Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
KEINGINAN MAYA


__ADS_3

Kekonyolan demi kekonyolan terus saja terjadi di dalam mobil sebelum aku dan Daffin memutuskan untuk masuk ke dalam pusat perbelanjaan.


Raut wajah Daffin masih saja menunjukkan betapa menyesalnya dia karena telah menertawakan aku.


"Kau yakin tidak akan ada masalah?" tanya Daffin, dan ini sudah yang kesekian kalinya dia bertanya sejak kami meninggalkan basement.


"Tidak akan ada masalah jika tidak ada yang memindahkan matahari ke dalam sini." selorohku seraya terus memandangi deretan boneka yang terpajang di salah satu toko.


"Ayo!" Daffin menarik tanganku dan memasuki toko boneka itu. "Pilihlah mana yang kau sukai!" titah Daffin, aku menoleh dan melihat Daffin menganggukkan kepalanya.


Perlahan aku menyusuri barisan boneka itu dan menemukan sebuah boneka yang membuat hatiku mencelos ketika melihatnya. Sebuah boneka yang sama persis dengan boneka yang di berikan mendiang kak Erlan di hari ulang tahunku, tepatnya hari dimana kejadian naas itu terjadi.


Air mataku tak terbendung ketika melihat boneka itu, karena tiba-tiba saja aku teringat semua kenangan indahku bersama kak Erlan sebelum Tuhan mengambilnya dari sisiku.


"Nyonya Stevano, apa kau menyukai ini?" Daffin menyodorkan sebuah boneka bintang laut yang cukup besar ke hadapanku.


"Tidak! Tapi kau bisa membelinya jika kau suka." hardikku seraya menyeka air mata yang mulai terjun bebas.


Daffin memegangi bahuku ketika aku berbalik untuk menghindari tatapannya. "Ada apa, Nyonya Stevano? Apa kau masih marah karena kejadian di basement tadi?"


Aku menghirup udara sebanyak mungkin dan memasang wajah kesalku sebelum aku kembali menghadap Daffin.


"Aku tidak pendendam seperti dirimu, Plankton!" ketusku, seraya menepis tangan Daffin di bahuku.


Mata biru itu menatapku lekat, seolah Daffin tidak mempercayai ucapanku. Dia bahkan melangkah dan semakin mengurangi jaraknya denganku.


"Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku, My Starfish!" tegas Daffin, sebelum dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.


Kehangatan ini, cinta ini, gejolak ini. Kenapa semuanya seolah mendukung hasrat yang selama ini coba untuk aku pendam?


Kaitan tangan Daffin begitu erat hingga rasanya aku kesulitan bernafas karena tubuh raksasanya menutupi seluruh tubuhku.


"Daffin, aku tidak bisa bernafas!" sungutku dalam pelukan Daffin.


Dengan cepat Daffin melepaskan kaitan tangannya dan menatapku penuh cinta. "Jangan pernah berkata jika kau tidak bisa bernafas! Karena jika kau tidak bernafas, maka dari mana aku akan mendapatkan nafasku."


Astaga!!! Ingin sekali aku melompat ke udara dan berayun di atas awan karena kata-kata Daffin, tapi aku harus menguasai diriku. Daffin tidak boleh tahu jika aku sudah mulai terbawa perasaan oleh semua sikap manisnya.


"Uangmu banyak. Beli saja tabung oksigen!" ketusku, kemudian mengambil boneka bintang laut yang di bawa Daffin sebelumnya. "Jangan diam saja, bayar ini!"


Tanpa bicara Daffin mengikutiku ke meja kasir dan membayar boneka bintang laut pilihannya.


"Kirimkan ini ke rumahku!" titah Daffin, setelah proses transaksinya selesai.


"Baik, Tuan," jawab kasir itu seraya membungkuk hormat.


"Kau tidak membawanya?" tanyaku asal sebagai pembuka pembicaraan.


"Aku? CEO dari DS Corp, tidak mungkin membawa barang belanjanya sendiri." ucap Daffin angkuh.


"Sombong! Katakan saja jika kau malas, tidak perlu berkelit." lontarku seraya mencebik.

__ADS_1


"Istriku memang pintar!" seru Daffin, kemudian merangkul bahuku dengan sebelah tangannya. "Jika aku membawa boneka itu sendiri, aku tidak akan bisa menjagamu." goda Daffin.


Setelah keluar dari toko boneka, aku dan Daffin memasuki satu persatu toko pakaian dan juga accessories. Namun, tidak ada yang kami beli melainkan hanya melihat-lihat saja.


"Jangan membuatku malu, Nyonya Stevano! Belilah sesuatu! Atau aku akan membeli semua yang ada disini untukmu." keluh Daffin.


Daffin memang selalu terlihat tidak nyaman ketika kami memasuki toko tanpa membeli apapun, tapi aku menyukai raut wajahnya yang seperti itu.


"Kau rewel! Lain kali, biarkan Shaka yang menemaniku." Aku menghentakkan kakiku sebelum melangkah menjauhi Daffin.


Sebuah kedai yang menjual es krim menjadi pelabuhan terakhirku untuk menghindari Daffin, di sana ada penjual es krim yang masih muda dan cukup tampan.


"Anda ingin rasa apa, Nona?" tanya penjual es krim itu.


"Rasa yang tidak mudah di lupakan. Adakah?" tanyaku usil.


Penjual es krim itu tersenyum. "Rasa cinta yang tulus, Nona."


"Jangan menggoda istriku, atau aku akan membuatmu menutup kedaimu detik ini juga!" bentak Daffin, dia tiba-tiba muncul dan merusak suasana.


Aku hanya mendengus melihat sikap tirani Daffin yang kembali kumat dan berharap semoga saja hal itu tidak akan menyulitkan diriku.


Malang sekali nasib penjual es krim tampan itu, gerakannya tidak luput dari tatapan tajam mata biru Daffin hingga tangannya gemetaran saat memberikan satu mangkuk besar es krim padaku.


"Es krim anda, Nona," ucap penjual es krim itu.


"Nyonya! Dia adalah Nyonya Stevano." hardik Daffin.


"Maaf, Tuan," lirih penjual es krim.


Aku menerima semangkuk es krim di tanganku dengan wajah memberengut. "Terima kasih. Minta Tuan Stevano untuk membayar harga lebih padamu."


Setelah mendapatkan es krim yang menggugah selera, aku pun berjalan dan meninggalkan Daffin untuk mencari tempat yang nyaman untuk menikmati es krim yang sudah memanggilku sejak tadi.


Akhirnya, aku menemukan sebuah spot yang nyaman di salah satu sudut yang tidak terlalu ramai.


"Ah, lezatnya!" gumamku ketika suapan pertama es krim itu masuk ke mulutku.


"Kau tidak ingin membaginya padaku?" goda Daffin, ternyata dia sudah duduk di sampingku.


Sudut mataku melirik Daffin dengan tajam. "Kenapa kau tidak membelinya?"


"Karena aku ingin menikmati es krim yang sama dan berbagi suapan denganmu." goda Daffin, dan kali ini dia berhasil membuat wajahku terasa panas. "Kenapa wajahku memerah?" tanya Daffin.


Segera aku memindahkan semangkuk besar es krim di pangkuanku ke atas pangkuan Daffin dan mengambil ponselku untuk bercermin.


"Kau bohong, Daffin! Wajahku tidak merah." Aku memukuli bahu Daffin, tapi pria itu justru tertawa bahagia.


"Wajahmu merah, kuning, hijau, ataupun pelangi, aku akan tetap mencintaimu, Nyonya Stevano. Jadi kau tidak perlu merasa cemas." ucap Daffin, di susul satu sendok es krim ke dalam mulutnya.


"Terserah kau sajalah!" Aku mengerucutkan bibirku dan menatap Daffin kesal.

__ADS_1


Di sampingku, Daffin justru menikmati es krim lezat itu seorang diri tanpa memikirkan aku yang sedang merajuk.


Melihat wajah Daffin yang lucu ketika memakan es krim, aku jadi terpikirkan bagaimana wajah anakku kelak.


"Daffin?"


"Hemm ...."


"Apa kau sudah siap menjadi seorang ayah?" tanyaku ragu.


Daffin meletakkan sendok es krimnya. "Aku selalu siap kapanpun itu. Bagaimana denganmu?"


Aku menghela nafas dan menatap nanar ke depan. Sepertinya aku belum menemukan jawaban yang tepat hingga akhirnya aku pun memilih untuk mengganti topik pembicaraan kami.


"Boleh aku bertanya, apa yang tadi kau bicarakan dengan Maya?" tanyaku hati-hati.


Daffin tersenyum, sepertinya dia menyadari kegelisahan yang aku rasakan karena pertanyaan darinya. "Tidak ada! Hanya masalah menantu dan ibu mertuanya saja."


"Aku tidak percaya! Katakan padaku! Apa yang kalian bicarakan? Apakah kalian bergosip tentang aku?" sergahku, sedikit memaksa agar Daffin mau bercerita.


"Kau bukan selebrita, Nyonya Stevano, untuk apa aku bergosip tentangmu." sanggah Daffin, tapi aku masih yakin jika dirinya menyembunyikan sesuatu dariku.


"Kalau begitu, apa yang membuat kalian begitu serius terlibat dalam pembicaraan itu?" tanyaku dengan nada menyelidik.


Daffin menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Aku tidak yakin akan mengatakan ini padamu, tapi karena kau memaksa maka akan aku katakan."


"Katakan, Daffin!" seruku, tak sabar ingin mengetahui rahasia di antara Daffin dan juga Maya.


"Maya ingin kembali ke keluarga Kafeel. Dia meminta bantuanku untuk membujukmu agar ikut dengannya dan mendapatkan kembali semua yang seharusnya menjadi milikmu." tutur Daffin lirih.


"Apa kau juga berpikir bahwa aku haus harta, Daffin?" tanyaku datar.


"Kau salah paham, Nyonya Stevano, Maya hanya ingin memperbaiki segalanya. Dia ingin ayahmu mengetahui keberadaanmu. Itu saja! Setelahnya dia akan menyerahkan semuanya kepada tuan Kafeel." sergah Daffin, tangannya sudah terulur untuk menggenggam tanganku.


"Jadi, dia belum tahu tentang diriku?" tanyaku ragu.


Daffin menggelengkan kepalanya. "Belum. Maya baru bertemu dengan Reena karena tuan Kafeel sedang ada rapat penting."


"Dan Reena, apa dia sudah tahu?" Aku mulai membayangkan bagaimana reaksi Reena saat dia mengetahui bahwa aku adalah Lily.


"Reena juga belum tahu." jawab Daffin, menggugurkan khayalanku. "Tapi dia tahu jika Lily masih hidup. Itu sebabnya Maya ingin agar aku segera membujukmu sebelum Reena dan ibunya bertindak lebih dulu." sambung Daffin.


"Sejujurnya Daffin, aku tidak pernah ingin terlibat dalam masalah seperti ini." lirihku.


"Tapi kau harus terlibat karena semua ini menyangkut dirimu, Nyonya Stevano."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2