
Tatapan pengunjung bukannya percaya pada Fenny. Justru mereka semua menatap tak suka pada wanita itu. Mereka tak percaya dengan ucapan Fenny, sebab mereka sudah mengetahui betapa ramahnya Felly dan Danesh pada pengunjung.
“Heh! Kau pasti yang membuat masalah dengannya makanya diusir,” tuding salah satu pengunjung.
“Iya tuh, kau bikin onar saja di sini. Pergi sana,” usir pengunjung lainnya.
“Kalian berani denganku?” tantang Fenny dengan berkacak pinggang.
“Sok jagoan banget! Ayo kita serang sama-sama.” Seluruh pengunjung sudah berdiri hendak mendekati Fenny. Mereka sangat kesal dengan wanita yang sok berkuasa itu.
Erland yang mendengar keributan dan melihat istrinya lagi-lagi membuat masalah pun menghembuskan napasnya kasar. “Bisa-bisanya aku memiliki istri seperti dia,” sesalnya.
Erland yang mengingat ada darah dagingnya di perut Fenny pun bangkit untuk membawa istrinya keluar. Ia tak ingin Fenny dihajar oleh pengunjung yang sangat banyak dan berakhir anaknya yang akan terluka.
__ADS_1
Erland menerobos para pengunjung yang mengerumuni istrinya. Ia langsung mencekal tangan istrinya dengan kasar.
Fenny yang melihat suaminya datang, merasa dirinya akan mendapatkan pembelaan. “Lihat, ada suamiku. Kalian pasti akan tahu akibatnya sudah berurusan denganku,” sombongnya.
Erland yang tak sabar pun menarik tangan Fenny dengan kasar. “Keluar! Kau membuat keributan di tempat umum. Tak tahu malu sekali!” sentaknya.
Sebelum meninggalkan pengunjung yang terlihat marah dengan Fenny. Erland menyempatkan sejenak untuk meminta maaf dengan mereka semua.
“Didik yang betul istrimu, kelakuan sudah seperti dajjal!” hardik salah satu pengunjung. Dan masih banyak lagi ocehan lainnya.
“Kau itu bisa tidak tak membuat masalah!” bentak Erland. “Bagaimana bisa aku hidup denganmu selamanya jika kelakuanmu seperti ini. Jika tak mengingat ada anakku di rahimmu, sudah ku tinggalkan kau sejak lama.”
...........
__ADS_1
Dua minggu berlalu. Selama kurun waktu itu Fenny bekerja di Excelent Group. Ia sungguh lelah menjalani hari-hari seperti Felly.
Apa lagi saat ini ia harus meninjau perkembangan proyek yang sedang berjalan. Bangunan yang belum jadi dengan para pekerja yang sibuk menjalankan tugas masing-masing pun ia lihat dari dalam mobil.
“Nona, anda harus keluar untuk meninjau langsung,” tegur Stefany. “Karena setelah ini, Nona harus mempersiapkan diri untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan Jepang. Nona harus segera mengecek segala dokumennya,” imbuhnya.
“Kau sajalah yang ke sana. Panas, malas aku. Aku akan melihatnya dari sini,” tolak Fenny. “Dan untuk dokumen, ku serahkan semua padamu. Kau kan pintar, jadi bisalah mengurus semuanya.” Ia memilih untuk bermalas-malasan daripada bekerja.
“Tidak bisa, Nona. Jika anda tak ke sana, aku akan mengadukan pada Tuan Besar Rey,” ancam Stefany. “Dan juga Tuan Besar Rey tidak suka jika dokumen kerja sama tak dipersiapkan dan diteliti langsung oleh pemimpin perusahaan. Nona Felly juga biasanya seperti itu, terjun langsung.”
Fenny menatap tak suka sekretaris kakaknya yang kini menjadi sekretarisnya itu. Ia berdecak sebal. “Dasar tukang mengadu!”
Fenny pun mau tak mau keluar juga mendekati proyek. Ia berjalan dengan perasaan kesal. Dia bahkan sengaja menyenggol para pekerja yang sedang berlalu lalang.
__ADS_1
“Aw ...,” pekik Fenny. Ia pun terjatuh saat hendak menyenggol Stefany namun tak kena karena ia sudah terpeleset dan tubuhnya terkapar di tanah. Salahnya tak hati-hati melihat ada genangan air yang licin. Fenny pun memegangi perutnya yang terasa sakit.
Stefany yang mendengar pekikan itu langsung mendekati bos barunya untuk membantu berdiri, namun ia melihat sesuatu cairan keluar dari daerah kewanitaan Nona Fenny dan sudah turun hingga ke paha.