
Hari itu adalah hari terbahagia dalam hidupku. Karena Tuhan, sekali lagi mempercayakan aku untuk melindungi ciptaanNya di dalam rahimku.
"Kau begitu bahagia, Nyonya Stevano," ucap Daffin yang berada di sebelahku.
Sudut mataku meliriknya dengan tajam. "Menurutmu?"
"Kau sangat bahagia, dan aku pun begitu." Tangan Daffin terulur untuk menyentuh tanganku, tapi dengan cepat aku menghindar.
Kami baru saja keluar dari rumah sakit karena setelah kami kembali ke kota xx aku bersikeras meminta Daffin untuk membawaku memeriksakan apakah aku benar-benar sedang mengandung.
Beberapa saat sebelumnya...
"Kau tidak yakin pada tante Ratih?" tanya Daffin, kedua alisnya menukik tajam ketika mendengar permintaanku.
Tante Ratih adalah seorang bidan, tapi dia sudah lama tidak melakukan tugasnya karena kesibukan mengurus panti asuhan yang di wariskan oleh nenek.
"Aku percaya! Tapi aku hanya ingin meyakinkan bahwa aku hanya sedang bermimpi buruk!" sungutku, tanpa melihat wajah Daffin.
"Kita ke rumah sakit, Shaka! Sepertinya nyonya Stevano sudah tidak sabar ingin melihat Stevano junior," titah Daffin pada Shaka yang sedang mengemudi tanpa bersuara sedikitpun.
Flashback off...
Dan begitulah akhirnya, dokter menyatakan bahwa aku sedang mengandung. Aku cukup bahagia mendengarnya, tapi aku juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaanku karena anak yang aku kandung saat ini adalah hasil dari perbuatan si Jhonny terkutuk itu.
***
"Daffin, dimana ini?" tanyaku, ketika mobil mewah Daffin memasuki pekarangan rumah yang tidak aku kenali.
"Kau pernah memintaku untuk membeli rumah baru. Apa kau ingat?" Manik mata Daffin menatapku dengan penuh kehangatan.
Aku tak kuasa menahan pesonanya hingga aku memilih untuk mengalihkan pandanganku ke rumah yang baru saja kami datangi.
"Tidak! Aku tidak ingat apapun mengenai dirimu!" ketusku seraya membuka pintu mobil.
Rumah yang kini ada di hadapanku lebih besar daripada rumah yang pernah di tempati Reena yang berada tepat di seberang rumahku. Arsitektur rumah ini juga sangat berbeda dengan rumah Daffin sebelumnya. Walaupun besar, rumah ini tidak terlihat mencolok dan di penuhi dengan kehangatan ketika memasukinya.
Langkah kakiku menuntun diriku untuk memasuki rumah bergaya minimalis itu. Aku menaiki tangga sebelum mencapai pintu utama dan di suguhi sebuah kolam kecil yang terdapat ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari seolah sedang menari untuk menyambutku. Tanpa sadar, seulas senyum tipis tertarik di sudut di bibirku.
"Aku senang kau menyukai rumah ini," ucap Daffin yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Aku terpaksa!" sinisku, kemudian melanjutkan langkahku untuk memasuki rumah baru kami.
Keindahan rumah ini membuatku terlena hingga tak menyadari bahwa ada seseorang yang menungguku di depan pintu.
__ADS_1
"Welcome home, Ayasya!" sorak Maya dengan wajah penuh bahagia.
Andai saja aku tidak mengetahui kebenaran tentang dirinya dan siapa sebenarnya diriku, aku pasti akan sangat bahagia dan langsung berhambur untuk memeluknya.
"Terima kasih," ucapku dingin seraya melewati tubuh mungil Maya yang berdiri di ambang pintu.
Aku bahkan membiarkan kedua tangan Maya menggantung di udara ketika dia hendak memelukku.
"Maya." Daffin yang berada di belakangku menggantikan aku mengisi pelukan Maya.
Dari dalam rumah aku melihat betapa Maya memeluk Daffin dengan sangat erat. Mereka bahkan seperti sepasang ibu dan anak yang saling menyayangi.
"Kau membuang putrimu untuk menyayangi anak orang lain," gumamku lirih dengan air mata yang langsung menetes di pipiku.
"Kau menangis?" tanya Daffin khawatir, aku tidak melihatnya masuk tadi.
"Tidak!" sanggahku, dengan cepat aku menghapus air mataku.
"Hei, ada apa?" Daffin menahan tanganku, dan menggunakan tangannya sendiri untuk menghapus air mataku.
"Mungkin Ayasya terlalu bahagia hingga dia meneteskan air mata. Bukan begitu, Ayasya?" tanya Maya dengan lembut.
Aku mendengus mendengar pertanyaan Maya. "Tidak juga!"
Setelah menjawab Maya dengan sinis, aku pun berlalu dan meneruskan langkahku untuk menelaah sangkar baruku.
"Kemanapun kakiku ingin melangkah!" jawabku, tak kalah keras dengan suara Daffin.
"Ayo, aku akan mengantarmu!" Daffin mengulurkan tangannya padaku.
Tanganku terulur, tapi bukan untuk menyambut uluran tangan Daffin. Melainkan untuk menepis tangan besarnya itu. "Aku bisa berjalan sendiri."
"Baiklah," jawab Daffin pasrah.
Langkahku dan Daffin berjalan beriringan hingga menimbulkan suara yang saling bersahutan.
"Daffin?" panggilku, memecah keheningan.
"Hemm ...," jawab Daffin tanpa menoleh.
"Apakah dia akan tinggal disini?" tanyaku ambigu.
"Dia?" Lagi-lagi alis mata Daffin menukik tajam.
__ADS_1
Aku berdecak kesal karena dengan terpaksa aku harus menyebut namanya. "Maya!"
"Oh, kenapa? Bukankah kau menyukai Maya? Aku melihatmu cukup akrab dengannya di pertemuan pertama kalian." tutur Daffin, memberikan penilaian atas apa yang pernah dia lihat.
"Tidak, aku hanya ...."
"Jika kau tidak ingin Maya ada disini, aku akan memintanya tinggal di tempat lain." sergah Daffin.
"Tempat lain? Kenapa dia tidak tinggal bersama keluarganya?" tanyaku penasaran.
Helaan nafas Daffin terdengar sangat berat. "Karena aku sudah menceraikan Reena, dan Maya yang harus menanggung akibatnya."
"Akibat?" tanyaku, masih belum memahami ucapan Daffin.
"Mereka mengusir Maya," lirih Daffin penuh penyesalan.
Astaga! Aku sungguh terkejut melihat nasib wanita yang telah membuangku. Dia bahkan tidak bisa hidup bahagia meskipun telah membuang putrinya sendiri atau mungkinkah ini balasan dari Tuhan untuknya karena telah membiarkan aku tumbuh dewasa tanpa sosok ibu dan ayah.
"Lalu?" tanyaku acuh, mencoba menyembunyikan sesuatu yang terasa begitu menyakiti hatiku.
"Maya tidak memiliki siapapun di dunia ini, kecuali diriku. Jadi, bisakah Maya tetap tinggal disini bersama kita?" Kedua tangan Daffin meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
"Ini rumahmu. Aku tidak memiliki hak apapun untuk melarang siapapun untuk datang dan pergi ke rumah ini kapanpun." hardikku, enggan menjawab pertanyaan Daffin.
"Tidak, Nyonya Stevano! Rumah ini milikmu. Kau bisa melakukan apapun di rumah ini sesuka hatimu." sanggah Daffin.
"Termasuk melarang siapapun datang kesini?" tanyaku, mempertegas pernyataan Daffin.
"Tentu! Seperti keinginanmu." jawab Daffin pasti.
"Kalau begitu, aku ingin Maya pergi dari sini." pintaku, bahkan tanpa berkedip.
Aku bisa melihat betapa terkejutnya Daffin walaupun dia berusaha untuk menutupinya. "Tapi, Ayasya ...."
Lihat! Dia bahkan menyebut namaku padahal sebelumnya dia tidak pernah menyebut namaku dan hanya memanggilku dengan sebutan nyonya Stevano.
"Aku sudah menduganya. Kau tidak akan benar-benar mengikuti keinginanku karena aku tidak seistimewa itu di matamu!" lontarku penuh kekesalan.
Dan ketika aku hendak melangkah untuk meninggalkan Daffin yang masih diam terpaku, tiba-tiba aku merasakan tangan Daffin menahan lenganku.
"Baiklah, ikut aku! Ayo, kita minta Maya untuk pergi dari sini! Sesuai keinginanmu."
Hallo semuanya π€
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'yaπ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh