
Felly menghentikan langkah kakinya, begitupun dengan Danesh. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang sedikit sendu. “Aku takut bertemu orang tuamu. Aku takut mereka tak merestui kita. Aku takut akan disalahkan oleh mereka. Aku takut akan diperlakukan seperti Papaku yang memperlakukanmu dulu,” adunya mengutarakan isi hatinya saat ini. Ia menunduk seolah beban kepalanya yang dipenuhi kerisauan itu sangat banyak.
Danesh mengelus kedua lengan Felly dengan lembut. “Tenang, kita hadapi sama-sama. Apa pun yang akan terjadi nantinya, aku tetap akan mempertahankanmu,” ujarnya menenangkan.
Felly tersenyum, ia sedikit lega mendengarnya. “Aku juga akan berusaha untuk berjuang agar bisa terus bersamamu,” balasnya.
“Good girl.” Danesh maju satu langkah dan memeluk Felly sebentar. Ia merasakan debaran jantung istrinya yang tak teratur.
Pria bule itu tak melepaskan rengkuhannya, sebab dirinyalah saat ini yang tengah mematung. Sekujur tubuhnya seolah membeku. Ia melihat seseorang yang seperti ia kenal tengah duduk di kursi roda dan di dorong oleh perawat. Ia tak terlalu yakin apakah orang itu yang selama ini dia cari namun tak kunjung ketemu. Danesh hanya melihat sekilas, sebab orang itu langsung masuk ke dalam ruangan dokter yang entah untuk apa.
“Suamiku ... sesak, lepas.” Felly memanggil lagi dengan sedikit mencubit punggung yang terasa keras itu, sebab suaminya sedari tadi tak meresponnya saat dirinya meminta untuk dilepaskan pelukannya yang kian erat. Ia merasa oksigen yang dapat dihirup semakin sedikit karena dada bidang suaminya semakin menghimpit kepalanya.
“Eh, iya. Maaf.” Danesh mengurai pelukannya. Ia mengecek kondisi istrinya dari atas hingga bawah. “Apa aku menyakitimu? Maaf, aku tak sengaja melakukannya,” sesalnya merasa bersalah.
__ADS_1
Felly menggeleng pelan dengan kedua sudut bibirnya yang melengkung ke atas. “Tidak, ayo kita temui orang tuamu. Mereka pasti sudah menunggu,” ajaknya untuk mengalihkan pikiran suaminya agar tak merasa bersalah dengannya lagi.
Keduanya bersamaan mengayunkan kaki menuju ruangan yang sudah diberitahukan oleh Dariush sebelum adiknya itu berjalan mendahuluinya.
“Kenapa kalian tak masuk?” tanya Danesh saat sampai di depan ruang rawat Mommynya, ia melihat ketiga kembarannya duduk di kursi yang disediakan di depan kamar rawat.
Dariush, Delavar, dan Deavenny yang tengah asik bercanda itu bersamaan menatap kakaknya.
“Tak boleh masuk oleh Daddy, Mommy sedang istirahat. Suami posesif itu tak ingin kita yang suka membuat ribut menggangu tidur istrinya,” jawab Deavenny dengan sedikit sebal. Sudah jauh-jauh ia datang ke Jepang, ujung-ujungnya diperintahkan untuk menunggu di luar.
“Duduklah, kau pasti lelah berjalan di rumah sakit yang luas ini dengan membawa dua anakku.” Danesh mengarahkan tubuh istrinya untuk menempelkan pantat ke atas kursi besi itu.
Pria bule itu memilih untuk berdiri.
__ADS_1
Cukup lama sekali mereka menunggu agar diperbolehkan masuk menjenguk Mommy Diora. Sudah tiga puluh menit mereka di sana.
“Kau di sini dulu, ya? Aku ingin ke toilet,” izin Danesh pada istrinya. Ia sedikit merendahkan tubuhnya.
Felly menjawab dengan anggukan kecil.
“Jaga istriku dan calon keponakan kalian,” pinta Danesh pada kembarannya sebelum ia pergi mencari toilet.
Selepas membuang air kecil yang sudah tak tertahankan, Danesh teringat dengan orang yang lamat-lamat ia kenal namun penampilan sudah berubah. Ia ingin memastikan, apakah benar itu adalah mantan kekasihnya atau tidak. Ia pun memilih menuju bagian resepsionis untuk menanyakan hal tersebut.
“Permisi, aku mau bertanya. Apakah di sini ada pasien bernama Violet Dwarts? Warga Negara Finlandia?” tanya Danesh pada salah satu orang yang bertugas di sana.
...........
__ADS_1
...Kalian ini ga kering-kering guys, makanya aku jemur lagi. Hehehe, canda sayang. Muah ......
...Jangan lupa ngopi sama-sama di taman bunga....