Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 59


__ADS_3

Jarak dari rumah besar keluarga Wilson ke jalan raya, kurang lebih dua kilo meter, komplek perumahaannya sangat jauh dari jalan yang berisi angkot. Namun dekat dengan jalan tol. Felly dan Danesh berjalan sangat pelan. Pria itu menyesuaikan langkah kaki istrinya yang sedang hamil.


Sesekali Danesh melihat istrinya yang terus memasang wajah tersenyumnya. Keduanya tak bergandengan tangan, meskipun Felly sangat ingin melakukannya tapi ia tak ingin tiba-tiba menggengam tangan suaminya. Namun jika Danesh melakukannya, ia akan terima saja.


Harapan hanyalah harapan. Nyatanya, Danesh tak berniat menggandeng Felly. Punggung tangan keduanya hanya saling bergesekan satu sama lain saat tak sengaja jaraknya semakin berdekatan.


Lima ratus meter sudah mereka lewati. Wajah Felly tak lagi berseri seperti tadi. Ia meraih lengan suaminya dan berhenti. “Kita istirahat dulu, ya? Aku tak kuat berjalan lagi,” pintanya.


Cuacanya yang sudah berubah menjadi terik membuat Felly semakin kelelahan.


Danesh menatap intens wajah Felly. Keringat sudah bercucuran membasahi seluruh wajah cantik itu. Bahkan pakaian Felly pun sudah basah akibat cairan yang keluar dari pori-pori itu. Tangannya terulur untuk menyeka keringat Felly. “Aku gendong saja, ya? Sepertinya, perjalanannya masih jauh,” tawarnya.


Felly menggeleng. “Jangan, kau akan lelah jika menggendongku ditambah dua bayi yang aku kandung,” tolaknya. “Masih ada kira-kira satu setengah kilo meter lagi,” imbuhnya.


Danesh tak memperdulikan penolakan Felly. Tanpa seizin istrinya, pria itu langsung menggendong tubuh Felly ala bridal style. “Menurut saja, orang hamil muda yang kelelahan bisa saja keguguran, dan aku tak ingin hal itu terjadi padamu dan anak-anakku,” tuturnya. Ia tak menggendong istrinya di belakang, sebab ia tak ingin memberikan tekanan pada perut Felly yang menyentuh punggungnya. Ia mencari aman dengan gayanya saat ini.


Tak bisa mengelak Lagi, karena Danesh adalah suaminya yang harus ia turuti perkataannya. Felly tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Danesh. “Terima kasih, kau sangat perhatian denganku,” ujarnya.

__ADS_1


“Sudah tugasku sebagai seorang suami dan juga daddy dari bayi yang kau kandung,” balas Danesh dengan tatapan terus ke jalan.


Felly membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Menghirup dalam-dalam bau badan Danesh. Bukan wangi tak enak, namun wangi parfum dan deodoran yang bisa dibeli di supermarket kecil.


Aroma tubuhnya menenangkan. Gumam Felly dalam hati. Ia semakin nyaman berada di gendongan Danesh dan semakin menenggelamkan kepala.


Pasangan suami istri itu menjadi pusat perhatian pengendara lain yang berlalu lalang dan beberapa orang yang sedang berhenti untuk ke ruko di sekitar tempat yang mereka lewati.


Namun Danesh tak memperdulikan mereka semua. Ia bahkan tak merasa terusik sedikit pun. Asal dirinya dan Felly tak disakiti saja.


Uh ... senyumnya manis sekali, menambah ketampanannya. Puji Felly dalam hatinya.


Hingga mereka pun sampai pada jajaran angkot di pinggir jalan. Danesh segera bertanya pada supir angkot, jika ingin menuju ke apartemennya menggunakan angkot dengan nomor berapa.


Danesh langsung menurunkan istrinya tepat di depan pintu angkot tujuannya. Mereka tetap menjadi sorotan orang-orang di dalamnya. Sebab semuanya melihat apa yang dilakukan oleh Danesh.


Di dalam angkot, Felly duduk di samping Danesh dan ada ibu-ibu di dekatnya.

__ADS_1


“Neng, suaminya cakep. Gentle lagi mau gendong istrinya. So sweet, mau dong kenalin cowok cakep kaya suami eneng,” tutur salah satu ibu-ibu yang memuja suaminya.


Danesh yang dipuji hanya diam saja dengan wajah datarnya. Sedangkan Felly tersenyum ramah. “Makasih, Bu. Kebetulan ini juga lagi hoki aja,” balasnya.


“Lagi hamil, ya, Neng?” tanya ibu-ibu yang lainnya.


“Iya,” jawab Felly singkat.


“Beruntung banget loh si Eneng bisa dapet suami seperhatian itu. Jangan sampe lepas, Neng. Sayang kalau pisah. Di jaga baik-baik, Neng. Sekarang susah dapetin suami yang mau gendong istrinya yang lagi hamil dan sampe keringetan basah gitu bajunya. Pasti jauh banget jalannya, kan?”


“Iya tuh bener. Ati-ati loh nanti saya tikung suaminya kalau ga dijagain,” sahut ibu-ibu yang lainnya.


Felly hanya tersenyum getir mendengarnya. Ia juga tak ingin melepaskan Danesh, tapi keduanya sudah memiliki perjanjian hanya menikah sampai anak mereka lahir.


...........


...Siksaan secara fisik, kata-kata kasar, di perlakuin dingin, dan dicuekin hingga akhirnya jadi bucin udah biasa dan mudah bagi mereka melupaan hal-hal yang menyiksa itu karena menorehkan luka. Tapi siksaan terberat menurutku dicerita ini, udah tahu dari awal tak ada cinta, tapi dibikin baper terus. Berat euy disiksa hatinya. Poor Felly....

__ADS_1


__ADS_2