
Setelah makan siang selesai.. dan reni merapikan kembali bekas makanan mereka. hujan masih belum berhenti.
"Kok lama ya" gumam reni pelan. dan telinga jeli rey mendengarnya.
"Sebentar lagi kayaknya udah bisa. udah gak se deras tadi. itu lihat udah mulai surut" tunjuk rey
Reni mengangguk.. dia hendak memperbaiki tempat duduk nya supaya lebih tegap. emang dia kesusahan.. tapi dia dengan usaha keras melakukan nya sampai bisa.
'Kenapa kamu tidak pernah meminta tolong iren?' batin rey merasa reni terlalu mandiri tak seperti perempuan lain yang minta bantuan, manja dan lain nya.
Reni dan rey kembali hening. tak ada pembahasan.
"Iren.. " panggil rey lembut membuat reni menoleh.
"Sepulang dari sini, kamu tidak akan menghindari aku lagi kan?" tanya rey mengungkapkan keresahan dan ketakutan nya. dia takut reni hanya penurut jika di depan keluarga nya saja
"Kapan aku menghindari mas rey?" tanya reni. dia tidak tau bahwa sikap nya selama ini di anggap menghindar oleh rey. padahal menurut pandangan reni itu hal biasa.
Rey mengusap pelan rambutnya.
"Kamu selama ini selalu menghindar tiap kali aku berusaha menemui kamu. aku sengaja bahkan malam malam ke supermarket dekat apartemen mu, atau sekadar lewat sana.. tapi kamu tak pernah muncul" ujar rey panjang lebar
"Aku tidak menghindar. lagian ngapain mas harus malam malam ke sana. kadang aku ke sana pagi hari" jawab reni polos.
"Aku juga nge chat kamu iren selama ini. balasan kamu sangat singkat. kadang cuma kamu baca gak balas.." keluh rey mengeluarkan uneg uneg nya.
"Lah emang kalau balas chat harus panjang panjang?" tanya reni balik membuat rey pusing.. sepertinya dia salah bertanya.
"Terus kenapa kalau aku nelfon, kamu jarang banget angkat?" tanya rey akhirnya.
"Iya gak papa sih, aku gak suka aja telfonan. aku lebih nyaman di chat kalau ada perlu" jawab reni seadanya.
"Kamu harus belajar berbaur iren, dan melakukan banyak komunikasi supaya kamu tidak merasa sendiri. aku akan membantu kamu keluar dari zona nyaman mu itu. di luar sana ada banyak hal menarik dan banyak orang orang baik iren" ujar rey pelan pelan..
reni hanya diam. dia tak menjawab, dia mendengar dan memikirkan ucapan rey.
"Aku akan sering sering nelfon kamu iren, ajakin kamu keluar kalau ada waktu. kamu harus mau.. kalau nggak mau aku akan menelfon ibu, kamu tidak lupa kan tadi aku sempat bertukar nomor dengan ibu" ucap rey sedikit memaksa.
reni mencebik kesal. kenapa ibunya malah lebih memihak mas rey di banding dirinya. padahal kan yang anak kandung itu dia. hufft.
"Ayo kita berangkat itu udah di buka" reni membalik pembicaraan saat melihat portal sudah kembali di buka.
"mas ngapain??" pekik reni kaget saat rey tanpa dosa menggenggam tangan kanan nya. rey menyetir hanya sebelah tangan..
"Latihan, kita bentar lagi akan menikah" jawab rey acuh.
"Lepasin mas, aku tidak suka begini"
"Kamu harus terbiasa iren.." jawab rey
"Mas menyetir, awas.. lepasin"
"Aku bisa menyetir begini. ini bukan hal susah buat ku" sombong rey pamer kemampuan nya yang memang mumpuni.
Reni tidak nyaman. dia tak pernah sedekat ini dengan pria manapun. dia sudah terbiasa hidup sendiri tanpa peduli lingkungan.. selama dia tak merugikan orang lain dia tak ingin ikut terlibat juga. tapi kehadiran rey membuatnya terganggu dari zona nyaman nya.
Sekuat apapun reni menolak. rey tak mau melepas tangan reni.
__ADS_1
"Iren.. aku menyukai mu. jangan menolak aku tidak akan melakukan hal aneh"
reni diam. dia menatap jalanan sebelah kiri. dia biarkan rey.. karna dia akan selalu kalah kalau menghadapi rey.
Rey menyetir dan tangan nya sebelah menggenggam jemari kecil pujaan hatinya.
Dia tersenyum.. dia harus sedikit memaksa untuk meluluhkan reni.
Sampai di depan apartemen..
Reni keluar dan mengambil barang bawaan nya yang tidak begitu banyak.
"Aku anterin ke dalam"
"Gak usah, aku aja.." tolak reni.
"Makasih" ucap reni sebelum berbalik.
"Berterima kasih lah sedikit benar iren, senyum sedikit tidak akan menghilangkan kecantikan mu.. aku suka melihat kamu tersenyum."
Reni berhenti. ini seperti bukan dirinya. kenapa dia harus tersenyum?
"iren nanti angkat telfon ku.." ucap rey membiarkan reni masuk ke arah apartemen nya.
Rey memutar kemudi menuju apartemen di seberang apartemen reni. dia nanti akan menghubungi orangtua reni.. dia jadi suka berbincang dengan ibu reni, sepertinya ibu reni yang paling paham betul keinginan rey. ibu reni sangat mendukung rey.
Sedangkan reni. juga sama. dia bersih bersih dan mengabari orangtuanya.
dia hendak tidur. tapi dia ingat tadi si tuan rey tuan pemaksa dan si tukang ancam itu menyuruhnya mengangkat telfon. padahal reni ingin tidur.
5 menit. belum ada.
Tak lama kemudian.
drrrt drrrt drrrt...
"Halo.."
"Halo iren, kamu udah ngabarin ibuk?" tanya rey. siapa sebenarnya di sini anak bapak sama ibuk? wkwkwk
"Udah mas" jawab reni malas.
"Besok ke kantor sama aku ya.." tawar rey
"Gak usah mas. aku bisa sendiri" tolak reni langsung. mana mau dia. dia mending naik ojol seperti biasa. dia tak mau merepotkan pria tampan tersebut.
"Gak papa iren, apartemen kita juga se arah" ujar rey lagi.
"aku naik ojek online mas." tolak reni tak kalah tegas.
Rey menghela nafas. dia harus pelan pelan membujuk reni.
"Yaudah, besok pulang kerja makan malam sama aku ya"
"Iya" jawab reni pasrah.
Reni tak ada bahan obrolan. hanya suara deru nafas masing masing yang terdengar.
__ADS_1
reni tanpa sadar tidur.. bahkan dia tak mendengar suara rey yang memanggilnya berkali kali.
"Selamat tidur, iren.. lunakkan sedikit hati mu untukku" gumam rey menutup panggilan dan ikut bergabung ke alam mimpi.
**********
Besok nya. benar saja. rey menagih makan malam bersama. untung di kantor tak ada lemburan.. reni mendapati rey sudah siap di depan apartemen nya.
"Ayo.. calon istri" ujar si calon bucin berikutnya.
Reni benar benar di perlakukan dengan baik oleh rey. hal itu yang membuat reni pelan pelan mulai yakin dan nyaman selama bersama rey.
"Suka gak?" tanya rey pelan
Reni mengangguk.
"Enak" jawab reni mengunyah makanan nya tanpa jaim.
"Kapan kapan aku ajak lagi, ada tempat makan di daerah sana.. kamu pasti suka" ujar rey.
reni mengangguk saja. hanya rey satu satu nya orang yang mau mengajak nya keluar begini. semua rekan dan teman nya lebih memilih menghindar karena melihat wajah reni yang tidak ramah
Setelah makan. dua sejoli itu hendak pulang. lagi lagi reni tak bisa menolak genggaman tangan hangat dan besar milik rey.
"iren.. aku akan dinas kerja ke kota Y. karena taun edward tak mungkin meninggalkan anak anak dan istrinya."
"Jadi, walaupun jauh, usahakan mengabari aku apapun itu. laporkan kamu kemana dan ngapain semua.. telfon aku kalau kamu udah gak sibuk yaa" pinta rey
"Aku ada kerjaan di sana.. kamu harus sering mengabari aku. kalau aku chat di balas, aku telfon di angkat ya sayang" ujar rey memanggil sayang
Reni hanya mengangguk. dia juga bingung kenapa dia mengangguk wkwk
"Mulai sekarang aku sudah mengikatmu jadi milikku. kamu belum mau menikah dengan ku kan, sekarang kita pacaran dulu.. setelah semua selesai aku akan datang lagi menemui bapak dan ibuk melamar mu" ujar rey serius.
reni bahkan sampai terpana mendengar ucapan rey. itu terdengar sangat manis di telinga.
"Kamu pacarku mulai sekarang, paham?"
Reni lagi lagi mengangguk.
rey tersenyum.. untung dia dapat bekal trik dari ibuk alias calon mertuanya.
Sampai mereka pulang kembali.
"Aku hanya sebentar, paling ,3 atau 4 hari lagi udah di sini.. kamu jangan keluar malam sendirian ya sayang" ucap rey
Hap!!
"Eh!" kaget reni tiba tiba karena rey memeluknya cukup erat.
"Ingat kabari aku.. " bisik rey mengecup pucuk kepala reni.
reni malu dan mengangguk. dia tak bisa lama lama di sana.
Rey tersenyum.. dia harus cepat bekerja di kota Y. makin lama, reni makin menggemaskan..
"Makasih mas" ujar reni pelan sebelum berbalik. dia tersenyum manis.. hampir membuat si bucin newbie pingsan. wkwkwkw
__ADS_1
Bucin.. level 3
BERSAMBUNG..........