Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 161


__ADS_3

Satu bulan berlalu, selama kurun waktu itu Danesh berada di Indonesia untuk mengurus istri dan kedua anaknya di apartemen mereka. Ia tak memikirkan Violet, toh sudah ada Dokter yang menangani di sana. Ia sesekali menanyakan perkembangan kesehatan mantan kekasihnya itu pada Dokter yang ia tugaskan, itu pun karena istrinya yang meminta.


Dua bayi itu mulai aktif menggerakkan tangan dan kaki. Badan bayi-bayi itu mulai sedikit berisi karena asupan nutrisi dari ASI. Daddynya sudah tak bisa lagi ikutan menikmati dua benda kenyal milik Mommy Felly itu, sebab sekarang menjadi hak milik baby kembar.


Danesh memberikan nama anak perempuannya Annora Gemala Dominique artinya cahaya kembar keluarga Dominique. Sedangkan untuk anak laki-laki ia beri nama Agathias Gemala Dominique dengan maksud mendoakan agar anak kembarnya yang memiliki tonjolan di area bawah itu akan berkelakuan baik, tidak seperti Daddynya dimasa lalu.


Danesh tak memberikan nama kepada anak-anaknya dengan Triple D seperti dirinya. Sebab, ia tak ingin dinilai tak kreatif hanya menggunakan satu inisial huruf saja diantara dua puluh enam huruf yang ada.


“Besok kita ke Finlandia. Aku sudah mengurus semua dokumen pindahmu. Aku juga akan mengurus pemindahan kewarganegaraanmu,” ujar Danesh saat ia berhasil membuat Annora tertidur dengan menggendongnya. Ia menatap istrinya yang tengah memberikan asupan nutrisi kepada Agathias.

__ADS_1


“Secepat itu? Anak-anak masih sangat kecil. Bahkan bekas jahitanku juga terkadang masih sakit,” protes Felly.


“Aku tak bisa berlama-lama di sini, pekerjaanku di sana banyak. Kau tahu sendiri apa pekerjaanku sebenarnya. Jika kau terus berada di Indonesia, aku akan sulit merawat kalian,” jelas Danesh seraya perlahan dirinya merebahkan Annora ke atas tempat tidur. “Apa kau tak ingin tinggal bersamaku?” tanyanya kemudian.


“Bukan, maksudku tak seperti itu. Aku mau pindah ke negaramu. Tapi, apa Dokter sudah memberikan izin untuk aku dan anak-anak bepergian jauh?” Felly balik bertanya. Ia menggeserkan posisi tidur Agathias ke samping Annora setelah putranya tak menyesap nutrisi darinya lagi dan kelopak mungil itu pun sudah terpejam.


“Aku akan membawa Dokter dari sini untuk berjaga-jaga di dalam pesawat jika kalian kenapa-kenapa. Tenang saja, aku akan memberikan dia kompensasi dan akan ku pulangkan lagi ke sini,” jawab Danesh tanpa mengalihkan pandangannya dari istrinya.


“Kenapa kau selalu berpikiran negatif denganku, hm? Aku tak mungkin melepasmu, aku juga tak ingin memisahkan dirimu dengan anak-anak. Apa lagi dengan diriku.” Kecupan sekilas Felly berikan di pipi Danesh.

__ADS_1


Danesh menumpuk tangannya dengan milik istrinya yang berada di perutnya. Ia mengelusnya lembut dan kepalanya menengok ke kanan untuk bersitatap dengan Felly. “Karena kau selalu memintaku sesuatu hal yang sangat aneh dan bisa melukai hatiku, hatimu, dan anak-anak.”


“Itu dulu karena aku ingin membagikan sedikit kebahagiaan pada mantanmu, dan itu pun sebagai bentuk tanggung jawabku karena akulah yang membuat dirinya ingin kembali denganmu. Aku sudah mengomporinya saat pertama kali bertemu di Jepang.” Felly semakin mengeratkan pelukannya.


“Tapi, sekarang sudah cukup. Sepertinya aku sudah memberikan dia ruang untuk merasakan kebahagiaan. Aku ingin kita mengungkap bersama hubungan kita ini di depan Violet. Namun, tunggu kondisinya membaik dulu. Aku tetap tak tega mengatakan ini saat kondisinya belum membaik,” imbuh Felly.


“Akhirnya kau setuju juga untuk menyampaikan kebenaran.” Tangan Danesh terangkat untuk mengelus kepala istrinya. “Kita tak boleh terus-terusan berbohong. Lebih baik jujur meskipun itu menyakitkan, tapi dia tetap harus menerima ini. Konsekuensi dari pilihannya yang meninggalkanku,” balasnya.


“Kau ternyata pendendam.” Felly menggigit punggung suaminya sendiri.

__ADS_1


“Aw ... kau mulai nakal, ya?” Danesh melepaskan tangan Felly yang melingkar di tubuhnya. Ia membalikkan badannya dan merebahkan istrinya di samping anak-anak yang pulas. Matanya intens menatap manik cokelat itu dengan tangannya yang mengunci kedua tangan Felly.


“Jika kau sudah boleh ku terkam lagi, pasti sudah aku lakukan. Tapi sayangnya, Dokter belum mengizinkannya,” keluh Danesh yang tak sabar ingin kembali membuncahkan lahar putih. Dan ia hanya bisa menyatukan bibir dengan sang istri tercinta, menyalurkan rasa cinta satu sama lain.


__ADS_2