. "Aku tidak ingin membalas apapun! Karena semakin aku ingin membalas dendam, semakin aku terperangkap dalam jebakannya."
Ersya menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum mengatakan, "baiklah, tapi ingat! Kau tidak sendirian. Masih ada aku yang akan selalu mendukungmu."
"Terima kasih dan ... selamat tinggal, Kak Ersya!" Aku mengulurkan tanganku pada Ersya.
Manik mata Ersya fokus menatap tanganku yang terulur tanpa berniat untuk membalasnya. "Apa maksudnya ini?" tanya Ersya bingung.
"Aku akan kembali ke hidup lamaku sebagai penghuni panti asuhan, Kak, hidup sebagai yatim piatu jauh lebih menyenangkan dan menenangkan bagiku." selorohku, di susul setetes air mata yang terjatuh tanpa permisi.
"Apa yang terjadi, Ayasya? Apa tuan Stevano mengambil rumahmu?" desak Ersya, raut wajahnya begitu di penuhi ketakutan.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak, Kak! Aku yang memberikan rumah itu padanya. Aku ingin terbebas dari segala ikatan dengan dirinya. Dan aku butuh bantuanmu untuk melakukan semua itu,"
"Apa kau yakin?" tanya Ersya, matanya menatapku tajam.
"Sangat yakin! Bertemu Daffin adalah awal dari kehancuran hidupku, maka aku harus meninggalkannya agar hidupku kembali membaik." Aku menghapus air mataku yang seolah mewakili rasa sakit yang sedang mendera hatiku.
Tangan Ersya meraih tanganku untuk kemudian dia genggam. "Aku tidak tahu apa saja yang telah kau lalui selama ini, tapi tidak bisakah kau tetap tinggal demi diriku?"
Tatapan mataku dan Ersya beradu. Untuk beberapa saat, aku merasa jika aku sedang menatap kak Erlan. Namun, seperti sebuah gelembung yang pecah di udara. Harapan dan khayalanku pun menguap ketika aku menyadari bahwa Ersya tidak akan pernah menjadi kak Erlan.
"Maaf, Kak Ersya, aku memang menyukaimu. Tapi kau tahu, semua itu hanya karena wajahmu. Aku tidak bisa membiarkanmu berada di sisiku hanya sebagai peran pengganti." Aku menangkup tangan Ersya yang tengah menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Biarlah seperti itu! Aku akan jadi apapun selama aku bisa berada di sisimu." lirih Ersya, ada sebuah kekecewaan yang mendalam dari ucapannya.
Aku mulai takut pembicaraan ini semakin tak tentu arah yang mana akan membuatku kehilangan satu-satunya orang yang bisa membantuku.
"Baiklah, Kak! Aku harus pergi." Aku sudah berdiri dan menyampirkan tasku.
"Begitu? Baiklah," lirih Ersya, aku nyaris tak mendengar ucapannya. "Hati-hati! Dan jangan lupa untuk memberi kabar padaku." Ersya menyerahkan kartu namanya padaku.
"Sekali lagi, terima kasih banyak atas semua bantuanmu dan semoga Tuhan mempertemukan kita lagi."
***
Perjalanan yang cukup panjang aku tempuh untuk mencapai kampung halaman tempat panti asuhan nenek berada. Sebenarnya aku bisa sampai lebih cepat jika aku menggunakan pesawat, tapi aku lebih memilih untuk menggunakan jalur darat agar tidak mudah terlacak oleh Daffin. Lagi pula, aku tidak bisa meninggalkan mobil kesayangan kak Erlan. Jadi ku putuskan untuk membawa mobil ini kembali ke kampung halaman juga.
Biasanya, jika aku berkendara dengan kak Erlan tidak akan memakan waktu selama ini. Namun, karena aku seorang wanita dan juga dengan kemampuan mengemudiku yang masih amatir maka perjalanan ini menghabiskan waktu dua kali lipat dari biasanya.
"Ah, aku lelah," keluhku sembari meluruskan pinggangku yang terasa panas. Aku baru saja menepikan mobilku di salah satu rest area.
Pandanganku berkeliling ketika aku keluar dari mobil dan mencari penjual makanan yang bisa membantu mengisi perutku. Dan tepat sekali! Aku melihat penjual roti yang berjalan ke arahku.
Penjual itu mengeluarkan satu potong roti berukuran besar dan juga sebotol air mineral untuk di berikan padaku.
"Terima kasih." Aku mengambil roti dan air mineral itu, lalu menyerahkan uangnya. "Ambil saja kembaliannya," ucapku kemudian meninggalkan penjual roti itu.
Ketika aku hendak memasuki mobil kembali, aku sempat menoleh dan melihat penjual roti itu sedang menatap ke arahku.
"Aneh! Apakah uang yang aku berikan tidak cukup untuk membayar roti dan air ini?" gumamku sambil memandang roti dan air yang sudah ku letakkan di kursi penumpang.
Karena takut aku benar-benar salah memberikan uang, aku pun meraih tasku untuk mengambil uang. Namun, saat aku keluar dari mobil penjual roti itu sudah hilang entah kemana.
***
Suasana pedesaan mulai ku rasakan ketika aku memasuki perbatasan kampung halamanku. Ya, sebenarnya kampung halaman kak Erlan. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak memiliki kampung halaman, jadi hanya tempat inilah satu-satunya yang bisa ku sebut sebagai kampung halaman.
Mobilku mulai berjalan perlahan karena jalan yang ku lalui mulai rusak. Di kiri kanan, aku melihat persawahan dan juga beberapa orang yang sedang bertani.
__ADS_1
"Aku rindu nenek, aku rindu kak Erlan, aku rindu masa kecilku yang bahagia." Tetesan air mata mengaburkan pandanganku.
Dengan cepat aku menyeka air mataku dan berusaha agar tidak menangis lagi karena rumah tempat aku di besarkan sudah terlihat dari kejauhan.
Pekarangan yang cukup luas menjadi tempatku untuk memarkirkan mobilku. Dari dalam mobil, aku bisa melihat anak-anak panti sedang bermain dengan gembira.
"Kak Aca!!!" seru anak-anak begitu melihatku keluar dari mobil.
Mereka semua menghambur memelukku dan berebut untuk mencium tanganku. Perasaan ini, sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seperti ini.
Dari tempat ku berdiri, aku melihat tante Ratih baru saja keluar dari dalam rumah. Dia berjalan ke arahku, tapi anehnya dia menatapku dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.
Tiba-tiba ...
PLAK...
Tangan lembut tante Ratih yang biasa membelaiku, mendarat di pipiku dan meninggalkan bekas merah di sana.
"Tante?" lirihku sembari memegangi pipiku yang terasa panas.
"Untuk apa kau kembali ke sini? Keluarga Kencana tidak menerima orang yang sudah menghabisi keturunan keluarga Kami." Tante Ratih memandang sinis ke arah perutku.
Aku lupa untuk mempertimbangkan keguguran yang aku alami. Aku hanya ingin segera kembali kesini dan melupakan kenyataan bahwa tante Ratih dan Om Rama belum mengetahui apapun.
"Pergi kau wanita jahat!" teriak tante Ratih, tangannya mendorong tubuhku dengan kuat.
Tubuhku terhuyung dan hampir saja terjatuh jika tidak ada yang menahanku. Tunggu dulu! Siapa yang menahan tubuhku? Aku berdiri dan berbalik untuk melihat siapa yang telah membantuku.
"KAU!!!"
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1