Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 82


__ADS_3

Keesokan harinya, jadwal Felly untuk penerbangan ke Jepang pun tiba. Danesh sungguh menepati ucapannya untuk mengizinkan istrinya mengurus kembali perusahaan Excelent Group milik keluarga Wilson. Setelah dua minggu lebih sedikit, Felly tak bekerja, ia langsung dihadapkan dengan bepergian ke luar negeri dan harus berpisah dengan suaminya untuk sementara waktu.


Danesh mengantarkan istrinya hingga ke bandara menggunakan sepeda motornya yang belum lunas.


Felly sedari sampai di bandara tak pernah lepas dari suaminya. Bahkan ia kini berani terang-terangan memeluk Danesh.


“Kenapa kau tak ikut? Ayo kita ke Jepang sama-sama. Sekalian kita bulan madu di sana,” rengek Felly dengan tangannya yang melingkar di leher suaminya.


Keduanya kini tengah duduk sembari menunggu Stefany yang baru pagi tadi Felly tarik kembali ke perusahaan. Ia baru tahu jika sekretaris kepercayaannya dipecat oleh Papanya.


Danesh membalas pelukan Felly dengan penuh kasih. Tangannya memberi usapan lembut di punggung istrinya itu. “Tak bisa, coffee shop siapa yang mengurus jika aku ikut denganmu?” tolaknya lembut.


Felly semakin membenamkan wajahnya di pudak suaminya. Ia menangis sedih, ada perasaan tak rela berpisah dengan Danesh. Padahal ia sadar jika nantinya mereka tetap akan berpisah. Namun untuk sekarang, ia ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama Danesh dengan kenangan indah. “Bagaimana jika anak-anakmu rindu denganmu?”


Danesh terkekeh. “Yang rindu anak-anakku atau mommynya?” godanya dengan tangannya yang kini membelai rambut Felly.


“Mommynya,” celetuk Felly jujur. Tangannya semakin erat saja memeluk.


Bibir Danesh perlahan namun pasti, mengecup berkali-kali puncak kepala Felly. “Kita bisa video call. Lagi pula, hanya tiga hari kau di Jepang.”

__ADS_1


“Ehem ....” Ada suara deheman dari balik kursi tunggu yang sepasang suami istri itu duduki. Menggangu kemesraan Felly dan Danesh saja.


Ternyata Stefany sang pengacaunya. Peluk memeluk itu pun harus berakhir, padahal Felly masih sangat ingin mendekap tubuh Danesh.


“Maaf, Nona. Nona Felly terlalu mendadak menghubungiku, sehingga aku terlambat. Tapi aku turut senang Nona Felly kembali mengurus perusahaan, jadi aku tak lagi menganggur dan kesusahan mencari pekerjaan lagi,” ujar Stefany. Ia pun menyengir kuda pada atasannya itu. Merasa bersalah juga sudah menggangu.


Danesh dan Felly pun berdiri bersamaan. Keduanya saling berhadapan. Danesh menghapus air mata Felly. “Jangan sedih, ini kan pilihanmu sendiri yang menginginkan kembali memimpin perusahaan keluargamu.”


Felly mengangguk. “Aku tak sedih, hanya takut merindukanmu saja.”


Danesh kembali membawa istrinya ke dalam dekapannya. “Kembalilah dengan selamat, sebab ada orang yang sedang menunggumu untuk kembali,” ujarnya. Lalu menyempatkan mencium puncak kepala istrinya lagi. Ia pun melepaskan pelukannya. “Pergilah, jangan lupa periksa kandunganmu sampai sana. Pastikan anak-anakku baik-baik saja dan tetap sehat,” pintanya lembut.


Felly pun mendongakkan kepalanya. “Menunduklah,” perintahnya.


Danesh pun menuruti istrinya, dan kedua wajah mereka saling berhadapan.


Cup


Dengan berani, Felly mengecup bibir suaminya sekilas. “Aku pergi sekarang,” pamitnya. Tanpa menunggu suaminya memberikan izin, ia langsung berjalan mendekati Stefany. Saat ini wajahnya sedang merona malu.

__ADS_1


Danesh menatap kepergian istrinya, ia menggelengkan kepala dengan bibirnya yang tersenyum. “Istriku yang menggemaskan,” gumamnya. Ia menunggu hingga istrinya masuk ke dalam pesawat pribadi keluarga Wilson.


...........


Sesampainya di Jepang, Felly sungguh berniat mengecek kandungannya sesuai perintah Danesh. Ia ditemani dengan Stefany langsung menuju The University of Tokyo Hospital.


“Nona duduk di sana saja, ya? Biar aku yang menunggu antrian. Di sini terlalu ramai orang,” bujuk Stefany menunjuk sebuah taman. “Di sana udaranya lebih segar daripada di sini,” imbuhnya.


“Kau tak masalah menunggu sendiri?” tanya Felly dan dijawab anggukan oleh Stefany.


Felly pun membiarkan Stefany menunggu sendirian. Ia mengayunkan kakinya menuju sebuah taman yang indah di dalam area rumah sakit itu.


“Boleh aku duduk di sini?” izinnya pada dua orang wanita. Satu wanita berusia kurang lebih seumuran dengan Mamanya, dan satunya lagi wanita muda dengan kursi roda yang sepertinya seumuran dengannya.


Kedua wanita itu pun mengangguk mengizinkan.


Felly tersenyum ramah dan duduk di kursi kosong samping wanita itu. Ia menikmati suasananya yang tenang.


“Vio, Mommy ke toilet sebentar. Kau tunggu di sini, ya. Jangan pergi kemanapun,” izin wanita paruh baya itu, tak lupa juga memberikan peringatan pada putrinya yang sepertinya sedang sakit.

__ADS_1


__ADS_2