
"Aku akan membuat perhitungan dengan mayat ini karena telah membuatku cemburu!"
Sosok yang amat sangat aku rindukan dalam beberapa jam ini tiba-tiba sudah ada di hadapanku. Tubuh besarnya yang sedang berjongkok bahkan sampai menutupi tubuh mungilku.
"Daffin?" lirihku di sela isak tangis.
Tangan besar Daffin mengusap air mataku. "Iya, ini aku. Planktonmu yang menyebalkan."
Antara percaya dan tidak, aku membelai wajah Daffin yang terlihat sangat kelelahan. Tatapanku terus turun hingga akhirnya aku melihat bercak darah menutupi hampir seluruh kemejanya, persis seperti mimpiku.
"Tidak! Kau bukan Daffin!" teriakku, lalu hampir terjungkal karena saking terkejutnya. Beruntung tangan Daffin berhasil meraih tubuhku.
Aku terus meronta ketika Daffin menyandarkan aku di dada bidangnya. Sekuat mungkin aku berusaha melepaskan diriku dari sosok Daffin yang aku pikir hanyalah sebuah khayalan.
Tiba-tiba Daffin melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipiku hingga kami saling bertatapan. "Lihat aku, Nyonya Stevano! Aku Daffin."
Sejenak tatapanku terikat pada mata biru yang penuh harap itu. Sudut matanya memerah seperti sedang menahan tangis.
"Daffin ...," Tanganku kembali terulur untuk menyentuh wajah maskulin Daffin, tapi dia menahan tanganku.
Daffin menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan tangannya yang sedingin es dan hal itu kembali mengingatkan aku akan mimpi buruk yang aku alami sore ini.
"Maafkan aku!" cicit Daffin, bersamaan dengan air mata yang jatuh menimpa tanganku.
Dahiku mengernyit seraya menggelengkan kepalaku. "Tidak! Jangan meminta maaf jika kau hanya akan pergi meninggalkan aku untuk selamanya!"
Dengan susah payah dan sedikit tergopoh, aku berusaha untuk berdiri meskipun tangan Daffin menahanku.
"Jangan mendekat!" teriakku, ketika Daffin ikut berdiri berhadapan denganku.
"Nyonya Stevano, ada apa denganmu? Aku suamimu. Aku Daffin." Daffin melangkahkan kakinya untuk mendekatiku.
"Aku tahu kau Daffin, tapi jika kau datang hanya untuk berpamitan, aku tidak mau mendengar apapun!" hardikku, di barengi air mata yang mulai tidak bisa aku kendalikan.
Daffin mengusap wajahnya kasar. "Astaga!!! Sebenarnya ada apa denganmu? Aku akan berpamitan kemana? Aku disini dan akan selalu disini bersamamu!"
Nafasku mulai tersendat karena kelelahan menangis. Mataku menatap nanar sosok pria raksasa yang belakangan ini selalu mengisi hatiku.
Benarkah dia Daffin? Ini nyata atau hanya sebuah mimpi? Jika dia benar Daffin, lalu mayat siapa yang terbaring kaku disana?
Tanpa aku sadari, ternyata Daffin sudah mengikis jaraknya denganku dan langsung merengkuh tubuhku.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" pintaku dengan suara yang hampir hilang. "Aku sudah merelakanmu, tapi tolong jangan menghantui aku!"
Seketika Daffin melepaskan lingkaran tangannya di tubuhku. Matanya memicing dengan kening yang berkerut serta kedua alisnya yang menukik tajam.
"Menghantui?" Daffin terlihat sangat kebingungan.
Aku mengangguk ragu, lalu menatap ayah dan ibu yang berada tak jauh dari kami. "Ayah, Ibu, apa kalian juga melihat dia? Jika hanya aku yang melihatnya, itu artinya aku benar-benar sudah tidak waras."
Anehnya, ayah langsung tersenyum dan mengibaskan tangannya kemudian keluar dari ruang jenazah bersama ibu.
"Tunggu, Ayah! Ibu!!!" jeritku berusaha menyusul kedua orang tuaku, tapi tangan Daffin menahan pergelangan tanganku. "Lepaskan aku, Daffin! Aku janji tidak akan menikah lagi! Sungguh! Aku hanya akan mencintaimu, tapi tolong lepaskan aku! Aku takut hantu!!!" Aku mulai meracau tak jelas.
Tiba-tiba tawa Daffin mengejutkan aku. Rasanya jantungku seperti merosot turun ke perutku. Bagaimana tidak? Daffin tertawa dengan seringai menakutkan di wajahnya dan itu dia lakukan di dalam kamar jenazah.
"Kau pikir aku hantu? Hah!" Daffin menarik tanganku hingga tubuhku jatuh ke dalam pelukannya. "Aku hantu atau bayanganku yang selalu menghantui pikiranmu? Hemm?" tanyanya.
Keberanianku langsung menciut. Kesedihanku pun entah menguap kemana. Yang aku rasakan kini hanya ketakutan akan sosok Daffin yang menatapku tajam.
"Jawab!" bentak Daffin, membuatku tersentak.
"Aku harus jawab apa pada hantu ini?" gumamku seraya mengalihkan pandanganku.
Daffin berdecak kesal. "Aku bukan hantu, Nyonya Stevano!"
"Ya Tuhan, kau menangis di depan mayat ini, tapi kau tidak tahu siapa yang kau tangisi?" tanya Daffin, dia terlihat frustasi menghadapiku.
Aku menatap Daffin lekat. "Aku menangisimu, Daffin."
"Aku baik-baik saja, Nyonya Stevano, tapi aku merasa sangat buruk ketika kau menyatakan cintamu padanya." Telunjuk Daffin mengarah pada mayat yang aku kira dirinya.
Bola mataku bergerak mengamati Daffin dan juga sosok yang terbaring kaku disana. "Jadi, itu bukan kau?"
Helaan nafas Daffin terdengar sangat jelas di tengah kesunyian dalam ruangan ini. Tanpa ku duga, tiba-tiba tangan Daffin membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuh mayat itu.
"Lihat! Apakah wajahku seburuk itu?" tanya Daffin sinis.
Mataku terbelalak ketika melihat mayat yang ku pikir adalah Daffin. Wajah pria itu sangat menakutkan dan juga berwarna biru kehijauan atau hijau kebiruan. Entahlah, mungkin juga ungu! Yang jelas, aku langsung memalingkan pandanganku ke arah lain karena tak ingin melihatnya.
Dalam hati, aku bernafas lega karena ternyata bukan Daffin yang terbujur kaku tanpa nyawa di ranjang itu.
"Kalau begitu, mayat siapa yang di sampingnya?"
__ADS_1
***
Suara alat bantu pernafasan menjadi pengisi suara di ruangan ICU yang lebih mirip seperti hotel bintang lima. Ada ranjang besar di tengah ruangan dan ada sosok yang selalu menjadi bulan-bulanan Daffin dan juga aku setiap kali kami habis bertengkar.
Shaka. Pria kaku yang bagai kanebo itu kini terbaring lemah tak berdaya di atas bed pasien dengan banyaknya selang serta kabel yang melilit tubuhnya. Wajahnya begitu menyedihkan karena selang menutupi hidung dan juga mulutnya. Kepalanya juga tertutup perban yang membuatnya terlihat semakin menyedihkan.
"Apa yang terjadi?" tanyaku lirih seraya membekap mulutku dengan kedua tangan.
Daffin menarik kursi agar aku duduk, sementara dia memilih duduk di tepi tempat tidur. "Dia memenuhi janjinya. Menyerahkan nyawanya untukku."
Aku menatap lekat wajah Daffin yang di penuhi kesedihan. Itu wajar bagiku. Shaka selalu menemaninya selama ini seperti bayangannya. Dan sekarang Shaka terbaring lemah tak berdaya di hadapannya. Pasti itu sangat menyakitkan bagi Daffin. Aku tahu bagaimana rasanya karena aku mengalami hal yang sama ketika kak Erlan meninggal dunia, tapi Daffin beruntung karena Shaka masih hidup.
"Kau harus sabar, Daffin, aku yakin Shaka akan segera pulih. Dia pria yang kuat." Aku mengulas senyum tipis untuk memberi dukungan pada Daffin.
Raut wajah Daffin seketika berubah. Aku melihat kilatan amarah di matanya. "Kau mengkhawatirkan dirinya?"
Aku memutar bola mataku dengan malas. Dia mulai lagi!
"Tentu! Dia bekerja untukmu. Aku mengkhawatirkan dirimu, bukan dirinya." elakku, berusaha terlihat seacuh mungkin.
Tangan Daffin membelai rambutku yang terurai dan sedikit berantakan. "Tidak masalah jika kau khawatir padanya, tapi hanya untuk saat ini. Dia tidak memiliki siapapun di dunia ini. Dokter mengatakan bahwa Shaka butuh dorongan untuk pulih dari kondisi vegetatifnya."
"Aku tidak mengerti," ucapku polos.
Sudut bibir Daffin menarik senyuman, tapi dia tidak nampak akan menjelaskan apapun padaku kecuali mengecup keningku tepat ketika om Rei memasuki ruangan.
"Apa aku mengganggu kalian?" goda om Rei, dia datang bersama seorang perawat yang membawakan obat untuk Shaka.
Aku menunduk malu. "Tidak, Om, kebetulan Om datang. Aku ingin bertanya apa yang terjadi pada Shaka. Kenapa dia terlihat sangat menyedihkan seperti ini? Kapan dia akan membuka matanya?"
Om Rei memberikan isyarat pada perawat yang baru saja menyuntikkan obat ke dalam infusan Shaka untuk keluar dari ruangan.
"Pukulan benda tumpul yang cukup keras di tambah dengan tembakan yang melukai kepalanya, membuat Shaka mengalami cedera otak traumatik kondisi ini membuatnya dalam keadaan vegetatif atau koma dan kita tidak pernah tahu kapan Shaka akan pulih, tapi kita harus selalu bersiap untuk kemungkinan terburuk." jelas om Rei.
Aku cukup terkejut dengan penuturan om Rei hingga aku memekik. "Astaga!!! Tuhan masih melindungimu, Shaka."
"Kau benar, Nyonya Stevano, Tuhan masih menyayangi dia yang tidak menyayangi nyawanya."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh