Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 132


__ADS_3

“Istriku, jangan menangis. Aku minta maaf jika melukaimu. Semua itu kesalahanku di masa lalu yang sudah tak bisa ku ulangi lagi untuk diperbaiki.” Danesh menyeka air mata istrinya. Ia mengecup kedua kelopak mata yang terpejam itu. Mengelus lembut pipi Felly untuk memberikan ketenangan.


Pria bule itu mulai menjauhkan pantatnya dari kursi, ia mengayunkan kakinya untuk memutari tempat tidur pasien. Kembali mendaratkan pantatnya di belakang punggung istrinya. Ia melepaskan kedua sepatunya dan ikut beristirahat dalam satu tempat yang sama dengan sang istri tercintanya.


Tangan Danesh melingkari tubuh Felly. Ia mengelus perut istrinya dengan lembut. Menciumi kepala dengan rambut panjang yang terurai itu secara terus menerus.


“Istriku, aku sangat mencintaimu. Ku mohon jangan diamkan aku terlalu lama. Aku tak bisa seperti ini terus. Rasanya sangat sakit,” pinta Danesh. Ia pun tertidur dengan posisi memeluk Felly.


Maafkan aku, aku takut salah berucap disaat seperti ini. Aku juga mencintaimu, Suamiku. Gumam Felly dalam hati. Ia menumpukkan tangannya dengan Danesh saat merasakan hembusan napas suaminya mulai teratur. Hingga ia ikut tertidur pulas dengan posisi enaknya.


...........


Ponsel yang berada di saku Danesh bergetar. Memikirkan istrinya yang mendiamkannya dan berubah menjadi aneh, membuatnya lupa mengeluarkan benda canggih itu sebelum tertidur.


Danesh dengan hati-hati menggerakkan tangannya. Sebisa mungkin tak mengganggu tidur istrinya. Ia perlahan turun dan sedikit menjauh dari Felly untuk mengangkat telepon.


“Apa?” tanya Danesh dengan suara berbisik.

__ADS_1


“Kau dicari Daddy. Dia ingin berbicara denganmu,” balas Dariush yang diperintahkan oleh Daddy Davis untuk menelpon Danesh.


“Oke, aku akan ke sana.” Danesh menutup panggilan telepon itu. Ia kembali mendekati istrinya, menyempatkan mencium kening istrinya terlebih dahulu.


“Jangan bangun sebelum aku kembali, ya. Tidurlah yang nyenyak. Aku ingin menemui Daddyku dulu,” izin Danesh lirih. Meskipun istrinya tak akan mendengar, namun ia tetap izin.


...........


“Dad, kau mencariku?” tanya Danesh dengan suara beratnya.


“Sttt ....” Daddy Davis, Dariush, Delavar, dan Deavenny bersamaan berucap dan meletakkan telunjuknya ke depan bibir. “Pelankan suaramu, Mommy sedang tidur,” ucap mereka sangat pelan.


Danesh hendak masuk mendekati Daddynya.


Namun Daddy Davis sudah berdiri dan mengibaskan tangannya memberikan isyarat agar keluar. Ia tak ingin mengganggu istrinya yang tengah asik di alam mimpi.


Danesh mengangguk paham. Ia memutar tubuhnya dan kembali keluar diikuti oleh Daddynya. Keduanya berjalan menuju rooftop.

__ADS_1


Tanpa Danesh dan Daddy Davis sadari, Dariush, Delavar, dan Deavenny secara diam-diam mengikuti di belakang keduanya. Ketiga manusia D itu saling cekikikan tanpa suara, sudah seperti kucing mencuri ikan saja mereka.


“Kalian kenapa ke sini juga?” tanya Daddy Davis yang terkejut saat mendapati ketiga anaknya sudah berada di rooftop.


Ketiga manusia yang tak merasa berdosa itu menyengir kuda.


“Hanya ingin menemani Danesh. Siapa tahu dia ketakutan,” kelakar Delavar memberikan alasan sekenanya.


“Betul,” sahut Deavenny ikut-ikutan.


Dariush menoyor kepala Deavenny. “Cari alasan yang lain, kau itu ikut-ikutan saja, tak kreatif sekali,” omelnya. Dibalas dengan juluran lidah oleh Deavenny.


“Kalau aku sih sama alasannya dengan Delavar,” ucap Dariush yang tak jauh beda intinya dengan Deavenny.


Plak!


Dariush mendapatkan timpukan dari Deavenny. “Kau pun sama denganku,” balasnya.

__ADS_1


“Ehem!” Daddy Davis berdehem.


Membuat ketiga manusia D itu semakin mendekati Danesh. Mereka berempat berdiri berjejeran tanpa jarak. “Kami ingin tahu apa yang akan Daddy bicarakan pada Danesh,” jawab mereka bersamaan. Kali ini mereka tak berdalih lagi.


__ADS_2