
Hari berlalu, minggu berlalu bulan berlalu. tidak terasa mia dan edward sudah menjadi sepasang kekasih di bulan ke dua ini.
Sejauh ini hubungan mereka baik baik saja.
Mia dan edward yang fokus pada perusahaan masing masing.. bertemu jika di luar jam kantor.
Mia sudah memberitahukan pada papa dan mama tentang hubungannya dengan edward. Tentu juga kepada dua kakak nya. saat itu, kak zian sedang ada izin menginap. di situlah mia memberitahukan hal ini pertama kali.
Awalnya mereka kaget?
tapi tidak dengan zian dan alex. mereka sudah pernah berbincang dengan edward dulu. jadi walaupun pertama tidak menyangka secepat itu mia dan edward pacaran... tapi tidak apa apa, edward sepertinya bisa di percaya dan di andalkan.
"Kalian tidak marah?" tanya mia saat itu membuat mama dan papa tergelak,
"Sayang.. usiamu sudah 25 tahun dan itu wajar. yang penting kamu jaga diri dan selama kamu bahagia, papa dan mama akan mendukung" ujar mama elina lembut.
Mia sangat terharu di cintai begitu besar oleh mama.
mia memeluk mama di sampingnya.
"Makasih ma.. pa"
"Iya.. lagian, usia kalian sepertinya berjarak beberapa tahun, semoga dia bisa ngemong kamu dek.. kalau dia menyakitimu kakak yang akan mematahkan kakinya" ujar zian pura pura galak.
"Uuu jangan di patahin dong kak.. di slepet sedikit aja" ucap mia mempraktekkan.
"Makasih.." ucap mia tulus pada 4 orang kesayangannya.
"Tapi, apa tidak apa apa kak zian dan kak alex tetap jomblo padahal udah tua ma?" tuh kan keluar juga jahilnya.. mia selalu ingin menggoda kakak kakak nya.
Mama dan papa bisa apa? sudah sering mama dan papa bertanya apakah dua putra mereka itu sudah ada calon? kapan di kenalkan.. tapi tetap saja. hasilnya nihil. entah tidak ada atau belum ingin di kenalkan. hanya zian dan alex yang tau.
"Sombong banget sekarang karena udah punya pacar.. gitu ya sama kakak hem" alex menarik hidung mia.
"Lagian ganteng ganteng, mapan, gini masak gak ada pacar ya pa? nanti kalau ketuaan, kak zi dan kak al punya anak malah manggil kalian kakek.. ketuaan sih" ejek mia menjulurkan lidahnya merasa menang.
"Hahahahaha"
Mereka tertawa sedangkan alex dan zian mencebik.. memang usia mereka sudah cukup matang.
.
.
.
Hari ini adalah hari kerja. tapi edward sengaja mencari hari dimana mia tak ada kesibukan.
__ADS_1
Edward ingin membawa mia menemui kakeknya.. pasti kakek akan menyukai mia. seperti dirinya yang jatuh pada mia saat pertama melihatnya dulu.
"Kakak di bawah sayang" isi pesan edward saat menjemput mia. dia menjeput mia ke MW group, tapi tidak turun.. itu permintaan mia.. supaya kantor tidak ricuh karena pria tampan itu menarik perhatian banyak mata.
Mia berjalan keluar dari perusahaan.. david juga sudah tau hubungan mia dan edward, jadi david tak heran lagi.
bahkan david jadi lebih akrab dengan rey.. setelah mia dan edward mengonfirmasi hubungan mereka.
"Kak.. maaf nunggu lama" mia masuk ke samping kemudi. dia memasang seatbelt dan meletakkan tas.
"Kak kita bawa apa ya buat kakek? kakek suka roti atau kue kue gitu gak? apa beliin buah aja ya biar sehat? kakek suka buah apa kak?" tanya mia antusias.. dia ingin punya first impression yang baik di deoan keluarga edward.
Edward tersenyum senang melihat betapa antusias gadisnya.
edward mengelus rambut mia sekilas.
"Kakak udah siapkan buah sayang.. tidak usah khawatir" ucap alex menunjuk parcel dan buah tangan di kursi belakang. mia menengok.. oo iya.. edward sudah menyiapkan semua.
"Kita makan siang di rumah kakek ya.. kamu belum makan kan?" mia menggeleng.
Selama di perjalanan.. edward meyakinkan mia yang terlihat gugup. tangan mereka tak terlepas.
45 menit kemudian.
"Ayo sayang" edward membawa buah dan box di tangan kanan sedangkan tangan kirinya menggandeng mia.
"Kek.. ini mia pacar ed, mi.. ini kakek" edward mengenalkan mereka berdua yang terlihat canggung
"Mia kek.." mia dengan sopan menyalin dan mencium punggung tangan kakek.
"Anak nakal ini bahkan tak pernah berbuat manis begini" gerutu kakek protes pada edward.
.
"Ayo nak mia.. masuk, kakek sudah dengar banyak tentang mu dari anak nakal itu, tapi ternyata kamu jauh lebih cantik si banding cerita ed" kakek yang tidak pemilih bersosialisasi dengan mudah mecair dengan mia.
"Ah.. kakek terlalu memuji mia" jawab mia malu.
Mia memperhatikan rumah besar itu, sangat terawat.. padahal kakek sendiri dan sesekali edward berkunjung..
Mia yang merindukan kakeknya.. membayangkan pasti jika kakek masih hidup, saat ini usianya seperti kakek edward.
Mia sangat mudah mengambil hati kakek.. benar dugaan edward. senyum tulus dan tatapan mia yang apa adanya itu.. belum lagi ucapan mia kadang begitu lucu di telinga kakek.. membuat mereka sangat akrab.
"Apakah enak?" tanya kakek saat mereka menyantap makan siang.
"Enak kek" jawab mia tersenyum senang. pasti saja enak.. setau mia dari edward di rumah ini ada chef khusus.
__ADS_1
"Masakan mia lebih enak kek.." edward sengaja ingin mendekatkan kakek dan mia.
"Benarkah? ahh kakek penasaran"
"Kapan kapan mia masakin buat kakek yaa" jawab mia cepat. sifat kakek edward mirip dengan kakek mia.. ahh mia merindukan kakek.
Mereka makan dengan tenang. sesekali edward menatap mia.. memastikan gadisnya merasa nyaman..
Kakek menangkap lirikan edward, kakek bisa melihat bahwa ed sangat mencintai gadis ini.. dan mia juga. mereka pasangan yang manis di mata kakek..
kakek jadi ingat masa masa muda dulu bersama istrinya.
***
Setelah makan siang mereka pindah ke sofa untuk mengobrol. mia membawa buah yang sudah dia kupas untuk pencuci mulut mereka.
"Kakek tidak bosan?" mia yang sudah mulai biasa mengobrol dengan kakek.
"Kakek bisa apa? anak nakal itu tak mau menemui kakek" jawab kakek membuat edward tak terima di salahkan.
Mia menatap edward, seketika membuat edward kikuk.
"Bukan gak mau sayang.. kan kamu tau sendiri aku harus mengurus dua perusahaan, dan perjalanan kesini lebih jauh di banding apartemen" jawab edward langsung. padahal mia hanya menatap
Kakek hampir meledakkan tawa. dia bisa memastikan bahwa cucunya adalah bakal bakal suami takut istri. seperti dia dulu..
Kakek sangat menyukai mia.. kakek punya teman untuk menjahili dan mengganggu edward.. karna pawangnya sudah ketemu.
"Kakak kenapa gak ajak kakek ke aparemen aja?" tawar mia membuat edward mengacuhkan bahu
"Itu kakek yang menolak nak.. di rumah ini banyak kenangan dari istri kakek. Ini adalah tempat dimana edward di besarkan.. ini banyak memorynya" jawab kakek sendu.
"Kakek.. maaf.." ucap mia malah ikut sedih. dia tak tega melihat kakek sendirian. mia tanpa sadar malah memeluk kakek.. dia mengira kakek ini adalah kakeknya.
Tapi, kakek juga membalas pelukan mia.
"Mia dulu punya kakek.. tapi udah pergi jauh" ucap mia sendu.
"Sekarang kamu punya kakek lagi nak, kakek lebih suka cucu perempuan dari cucu laki laki.. susah di atur" canda kakek membuat mia terkekeh.
Mereka tertawa. kakek tertegun, entah kapan rasanya kakek melihat tawa lepas edward seperti ini.
Sepertinya mia membawa pengaruh besar buat edward.
"Kakek kalau bosan dan mia ada waktu kapan kapan mia kunjungi yaa" ucap mia lembut.
"Sama aku juga" ujar edward posesif.. dia tidak akan membiarkan mia sendirian. kakek mencebik ke arah edward.
__ADS_1
BERSAMBUNG....