Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 101


__ADS_3

Acara bertempur dan jenguk menjenguk anak pun dilakukan lebih dari satu kali hingga keduanya terkulai lemas bersama di atas ranjang yang sempit, hanya berukuran seratus dua puluh centi meter kali dua meter.


Cacing besar alaska milik Danesh ternyata begitu menyukai gua barunya hingga tak ingin keluar dari sarangnya itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, Felly dan Danesh baru saja membuka matanya bersamaan dengan tubuh keduanya yang masih polos, hanya dibalut oleh selimut yang tak seberapa tebal itu.


Danesh memeluk tubuh istrinya dari belakang, hembusan napas pria bule itu pun bisa dirasakan mengenai tengkuk Felly.


Tubuh Felly menggelinjang geli merasakan sapuan dari napas suaminya. “Sudah, aku ingin bekerja. Sudah terlambat dua jam aku.” Ia mencoba mengurai tangan Danesh yang masih menempel di atas perutnya.


“Sebentar.” Danesh tak membiarkan Felly pergi. Ia semakin mengeratkan pelukannya, memejamkan kembali matanya, dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang semalam bercucuran peluh kenikmatan.


Danesh mengecup tenguk istrinya sekilas sebelum ia menjauhkan tangannya dari perut istrinya.


“Mau mandi, kan?” tanya Danesh. Dijawab anggukan oleh Felly.

__ADS_1


Pria bule itu pun menggendong istrinya ala bridal style.


Tentu saja Felly tak memberontak, tubuhnya memang sedikit pegal. Ia justru melingkarkan tangan di leher suaminya dengan senyumnya yang tak pernah pudar.


Untung saja unit apartemen itu hanya dihuni oleh kedua manusia yang masih polos tanpa sehelai benang. Jadi tak akan ada orang yang melihat cancing besar alaska yang sedang mengkerut dan menjelma menjadi cacing tanah itu sedikit bergerak ke sana ke mari seirama dengan hentakan kaki sang empunya.


“Aku sudah memasang heater dan shower saat kau ke Jepang. Jadi, sekarang tak perlu repot lagi untuk mandi air hangat,” jelas Danesh setelah menurunkan istrinya di dalam kamar mandi. “Kau mandilah dulu, aku setelahmu.” Ia hendak keluar kembali.


Namun Felly mencegahnya. “Kita mandi berdua saja,” ajaknya frontal.


Danesh memutar tubuhnya dan menaikkan sebelah alisnya.


“Tak apa?” tanya Danesh.


Felly mengangguk seraya bibirnya berucap, “tentu saja, bukankah kita sudah saling melihat dan merasakan satu sama lain.”

__ADS_1


“Baiklah.” Danesh pun kembali lagi mendekati istrinya. Ia juga harus membuka coffee shopnya.


Keduanya pun mandi bersama di bawah guyuran air shower, tanpa melakukan yang mantap-mantap. Akan lama jadinya dan keduanya pasti berujung bolos bekerja jika olahraga semalam dilanjutkan lagi.


...........


Motor matic yang dikendarai oleh Danesh pun berhenti tepat di depan gedung Excelent Group. Felly sungguh tak malu diantarkan oleh suaminya menggunakan kendaraan roda dua yang sederhana dan dibayar mencicil pula.


“Nanti tak perlu menjemputku, biar aku diantar oleh supir di kantor ke coffee shopmu,” tutur Felly saat Danesh membukakan pengait helmnya.


“Iya,” jawab Danesh singkat. Ia melepaskan benda yang tak bulat sempurna itu dari kepala istrinya.


“Jangan terlalu lelah bekerja, istirahat saja jika sudah merasa tak enak. Jangan terlalu memaksakan kondisi, daripada aku larang kau untuk bekerja lagi,” omel Danesh sangat posesif dengan istrinya. Tangannya mengelus pipi istrinya dengan lembut.


“Siap, Suami buleku. Kau juga semangat mencari uang, semoga hari ini semakin ramai dan kau bisa membuka cabang,” balas Felly.

__ADS_1


...........


...Yang gatau cacing besar alaska, cari aja di google....


__ADS_2