
Felly terkejut dengan serangan Danesh yang dadakan itu reflek memundurkan kepalanya. “Kenapa kau menciumku di tempat umum? Malu jika dilihat orang lain,” tegurnya.
“Untuk apa malu? Ini Finlandia, bukan Indonesia. Kau lihat saja di sekitarmu,” balas Danesh sembari mengusap sudut bibir istrinya dengan jari dan menunjuk orang-orang yang tengah bersama pasangan masing-masing.
Felly menyapu pandangannya ke seluruh penjuru taman hiburan tersebut. Ia menelan salivanya saat melihat banyak sekali pria dan wanita bahkan yang sesama jenis pun saling berciuman di tempat umum. “Aku lupa jika budaya kita berbeda,” lirihnya. Dia masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan di sana, walaupun sejujurnya dia agak risi melihat orang-orang yang dengan terang-terangan bermesraan di tempat umum seperti itu.
Danesh terkekeh lucu mengusap ujung kepala Felly. “Seperti ini di tempatku. Lama-lama kau juga akan terbiasa,” tuturnya.
Keduanya pun kembali menikmati es krim yang perlahan mulai meleleh. Tapi getaran ponsel dalam tas kecil Felly membuat ibu beranak dua itu berhenti sejenak untuk mengangkat telepon.
“Siapa?” tanya Danesh.
“Deavenny.” Felly menempelkan ponselnya ke telinga untuk mendengarkan adik iparnya berbicara.
__ADS_1
“Felly ... cepat pulang, dua anakmu menangis tak mau diam. Sudah kami berikan susu tapi tak mau minum.”
“Oke, tunggu sebentar, aku akan segera kembali,” balas Felly. Ia mematikan panggilan tersebut dan memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam tas.
“Kenapa?” Danesh lagi-lagi mengajukan pertanyaan saat wajah istrinya terlihat cemas.
“Cepat kita habiskan es krimnya, Annora dan Agathias menangis,” pinta Felly. Ia melahap dengan tergesa-gesa.
Danesh mendesah kecewa. “Dasar anak-anakku, tak pengertian sekali dengan daddy yang ingin berkencan dengan mommy,” keluhnya.
“Sudah aku katakan, tunggu mereka besar. Beginilah risiko yang harus kita hadapi jika meninggalkan bayi yang masih minum ASI eksklusif dari mommynya. Tak akan tenang keluar berdua.” Felly mencoba memberikan pengertian pada Danesh dengan mengelus lembut lengan kekar suaminya.
“Iya, maafkan aku yang terlalu ingin berduaan denganmu.” Danesh mencium pelipis istrinya penuh kasih. “Ayo, sebelum mereka semua bingung dengan tangisan Annora dan Agathias yang tak berhenti,” ajaknya seraya membantu Felly berdiri.
__ADS_1
Danesh sudah cukup puas dan senang walaupun hanya sebentar berkencan dengan istrinya. Rasanya terbayarkan keinginannya mengendarai motor yang dia punya dari jaman kuliah dahulu.
Felly masuk ke mansion dengan tergesa-gesa saat mendengar tangisan bayinya begitu nyaring di gendang telinga.
“Mommy datang.” Felly segera menghampiri dua bayi mungil yang tengah digendong oleh kakek dan nenek mereka.
“Sepertinya anakmu tahu jika orang tuanya jalan-jalan tak mengajak mereka,” tutur Mommy Diora seraya memberikan Agathias ke menantunya.
“Kau itu sudah jadi daddy, masih saja ingin seperti anak muda. Sudah tahu anak-anakmu ini lengket sekali dengan kalian, masih saja memaksakan diri meninggalkan Annora dan Agathias.” Daddy Davis mengomeli putra pertamanya. Memberikan Annora untuk digendong oleh Danesh.
Putra pertama di keluarga itu menyengir kuda. “Sorry.” Danesh mendekati istrinya untuk melihat putranya di gendongan Felly.
“Anak-anak daddy jangan menangis lagi, oke? Daddy di sini dan tak akan meninggalkan kalian berdua lagi. Kalau aku ingin pergi, pasti akan mengajak kalian.” Danesh berbicara dengan dua anaknya.
__ADS_1
Dan tawa seluruh orang di sana pun pecah saat melihat Annora dan Agathias berhenti menangis, berganti ocehan riang diikuti tangan dan kaki mungil yang terus bergerak menggambarkan kegembiraan keduanya.