
Seminggu berlalu. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Rumah yang berada di dekat rumah papa winata juga sudah kosong dan di renov.. sesuai permintaan ed.
Mia dan ed setelah menikah mungkin akan tinggal di sana.. lalu mereka akan mengunjungi kakek dan orangtua ed setiap weekend menginap di sana.
Orangtua ed dan kakek juga tak masalah.. lagian mereka juga bisa berkunjung ke kantor atau ke rumah mia dan calon besan mereka.. hubungan mereka sudah semakin akrab.
seperti hari ini.
Keluarga ed sedang bertamu ke keluarga mia.
Papa sengaja meminta alex dan zian pulang lebih cepat jika tidak ada pasien yang mendadak.
Di sinilah mereka semua. di ruang tamu dengan hidangan yang sudah mia dan mama siapkan dari sore.
Mia duduk di sebelah ed.
Perubahan yang paling menonjol dari mia semenjak dia masuk ke dalam keluarga winata selain kecantikan dan gaya nya yang semakin mewah dan elegan.. juga tingkat percaya diri mia meningkat.
Mia terlihat confident setelah mendapat banyak dukungan dari keluarga kesayangannya.
"Calon besan.. maaf kami malam malam datang baru mengabari tadi sore" papa wiguna memulai perbincangan antara mereka
"Ah santai saja calon besan, kami juga semua di rumah tidak sibuk" jawab papa tertawa.
"Jadi begini pa.. edward bersama keluarga di sini mau membahas kelanjutan pertunangan kami.. ed ingin segera menikahi mia secepatnya" ed mengutarakan maksud kedatangannya dengan lancar.
"Ck.. dasar bucin.." siapa lagi yang tidak bisa tidak menjahili ex kalau bukan kakek.
Mereka tersenyum melihat wajah ed kesal pada kakek.
"Seperti nya anak muda zaman sekarang punya semangat tinggi " papa wiguna mencandai putranya.
"Namanya juga anak muda"
"Papa sebenarnya tidak masalah.. semua ada di tangan putri kami. biar mia yang menentukan.. selama mia bahagia kami juga bahagia" mia berkaca kaca memandang papa winata.
Mama juga sebenarnya masih belum rela melepas putrinya.. tapi mama juga tidak mau egois . apalagi ed sudah menjanjikan akan tinggal di samping rumah mereka. jadi mereka hanya beberapa langkah saja jaraknya.
"Sayang.. kamu mau kan kita mempercepat pernikahan kita. aku sudah mengurus semua kamu tenang aja, kamu cuma perlu duduk diam" ucap ed polos.
plak
mia menepuk pelan lengan ed, apa apaan tunangannya itu. hanya duduk diam? kan mia juga ingin mengurus keperluan seperti baju dan resepsi mereka.. hish menyebalkan.
Mia melihat kesungguhan ed dari menyiapkan rumah yang dulu dia janjikan.. juga mia sudah berbincang dengan kakek san orangtua ed. mereka setuju setuju saja.
"Mia menatap keluarga nya satu persatu.. ternyata berat sekali. kak zian dan kak al yang duduk di samping kiri mia tampak tersenyum.. walaupun di hati mereka merasa sedih, karna baru saja mereka menghabiskan waktu bersama.
Mia menatap mama dan papa.. mereka mengangguk.
__ADS_1
"Mia ikut aja kak.. " jawab mia pada akhirnya membuat ed lega.
"Kamu punya konsep pernikahan impian mi?" tanya ed lagi membuat mia berfikir.
"mmm.. aku ingin yang mengantar aku ke altar adalah papa, kak alex dan kak zian.." ucap mia malu malu. karna biasanya yang mengantar hanya satu.
mereka tersenyum melihat mia yang malu malu.
"Tentu saja.." jawab papa di angguki oleh alex dan zian tersenyum.
"Ada lagi mi?" tanya ed melihat mia seperti bimbang..
mia menatap papa dan mama elina. dia mengigit bibir.
"boleh kah mengundang keluarga atmaja? bukan sebagai wali mia.. mia sudah punya semua di sini. hanya sebagai tamu saja.. mia ingin menghargai mendiang mama dan mendiang kakek yang meninggalkan aku di sana" ucap mia lirih..
Dia takut papa winata dan mama elina tersinggung. mia meremas jemarinya di bawah.
"Tapi kalau gak boleh, mia gak apa apa.." tambah mia lagi. dia merasa tak tau dirj jika terlalu banyak meminta kepada papa dan mama.
Papa dan mama saling melirik.. mereka tersenyum.
Mama langsung mendekati mia dan memeluknya.
"Siapa yang bilang tidak boleh sayang.. tentu saja boleh. selama mereka tidak membuat hari bahagia putri mama rusak" ucap mama elina membuat mia senang..
"Mama tidak marah?" tanya mia polos.
"Tidak.. mama sangat bangga, putri mama bahkan berhati besar.. masih berlapang dada menerima kehadiran orang yang melukai nya" jawab mama lembut.
Papa mengangguk dan tersenyum pada mia.
"Kita akan mengundang mereka.. papa juga senang kalau kamu mau menerima masa lalu itu dan melupakannya." ucap papa menimpali
"Mia tetap putri papa sama mama.. mereka hanya tamu aja. yaa?" ucap mia dengan wajah polos.
"Memang kamu putri mama elina.. emang putri siapa lagi dek" alex menarik hidung mia gemas. adiknya ini selalu bisa membuat hati mereka campur aduk.
"Iya.. kan mia putri mama elina" ulang mia tersenyum senang.. dia tak punya beban apa lagi. dia sudah berusaha berdamai dengan masa lalu.. dan memaafkan pamannya.. dia ingin hidup baru.
Akhirnya mereka membahas tentang apa yang perlu di siapkan. juga mahar yang masih di rahasiakan.
Saat perbincangan semakin santai.. mereka menyantap hidangan yang tersedia.
"Tapi, kasian banget ya ma kak zian dan kak alex.. masa mia nikah mereka gak ada gandengan" mia seakan tak mau kakak kakak nya lepas dari kejahilannya.
Zian mendelik pada mia.
"Sombong banget yang mau nikah"
"Iya dong.." mia bersandar manja pada ed sambil menjulurkan lidah pada kak zian.
__ADS_1
"Ssst.. ga boleh gitu" ucap ed pelan pada calon istrinya.
"Enak banget nanti rumah jadi luas.. setelah kamu nikah dek.. ahh lega" ujar alex balik menjahili mia.
mia cemberut pada kakak kakak nya.
"Kan mia sering main kesini kan ma?? kan tetangga kita.. tetangga 5 langkah.. iya kan ma" mia cari pembelaan menoel noel lengan mama yang sedang tertawa bersama mama ed.
"Maaf ya jeng, mereka memang selalu ribut hal sepele begini" mama elina tak enak pada calon besannya.
"Tidak apa apa jeng.. bahkan pasti seru.. ramai begini" mama ed begitu terhibur di sini. ada ada saja keributan dari kakak kakak mia.
"Pokoknya nanti di pintu depan ditulis yang baru nikah di larang masuk" zian mengkompori.
"Harusnya yang jomblo di larang masuk.."
"Dokter jomblo bau obat di larang masuk"
"Tentara jomblo tukang bolos di larang masuk" mia tertawa membalas ucapan zian dan alex.
"Anak nakal.." zian mendekat ingin menjewer mai. tapi mia langsung melepas genggaman ed, dia langsung berlari ke dapur. di ikuti zian dari belakang.
"Hahahaah" suara tawa mia dan zian menggelegar di ruangan
"Ampun kak ampun hahah"
"Kak al.. bantuin mia hahaha ampun" suara dari belakang masih terdengar.
Alex menyesal minumnya sedikit.
"Misi penyelamatan datang" alex berlari ke dapur..
"Maaf ya calon besan.. mereka memang sudah dewasa tapi seperti itu kalau bertemu, suka jahil.. kalau jahil saling rindu" ucap mama tak enak.
papa dan mama ed serta kakek hanya tertawa mendengar suara tertawa dari belakang sana.
Mereka tertawa di sana melihat 3 orang bersaudara yang masih suka ribut itu. tali tidak dengan ed. dia cemburu..
iya.. ed si tuan posesif dan bucin itu sedang cemburu. karena mia begitu dekat dengan pria lain selain dirinya.. iya walaupun mereka kakak kakak nya tapi tetap saja ed tidak suka. mia hanya boleh dekat dengannya.
Setelah lelah.. mia berjalan dengan nafas ngos ngosan. di sampingnya ada alex dan zian yang kondisinya sama.. lelah.
Ed langsung menarik mia duduk di sebelahnya.
ed menatap tajam pada mia.
"Dasar bucin.." ejek kakek yang melihat ed dari tadi menahan sesuatu. dia tau sifat cucunya bagaiman.
"Kita menikah minggu depan" putus ed membuat mereka saling pandang.
"Besok kita fitting baju.. " mia masih kaget.
__ADS_1
yang lain diam diam menahan senyum.. seolah paham. bahwa tuan muda dingin dan kejam itu sedang cemburu.
BERSAMBUNG....