Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 112


__ADS_3

Awan cerah sudah berubah menjadi gelap gulita di luar sana. Namun tidak untuk di dalam apartemen tempat tinggal Danesh dan Felly yang terang dengan lampu.


Felly tengah bermalas-malasan di karpet berbulu halus sembari melanjutkan menonton film yang tadi siang tertunda. Ia tiduran dengan menggunakan bantal untuk ibu hamil agar lebih nyaman.


Danesh yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya dengan posisi kepalanya tepat di depan perut buncit Felly. “Anak-anak Daddy lagi apa?” ujarnya seolah bertanya dengan sang buah hati. Ia mengecup berkali-kali perut istrinya. Tangannya melingkar di pinggul Felly.


Tangan Felly diletakkan di atas kepala Danesh. Ia terus mengelus rambut itu dengan lembut seolah sedang bersama anaknya. Jika sedang seperti ini, suaminya memang seperti bayi besar, akan manja dengannya dan menduselnya terus. “Sedang bobo, Daddy,” jawabnya menirukan suara anak kecil.


Danesh rasanya tak sabar ingin cepat melihat anak-anaknya lahir. Ia menempelkan hidungnya di permukaan kulit Felly dan menggerakkannya seolah sedang bermain dengan anaknya.


“Jika anak kita lahir, mereka akan seperti siapa, ya?” tanya Danesh tanpa merubah posisi.

__ADS_1


“Tentu saja seperti kita berdua,” balas Felly masih terus mengelus Danesh.


“Cepat keluar anak-anakku, jangan bermain sepakbola di dalam perut Mommy terus,” kelakarnya saat merasakan ada tendangan dari dalam.


“Sabar, baru juga enam bulan. Masih ada tiga bulan lagi,” imbuhnya. “Mereka tahu jika Daddynya sedang mengajak mengobrol, anak-anak kita sedang memberikan tanda respon mereka mendengar suaramu.”


Pria bule itu pun menyibakkan baju tidur istrinya hingga memperlihatkan perut buncit yang mulai muncul stretch mark. Ia mendaratkan ciuman di sana berkali-kali.


“Tentu.” Felly mengangguk, tangannya membelai lembut wajah suaminya yang berseri.


Danesh mengeluarkan ponselnya yang ada di kantung celananya. Ia membuka galeri foto dan memperlihatkan sebuah motor gede berwarna orange ke Felly. “Aku ingin membeli motor ini. Apakah boleh?”

__ADS_1


Danesh merasa, izin dengan istrinya untuk membeli sesuatu sangat dibutuhkan. Ia ingin terbuka mengenai hal apa pun pada istrinya, agar kedepannya tak akan ada masalah atau pertengkaran yang bisa menggoyahkan perasaan keduanya.


Felly melihat ponsel suaminya. Ia mengangguk mengizinkan. “Belilah jika kau menginginkannya. Berapa harganya?” tanyanya. Ia ingin sesekali membelikan suaminya suatu barang yang sangat diinginkan Danesh menggunakan uang hasil kerjanya sendiri. Selama menjadi istri, ia belum pernah memberikan hadiah pada suaminya.


Danesh meletakkan asal ponselnya. Tangannya meraih pipi istrinya yang semakin hari menjadi tembem, namun tetap menggemaskan di matanya. “Aku akan membelinya sendiri, sekarang aku tak terlalu susah seperti dulu lagi. Aku kan sudah menjadi pengusaha food and beverage yang outletnya sudah menyebar disekitar ibu kota dalam waktu singkat,” ujarnya bangga. Ia tahu isi dalam kepala istrinya jika bertanya tentang harga.


Ya, perkembangan bisnis coffee shop Danesh kian melesat setelah ia berusaha mencari investor dan berhasil mendapatkannya. Ia sadar tak bisa memberikan kehidupan yang terus terupuruk ekonominya pada sang istri. Ia ingin memberikan hidup yang layak, sehingga selama dua bulan ini ia bekerja keras meyakinkan para pengusaha dengan bantuan sang istri tentunya yang memiliki koneksi.


Felly mengerucutkan bibirnya. “Biarkan sekali saja aku memberimu hadiah, karena kau sudah menjadi pria yang bertanggung jawab. Bahkan kau membeli apartemen ini atas namaku,” bujuknya. “Aku seperti istri yang memanfaatkan keringat suami saja,” kelakarnya.


Danesh mencubit gemas hidung istrinya. “Siapa bilang? Jika tidak ada kau, aku mana bisa menjadi seperti saat ini? Jika aku tak bertemu denganmu malam itu, mana bisa aku meraih semua yang aku dapatkan sekarang. Dan tentunya semua ini aku raih karena dukungan serta doamu setiap harinya.”

__ADS_1


__ADS_2