Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MENIKAH LAGI


__ADS_3

Kesedihan yang sempat tercipta seketika berubah menjadi kebahagiaan ketika seluruh keluarga kini membahas tentang pernikahanku dengan Daffin. Para orang tua begitu antusias membicarakan akan semewah dan semegah apa pernikahan kami nanti. Semua itu dapat di maklumi karena aku dan Daffin adalah anak tunggal dari kedua keluarga.


"Bukankah seharusnya kita bertanya pada kedua calon mempelai saja?" usul ibu, di tengah perdebatan ayah dan daddy David.


Kedua ayah itu sedang meributkan dimana akan mengadakan resepsi pernikahan putra dan putrinya.


"Baiklah, Daffin, katakan! Menurutmu mana yang paling indah, resort dekat pantai atau hotel berbintang?" tanya daddy David.


"Hei, kenapa kau bertanya hanya pada putramu, David? Tanyakan juga pada putriku!" sergah ayah.


Daddy David mendengus kesal. "Aku juga akan bertanya, tapi aku membutuhkan jawaban putraku, Reyno."


"Ada apa dengan kalian berdua, Kak? Lily dan Daffin sudah dewasa. Mereka bisa mengurus pernikahan mereka, tanpa bantuan kalian yang sebenarnya hanya membuat sakit kepala saja. Kalian sudah melihatnya sendiri, Daffin bahkan bisa menikahi Lily tanpa sepengetahuan kalian. Bukan begitu, Tuan Stevano?" tanya om Rei seraya mengedipkan sebelah matanya pada Daffin.


Daffin tersenyum sinis. "Karena aku langsung bertindak. Tidak seperti seseorang yang hanya banyak bicara."


Aku mengerti maksud Daffin. Dia pasti sedang menyinggung tentang perasaan om Rei terhadap ibu yang tak pernah mengalami kemajuan selama bertahun-tahun ini. Hanya saja aku masih tidak mengerti satu hal, kenapa Daffin jadi kekanakan seperti ini? Mungkinkah karena perpisahan kami selama satu bulan ini?


"Lidahmu tajam juga, Tuan Stevano," ucap om Rei, mengakhiri perang sindiran mereka.


"Kau benar, Rei, kalau begitu kita akan serahkan semuanya pada Daffin dan juga Lily." Ayah menatapku penuh kasih sayang.


"Ayah, aku ingin mengatakan satu hal." Aku mengulurkan tanganku dan meminta ayah untuk mendekat. "Maaf, Ayah, tapi aku tidak ingin menikah lagi dengan Daffin untuk saat ini." bisikku.


Mata ayah terbelalak sebelum dia berteriak dan mengejutkan semua orang. "Apa!!! Kenapa, Lily? Kenapa kau tidak ingin menikah dengan Daffin?"


Tatapan semua orang kini tertuju padaku. Mereka semua menanti jawaban atas pertanyaan ayah, terlebih Daffin. Dia sudah mengepalkan tangannya hingga otot-ototnya terlihat.


Aku melemparkan tatapan sebal pada ayah. Maksudku berbisik padanya agar tidak ada yang mendengar, tapi dia justru berteriak dan memberitahu semua orang.


"Bukan seperti itu, Ayah, aku hanya tidak ingin menikah lagi untuk saat ini karena aku tidak ingin mengenakan gaun pengantin saat perutku sudah sebesar ini." Aku menunjuk ke arah perutku.


Semua orang mengangguk paham, kecuali Daffin. Mata birunya masih menatap tajam ke arahku. Sepertinya dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


"Baiklah, kalau begitu kita akan membicarakan pernikahan ini setelah kau melahirkan, Sayang," ucap ibu, yang langsung di setujui oleh semuanya.


Aku mengangguk dan tersenyum simpul. "Aku rasa itu yang terbaik, Bu."

__ADS_1


"Sepertinya kita semua harus keluar karena Lily butuh istirahat." Om Rei melirik jam di tangannya lalu menggerakkan telapak tangannya meminta semua orang keluar dari kamarku.


"Aku akan disini." Daffin menatapku tanpa berkedip.


Om Rei menghampiri Daffin. "Bukankah sudah ku katakan, Lily butuh istirahat."


Sebelum baku hantam kembali terjadi, aku mencoba melerai Daffin dan om Rei. "Tidak masalah, Om, aku tidak lelah. Lagi pula, ada yang harus aku bicarakan dengan Daffin."


"Baiklah, Lily." Om Rei menghela nafas dalam. "Ayo, para lansia kita semua keluar!" seru om Rei.


"Kau pikir dirimu masih muda, Rei!" sungut daddy David kesal seraya melangkah keluar karena di dorong om Rei.


"Daffin, ingat! Jangan macam-macam! Aku bisa melihat apapun yang kau lakukan." Ayah menunjuk ke sudut ruangan sebelum keluar dari kamarku.


"Aku yakin, kalian berdua akan bisa menyelesaikan apapun perbedaan di antara kalian." Ibu menyatukan kedua tanganku dan Daffin.


Aku hanya bisa tersenyum, sementara Daffin tidak menunjukkan reaksi apapun.


***


Kini, di dalam kamar hanya ada aku dan juga Daffin. Tangan kami masih saling berpegangan meskipun ibu sudah keluar.


"Katakan, Nyonya Stevano! Apa alasanmu menolak menikah denganku?" tanya Daffin, dia sudah menghempaskan tanganku.


Aku menatap hampa tanganku yang terlepas dari genggaman Daffin. Beginikah rasanya saat dulu aku sering menolak dan bersikap kasar pada Daffin? Ya Tuhan, itu artinya Daffin benar-benar pria yang penyabar karena aku bahkan langsung merasakan sakit hati ketika Daffin melakukan hal yang sama padaku walau hanya satu kali.


"Aku tidak menolakmu, Daffin, aku hanya ingin menundanya!" elakku, mencoba memberi penjelasan pada Daffin.


"Itu hanya alasanmu saja, Lily! Aku yakin kau akan meninggalkan aku setelah putra kita lahir." Daffin mengusap wajahnya kasar.


Ini tidak baik! Suasana hati Daffin sedang buruk. Mungkin itu sebabnya dia bersikap seperti ini. Daffin bahkan menyebut namaku yang menandakan bahwa dia sangat marah padaku saat ini.


Dengan susah payah aku beringsut turun dan menghampiri Daffin yang sedang menghadap jendela kamarku. Tanganku melingkar dan memeluk Daffin dari belakang, tapi terhalang oleh perutku yang membesar.


"Aku tidak mungkin meninggalkan pria yang selalu membuatku bahagia." ucapku manja seraya menggosok-gosokkan hidungku di punggung Daffin.


Daffin membalikkan tubuhnya dan menatapku. "Jangan merayuku!"

__ADS_1


Aku segera menangkap tangan Daffin ketika dia hendak melangkah keluar. "Lalu, aku harus merayu siapa? Kak Ersya?"


Tipuan ini selalu bisa memaksa Daffin semarah apapun dirinya. Dan kali ini pun seperti itu. Daffin membalikkan tubuhnya dan menarik tanganku hingga tubuh kami saling menempel.


"Jangan pernah berpikir seperti itu atau aku akan memberimu hukuman!" ancam Daffin.


Jemari Daffin mengabsen setiap jengkal wajahku tanpa terlewat. Dan saat tangannya mulai turun, aku berusaha untuk menahannya.


"Kenapa?" tanya Daffin, wajahnya mulai kesal lagi.


Aku menunjuk sudut ruangan yang di tunjuk oleh ayah sebelumnya. Aku yakin ayah tahu jika ibu memasang CCTV di sana karena Daffin langsung menepuk keningnya.


"Shit!!! Aku terjebak." keluh Daffin, tapi tetap tak ingin melepaskan aku.


"Daffin, ayo, kita bicara!" ajakku seraya membimbing Daffin untuk duduk di sofa.


"Katakan, Nyonya Stevano! Apa yang membuatmu ragu? Aku yakin kau hanya menggunakan putra kita sebagai alasan," tanya Daffin curiga.


Apa yang dikatakan Daffin memang benar! Tapi aku tak akan mengakuinya.


"Aku serius, Daffin! Aku tidak ingin mengenakan gaun pernikahan, sementara perutku sebesar bola basket. Aku tidak ingin terlihat seperti badut." Aku terkekeh, tapi langsung bungkam ketika melihat wajah tegang Daffin.


Daffin mencengkram tanganku. "Katakan yang sebenarnya, Nyonya Stevano! Aku tidak punya kesabaran untuk saat ini."


"Apa kau sadar jika kau sudah menyakiti aku?" Tatapanku bertumpu pada tangan Daffin yang masih mencengkram tanganku. "Aku merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk melakukan pernikahan, Daffin."


Tubuh Daffin tersentak dan dia langsung melepaskan tanganku. "Maafkan aku, Nyonya Stevano, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."


"Tapi kau sudah selalu menyakiti aku hingga menciptakan keraguan di dalam hatiku." Air mata ini jatuh lagi, untuk mewakili perasaanku.


"Aku tahu, Nyonya Stevano, tapi aku mohon katakan padaku! Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu yakin padaku?" bujuk Daffin.


"Buktikan padaku bahwa Reena sudah tidak memiliki tempat, baik di dalam hatimu ataupun hidupmu."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2