
Fenny baru saja selesai jogging. Lebih lepatnya hanya keluar dengan style seperti itu, tapi ia tak lari melainkan jalan santai dan lebih banyak untuk berfoto untuk diupload ke medsosnya. Agar terlihat seperti hidup sehat selayaknya teman-temannya yang selalu memposting foto tengah berolahraga. Dirinya tak boleh kalah. Jika masalah sombong menyombong, dirinya harus nomor satu.
Fenny duduk kursi taman depan rumah utama. Ia melihat Danesh dari sana.
“Heh, kau, pria miskin.” Fenny memanggil Danesh yang saat ini sedang mencuci mobil milik Tuan Besar Rey yang berjumlah sepuluh.
“Apa?”
“Ke sini.” Fenny meminta dengan angkuh agar Danesh mendekat.
Danesh meletakkan sponge ke dalam ember. Kakinya mengayun menuju adik iparnya.
“Ambilkan aku kopi hitam tanpa gula, tapi berikan garam satu sendok makan ditambah perasan jeruk nipis di dalamnya,” titahnya sangat aneh.
Danesh mencium bau-bau tak enak dari permintaan Fenny. “Apa kau tak bisa meminta yang normal?”
“Heh! Pelayan, menurut saja dengan majikannya. Atau, aku akan adukan pada Papaku jika kau tak menuruti perintahku,” ancam Fenny sungguh-sungguh.
“Awas saja jika tak kau minum.” Danesh hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah melalui pintu garasi. Namun Fenny kembali memanggil.
“Apa lagi?”
__ADS_1
“Tambahkan telur mentah juga di dalamnya,” imbuh Fenny.
“Gila ...,” cibir Danesh. Ia melanjutkan jalannya menuju dapur kotor khusus untuk memasak yang letaknya berada di dekat garasi.
...........
“Ini.” Danesh menyodorkan gelas berisi semua yang diminta oleh Fenny.
Fenny mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Ia memasukkan sebuah serbuk yang entah apa itu ke dalam gelas yang dipegang oleh Danesh. “Minumlah,” perintah Fenny. Bibirnya tersenyum sinis pada Danesh.
“Kau yang memintanya, kau juga yang seharusnya minum,” sergah Danesh. Ia meletakkan gelas yang ia bawa ke bagian kursi yang kosong di samping Fenny.
“Di sini aku majikannya, kau harus menuruti perintahku!” seru Fenny dengan sombongnya.
“Aku adukan Papaku jika kau tak meminumnya,” ancam Fenny.
“Silahkan.” Danesh tak peduli, minuman itu sangat menjijikkan. Mana mau dirinya memasukkan cairan itu ke dalam perutnya.
“Oke!” Fenny berdiri, dia masuk ke dalam rumah dan mengadukan pada Papanya.
...........
__ADS_1
“Minum!” titah Papa Rey dengan nada penuh penekanan. Ia langsung keluar saat Fenny mengadu padanya. Kesempatan untuknya menyiksa Danesh juga.
“Aku akan meminumnya jika kalian mencicipinya juga.” Ia boleh dijadikan pelayan, disuruh seenaknya. Tapi tidak dengan meminum sesuatu yang menjijikkan itu, apa lagi Fenny memasukkan sesuatu ke dalam sana. Mungkin racun. Enak saja dirinya diracun.
“Perjanjian!” Papa Rey mengingatkan Danesh.
Danesh berdecak, dengan terpaksa ia meminumnya.
Setelah Danesh menghabiskan kopi yang ia minta, Fenny tertawa puas. “Macam-macam dengan keluarga Wilson, kau akan merasakan akibatnya berurusan dengan keluarga kami. Dan yang kau minum itu sudah ku masukkan obat agar kau diare.”
“Wanita sialan!” umpat Danesh. Obatnya belum bereaksi sekarang, tapi ia yakin beberapa jam lagi akan membuatnya keluar masuk toilet.
“Jaga bicaramu!” Papa Rey juga ikut tersenyum sinis. Ia senang melihat Danesh yang tersiksa. “Bersihkan sepatuku, sekarang.” Ia menyodorkan kakinya tanpa berniat melepaskan sepatunya.
Danesh masuk ke dalam untuk mengambil semir sepatu, sikat, dan kain. Ia kembali lagi dan berjongkok di hadapan Papa Rey yang duduk.
Danesh mulai menyemir sepatu itu.
Papa Rey menendang Danesh. “Siapa yang menyuruhmu untuk menyemirnya?”
“Bukankah kau memintaku untuk membersihkannya? Itu adalah salah satu caranya,” jawab Danesh.
__ADS_1
“Heh! Beraninya kau menjawabku. Aku hanya memintamu untuk membersihkannya dengan mengelap.” Papa Rey berdiri. Ia menarik tangan Danesh dan meletakkan di atas tanah. Ia menginjak tangan itu dengan tekanan sekuat mungkin. “Hukuman untukmu karena lancang.”
*Bedebah *...! Akan ku buat kalian berdua menyesalinya! Dendam Danesh dalam hatinya.