Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 159


__ADS_3

Felly sangat bahagia saat mengetahui kedua anaknya lahir dengan selamat dan suaminya pun ada di sampingnya saat dirinya melahirkan. “Maaf aku merepotkanmu harus bolak balik Finlandia Indonesia,” balasnya mengelus rahang tegas suaminya.


Danesh menumpuk tangannya dengan milik Felly yang menempel di wajahnya. “Sudah tugasku. Aku senang bisa datang tepat waktu dan menemanimu berjuang membawa anak-anak kita ke dunia.” Kecupan sekilas ia berikan di punggung tangan yang mulus itu.


“Anak-anak kita belum boleh dipindahkan ke sini?” tanya Felly lembut.


“Besok, aku akan meminta perawat memindahkan inkubatornya ke sini,” balas Danesh.


Felly menjawab dengan anggukan. Ia sebenarnya sangat ingin melihat wajah anaknya. Namun jika petugas medis belum membolehkan ya apa boleh buat.


Danesh menyingkap pakaian pasien yang membalut tubuh Felly. Ia menatap sedih ke bekas jahitan di perut itu. “Kau pasti sakit tubuhmu di jahit, kan?”


Felly meringis, memang seperti itu yang ia rasakan setelah pengaruh biusnya menghilang. “Sedikit.”


“Ingin sekali aku mencium perutmu ini agar cepat sembuh. Rasanya tak tega ada luka yang bersarang di tubuh kesayangnku ini,” ucap Danesh menggerak-gerakkan telunjuknya di area luar sekitar jahitan.

__ADS_1


“Cium saja jika mau. Tapi jangan terkena jahitannya. Sakit.”


Danesh sungguh mengecup area sekitar jahitan itu. “Jangan membuat istriku kesakitan, oke?”


Felly mengelus rambut lebat suaminya. Ia merasa sedih melihat suaminya kesulitan karena dirinya. Pikirannya yang terus memikirkan perkataan Violet dan Fenny berkecamuk di otaknya hingga membuatnya stres namun ia pendam dan berakhirlah kram perut yang membuatnya harus melakukan persalinan dengan operasi.


“Saat aku membawamu ke rumah sakit, Dokter mengatakan jika kau terlalu banyak pikiran. Apa yang membuatmu hingga lelah berpikir? Apa pekerjaanmu banyak sekali? Bukankah kau pernah bercerita padaku jika Fenny sedikit demi sedikit bisa membantumu?” cecar Danesh. Ia tak ingin istrinya mengalami kejadian serupa lagi dan tentunya akan menghilangkan akar masalah itu.


Felly menghembuskan napasnya lemah, ia memalingkan wajahnya menatap pintu keluar. “Bagaimana kondisi Violet?” Ia justru berganti bertanya hal lain.


“Karena ini menyangkut dirinya.”


“Kondisinya masih sama, tetap sakit.”


Felly mengusap kelopak mata dengan jemarinya. “Kau ingin tahu apa yang aku pikirkan selama ini?”

__ADS_1


“Hm ... berbagilah kesulitan bersama. Aku pun bisa membantu mencarikan solusi jika kau tengah banyak pikiran. Jangan pernah memendam apa pun sendirian. Kita ini satu, jiwa kita sudah terikat,” balas Danesh. Ia menggerakkan wajah Felly untuk menghadap dirinya.


“Saat kita di pulau seribu, Violet menghubungiku dengan video call.”


“Lalu?”


“Dia mengatakan ingin menghembuskan napas terakhirnya sebagai istrimu.”


Wajah Danesh seketika menjadi datar, binar kebahagiaan sirna dan berganti kewaspadaan. Ia merasakan aura tak enak dari bibir istrinya. “Hm ...,” balasnya tak bersekspresi.


“Tapi, Violet merasa dirinya sangat egois jika menginginkan itu.”


“Ya memang, kenapa wanita semuanya egois? Kau egois dengan dirimu sendiri karena mementingkan perasaan orang lain. Dan Violet pun egois karena terlalu mengharapkan lebih. Jujur saja, sekeras apa pun aku membuatnya bahagia di sisiku, semua tak akan sama lagi seperti dulu, karena ada luka yang membentengi diriku,” balas Danesh dengan suaranya yang sudah tak lembut lagi.


“Danesh ....”

__ADS_1


Pria itu melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Ia merasakan sesuatu permintaan yang tak enak di dengar akan terlontar dari bibir mungil itu.


__ADS_2