Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 142


__ADS_3

Danesh berangsur menggeser kursinya agar semakin mendekat dengan istri tercintanya untuk mempermudahkan dirinya mendengar suara istrinya yang sangat lembut.


“Apa yang mau kau tanyakan, hm?” tanya Danesh dengan menaikkan sebelah alisnya.


Felly menghirup oksigen dalam-dalam dan menghembuskan perlahan dari mulutnya. Ia membasahi bibirnya yang terasa kering dengan menjulurkan lidahnya sedikit. “Boleh aku meminta sesuatu padamu?” tanyanya hati-hati.


Danesh yang tak memiliki firasat apa pun pada istrinya itu mengangguk. Istrinya bertingkah seperti biasanya seolah tak ada terjadi masalah apa pun. “Katakan, aku sudah pernah memberitahumu jika suatu saat kau menginginkan sesuatu dariku, kau bisa mengatakannya padaku dan pasti akan aku kabulkan,” balasnya.


Pria berdarah Eropa itu menumpuk tangannya di atas punggung tangan istrinya, memberikan kecupan sekilas dan kembali menatap dengan tatapan teduhnya.


“Permintaanku ini sepertinya cukup banyak.”

__ADS_1


Danesh mengecup lagi tangan istrinya. Setiap kali Felly berucap, pria itu mengecup lagi. Tak ada bosannya ia melakukan hal itu.


“Apa? Memintaku untuk tak pernah meninggalkanmu? Kalau itu, kau tak perlu meminta padaku. Sudah pasti aku akan melakukannya untukmu.”


Felly menggeleng. “Bukan itu.” Ia menggigit bibir bawahnya, lalu melanjutkan ucapannya. “Aku ingin kita berpisah untuk sementara waktu,” pintanya.


“Apa?” Danesh sangat terkejut dengan permintaan istrinya. “Jangan gila kau. Aku tak akan pernah mau berpisah denganmu,” tolaknya.


Felly kembali menghembuskan napasnya halus. Ia sudah memprediksi jika suaminya akan menolak. “Dengarkan aku.” Tangannya menggenggam tangan suaminya dan mengecup tangan kekar itu.


Danesh menggeleng. “Tidak bisa.” Ia melepaskan tangannya yang digenggam istrinya, lalu berdiri hingga kursi yang ia duduki terdorong ke belakang dan menimbulkan bunyi decitan.

__ADS_1


“Aku tak akan memenuhi permintaanmu yang konyol itu. Pergi dari kehidupanku adalah pilihan Violet sendiri. Dan pilihanku adalah hidup bersamamu selamanya,” tutur Danesh dengan tegas.


“Istirahatlah, aku ingin menemui Mommyku.” Danesh hendak keluar ruangan, ia tak ingin berlama-lama berdua dengan istrinya yang permintaannya tak mungkin bisa ia penuhi.


Felly mengepalkan tangannya untuk menguatkan dirinya sendiri. Keputusannya sudah bulat, ia ingin membagi setidaknya sedikit kebahagiaan dengan Violet.


Felly berdiri dan memutar tubuhnya. Ia bisa melihat punggung suaminya yang kian mendekati pintu. “Bukankah seorang lelaki yang dipegang adalah janjinya? Mengapa kau mengingkarinya? Apa kau sesungguhnya bukan seorang pria sejati?”


Danesh mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya agar tak berbuat brutal seperti dulu lagi. Ia tak ingin peristiwa saat dirinya memaksa bermain dengan Violet kembali terjadi ia lakukan pada istrinya. Ia takut akan melukai Felly yang sedang hamil jika Danesh melakukan hal intim saat emosi.


“Apa sesungguhnya maumu?” tanya Danesh dengan ketus. Dadanya naik turun merasakan gemuruh yang sangat dasyat.

__ADS_1


Felly mengayunkan kakinya mendekati Danesh. Kini keduanya berjarak satu langkah saja. “Permintaanku sangat sederhana, biarkan aku pulang ke negaraku, kita berpisah untuk sementara waktu, aku ingin kau berada di sisi Violet untuk memberikannya kebahagiaan hingga detik terakhir Tuhan menjemputnya. Dan yang paling utama, jangan sampai Violet tahu tentang status kita yang sebenarnya.”


“Kau bahkan menangis saat memintanya. Bagaimana aku bisa menurutinya? Jika aku menuruti kemauanmu, kau akan lebih terluka dari ini.”


__ADS_2