
Cek umur, hanya untuk 21+. Di bawah umur mohon skip saja. Aku tak mau mencemari otak suci kalian. Karena ini adegan pemersatu bangsa.
...........
“Kisah yang menyedihkan,” komentar Danesh pada cerita istrinya.
“Sangat.”
“Sudah, jangan sedih. Kita doakan saja, semoga dia akan mendapatkan kebahagiaan.” Danesh kembali menghapus air mata Felly yang terus saja mengalir.
“Semoga dia segera bertemu dengan mantan kekasihnya itu, dan bisa hidup bahagia sebelum Tuhan menjemput,” doa Felly sungguh-sungguh.
“Amin,” balas Danesh lembut dan tulus. “Sudah, ayo makan lagi,” titahnya kemudian.
Felly kembali melahap sushinya, ternyata makanan dengan harga murah juga tak terlalu buruk rasanya.
Mata Danesh terus memandangi istrinya. Ia sedang memastikan sesuatu pada Felly. Ia ingin menetapkan di mana letak istrinya itu di hatinya.
Saat Felly memasukkan sushi ke dalam mulut, namun tak langsung satu rol memenuhi mulut, melainkan ada bagian sushi yang di luar, Danesh mengangkat pantatnya dari kursi dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menggigit bagian sushi yang di luar mulut hingga bibir keduanya bersentuhan.
Tangan Danesh memegang dadanya. Ia ingin memastikan perasaannya dengan cara itu.
Felly yang terkejut dengan ciuman dadakan itu pun membulatkan matanya, hingga kedua matanya saling bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
Danesh bukannya menjauhkan kepalanya saat tertangkap basah, dia justru memegang kepala istrinya agar tak bergerak dan lidahnya mencoba menerobos masuk ke dalam rongga mulut istrinya yang masih ada sedikit sisa sushi yang belum tertelan semuanya.
Felly tak melewatkannya. Ia juga membalas hal yang sama. Mungkin ini kesempatan untuknya mencoba merayu hati suaminya.
Pagutan itu bukannya kian dingin, justru kian memanas saja. Hasrat terpendam itu kian menggebu dan meronta.
Kedua mata itu saling terpejam dan menikmati sensasi nikmatnya bibir berasa sushi. Saliva keduanya jadi terasa lebih nikmat.
Danesh perlahan menggerakkan kakinya untuk semakin mendekati istrinya, namun ia tetap tak melepaskan pagutannya.
Sesuatu yang mengkerut di balik jeans itu sudah meronta dan kian membesar menjadi cacing besar alaska yang siap mencari gua untuk persembunyiannya.
Tangan kekar itu tak tinggal diam, bergerilya kemana-mana. Memberikan sentuhan sensual istrinya, mulai dari leher, buah yang sangat menantang dan menawan untuk disesap, bahkan dengan beraninya memasuki hingga balik kain tipis yang menutupi bagian bawah istrinya.
Danesh melepaskan pagutannya setelah pasokan udara semakin berkurang. Ia memegang kepala istrinya, menempelkan keningnya di kening Felly, dan kedua matanya saling bertemu dengan istrinya. Napas keduanya pun saling terengah-engah.
“Aku ingin menjenguk anak-anakku, apa boleh? Tapi aku takut menyakitimu,” izin Danesh dengan suara parau.
Felly bisa merasakan jika darah suaminya sudah mendidih, sekujur tubuh Danesh terasa panas saat tangannya menyentuh wajah suaminya. “Aku milikmu.”
Merasa mendapatkan persetujuan, Danesh menyingkirkan semua barang-barang yang ada di atas meja.
Tangan Danesh membopong tubuh istrinya dan ia dudukkan di atas meja. Perlahan namun pasti, ia kembali menyatukan bibir itu dan berperang lagi menikmati saliva rasa sushi.
__ADS_1
Kain yang membalut tubuh Felly pun perlahan mulai berserakan di lantai karena Danesh membuka dan membuang asal. Hingga polos dan perut buncit itu terlihat jelas.
Danesh menjauhkan tubuhnya terlebih dahulu untuk memandangi ciptaan Tuhan yang menggairahkan dan bisa membuatnya nikmat. Matanya kian mendambakan penyatuan yang sudah lama tak pernah ia lakukan.
Pria bule itu juga tak mau kalah polos, ia melucuti satu demi satu helaian benang di tubuhnya.
Danesh kembali mendekati istrinya yang masih duduk di atas meja dengan pipinya yang merona malu.
Jika malam pertama mereka saat di hotel tak membuat Felly malu karena dirinya tengah mabuk, lain hal dengan saat ini yang sadar. Namun ia tak akan menolak, mungkin dengan ini bisa membuat Danesh mulai mencintainya dan melupakan mantan kekasih yang sudah lama tak datang ke kehidupan suaminya itu.
Danesh maju satu langkah mengikis jarak. Ia sedikit membungkuk untuk mencium tepat di perut buncit istrinya. “Daddy datang, Sayang,” ujarnya seolah memberitahukan pada anak-anaknya ia akan menjenguk.
Danesh pun mulai memposisikan tubuh istrinya agar nyaman dan tak membuat wanita itu kesakitan. Ia mulai menaikkan kedua kaki istrinya dan membuka lebar-lebar sebagai jalan cacing besar alaskanya masuk ke gua.
Pria bule itu memberikan sentuhan-sentuhan lembut menggunakan tangan dan juga bibirnya hingga suara-suara erotis lolos dari bibir mungil itu.
Keduanya pun mulai melakukan penyatuan saat Felly sudah basah dan juga mendambakan lebih.
Danesh sangat lembut dan hati-hati dalam melakukan hentakan. Ia tak menyakiti sedikit pun, dan keduanya menikmati sensasi yang ah ... mantap.
...........
...Bonus pemersatu bangsa untuk part 100. Mari kita ngopi di taman bunga bersama-sama. Taulah maksudnya, hehehe. Seperti biasa, kopi atau bunganya kakak. Muah ......
__ADS_1