Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MALAIKAT BERTOPENG


__ADS_3

Beberapa lembar kertas beterbangan begitu membentur tubuhku hingga berserakan di lantai, tepat di bawah kakiku. Aku berjongkok untuk memunguti kertas-kertas itu satu persatu. Betapa terkejutnya aku, ketika aku melihat ada beberapa lembar potret kebersamaanku dengan Daffin.


"Tante, ini tidak seperti -"


"Diam! Tidak perlu berbohong lagi!" hardik tante Ratih, tak membiarkan aku melakukan pembelaan. "Apakah kami mendidikmu untuk menjadi wanita murahan seperti itu, Ayasya? Hah!"


Sorot mata tante Ratih begitu tajam dan sangat mengintimidasi diriku. Ingin rasanya aku menyanggah semua bukti yang ada di tanganku, tapi aku tidak bisa melakukannya karena semua itu benar adanya.


Tubuhku rasanya terpaku hingga membuatku tak bisa bergerak sedikitpun. Aku bahkan tidak menyadari saat Ersya mengambil kertas-kertas itu dari tanganku.


"Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Ersya pada tante Ratih.


Bola mata tante Ratih langsung berputar ke tempat Ersya berdiri dan menunggu jawabannya. "Seorang wanita datang kesini dan memberi tahu Tante semua kebenarannya. Dia mengatakan bahwa Ayasya telah merebut suaminya."


'Seorang wanita? Merebut suaminya? Reena!'


Tatapanku beradu dengan Ersya ketika pikiranku tiba-tiba saja tertuju kesana. Seolah mengerti isi hatiku, Ersya membantuku menjelaskan kepada tante Ratih dan juga om Rama.


"Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku tahu semuanya!" Ersya menatapku sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ayasya hanyalah korban dari keserakahan pasangan Stevano. Mereka menginginkan anak yang ada di dalam kandungannya, tapi naas anak-anak itu sudah di panggil Tuhan lebih dulu. Dan itu semua bukan kesalahan Ayasya!" jelas Ersya.


Air mataku mengiringi penjelasan Ersya, bayangan tentang kedua putraku yang telah menyusul ayahnya membuatku kembali merasa menyesal karena masih bernafas hingga detik ini.


Tanpa aku menduganya, tiba-tiba tante Ratih memelukku. "Maafkan Tante, Aca! Tante termakan oleh ucapan orang asing yang bahkan tidak Tante ketahui namanya."


Tanganku melingkar membalas pelukan tante Ratih. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, hingga aku hanya menangis dalam pelukan tante Ratih.


***


Setelah aku menceritakan semua kepedihanku atas penjebakan Daffin dan juga Reena, tante Ratih terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Andai saja, Tante menyetujui saat kau ingin kembali kesini. Pasti semua ini tidak akan terjadi!" lirih tante Ratih, perasaan bersalah menyerbu hatinya.


"Tidak, Tante, semua ini adalah takdir dari Tuhan." Seulas senyum tipis menghiasi wajahku. "Jika Aca kembali bersama Tante waktu itu, Aca tidak akan bertemu dengan kak Ersya." ungkapku.


Pandangan kami bertumpu pada sosok Ersya yang tengah berbincang dengan om Rama di halaman belakang.

__ADS_1


Saat ini, aku tengah menikmati waktuku bersama tante Ratih di ruang tengah rumah nenek. Ruangan ini biasa kami gunakan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama anak-anak panti.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya tante Ratih, membuat pupil mataku langsung membesar.


"Siapa maksud, Tante?" Aku balik bertanya pada tante Ratih untuk memastikan pertanyaannya.


Tante Ratih tersenyum dan membelai rambutku. "Kau dan Ersya tentunya! Siapa lagi?"


Ah, aku merasa nyawaku langsung melayang saat itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa pada tante Ratih, karena aku sendiri masih belum mengetahui kejelasan tentang pernikahanku dengan Daffin.


"Tante ... bisakah kita membicarakan ini nanti saja? Karena ada hal penting yang ingin Aca tanyakan pada Tante," elakku, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Walaupun terlihat kecewa, tapi tante Ratih tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dan tanpa membuang waktu, aku pergi untuk mengambil tasku di mobil kemudian mengeluarkan selembar potret yang aku ambil dari buku LILY.


Sebelum menunjukkan potret itu, aku ingin memastikan sesuatu kepada tante Ratih. "Dulu, Tante pernah mengatakan bahwa wanita yang menitipkan Aca di sini sangat mirip dengan wajah Aca sekarang." Tante Ratih mengangguk. "Apakah Tante masih ingat wajah wanita itu?" tanyaku ragu.


Bola mata tante Ratih bergerak ke atas, seperti mencoba mengingat sesuatu. "Tante tidak yakin, tapi jika Tante melihatnya ...."


"Apa dia orangnya, Tan?" Aku menunjukkan potret Maya yang tengah menggendong Lily kecil.


Aku melihat kening tante Ratih yang mengkerut cukup dalam hingga kedua alisnya hampir menyatu. Sedetik kemudian, tante Ratih langsung mengerjap dan membuatku terkejut.


Seketika, tanganku lemas dan menjatuhkan potret itu dari tanganku. Aku merasakan seolah angin menerbangkan tubuhku hingga terombang-ambing di udara.


Entahlah, aku harus merasakan apa saat ini? Sedih, senang, marah atau kecewa. Semua itu bercampur menjadi satu dan justru membuatku mati rasa.


Flashback on...


"Kakak, seperti apakah sosok seorang ibu?" tanyaku pada kak Erlan yang sedang mengikat rambutku.


Kak Erlan menyelesaikan ikatan rambutku dan merapihkan surai rambut yang tak terikat. "Sudah! Aca ku sudah cantik."


Aku menoleh dan melihat wajah kak Erlan yang di penuhi senyuman. "Benarkah?"


"Tentu! Lihatlah ke dalam mataku dan kau akan menemukan dirimu yang begitu cantik." jawab kak Erlan, semua kata yang keluar dari bibirnya selalu bisa menyenangkan hatiku.

__ADS_1


"Kakak belum menjawab pertanyaan Aca," hardikku, ketika menyadari kak Erlan sedang merayuku.


"Pertanyaan yang mana, Acaku Sayang?" tanya kak Erlan lembut.


"Seperti apa sosok seorang ibu? Apakah baik?" tanyaku antusias.


Bukan tanpa alasan aku menanyakan hal itu, karena aku baru saja menjenguk temanku yang sedang sakit di rumahnya dan aku melihat ibunya temanku begitu perhatian dan sangat baik.


"Tentu saja! Ibu itu seperti malaikat. Sangat cantik, lembut dan penuh perhatian. Tatapannya menjauhkan kita dari pengaruh jahat dan pelukannya akan selalu menghangatkan tubuh kita. Seorang ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya demi anak yang di cintainya." jelas kak Erlan seraya merapihkan tas sekolahku.


"Apa semua ibu di dunia menyayangi anaknya, Kak?" tanyaku lagi.


"Benar! Semua ibu di dunia menyayangi anaknya." Kak Erlan menyampirkan tas di pundakku. "Apalagi jika anaknya bersikap baik dan tidak nakal." ucap kak Erlan sembari mencubit hidungku.


"Kakak!" Aku menggosok hidungku yang terasa nyeri, dan kak Erlan hanya terkekeh menanggapi kemarahanku.


"Dengar, Aca! Semua ibu di dunia sangat menyayangi anaknya. Maka, kita pun harus menghormati dan menyayangi ibu kita." tutur kak Erlan lembut.


"Tapi Aca tidak punya ibu, Kak,"


Kak Erlan tersenyum. "Kau memiliki ibu, Aca, hanya saja saat ini ibumu sedang bermain petak umpet. Dia ingin kau tumbuh besar dan pintar agar bisa mencarinya."


Flashback off...


"Aca? Aca!" Tante Ratih mengguncang-guncangkan tubuhku.


Aku mengerjap, menyadari gerakan tante Ratih. "Ah, iya, Tan,"


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya tante Ratih khawatir.


"Tidak ada apa-apa, Tan, Aca baik-baik saja." elakku dengan senyum tersungging di bibirku.


Bagaimana aku akan baik-baik saja? Sekarang aku menyadari, tidak semua ibu seperti malaikat.


Hallo semuanya πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2