Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 145


__ADS_3

Tanpa Felly ketahui, keluarga suaminya sudah mengetahui semua yang terjadi antara Felly, Danesh, dan Violet. Namun mereka tak bisa ikut campur terlalu dalam ke urusan rumah tangga Danesh. Hanya bisa menasehati jika diperlukan, tetap pengambil keputusan terbesar berada di tangan Felly dan Danesh.


“Aku juga ingin berpamitan kepada kalian. Hari ini aku akan pulang ke Indonesia.”


Ucapan itu berhasil menghentikan ketiga adik iparnya makan. “Secepat itu?” tanya mereka terkejut.


Felly mengangguk. “Iya, aku juga ada pekerjaan di sana. Aku tak bisa meninggalkan terlalu lama,” balasnya.


Deavenny bangkit dari duduknya dan memeluk kakak iparnya. “Kenapa secepat ini? Jam berapa kau akan pulang?”


Felly membalas pelukan adik iparnya itu. “Tiket penerbanganku jam sepuluh pagi ini.”


“What?!” pekik Deavenny. Ia melepaskan pelukannya dan tangannya berganti memegang kedua bahu Felly. “Dua jam lagi dari sekarang? Mengapa secepat itu kau pergi? Kita belum sempat jalan-jalan di Jepang, belum wisata kuliner, belum berbelanja. Ah ... tak asik,” keluhnya.


Justru membuat Felly terkekeh dengan tingkah polos adik iparnya. “Kita bisa bermain bersama kapan-kapan,” balasnya.


Deavenny kembali memeluk Felly. “Aaa ... aku pasti akan merindukanmu. Cepatlah selesaikan masalah kalian.”


“Mommy ikut,” rengek Mommy Diora langsung berjalan cepat memeluk menantu dan putrinya. “Jangan terlalu lama pergi dari Danesh, Mommy takut dia akan menggila lagi,” pintanya pada Felly.


Felly sangat terharu mendapatkan suami dengan keluarga yang sangat baik dan langsung menerimanya. Bahkan menyayanginya selayaknya saudara kandung.

__ADS_1


“Aku harus pergi sekarang, perjalanan menuju Haneda Airport lumayan memakan waktu. Aku takut ketinggalan pesawat,” pamit Felly dengan sopan dan halus.


“Mau kita antar?” tawar Dariush yang masih setia duduk dengan makanan yang sudah habis semua.


Felly menggelengkan kepalanya pada Dariush. “Tak perlu. Terima kasih atas sambutan baik kalian padaku,” tuturnya.


“Hati-hati, dan datanglah ke Finlandia kapan pun kau mau. Rumahku terbuka lebar untuk menyambutmu,” ucap Daddy Davis pada menantunya.


Felly keluar dari ruang rawat mertuanya itu. Ia menatap sekitar mencari suaminya namun tak menemukan batang hidungnya.


Wanita berdarah Asia itu pun memilih kembali ke ruangannya untuk mengemasi barang-barangnya. Ia duduk sebentar menunggu Danesh kembali. Ia melihat jam di dinding yang terus memutarkan jarum.


Sepuluh menit berlalu, Danesh tak juga datang dan ponsel pun suaminya tak bawa. Perjalanan menuju Haneda Airport pun membutuhkan waktu lima puluh lima menit jika jalanan normal.


Felly memutuskan untuk pergi ke bandara tanpa menunggu suaminya. Ia akan mengabari suaminya nanti melalui pesan atau telepon.


Dengan menenteng tas kecilnya, Felly mengayunkan kaki menuju jalan raya dan memberhentikan taksi untuk mengantar dirinya ke Haneda Airport.


“Selamat tinggal cintaku. Bersabarlah untuk sementara waktu,” gumam Felly menatap rumah sakit dari balik jendela taksi yang ia tumpangi.


Sementara itu, Danesh sudah mulai tenang pikirannya setelah menghabiskan rokoknya. Ia keluar dari area rumah sakit untuk membeli nikotin tersebut dan menyesapnya.

__ADS_1


Pria bertubuh kekar itu kembali ke ruangan Mommynya untuk menemui istrinya lagi.


“Di mana istriku?” tanya Danesh dengan wajah datarnya. Ia tak mendapati Felly di sana.


“Lah ... ku kira Felly pergi ke bandara di antar olehmu,” celetuk Delavar.


“Bandara?” Danesh mengernyitkan keningnya.


“Iya, Felly pulang ke Indonesia hari ini. Penerbangannya jam sepuluh pagi,” balas Deavenny memberitahu.


“What?” pekik Danesh terkejut. “Bagaimana bisa aku tak tahu?”


“Cepat kau susul dia ke bandara. Kemungkinan kau masih bisa bertemu dengannya jika kau berangkat sekarang dan jalanan tak macet,” tutur Dariush memperhitungkan jam dan waktu yang ditempuh menuju Haneda Airport.


“Shit!” umpat Danesh dengan emosi. Ia mengacak-acak rambutnya kasar. “Aku pergi dulu,” pamitnya.


“Gunakan ini.” Daddy Davis melempar kunci mobil yang ia pinjam untuk transportasi selama di Jepang kepada Danesh.


...........


...Tiap hari aku ngajakin kalian ngopi di taman bunga, sakit ga tu lambungnya ngopi mulu? Wkwkwk...

__ADS_1


__ADS_2